Sianida, Fungsi, Kegunaan, dan Sifat Racunnya

Peristiwa meninggalnya almarhumah Wayan Mirna Salihin yang ditengarai disebakan racun sianida yang dimasukkan ke dalam kopi yang diminumnya menjadi topik actual terpanas hingga saat dimuatnya tulisan ini.
Akibat kasus ini timbul banyak pro kontra dan pendapat yang simpang siur menyangkut sifat sianida, kadar racunnnya, efek terhadap tubuh dan kulit, dan bagaimana bisa memperoleh sianida dengan cara yang mudah.
Bestekin.com mencoba memberikan beberapa pencerahan dan pelurusan menyangkut beberapa senyawa sianida, fungsi dan kegunaannya, cara memperoleh dan membuat sianida, sifat racun sianida, dan cara menanggulangi paparan racun sianida di dalam tubuh manusia.
Sianida (CN) merupakan anion yang terbentuk dari ikatan antara atom karbon (C) dan atom nitrogen. Sianida memiliki banyak fungsi dan kegunaan dalam kehidupan ; disamping itu sebagian besar dari senyawa sianida juga memiliki sifat racun yang sangat mematikan.

I. Sifat – Sifat Kimia dan Fisika Sianida

Sianida [:C≡C:] adalah senyawa kimia monovalen yang membentuk kelompok CN. Kelompok ini, yang dikenal sebagai kelompok siano, terdiri dari atom karbon yang berikatan rangkap tiga dengan atom nitrogen. Ikatan atom rangkap tiga memiliki kekuatan yang lebih disbanding ikatan tunggal dan ikatan rangkap dua.
Beberapa senyawa sianida anorganik, seperti natrium sianida dan potassium sianida, merupakan kelompok senyawa yang memiliki ion sianida poliatomik bermuatan negatif (CN); senyawa ini merupakan garam dari asam hidrosianat yang sangat beracun. Ion sianida adalah isoelektrik dengan karbon monoksida dan molekul nitrogen.
Beberapa jenis sianida organik biasanya disebut nitril; pada senyawa jenis ini, gugus CN berikatan kovalen dengan gugus karbon, seperti metil (CH3) di metil sianida (asetonitril). Karena senyawa nitril tidak melepaskan ion sianida bebas, maka senyawa ini umumnya kurang beracun, atau dalam kasus polimer tidak larut seperti serat akrilik, pada dasarnya tidak beracun kecuali dibakar.
Asam hidrosianat yang umumnya dikenal sebagai hidrogen sianida atau HCN, adalah cairan yang sangat volatile, digunakan untuk mempersiapkan akrilonitril, yang digunakan dalam produksi serat akrilik, karet sintetis, dan plastik. Sianida digunakan juga di banyak proses kimia, antara lain ; fumigasi, bahan untuk pengerasan besi dan baja, pelarut dalam proses hydrometallurgy mineral logam, proses penyepuhan perhiasan logam mulia, dan sebagainya.
Larutan HCN sangat mudah mendidih dan menguap. Titik didih dan penguapan HCN berada di kisaran suhu 260C, atau hanya sedikit di atas suhu kamar (250C). Penguapan mengakibatkan resiko tercemarnya udara di sekitar larutan hidrogen sianida, yang dapat menimbulkan efek keracunan terhadap mahluk hidup yang menghirup udara yang telah tercemar sianida. Uap dari HCN memiliki bau khas menyengat yang keras dan mematikan. Konsentrasi gas hidrogen sianida yang lebih dari 0,3 mg / liter udara dapat membunuh manusia dalam kisaran waktu 10-60 menit. Konsentrasi hidrogen sianida dalam suatu larutan yang lebih dari 3500 ppm (sekitar 3,5 g / liter) akan membunuh manusia di sekitar 1 menit atau lebih. Penurunan suhu larutan sianida menggunakan alat atau zat pendingin dapat mengurangi resiko tingginya penguapan sianida, yang sekaligus bisa menekan bau yang ditimbulkan oleh larutan yang mengandung sianida.
Dalam kasus almarhum Mirna Salihin, jika memang kopi yang diminum mengandung sianida, maka jenis sianida yang larut di dalam kopi adalah larutan alkali sianida yang bercampur dengan larutan soda api, dan bukanlah larutan asam sianida. Keberadaan es batu dalam cairan kopi akan sangat membantu menurunkan tingkat penguapan gas sianida (pada pH dibawah 12 tingkat pembentukan HCN akan makin tinggi), dan dengan sendirinya mengurangi bau khas asam sianida (HCN) di udara dan di cairan kopi yang di minum.
HCN dapat diperoleh dari buah-buahan yang memiliki biji dan rongga semacam ceri, aprikot, apel, almond pahit, dan sebagainya. Umbi-umbian juga mengandung sianida dengan kadar yang bervariasi. Hidrogen sianida juga ditemukan pada bunga-bunga pada tamanan kacang-kacangan, misalnya pada bunga tanaman Lotus Australis. Sianida juga ditemukan pada dedaunan, antara lain daun singkong. Hewan merayap sejenis kaki seribu (lipan) melepaskan hidrogen sianida sebagai mekanisme pertahanan, seperti halnya serangga tertentu, seperti beberapa ngengat. Hidrogen sianida juga ditemukan dalam tembakau asap kayu dan dedaunan, dan asap dari pembakaran plastik yang mengandung nitrogen. 1,5 kg biji apel yang dihancurkan bisa dihasilkan sekitar 1 gram HCN. Kandungan sianida bisa mencapai 1 gram dalam setiap kilogram umbi dari ubi kayu racun.
Sianida yang terkandung dalam tumbuhan berasal dari gugus fungsional kelompok senyawa cyanohydrins. Sianohidrin adalah suatu gugus fungsional kimia yang ditemukan dalam senyawa organik. Cyanohydrins dapat dibentuk oleh reaksi sianohidrin, yang melibatkan pemurnian keton atau aldehida dengan hidrogen sianida (HCN) dengan adanya kelebihan alkali sianida (XCN) sebagai katalis.

