Mengenang 1 Tahun Wafatnya Mirna (Yang Menyebabkan Seseorang di Pidana Bagian 2)

Dengan makin dekatnya waktu putusan dari Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Jakarta terhadap permohonan banding yang dilakukan oleh terdakwa Jessica, dan usia wafatnya Mirna yang sudah 1 tahun (tanggal 6 Januari), maka bestekin.com kembali mengulas dasar-dasar yang digunakan kuasa hukum terdakwa dalam melakukan pembelaan, dan dasar-dasar JPU dan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam membuat materi tuntutan dan putusan.

Sebagaimana yang diatur dalam KUHAP Pasal 184 ayat 1 huruf b, keterangan ahli merupakan satu dan 5 jenis alat bukti yang bisa menyebabkan seseorang didakwa dan dijatuhi hukuman pidana.

Dalam melakukan pembuktian, JPU dalam persidangan terdakwa Jessica menghadirkan sejumlah ahli agar salah satu syarat alat bukti “keterangan ahli” dalam KUHAP Pasal 184 terpenuhi. Terdakwa melalui penasehat hukumnya mencoba melakukan bantahan dengan cara yang juga menghadirkan saksi-saksi ahli yang relevan dengan keahlian yang dimiliki oleh saksi-saksi ahli dari JPU. Hakim sebagai penilai tentu menilai kebenaran dari keterangan saksi-saksi ahli tersebut. Jika sekiranya keterangan saksi ahli dari JPU tak bisa dimentahkan oleh keterangan saksi ahli dari pihak terdakwa, maka keterangan ahli tersebut menjadi bernilai sebagai satu dari minimal 2 alat bukti. Namun sebaliknya, jika keterangan ahli pihak terdakwa memiliki bobot kebenaran yang jauh lebih kuat, maka keterangan ahli dari pihak JPU bisa gugur, yang menyebabkan tak terpenuhinya alat bukti pasal 184 ayat 1 huruf b.

Dalam kasus ini, ternyata Majelis Hakim memutuskan hanya mempertimbangkan alat bukti yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum, yang dengan kata lain menganggap keterangan dari para ahli yang dihadirkan terdakwa tidak memiliki nilai pembuktian sama sekali.

Pada bagian ini bestekin.com mencoba menganalisa ketentuan pasal 184 ayat 1 huruf b, yang dijadikan dasar bagi Hakim dalam memutus perkara atas terdakwa Jessica Kumala Wongso, khususnya ditinjau dari sisi sains.

A. Dalam persidangan, dapat kita simpulkan dasar-dasar yang digunakan pihak terdakwa dalam melakukan pembelaan, antara lain sebagai berikut :

  • Hani minum kopi yang sama dengan yang diminum oleh Mirna, namun tak mati atau mengalami hal-hal yang berbahaya.
  • Tanda-tanda cherry-red sebagai penanda pada kulit orang yang keracunan sianida, tak terlihat pada kulit korban.
  • Warna permukaan lambung yang menghitam bukan menunjukkan adanya tanda keracunan sianida (yang seharusnya berwarna merah terang).
  • Temuan sisa sianida yang hanya sedikit di dalam lambung korban.
  • Tak ditemukannya sianida atau thiosianat pada sampel hati, empedu, dan urin korban.
  • Adanya temuan sianida dimungkinkan terjadi selama post-mortem. Bahkan ahli Dr. Djaja mengatakan bahwa sianida mungkin berasal dari cairan embalming (formalin).
  • BB 4 (Barang Bukti nomor 4) yang negatif terhadap sianida.

 

B. Atas argument-argumen di atas, dua argumen pihak JPU yang membantahnya berpatokan sebagai berikut :

  • Bahwa Hani telah memberikan kesaksian yang menyatakan ia hanya mencicipi, artinya cairan sianida hanya berada di permukaan lidah, tak sampai masuk ke kerongkongan saksi. Saksi juga mengatakan bahwa ia merasakan suatu zat dengan rasa yang aneh dan berbahaya. Ini dapat juga disaksikan melalui CCTV saat saksi mencoba mencicipi dan menjauhkan tubuhnya dari gelas kopi yang diminum oleh korban.
  • Bahwa adanya kemungkinan terbentuknya sianida selama post-mortem pada dasarnya disebabkan proses recovery sianida yang sebelumnya telah ada di dalam tubuh korban. Artinya proses pembentukan sianida pada post-mortem bukanlah proses alami, melainkan merupakan recovery, dari CNS menjadi ion CN. Pada tubuh orang mati yang tidak disebabkan oleh sianida, tak mungkin ditemukan sianida. Pembusukan adalah proses penguraian, sedangkan senyawa sianida dihasilkan melaui proses pembentukan (sintesa), yang artinya proses pembusukan berlawanan dengan proses pembentukan.

 

C. Majelis Hakim dalam mengambil putusan mengabaikan isi pembelaan dan keterangan saksi-saksi ahli dari pihak terdakwa. Jika di analisa, hal ini disebabkan oleh beberapa hal berikut ini :

  • Banyaknya nilai-nilai yang tak sesuai dengan fakta sains dalam keterangan ahli-ahli yang dihadirkan terdakwa. Ahli Prof Beng Beng Ong mengatakan bahwa lethal dose sianida yang masuk via oral berkisar 1 gram (1000 miligram), ahli Dr. Djaja mengatakan 150 miligram. Ahli Beng Beng Ong mengatakan interval antara saat mengkonsumsi dan waktu kematian 30 menit, sedangkan Dr. Djaja mengatakan hanya membutuhkan waktu 2 menit. Dr. Djaja memberikan keterangan bohong yang mengatakan bahwa ahli telah mengotopsi hingga 300.000 mayat hanya dalam waktu 30 tahun, suatu hal yang mustahil dilakukan oleh siapun juga.
  • Kesusilaan saksi ahli yang sangat diragukan. Saksi Beng Ong masuk ke Indonesia menggunakan visa turis, yang melanggar undang-undang keimigrasian. Dr Djaya merupakan orang yang telah mengembalming jenazah Mirna, dimana dia sangat tahu akibat dari embalming menyebabkab rusak atau hilangnya barang bukti sianida di tubuh korban. Kesaksian Dr Djaya berlawanan dengan apa yang dia ketahui terhadap efek embalming, bahkan saksi menambahkan bahwa formalin kemungkinan mengandung sianida (suatu keterangan yang bertujuan menyesatkan informasi). Saksi ahli Dr Robertson diduga menjadi DPO kepolisian Amerika Serikat dalam kasus pembunuhan menggunakan racun di Amerika Serikat (saksi tidak pernah melakukan bantahan atas berita tersebut).
  • Banyaknya kontradiksi pernyataan-pernyataan dari para saksi ahli yang dihadirkan oleh pihak terdakwa, sehingga Majelis berkesimpulan bahwa keterangan ahli dari pihak terdakwa sebagian besar memihak dan bertujuan membebaskan terdakwa dari segala tuntutan hukum.

 

D. Melihat dari konstruksi pembelaan terdakwa, bestekin.com berkesimpulan bahwa terdakwa sudah sangat mengerti apa yang telah dia lakukan, dan apa yang terjadi setelah jenazah diembalming menggunakan formalin.