RR’C=O+HCN→RR’C(OH)CN

gugus fungsional cyanohydrins

Dalam reaksi di atas, nukleofilik dari ion CN menyerang elektrofilik karbon karbonil di keton, diikuti oleh protonasi yang dilakukan HCN, sehingga menghasilkan anion sianida.
Gugus fungsional cyanohydrins yang terdapat dalam tumbuhan juga terbagi menjadi senyawa-senyawa mandelonitril, amygdalin, linamarin, dan lotaustralin.

Amygdalin / Laetrile
Amygdalin adalah glikosida sianogen yang berasal dari fenilalanin asam amino aromatik. Amygdalin dan prunasin sangat umum ditemukan pada tanaman rosaceae, khususnya genus Prunus, Poaceae (rumput), Fabaceae (kacang-kacangan), dan pada tanaman pangan lainnya, termasuk biji rami dan ubi kayu.
Sejak awal 1950-an penelitian telah menemukan bahwa amygdalin / laetrile (laetrile = nama lain dari amygdalin) bisa digunakan sebagai obat kanker alternatif, sering dengan menggunakan nama Vitamin B17. Namun penggunaan yang berlebihan dapat menimbulkan efek keracunan sianida.

Linamarin
Linamarin adalah glukosida cyanogenik yang ditemukan pada daun dan akar tanaman seperti singkong, kacang lima, dan rami. Senyawa ini adalah glukosida aseton sianohidrin. Setelah paparan enzim dan flora usus dalam usus manusia, alcohol dari linamarin dan lotaustralin dapat terurai menjadi senyawa hydrogen sianida yang beracun. Munculnya sianida dari linamarin biasanya berlangsung secara enzimatik dan terjadi ketika linamarin terkena enzim linamarase, suatu enzim yang biasanya berada di dalam dinding sel tanaman singkong.
Oleh karena itu untuk mengkonsumsi makanan yang berasal dari tumbuhan beracun sejenis linamarin maka makanan menggunakan tanaman yang mengandung jumlah yang signifikan dari linamarin, perlu dilakukan persiapan pembuangan terlebih dahulu racun (detoksifikasi) yang terdapat di dalam tumbuhan tersebut. Racun linamarin yang terdapat dalam ubi kayu atau ubi kayu beracun bisa dikurangi dengan cara hidrolisis dan pemisahan cairan hasil hidrolisis dari sari pati umbi yang akan diproses selanjutnya melalui perebusan, pengukusan, atau penggorengan. Memasak merupakan salah satu cara mengurangi kadar racun dari ubi kayu. Sebagian kecil dari jenis ubi kayu memiliki kandungan racun sianida yang tinggi, namun sebagian besar jenis ubi kayu hanya mengandung sianida dalam jumlah yang kecil. Menghindari mengkonsumsi ubi racun merupakan cara aman yang terbaik.