Berikut ulasan tim bestekin terhadap fakta-fakta sains di persidangan, khususnya hal-hal yang berhubungan dengan sub-bag. A di atas.

a. Tanda merah di kulit sebagai akibat dari keracunan sianida memang seharusnya ada, sebagaimana yang juga diakui oleh saksi-saksi ahli yang dihadirkan oleh JPU. Prof. Budi Sampurna mengatakan bahwa tanda cherry-red mulai terlihat setelah 2 jam seseorang tewas akibat keracunan sianida, tanda merah akan sempurna setelah 12 jam sejak kejadian keracunan. Tidak terlihatnya tanda merah pada kulit Mirna saat dilakukan otopsi disebabkan oleh beberapa hal berikut :

  • Proses bedah mayat baru dilakukan setelah 4 hari sejak kematiannya.
  • Telah dilakukan embalming terhadap jenazah Mirna, dimana embalming yang menggunakan formalin justru menyebabkan hilangnya semua oksigen di dalam tubuh Mirna. Formalin, dewasa ini mulai ditinggalkan sebagai cairan untuk pengawetan jenazah. Ini disebabkan atas baunya yang menyengat dan potensi yang sangat besar dalam perusakan dan penghilangan barang-barang bukti yang  berkaitan dengan tindak pidana. Hilangnya barang bukti tanda merah di tubuh Mirna akibat dilakukannya embalming bisa dijelaskan oleh reaksi kimia berikut ini :

Formalin mudah bereaksi dengan oksigen sebagai berikut :

2 CH2O (l)  +  O2 (g)  =====>  2 HCOOH (l)       …….(i)

Pada reaksi (i), formalin bereaksi dengan oksigen menghasilkan larutan senyawa baru yang memiliki nama asam format (asam semut), yang merupakan gugus terpendek dari senyawa asam organik karboksilat.

Asam format yang terbentuk selanjutnya bereaksi dengan sisa oksigen di tubuh Mirna, sebagai berikut :

HCOOH (l)  +  O2 (g)  ====>  CO2 (g)  +  H2O (aq)  ……….(ii)

Pada reaksi (ii), adanya kontak antar muka antara cairan asam format dan sisa oksigen menyebabkan terjadinya reaksi penguraian asam format menjadi gas CO2 dan air. Artinya, masuknya formalin ke dalam tubuh dalam proses embalming menyebabkan terjadinya reaksi de-oksigenasi, dimana tubuh mengalami kehilangan seluruh oksigen. Kejadian ini sama dengan orang yang mati akibat mengkonsumsi miras oplosan, dimana alkohol yang digunakan berjenis methanol, yang kemudian di dalam tubuh bereaksi membentuk formalin.

Kuatnya formalin mengkonsumsi oksigen telah lama dimanfaatkan untuk pemusnahan mikroorganisme di perairan. Hilangnya oksigen terlarut akibat masuknya formalin ke air menyebabkan berhentinya metabolisme mikroorganisme, sehingga mikroorganisme tersebut segera mengalami kematian.

Dalam kasus kematian Mirna, masuknya formalin telah menyebabkan hilangnya warna khas cherry-red di kulit korban.

  • Tanda merah pada wajah di photo korban (yang diperlihatkan oleh Ayah korban) mungkin diperoleh sebelum dilakukannya embalming pada tubuh korban.
  • Pernyataan Dr. Djaja di persidangan yang mengatakan bahwa ia tak melihat tanda merah, tidak bisa dipercaya oleh Hakim, karena hampir seluruh keterangan Dr. Djaja bersifat memihak.

b. Warna hitam pada lambung korban yang bertentangan dengan tanda-tanda lambung yang keracunan sianida juga disebabkan oleh masuknya cairan embalming ke dalam lambung korban. Warna hitam pada lambung disebabkan proses oksidasi asam format menjadi CO2 dan H2O, sebagaimana yang telah dijelaskan pada reaksi (ii). Pada lambung yang normal, warna lambung menampilkan warna putih susu, sebagaimana keterangan yang telah diberikan oleh ahli Prof. Budi Sampurna. Perubahan menjadi hitam tentu disebabkan adanya peristiwa yang bersifat anomali, yang patut diduga akibat masuknya benda asing ke dalam lambung. Jika saja formalin tak masuk, maka dapat dipastikan warna merah akan terlihat jelas di lambung korban.

Kesaksian Ahli Dr  Slamet Purnomo mengatakan bahwa ia mendapati kulit lambung yang mengalami korosif parah dan menyeluruh. Kesaksian ini sesuai dengan sifat sianida yang korosif, dan NaOH yang sangat korosif.

c. Temuan sisa sianida yang hanya 0,2 mg/liter di lambung korban disebabkan beberapa hal berikut ini :

  • Lethal dose sianida bukan diukur dari banyaknya kandungan sianida di lambung, melainkan dosis minimum sianida yang mematikan jika diminum. Sianida yang diminum tentu telah mengalami pengurangan selama proses propagasi, mulai dari rongga mulut, kerongkongan, hingga lambung korban. Sianida yang menempel di mulut bereaksi dengan udara (O2 dan CO2) dan cairan mulut korban (HCl) yang sebagian reaksinya berlangsung sebagai berikut :

2 NaCN (l)  +  O2 (g)  =====>   2 NaCNO (l)     ……..(iii)

Hasil reaksi (iii) selanjutnya menyebabkan terurainya CNO menjadi gas CO2 dan N2, yang keluar dari mulut korban.

NaOH yang selalu terkandung dalam NaCN bereaksi dengan CO2 yang berasal dari tenggorokan korban, proses pembusukan di mulut, dan reaksi (iii) sebagai berikut :

2 NaOH (l)  +  CO2 (g)   =======>  Na2CO3 (l)  +  H2O (aq)  ………………..(iv)

Sodium karbonat (Na2CO3) yang terbentuk pada reaksi (iv) menyebabkan turunnya pH di dalam mulut, sebagai konsekwensi terkonversinya NaOH (yang memiliki pH tinggi) menjadi Na2CO3 (memiliki pH 7). Akibat dari reaksi ini, cairan ludah yang mengandung HCl bereaksi dengan NaCN seperti berikut ini :

HCl (l)  +  NaCN (l)   =========>   HCN (g)  +  NaCl (l)   …………….(v)

HCN yang terbentuk kemudian keluar dari mulut korban, sehingga pada akhirnya ruang mulut korban tak menyisakan sedikit pun ion-ion sianida.

Reaksi (iii) hingga (v) hanya sebagian dari puluhan reaksi kimia yang terjadi di rongga mulut korban saat dan selama masuknya sianida ke rongga tersebut.

Hal yang sama juga terjadi di saluran kerongkongan dan lambung korban. Masuknya gas HCN ke dalam ruang paru (akibat dari menghirup HCN yang terbentuk) mempercepat interval kematian korban.

  • Embalming yang dilakukan oleh ahli Dr Djaja (secara terpisah) juga dilakukan di lambung dan usus korban. Ini dimaksudkan agar tak terjadi pembusukan pada bagian-bagian ini. Berbeda dengan embalming yang dimasukkan ke dalam jaringan darah, embalming terhadap lambung dan usus dilakukan dengan tanpa mengeluarkan isinya terlebih dahulu. Cairan formalin yang masuk ke lambung menyebabkan terjadinya reaksi (i), (ii), reaksi sintesa strecker, dan reaksi-reaksi sintesa kimia lainnya, dan reaksi-reaksi kimia lain, yang akhirnya menghilangkan identitas ikatan kovalen rangkap III ion sianida di lambung korban. Hal mukjizat lah yang menyebabkan masih ditemukannya sedikit sianida di lambung korban.

d. Penyebab tak ditemukannya jejak sianida di hati, empedu, dan urin korban sebelumnya telah diulas oleh penulis di http://bestekin.com/2016/09/08/misteri-berkurangnya-kandungan-sianida-di-lambung-mirna/, dan http://bestekin.com/2016/09/17/kasus-sianida-mirna-efek-embalming-terhadap-hilangnya-jejak-sianida/.

e. Sianida tak terbentuk selama berlansungnya post-mortem pada jenazah manusia yang mati secara normal. Sebagaimana materi tuntutan jaksa pada kasus ini, sianida yang terbentuk adalah sianida yang ter-recovery dari senyawa sianida yang telah masuk sebelumnya. Recovery sianida juga biasa dilakukan pada proses pelindian batuan emas menggunakan sianida, dimana thiosianat yang terbentuk diubah menjadi CNO dan selanjutnya menjadi CN.

Jika ingin keterangannya dipakai dalam putusan Hakim, maka seharusnya keterangan ahli dari pihak terdakwa juga menjelaskan bagaimana terbentuknya sianida pada post-mortem. Tanpa penjelasan lanjutan menyebabkan keterangan sianida yang terbentuk selama post-mortem menjadi tak bernilai dan bersifat menutup-nutupi kebenaran.

f. BB4 yang dipersoalkan oleh terdakwa adalah barang bukti yang diperoleh sebelum dimulainya investigasi oleh penyidik, sehingga bisa dikatakan bahwa BB4 sulit untuk dianggap sebagai barang bukti yang valid untuk diperdebatkan. Beberapa hal berikut bisa terjadi pada BB4 :

  • BB 4 diambil setelah kematian korban, dengan volume yang diperkirakan 0,1 ml. BB 4 berasal dari cairan ludah korban, dimana reaksi (iii) hingga (v) telah berlangsung sempurna sebelum diambilnya barang bukti ini. Jika pun BB 4 langsung diperiksa saat itu juga, maka kemungkinan menemukan adanya jejak sianida menjadi nihil, karena sampel diambil setelah lebih dari 1 jam wafatnya korban.
  • BB 4 diperiksa setelah 4 hari sejak sampel diambil (bukan 70 menit setelah kematian korban). Faktor penguapan sisa-sisa sianida dan reaksi pembusukan (penguraian) selama periode 4 hari tak bisa dihindari terhadap sampel.
  • Kemungkinan tertukarnya sampel antara periode sebelum dan saat mulai dilakukannya penyelidikan (4 hari) menjadi mungkin.
  • Penguapan, penguraian, kecilnya volume, dan kemungkinan kesalahan sampel, menyebabkan nilai BB 4 menjadi hilang, sehingga menjadi tak layak untuk diperdebatkan.

Putusan atas banding yang dilakukan oleh terdakwa tinggal menunggu waktu. Di saat usia kematian yang telah menginjak 1 tahun, sangat selayaknyalah korban Almarhumah Wayan Mirna Salihin dan terdakwa Jessica memperoleh keadilan yang sejati.

Pentingnya Penguasaan Teknologi Pembuatan Garam Industri dan Farmasi

Defenisi Garam Secara Umum

Secara umum, garam memiliki arti sebagai “kristal yang diperoleh dari proses penguapan air laut, dan memiliki rasa asin di lidah orang yang mengkonsumsinya”. Meskipun tak sepenuhnya asin (jika dirasakan akan ditemukan rasa pahit selain asin), namun rasa asin mendominasi, sehingga bisa dikatakan bahwa kristal garam yang diperoleh dari proses penguapan memiliki rasa asin yang dominan. Rasa asin dari garam disebabkan oleh adanya kandungan senyawa NaCl di dalamnya, sedangkan rasa pahit disebabkan kandungan magnesium, kalsium, dan potassium.

Defenisi Garam Industri, Konsumsi, dan Garam Farmasi

Air laut tak hanya mengandung air dan NaCl saja, namun juga mengandung sejumlah senyawa-senyawa kimia ikutan lainnya. Tabel di bawah ini menampilkan sebagian besar dari konten unsur-unsur kimia yang larut di dalam air laut.

Tabel 1. Komposisi Unsur-Unsur Kimia dalam Air Laut

Nama Unsur KimiaMassa Atomppm (part per million)
Hydrogen1.00797110.000
Oxygen15.9994883,000
Sodium Na22.989810,800
Chlorine Cl35.45319,400
Magnesium Mg24.3121,290
Sulfur S32.064904
Potassium K39.102392
Calcium Ca40.08411
Bromine Br79.90967.3
Helium He4.00260.0000072
Lithium Li6.9390.170
Beryllium Be9.01330.0000006
Boron B10.8114.450
Carbon C12.01128.0
Nitrogen N14.00715.5
Fluorine F18.99813
Neon Ne20.1830.00012
Aluminium Al26.9820.001
Silicon Si28.0862.9
Phosphorus P30.9740.088
Argon Ar39.9480.450
Scandium Sc44.956<0.000004
Titanium Ti47.900.001
Vanadium V50.9420.0019
Chromium Cr51.9960.0002
Manganese Mn54.9380.0004
Ferrum (Iron) Fe55.8470.0034
Cobalt Co58.9330.00039
Nickel Ni58.710.0066
Copper Cu63.540.0009
Zinc Zn65.370.005
Gallium Ga69.720.00003
Germanium Ge72.590.00006
Arsenic As74.9220.0026
Selenium Se78.960.0009
Krypton Kr83.800.00021
Rubidium Rb85.470.120
Strontium Sr87.628.1
Yttrium Y88.9050.000013
Zirconium Zr91.220.000026
Niobium Nb92.9060.000015
Molybdenum Mo0.095940.01
Ruthenium Ru101.070.0000007
Rhodium Rh102.905
Palladium Pd106.4
Argentum (silver) Ag107.8700.00028
Cadmium Cd112.40.00011
Indium In114.82
Stannum (tin) Sn118.690.00081
Antimony Sb121.750.00033
Tellurium Te127.6
Iodine I166.9040.064
Xenon Xe131.300.000047
Cesium Cs132.9050.0003
Barium Ba137.340.021
Lanthanum La138.910.0000029
Cerium Ce140.120.0000012
Praesodymium Pr140.9070.00000064
Neodymium Nd144.240.0000028
Samarium Sm150.350.00000045
Europium Eu151.960.0000013
Gadolinium Gd157.250.0000007
Terbium Tb158.9240.00000014
Dysprosium Dy162.500.00000091
Holmium Ho164.9300.00000022
Erbium Er167.260.00000087
Thulium Tm168.9340.00000017
Ytterbium Yb173.040.00000082
Lutetium Lu174.970.00000015
Hafnium Hf178.49<0.000008
Tantalum Ta180.948<0.0000025
Tungsten W183.85<0.000001
Rhenium Re186.20.0000084
Osmium Os190.2
Iridium Ir192.2
Platinum Pt195.09
Aurum (gold) Au196.9670.000011
Mercury Hg200.590.00015
Thallium Tl204.37
Lead Pb207.190.00003
Bismuth Bi208.9800.00002
Thorium Th232.040.0000004
Uranium U238.030.0033
Plutonimu Pu244

Sumber: Karl K Turekian: Oceans. 1968. Prentice-Hall

Dari tabel 1. di atas dapat dikatakan bahwa jika air laut mengalami dehidrasi (penguapan) akan diperoleh kumpulan senyawa-senyawa berbentuk kristal, yang sebagian besar di antaranya :

  • NaCl (natrium klorida), yang secara umum diberi nama istilah “garam”. NaCl memiliki rasa khas yang asin.
  • MgCl2 (magnesium klorida), yang memiliki rasa asin pahit, dan menggigit di ujung lidah.
  • CaCl2 (kalsium klorida).
  • CaSO4 (kalsium sulfat).
  • KCl (potassium klorida), suatu jenis senyawa yang memiliki rasa asin pahit.