Lotaustralin
Lotaustralin juga merupakan glikosida sianogen, yang ditemukan dalam jumlah kecil di Fabaceae Austral Trefoil (Lotus australis), singkong (Manihot esculenta), kacang lima (Phaseolus lunatus), roseroot (Rhodiola rosea) dan semanggi putih (Trifolium repens). Lotaustralin adalah glukosida metil etil keton sianohidrin dan secara struktural terkait dengan linamarin. Baik linamarin maupun lotaustralin dapat dihidrolisis oleh enzim linamarase untuk membentuk glukosa dan senyawa hidrogen sianida yang beracun.

II. Berbagai Fungsi dan Kegunaan Sianida

Sianida umumnya diperdagangkan dalam bentuk senyawa padat alkali sianida, yang bisa ditemukan dalam senyawa NaCN (sodium sianida) dan KCN (potassium sianida). Sianida digunakan dalam berbagai bidang, antara lain ; pembasmi hama pada pertanian, pelarut logam dalam proses ekstraksi logam dari batuan mineralnya (misalnya ekstraksi emas menggunakan sianida), penyepuhan perhiasan yang terbuat dari logam mulia, sebagai katalis pada industri pembuatan polimer, cat air dan laundry blue (Prussian Blue), dan sebagainya.Tidak semua senyawa sianida bersifat racun. Senyawa-senyawa yang bersifat racun adalah senyawa-senyawa yang bisa mendissosiasi (melepaskan) ion sianida bebas dari senyawanya.

Penggunaan Sianida Dalam Industri Penambangan Emas dan Perak
Sianida memiliki peran yang sangat penting dalam ekstraksi emas berukuran mikro dan nano dari batuan asalnya. Umumnya jenis sianida yang digunakan dalam proses ekstraksi emas adalah alkali sianida, yang bisa berupa senyawa NaCN atau KCN.

4 Au (s) + 8 NaCN (l) + O2 (g) + 2 H2O (aq)     →     4 Na[Au(CN)2] (l) + 4 NaOH (l) ……………(i)

Atau bisa ditulis dalam bentuk ion dalam persamaan reaksi berikut ini :

4 Au (s) + 8 Na+ + 8 CN + O2 + H2O   →    8 Na+ + 4 Au(CN)2 + 4 OH      …………..……(ii)

Dari 2 persamaan reaksi (i) dan (ii), logam emas larut oleh ion sianida, membentuk anion kompleks Au(CN)2. Larutan emas ini selanjutnya diadsorbsi menggunakan adsorbent karbon aktif atau granular resin anion yang bisa dipisahkan dari lumpur melalui proses penyaringan partikel kasar.
Disamping NaCN atau KCN, ion kompleks heksasianoferat III Fe(CN)63- juga bisa digunakan sebagai oksidator dan pelarut emas dalam proses sianidasi.
Senyawa ferri sianida dan ferrosianida memiliki tingkat toksik yang relatif rendah dibanding senyawa alkali sianida, disebabkan ikatan antara ion besi II dan besi III dan ion sianida yang jauh lebih kuat. Namun penurunan pH yang terjadi akibat naiknya konsentrasi ion hidrogen dalam larutan ferri atau ferro sianida dapat melepaskan senyawa hydrogen sianida yang beracun dari larutannya.