Kandungan NaCl yang diperoleh dari proses penjemuran air laut bergantung pada kandungan NaCl di dalam airnya, dan banyaknya kandungan ion-ion ikutan. Kandungan ion magnesium tak selalu sama di tiap-tiap titik pantai, namun bervariasi antara 1 wilayah pesisir dengan wilayah pesisir lainnya. Suatu pantai yang menghasilkan garam yang terasa agak pahit memiliki kandungan magnesium yang tinggi ; sebaliknya, suatu daerah yang menghasilkan garam dengan rasa pahit yang tak begitu kuat, memiliki kandungan magnesium yang moderat.

Demikian juga kandungan ion-ion dari logam-logam berat. Daerah pesisir yang berdekatan dengan area industri dan perkotaan menghasilkan garam dengan kandungan logam berat relatif lebih tinggi. Makin tinggi tingkat pencemaran air, makin besar kandungan logam berat dalam perairan tersebut.

A. Garam Industri

Pengertian garam industri adalah garam NaCl yang digunakan untuk kebutuhan industri  yang menggunakan garam sebagai salah satu bahan bakunya.  Garam untuk kebutuhan industri harus memenuhi aspek-aspek berikut ini :

  • Kandungan NaCl minimum 97% dari berat kering suatu produk garam. Dalam penggunaan tertentu (misalnya untuk kebutuhan industri makanan dan bumbu penyedap), kandungan NaCl minimum yang diperbolehkan bisa mencapai 98% dari total beratnya.
  • Memiliki kandungan maksimum logam-logam berat beracun yang dibatasi oleh sejumlah parameter yang diakui secara internasional. WHO mengeluarkan batasan-batasan maksimum kandungan logam berat pada suatu produk garam.
  • Memiliki aspek rasa asin yang baik. CaCl2, KCl, MgCl2, adalah pengotor dari garam yang memiliki rasa sedikit pahit. Banyaknya kandungan pengotor menyebabkan rasa garam menjadi kurang asin dan kurang enak di lidah orang yang mengkonsumsinya.
  • Kandungan TSS (Total Solid in Solution) yang sangat rendah, atau nilai sangat kecil yang bisa diabaikan dalam beberapa metode pengukuran.
  • Bebas dari senyawa-senyawa organik berbahaya.

Dari paparan syarat-syarat di atas, dapat dikatakan bahwa produk garam industri ditujukan untuk segala industri yang mengutamakan standar mutu tinggi dan diakui secara internasional. Produk-produk makanan Indonesia yang di ekspor tentu harus sudah memenuhi standar-standar minimum yang diperlukan, termasuk standar minimum mutu garam yang dipakai sebagai perasa.

Pengguna garam industri terbanyak adalah sektor industri kimia dasar, industri kimia penunjang, industri makanan dan minuman, dan penggunaan di beberapa sektor lainnya.

B. Garam Konsumsi

Pada dasarnya air laut juga mengandung ion iodium, sebagaimana yang tertera di tabel 1. Namun pada saat proses kristalisasi yang dilakukan dengan cara penguapan oleh sinar matahari, sebagian besar dari ion iodium teroksidasi menjadi gas I2 dan menguap ke udara. Akibatnya kristal garam yang diperoleh mengalami kekurangan yodium di  dalamnya. Padahal iodium memiliki pengaruh dalam menekan probabilitas munculnya penyakit gondok.

Oleh karena itu, agar garam yang dihasilkan mengandung yodium yang cukup, perlu dilakukan penambahan yodium terhadap kristalnya. Syarat minimum kandungan yodium di dalam krtistal garam konsumsi  adalah sekitar 8 gram per ton, namun nilai yang optimal berada di sekitar 25 gr / ton. Senyawa yodium yang banyak digunaikan sebagai campuran untuk garam konsumsi umumnya KIO3 (potassium iodat), karena senyawa iodium ini bersifat lebih stabil dibanding senyawa-senyawa yodium lainnya, khususnya pada kondisi basah, terlarut, dan terpapar matahari. Dapat disimpulkan bahwa hampir semua kandungan yodium yang ada di dalam garam konsumsi berasal dari penambahan, dan bukan berasal dari kristal garam itu sendiri.

Garam untuk kebutuhan konsumsi berhubungan erat dengan kesehatan orang yang mengkonsumsinya. Oleh karena itu, disamping pemenuhan kandungan yodium minimum, diperlukan juga perhatian terhadap kandungan maksimum logam-logam berat beracun yang diperbolehkan. Oleh karena itu, penggunaan garam industri sebagai bahan baku untuk pembuatan garam untuk kebutuhan konsumsi banyak dilakukan. Meskipun standar SNI mensyaratkan kandungan minimum NaCl  94% dalam garam konsumsi, namun garam konsumsi yang bermutu tinggi sebaiknya harus memenuhi standar mutu minimum yang sama dengan garam industri (dalam hal kandungan minimum NaCl dan kandungan maksimum logam-logam berat beracun yang diijinkan).

Dari penjelasandi atas,bisa dikatakan bahwa perbedaan garam untuk kebutuhan konsumsi  dan garam untuk industri sebenarnya hanya terletak pada ada tidaknya kandungan yodium yang ditambahkan. Garam industri yang digunaikan untuk membuat soda api (NaOH) dan HCl tidak membutuhkan yodium, namun garam industri yang digunakan untuk konsumsi (misalnya dicampur pada produk minuman atau makanan) harus terlebih dahulu dicampur dengan senyawa KIO3.

C. Garam farmasi

Garam farmasi adalah garam yang digunakan untuk kebutuhan industri farmasi, atau garam yang digunakan sebagai bahan baku obat-obatan. Cairan infus harus menggunakan bahan dasar garam farmasi, yang memiliki standar kandungan NaCl minimum sekitar 99,5 %. Cairan infus tidak bisa menggunakan bahan baku garam industri, karena persyaratan minimumnya jauh di atas persyaratan minimum garam untuk keperluan industri dan konsumsi.

Produksi Garam Untuk Kebutuhan Industri dan Farmasi

Meskipun bestekin.com telah berusaha menyebarluaskan cara membuat garam industri, namun hingga dimuatnya tulisan ini, belum terlihat adanya tanda-tanda tumbuhnya usaha industri garam untuk kebutuhan industri nasional. Padahal setiap tahun impor garam untuk kebutuhan industri dan konsumsi nasional sangat tinggi, dan naik secara gradual dari tahun ke tahun. Saat ini jumlah garam yang diimpor telah melebihi 2,16 juta ton per tahun (http://kemenperin.go.id/artikel/11298/Garam-Industri-Masih-Bergantung-Impor), dan kemungkinan nilai rielnya bisa berada di atas angka resmi.

Dengan harga di atas Rp 1.300.000,- per ton nya, maka potensi pembuatan garam industri bisa menghasilkan pendapatan di atas Rp 3 trilyun per tahun, atau penghematan devisa hingga USD 250 juta per tahun.

Sama halnya dengan garam industri yang masih 100% diimpor, garam untuk kebutuhan industri farmasi pun masih harus diimpor. Saat ini kebutuhan garam farmasi nasional telah mencapai 5.000 to per tahun. Dengan harga beli yang mencapai USD 700,00 per ton (Rp 8.500.000,-) per ton, maka hilangnya devisa untuk memenuhi kebutuhan garam farmasi sekitar Rp 42,5 milyar per tahun.

Apa Yang Menyebabkan Tak Berkembangnya Usaha Industri Garam Bermutu Tinggi? 

Garam yang diproduksi oleh petani dan industri-industri garam nasional adalah garam yang dihasilkan hanya oleh proses evaporasi air laut, di mana evaporasi  hanya bertujuan menguapkan molekul air dan memisahkan sebagian dari senyawa-senyawa hygroskopis yang ada di air laut. Akibatnya, garam yang dihasilkan melalui proses penguapan hanya mengandung Kristal NaCl antara 86% – 92%. Nilai ini tentu masih jauh di bawah syarat minimum kandungan NaCl untuk kebutuhan industri.

Beberapa hal yang menyebabkan belum diproduksinya garam untuk kebutuhan industri dan farmasi sebagai berikut :

  • Rendahnya pemahaman dan implementasi sains di dunia pendidikan dan kalangan umum menjadi penyebab utama belum diproduksinya garam industri di dalam negeri.
  • Budaya yang belum menjadikan sains sebagai pedoman untuk kemajuan.
  • Budaya ingin mudah dalam memperoleh apa yang diinginkan.
  • Budaya usaha yang masih menempatkan sektor perdagangan sebagai basis utama.

Industri – Industri Pengguna Garam Mutu Tinggi

Garam industri digunakan dalam hampir semua sector industri, yang antara lain sebagai berikut :

  • Industri klor-alkali yang membuat NaOH, HCl, NaOCl menggunakan bahan baku garam industri dengan tingkat kemurnian NaCl minimum 97,5%
  • Sebagai bahan baku untuk industri kimia dasar yang memproduksi kaporit, soda ash, ammonium klorida, dan ratusan jenis bahan kimia lainnya.
  • Industri makanan dan minuman yang mengharuskan penggunaan garam bermutu tinggi.
  • Industri perikanan dan kelautan.
  • Industri tekstil, perminyakan, kaca, dan sebagainya.

Proses Pemurnian Sebagai Rantai Utama Dalam Pembuatan Garam Mutu Tinggi

Dengan garis pantai terpanjang dan terluas di dunia, semestinya Indonesia bisa menjadi produsen utama garam. Untuk memproduksi garam bermutu tinggi, dibutuhkan penguasaan sains yang baik pula. Pemurnian garam pada dasarnya adalah bagaimana cara memisahkan senyawa NaCl dari berbagai senyawa-senyawa lain yang juga ada di dalam air laut. Sebagaimana yang tertera di tabel 1., kandungan air laut tak hanya H2O dan NaCl saja, namun terdapat puluhan senyawa-senyawa lain di dalamnya.

Pemisahan senyawa-senyawa pengotor dilakukan menggunakan kombinasi proses fisika dan reaksi kimia. Sebagai contoh, bagaimana cara memisahkan unsur kimia magnesium dari larutan jenuh air laut ?!

Dalam senyawa MgCl2 yang terlarut, magnesium terdissosiasi menjadi ion Mg2+ yang sifatnya larut juga. Penggunaan ion OH atau CO32- yang dimasukkan ke dalam larutan mengakibatkan terbentuknya senyawa Mg(OH)2 atau senyawa MgCO3 yang berupa endapan tak larut, dengan kelarutan yang sangat kecil. Senyawa MgCl2 yang terlarut dalam air laut jenuh memiliki kelarutan yang sangat tinggi, hingga 55 g/L pada suhu 25 °C, sedangkan senyawa  Mg(OH)2 hanya memiliki kelarutan  0.006 g/L pada suhu 25 °C. Dengan merubah senyawa, maka ion magnesium, ion-ion logam berat, dan ion-ion logam-logam yang terlarut bisa diendapkan dan dipisahkan dari air garam, sehingga tingkat persentase dan kemurnian NaCl pun naik dari nilai sebelumnya.

Pada dasarnya proses pembuatan garam untuk kebutuhan industri dan farmasi tidaklah sulit. Dengan terus naiknya kebutuhan akan 2 item tersebut, maka usaha pembuatan garam bermutu tinggi sudah selayaknya menjadi salah satu primadona usaha.

HOVERCRAFT, SARANA TRANSPORTASI EFEKTIF UNTUK WILAYAH MARITIM

Hovercraft bekerja menggunakan prinsip gaya angkat dan dorong menggunakan tenaga angin ke bagian bawah dan belakang. Prinsip kerja ini membuat hovercraft mampu beroperasi di segala medan ; perairan di seluruh tingkat kedalaman, darat, dan udara.

Teknologi hovercraft terus dikembangkan di negara-negara maju, yang kebanyakan dilakukan oleh sektor swasta. Hingga kini hovercraft telah digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain :

  • Transportasi penumpang dan barang antar pelabuhan selat atau sungai, yang mampu beroperasi pada minimnya infrastruktur pelabuhan. Hovercraft telah lama digunakan sebagai alat transportasi laut dan penyeberangan di berbagai negara maju. Laju yang lebih baik dibanding kapal-kapal ferri konvensional membuat sarana transportasi ini bisa menjadi pilihan jika dikembangkan di Indonesia.

Pada video di atas terlihat bahwa hovercraft memiliki kecepatan sangat tinggi, dan mampu beroperasi dalam infrastruktur yang minim

  • Transportasi dan alat pertempuran militer. Sebagai sarana transportasi militer, hovercraft digunakan untuk pendarat pasukan dan peralatan tempur (seperti panser, dsb). Military Hovercraft juga bisa digunakan sebagai peralatan SAR pada daerah-daerah yang mengalami bencana alam. Sebagai contoh, hovercraft militer USA pernah digunakan di Aceh beberapa saat setelah tsunami. Pada saat terjadinya tsunami di Aceh, praktis hampir semua infrastruktur hancur. Namun hovercraft yang membawa bantuan dapat dengan mudah masuk dalam situasi infrastruktur yang sangat buruk saat itu.
  • Alat transportasi SAR dan medis untuk daerah-daerah pedalaman yang sulit dijangkau oleh alat transportasi konvensional. Pada wilayah-wilayah yang lebih mudah dijangkau melalui sungai atau rawa-rawa, penggunaan hovercraft tentu lebih unggul dibanding sarana transportasi darat maupun alat transportasi sungai konvensional.
  • Alat transportasi udara maritim, yang mampu menghubungkan antar pulau-pulau kecil dengan kecepatan tinggi. Beberapa produk pesawat maritim yang menggunakan teknologi hovercraft saat ini sudah tersedia di pasar, antara lain airfish-8 dan new airfish-8, seperti terlihat pada link video berikut :
  • Untuk sarana hiburan, khususnya bisa digunakan untuk balapan dan berbagai jenis perlombaan lainnya.

Misi pemerintah untuk mengembangkan infrastruktur perhubungan tentu sangat sulit dilakukan pada daerah-daerah yang minim penduduk atau pulau-pulau kecil yang jarang penduduknya. Tak hanya itu, pengembangan infrastruktur juga terkendala pada beberapa sebab-sebab lain yang membuatnya tak mungkin dilakukan pada daerah-daerah tertentu. Pada daerah-daerah ini lah perlunya dikembangkan sarana transportasi alternatif, yang salah satunya berjenis hovercraft.

Besarnya resiko keamanan dan pertahanan yang muncul akibat dari pentingnya possisi strategis Indonesia membutuhkan berbagai peralatan pertahanan yang bisa menjangkau semua medan pertempuran. Oleh karena itu pengembangan teknologi Hovercraft bisa dijadikan sebagai salah satu solusi dalam pertahanan dan keamanan negara.

 

 

Sidang Pembunuhan Mirna : Apa Yang Menyebabkan Seorang Bisa Di Pidana ? (Bagian 1)

Setelah mencermati sidang-sidang terhadap terdakwa Jessica Kumala Wongso, tim bestekin.com berkesimpulan bahwa jaksa telah berhasil membuktikan 4 dari 5 pilihan alat bukti sah yang di atur dalam KUHAP Pasal 184. Sebagaimana syarat minimum 2 alat bukti agar seseorang dapat di pidana yang sesuai dengan ketentuan KUHAP Pasal 183, maka terpenuhinya 4 alat bukti sesungguhnya telah jauh melebihi syarat minimum alat bukti sah yang diperlukan.

Kasus kematian Mirna yang disebabkan racun sianida telah menguras energi rakyat yang sangat besar, dengan penyesatan publik yang luar biasa. Adanya berbagai manuver dari pihak terdakwa yang mengatakan bahwa terdakwa tidak bisa dipidana dikarenakan beberapa hal, menyebabkan terbelahnya sikap sebagian besar masyarakat. Jika terus-menerus dibiarkan, maka tak menutup kemungkinan tekanan publik bisa menggoyang pendirian pengambil keputusan, yang dalam hal ini “Hakim”.

Padahal, dalam menentukan seseorang bisa di pidana (pidana umum), sudah diatur di dalam pasal-pasal KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana) (Undang-Undang No. 8 tahun 1981).

Adanya penggiringan opini publik dengan kalimat-kalimat yang sesungguhnya bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan dan bertujuan membentuk opini yang sesat, begitu massif dilakukan oleh pihak terdakwa.

Beberapa di antara upaya penggiringan opini tersebut antara lain dengan mengatakan kalimat-kalimat seperti berikut ini :

  • “Untuk menentukan sebab kematian suatu korban yang dicurigai mati karena diracun, maka otopsi merupakan suatu keharusan”. Salah satu yang mengatakan hal ini adalah saksi meringankan Dr. Djaja Surya Atmadja. Apa yang dikatakan oleh saksi Dr. Djaja ini adalah upaya untuk mengaburkan dan menyesatkan publik, bahwa seolah-olah otopsi adalah harga mati, jika mayat tak diotopsi maka tak dapat ditentukan sebab-sebab kematiannya.
  • “Untuk menentukan pelaku yang memasukkan sianida ke kopi yang di minum Mirna, harus terlihat jelas secara visualisasi adanya tangan terdakwa memasukkan sianida ke dalam gelas tersebut”. Padahal untuk menjatuhkan pidana pada seseorang yang melakukan tindak pidana, tidak mengharuskan adanya saksi mata yang melihat masuknya racun ke dalam kopi.

Meskipun KUHAP tidak mengenal kata “otopsi”, namun ketentuan kalimat yang memiliki arti “otopsi” sesungguhnya telah di atur di KUHAP (Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana). KUHAP yang berlaku saat ini adalah KUHAP yang berupa Undang-undang No. 8 tahun 1981.

Tingkat kekuatan suatu produk hukum (hirarki hukum) di Indonesia saat ini sebagai berikut :

  1. Pancasila, sebagai sumber dari segala sumber hukum.
  2. UUD 1945
  3. Undang-undang
  4. Peraturan Pemerintah
  5. dst…

Dari hirarki hukum di atas, maka KUHAP yang merupakan pedoman ber-acara dalam hukum pidana, merupakan produk undang-undang yang berada di bawah Undang-undang Dasar.

Hubungan Otopsi dengan KUHAP

Dalam kesaksiannya, Dr. Djaja mengatakan bahwa otopsi diatur dengan jelas di KUHAP, dimana pasal-pasal yang mengatur hal ini sebagai berikut :

Pasal 133

  • Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
  • Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
  • Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

Pasal 134

  • Dalam hal sangat diperlukan di mana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban.
  • Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.
  • Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang perlu diberitahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.

Pasal 133 ayat (1) menerangkan secara jelas bahwa perlu atau tidaknya keterangan ahli kedokteran forensik dalam rangka pembuktian adanya tindak pidana yang diduga dilakukan menggunakan racun merupakan kewenangan penuh dari penyidik. Dari pasal ini kita bisa menyimpulkan bahwa otopsi adalah pilihan, bukan suatu keharusan untuk menentukan adanya tindak pidana terhadap korban.

Perlu tidaknya dilakukan otopsi terhadap korban mengacu pada pasal 183 dan pasal 184 KUHAP, di mana jika alat bukti yang dimiliki masih dianggap kurang oleh penyidik. Terhadap korban mati akibat tindak pidana, jika penyidik telah merasa memiliki minimum 2 alat bukti sah, maka plihan otopsi tidak perlu dilakukan.

Banyak sekali kasus kematian akibat kekerasan atau pun racun yang tak perlu dilakukan otopsi oleh penyidik, karena telah terpenuhinya minimal 2 alat bukti yang sah.

Dalam kasus kematian Almarhumah Mirna, penyidik menggunakan kewenangan yang sesuai dengan KUHAP Pasal 133 ayat (1), dimana isi dari permintaan tersebut mengacu pada KUHAP Pasal 133 ayat (2), yang cuplikannya sebagi berikut : “…atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat”. Penggalan kalimat “pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat” adalah 2 kalimat yang merupakan opsi (pilihan). Artinya, otopsi bisa dilakukan hanya terhadap sebagian dari organ-organ yang diperkirakan memiliki hubungan dengan kematian korban.

Otopsi adalah istilah yang sebetulnya tidak dikenal di KUHAP. Pasal 133 ayat (2) hanya mengatakan “pemeriksaan bedah mayat” dan “pemeriksaan mayat”, dimana maksud dan tujuannya hanya dalam rangka “membuktikan”. Secara umum istilah “otopsi” adalah “pelacakan”, yang bertujuan untuk menemukan “jejak” suatu perbuatan pidana. Jika di awal pemeriksaan mayat telah ditemukan bukti yang cukup, maka pembuktian pada bagian-bagian selanjutnya menjadi tidak perlu sama sekali.

Berdasarkan ketentuan dari KUHAP Pasal 133 dan 134, dapat disimpulkan bahwa :

  • Otopsi merupakan kewenangan penyidik, yang sifatnya hak (bukan kewajiban), bisa digunakan dan bisa juga tidak. Penggunaan kewenangan ini bergantung pada masih kurang atau sudah cukupnya alat bukti yang diperlukan untuk kepentingan peradilan.
  • Adanya penggalan kalimat “pemeriksaan mayat” dan “pemeriksaan bedah mayat” pada pasal 133 ayat (2) bisa disimpulkan bahwa otopsi tidak harus dilakukan secara menyeluruh terhadap tubuh korban, namun otopsi cukup dilakukan terhadap bagian-bagian tubuh yang sekiranya bisa membuktikan adanya pelengkap dari sejumlah “rangkaian petunjuk”, sebagai salah satu alat bukti sah.
  • Dalam kasus kematian Mirna, sesungguhnya pemeriksaan lambung hanya bertujuan melengkapi suatu rangkaian petunjuk, sebab sudah ada petunjuk awal adanya sianida di dalam kopi.
  • Apa yang dilakukan saksi ahli Dr. Slamet Purnomo sesungguhnya sudah sangat sesuai dengan ketentuan undang-undang, karena sesuai dengan KUHAP pasal 133 dan 134.
  • Keterangan pihak terdakwa yang mengatakan bahwa otopsi merupakan suatu keharusan dan otopsi harus dilakukan secara menyeluruh adalah keterangan yang tidak bisa dibenarkan, karena bertentangan dengan undang-undang, khususnya KUHAP Pasal 133 dan 134.
  • Adanya keterangan saksi ahli dari terdakwa yang mengatakan bahwa “otopsi merupakan suatu keharusan untuk menentukan sebab matinya seseorang” sangat bertentangan dengan ketentuan undang-undang, dalam hal ini KUHAP Pasal 133 ayat (1) dan (2),sehingga menyebabkan keseluruhan dari isi kesaksian ahli forensik Dr. Djaja cs tidak bernilai sama sekali.

Ketentuan bisa tidaknya seseorang dijatuhi pidana

Bisa tidaknya seseorang dijatuhi pidana harus mengacu pada pasal 183 KUHAP, yang bunyinya sebagai berikut :

 Pasal 183

Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

Selanjutnya defenisi banyaknya pilihan alat bukti sah diatur pada pasal selanjutnya :

Pasal 184

(1) Alat bukti yang sah ialah:

  1. keterangan saksi;
  2. keterangan ahli;
  3. surat;
  4. petunjuk;
  5. keterangan terdakwa.

(2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.

Berdasarkan pasal 183 dan 184, maka Hakim cukup menyakini bukti minimal 2 saja dari 5 pilihan alat bukti yang tersedia dalam pasal 184, untuk menjatuhkan pidana pada seorang terdakwa. Dalam kasus dugaan pembunuhan berencana dengan terdakwa Jessica Kumala, tim bestekin.com melihat bahwa JPU sudah berhasil membuktikan 4 dari 5 pilihan alat bukti yang tersedia, sehingga sangat besar kemungkinan hakim bisa menjatuhkan vonis bersalah pada terdakwa.

Sidang Duplik Jessica : Keterangan Bohong Amir Papalia

Apa hubungan Jessica dan Amir Papalia?

Berikut video fakta kebohongan berjama’ah yang dilakukan Jessica.

Dari video yang ditampilkan di atas, terlihat ada perbedaan keterangan antara terdakwa dan PH, khususnya menyangkut TKP yang dimaksudkan oleh Amir Papalia. Terdakwa mengatakan kejadian penyerahan uang terjadi di parkiran Sarinah (klip 1), sedangkan PH mengatakan bahwa Amir Papalia melihat Arief menyerahkan uang pada Rangga di Jalan Thamrin (klip 2).

Untuk lengkapnya kita lihat visual lokasi parkiran kendaraan Sarinah berikut :

visualisasi lokasi parkir motor Sarinah

Gambar 1. Lokasi Parkiran Sepeda Motor Sarinah

Dari gambar 1, terlihat bahwa area parkir sepeda motor di Sarinah terpisah dari area parkiran kendaraan roda 4, sehingga tak memungkinkan adanya pertemuan 2 jenis kendaraan (roda 2 dan roda 4) pada lokasi yang sama. Padahal dari keterangan AP yang dibacakan Hidayat Boestam (HB), dia (Amir Papalia) melihat mobil Arief dan sepeda motor Rangga pada lokasi yang sama, dalam jarak 5 meter dari Amir Papalia (AP). Melihat dari visual parkiran Sarinah, jarak terdekat antara parkiran sepeda motor dan mobil 10-20 meter.

Jika Rangga dan Arief bertemu di area parkiran (seperti duplik yang dibacakan terdakwa), dan masing-masingnya berada di atas kendaraan masing-masing (sesuai dengan yang dibacakan HB, AP melihat motor Rangga dan mobil Arief di lokasi yang sama), maka :

  • Seharusnya jarak antara mereka berdua minimum 1 meter, karena AP melihat motor dan mobil pada titik yang sama.
  • Berdasarkan lokasi parkiran Sarinah yang memisahkan area parkir motor dan mobil, menjadi tak memungkinkan terjadinya penyerahan kantong plastik hitam yang dimaksud oleh Amir.
  • Motor Rangga bisa saja berada di dekat mobil Arief jika Rangga mengeluarkan dengan paksa sepeda motornya dari area parkir motor, dengan cara memikul (mengangkat) melewati pagar (suatu hal yang tak mungkin, dan pasti menjadi masalah besar).

Seandainya tuduhan serah terima uang terjadi di parkiran Sarinah (seperti yang dibacakan terdakwa), dapat disimpulkan keterangan yang dibacakan terdakwa 100% bohong.

Pembahasan Keterangan AP, yang dibacakan oleh PH terhadap Lokasi Kejadian

Dari cuplikan video pembacaan duplik di atas, AP mengatakan :

  1. Parkir kendaraan di lokasi parkiran Sarinah, dengan tujuan mau ke Sriwijaya (tak ditemukan adanya gedung Sriwijaya di sekitar Sarinah)
  2. AP keluar dari Sarinah lewat jembatan penyeberangan orang, yang pada gambar 2. berikut hanya ada di depan Sarinah, tepatnya di Jalan Thamrin, menyatu dengan halte bus way. Fakta menunjukkan, di sebelah kanan-kiri dan belakang gedung Sarinah tak ditemukan adanya jembatan penyeberangan orang.

JPO Jl. Thamrin

Gambar 2. Jembatan Penyeberangan Orang menyatu dengan halte bus way

  1. Tapi AP juga mengatakan bahwa dia terhenti di pembatas jalan, karena lalu lintas berbeda arah. Jadi jika kita mengikuti logika AP yang berubah-ubah, ada kemungkinan juga AP menyeberang melalui traffic light pada ruas jalan yang sama, seperti gambar berikut ini :

pos polis perempatan Sarinah Thamrin

Gambar 3. Titik tengah perempatan Sarinah, serah dengan jembatan penyeberangan

  1. AP terhenti di pembatas jalan (di antara ruas Thamrin dari arah Istana dan ruas Thamrin dari Arah Sudirman). Di posisi ini dia melihat Rangga dan Arief, dimana Arief berada di dalam mobil bagian belakang, dan Rangga di dekat Arief bersama sepeda motornya.
  2. AP melihat 2 orang tersebut sejarak 5 meter darinya.
  3. AP melihat adanya bungkusan hitam yang diserahkan oleh Arief ke Rangga, yang diperkirakan uang, dari jarak 5 meter.
  4. Uang yang dilihat dipastikan berjumlah Rp 140.000.000,-
  5. AP mengatakan mengetahui Rangga pelakunya setelah melihat wajah Arief dan Rangga di televisi pada tanggal 06 dan 10 Januari 2016

 

  • Jika menggunakan asumsi AP pada point (4) dan (5) di atas, maka dia melihat Arief dan Rangga di dalam jalur bus way, tepat di depan pos Polisi! Ini merupakan keterangan yang menyesatkan, suatu hal yang mustahil. Tidak mungkin Rangga masuk jalur bus way dan menantang polisi pada titik yang dikatakan oleh AP.
  • Jika yang dimaksud AP bahwa Rangga dan Arief berada di tepi jalan, berarti Arief dan Rangga berada persis di depang gedung BAWASLU. Jika kita menggunakan logika ini, maka dalam kenyataannya bertentangan dengan PERGUB DKI No. 195 tahun 2014 dan No. 141 tahun 2015, yang melarang sepeda motor melintas di ruas tersebut mulai pukul 06 pagi hingga pukul 23.00 malam, setiap harinya.

Pergub N0. 195 tahun 2014 yang berlaku sejak 12 Desember 2014, menetapkan larangan kendaraan roda 2 melintas di jalan tersebut.

Pasal1 Pergub No. 195 tahun 2014

(1) Gubernur menetapkan ruas jalan sebagai Kawasan Pembatasan Lalu Lintas Sepeda Motor.

(2) Ruas jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:

a. Jalan MH. Thamrin, segmen Bundaran HI sampai dengan Bundaran Air Mancur Monas; dan

b. Jalan Medan Merdeka Barat.

Peraturan Gubernur ini selanjutnya mengalami penyempurnaan melalui Peraturan Gubernur DKI No. 141 tahun 2015, dengan penambahan pasal sebagai berikut :

Pasal 3 Pergub DKI No. 141 tahun 2015.

  • Pembatasan lalu lintas sepeda motor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 diberlakukan mulai Pukul 06.00-23.00.

Berdasarkan 2 Pergub tersebut, maka mustahil sepeda motor Rangga bisa berada di ruas Jalan Thamrin pada pukul 15.50, yang melanggar ketentuan Pergub DKI No. 141 pasal 3 ayat 1.

Dari penjelasan Pergub ini, dapat disimpulkan bahwa keterangan AP yang mengatakan dia melihat sepeda motor Rangga di lokasi tersebut adalah 100% bohong.

Keterangan Tentang Jumlah Uang

Dari cuplikan video duplik yang dibaca oleh terdakwa, terdakwa mengatakan Rangga menerima uang Rp 140.000.000,- dari Aref di lokasi parkiran Sarinah, berdasarkan apa yang telah disampaikan oleh penasehat hukumnya. Jessica mengatakan, AP memberikan bungkusan uang di dalam kantong plastik hitam (yang dilihat dalam jarak 5 meter), dipastikan berjumlah Rp 140.000.000,-. Namun saat PH HB membacakan keterangan rekaman pembicaraan antara HB dan AP, tidak ditemukan adanya kalimat yang menjelaskan adanya uang sejumlah Rp 140.000.000,-. Berdasarkan kenyataan ini, lagi-lagi bisa disimpulkan bahwa keterangan duplik yang dibacakan terdakwa, khususnya menyangkut tuduhan jumnlah uang, disimpulkan 100% bohong.

Kemampuan AP memastikan jumlah uang sebanyak Rp 140.000.000,- di dalam kantong plastik hitam dari jarak 5 meter merupakan suatu hal yang tak mungkin, dan dapat dipastikan 100% bohong.

Jika pun nantinya seandainya AP mengatakan dia mendengar penyebutan jumlah uang dari Arief atau Rangga, namun suasana lalu lintas yang sangat ramai di pinggir jalan Thamrin tidak memungkinkan seseorang mampu mendengar dengan baik dari jarak 5 meter.

Keterangan AP yang dibacakan oleh HB hanya menyebutkan ada bungkusan di dalam pastik hitam yang diperkirakan uang, tidak menyebutkan jumlahnya berapa banyak, dan disaksikan dari jarak 5 meter. Adalah tidak mungkin seseorang bisa memastikan jumlah uang di dalam suatu bungkusan kantong plastik dalam jarak 5 meter. Bahkan petugas bank yang terbiasa tiap hari menghitung uang pun harus tetap menghitung setiap menerima atau mengeluarkan uang, untuk memastikan jumlah dengan tepat.

Keterangan AP yang dibacakan oleh HB juga bertentangan dengan fakta saat dia mendatangi kafe Olivier (sebulan setelah kematian Mirna), dan menuduh Rangga menerima transfer uang dari Arief senilai Rp 140.000.000,-. Ini dibuktikan oleh print-out rekening Rangga yang ditunjukkan oleh Rangga dan manajer kafe kepada AP.

Bukti-Bukti Yang Bisa Didapatkan oleh Pelapor Arief dan Rangga

Keterangan AP yang mengatakan bahwa ia masuk parkiran hari Selasa tanggal 05 Januari sekitar pukul 15.50 harusnya bisa dibuktikan oleh CCTV pada loket masuk dan keluar kendaraan roda 4, sesuai dengan gambar berikut ini.

cctv di loket keluar parkir sarinah

Gambar 4. CCTV di pintu keluar kendaraan roda 4.

cctv di loket masuk parkiran sarinah

Gambar 7. CCTV di Loket Masuk Kendaraan Roda 4

  • Berdasarkan visualisasi gambar loket masuk kendaraan roda 4 ke dalam area pakir Sarinah yang ditampilkan pada gambar 6 dan 7, maka Amir Papalia harus bisa membuktikan perkataannya, bahwa dia pernah parkir kendaraan (melalui CCTV) pada hari Selasa, tanggal 05 Januari 2016, antara pukul 15.00 hingga pukul 17.00. Jika tak terbukti adanya AP di lokasi parkiran (yang dibuktikan oleh CCTV di loket masuk dan di seluruh area parkir), maka polisi bisa dengan cepat menjadikan AP sebagai tersangka.
  • Jika Arif dan Rangga juga masuk di area parkiran Sarinah pada tanggal dan waktu yang sama (mengacu pada tuduhan AP dan keterangan duplik Jessica), maka kejadian tersebut harusnya tentu juga terekam di CCTV pintu masuk parkiran roda 4, pintu masuk parkiran kendaraan roda 2, dan CCTV area parkiran. Jika ini pun tak bisa dibuktikan oleh AP, maka polisi pun bisa dengan mudah menetapkan AP sebagai tersangka.

Keterangan Amir Papalia yang mengatakan bahwa ia melihat Arief Soemarko dan Rangga pada tanggal 06 dan 10 Januari di media televisi perlu juga didalami oleh polisi. Mirna tewas pada tanggal 06 Januari 2016, namun belum ada liputan tentang kematiannya melalui media TV pada tanggal tersebut. Keterangan AP yang mengatakan melihat wajah Arief dan Rangga pada tanggal 06 Januari 2016 di televisi merupakan suatu kebohongan besar, karena bertentangan dengan fakta, karena pada tanggal yang disebutkan, tidak ada liputan media televisi tentang kematian Mirna, apalagi kematian yang disebabkan oleh racun sianida.

Polisi baru memastikan sebab kematian Mirna setelah dilakukannya otopsi sebagian dari barang bukti, dimana keterangan ini diangkat ke media setelah tanggal 10 Januari 2016. Wajah Arief baru muncul ke media setelah adanya penetapan kematian Mirna yang disebabkan oleh racun sianida.

Maka dapat disimpulkan bahwa keterangan Amir Papalia bernilai 0, dengan persentase kebohongan yang 100%. Polisi sebaiknya segera melakukan penyelidikan dan penyidikan atas adanya laporan dari pelapor Arief dan Rangga, karena tujuan dari keterangan Amir Papali adalah untuk menyesatkan publik, melalui pembentukan opini yang 100% salah!