Penggunaan Sianida Dalam Industri Pembuatan Pigmen Warna Prussian Blue
Prussian Blue atau zat kimia Biru Prusia merupakan pigmen biru tua dengan rumus kimia yang ideal Fe7(CN)18. Namun untuk lebih memahami ikatan kimia dalam senyawa kompleks nya, Prussian blue dapat juga ditulis dengan rumus kimia Fe4[Fe(CN)6]3•xH2O. Nama lain dari Prussian blue bisa juga disebut Berlin Blue atau biru berlin.

Prussian Blue dibuat dari reaksi kimia antara larutan alkali ferro-sianida dan larutan jenuh besi III klorida. Kombinasi dari ion ferri yang berasal dari larutan jenuh besi III klorida dan ion ferro sianida membentuk pigmen warna yang memiliki warna biru tua. Prussian Blue bersifat non-toksik (tidak beracun) dan justru bisa digunakan sebagai obat. (Kontroversi keterangan saksi ahli Prof. Beng Beng Ong pada Persidangan Jessica Kumala Wongso).

Prussian Blue digunakan secara luas dalam berbagai bidang. Pengguna terbesar dari pigmen ini adalah industri cat dan tinta cair, pembiru pakaian putih saat dibilas (laundry blue atau blau).
Prussian Blue juga digunakan sebagai obat bagi beberapa jenis keracunan logam berat, misalnya keracunan yang disebabkan oleh logam thalium dan isotop radioaktif cesium. Untuk pengobatan keracunan, Prussian Blue diberikan secara oral.

III. Cara Pembuatan Sianida

Sianida yang beredar di pasaran umumnya merupakan senyawa natrium sianida, potassium sianida, calcium cyanamide, ferro sianida, ferri sianida, dan Biru Prusia (Prussian Blue). Senyawa natrium dan kalium sianida memiliki sifat racun yang sangat kuat. Senyawa kalsium sianida digunakan sebagai pupuk pertanian, dan memiliki tingkat racun yang relatif tinggi jika masuk ke tubuh melalui oral. Senyawa kompleks Ferro dan ferri sianida bersifat low toksik, karena memiliki ikatan kimia antara ion besi dan sianida yang sangat kuat. Adapun Prussian Blue merupakan senyawa kimia sianida tidak beracun (non-toksik) dan aman digunakan secara oral.

Pembuatan Hidrogen Sianida
Proses pembuatan asam sianida (HCN) yang paling sering dilakukan menggunakan metode oksidasi Andrussow, yang diciptakan oleh Leonid Andrussow, dimana metana, amonia, dan oksigen, yang menggunakan katalis platina, bereaksi pada suhu sekitar 1200 ° C.

2 CH4 + 2 NH3 + 3 O2     →    2 HCN + 6 H2O                                            ………………………….(iii)
Energi yang dibutuhkan untuk reaksi ini berasal dari panas yang timbul akibat reaksi oksidasi parsial metana dan amonia.
Proses pembuatan HCN lainnya adalah proses Degussa (BMA proses) di mana tidak ada oksigen ditambahkan dan energi harus ditransfer secara tidak langsung melalui dinding reaktor.

CH4 + NH3     →     HCN + 3 H2                                                                       ……………..……………….(iv)

Asam hidrosianat (HCN) juga bisa diekstrak dari daun, bunga, atau umbi-umbian dari tanaman beracun yang memiliki cyanohydrins, dengan cara hidrolisis yang diikuti proses pengasaman dan penyulingan.

Pembuatan Sodium Sianida
Pada awal mulai diproduksinya sodium sianida, system produksi menggunakan proses Castner-Kellner, yang merupakan reaksi kimia antara natrium amida dan karbon pada suhu tinggi.
NaNH2 + C   →    NaCN + H2                           ……………….……………(v)

Perkembangan teknologi membuat proses yang menggunakan metode Castner-Kellner menjadi kuno, dan digantikan oleh proses yang lebih efisien. Saat ini sodium sianida diproduksi melalui reaksi kimia substitusi antara hidrogen sianida dengan natrium hidroksida:

HCN + NaOH   →    NaCN + H2O                                  ………………..(vi)

Karena garam ini berasal dari asam lemah dan basa kuat, maka senyawa NaCN mudah beralih ke HCN pada saat dilakukan hidrolisis. Meskipun pada pH yang tinggi dalam larutannya, sebagian kecil dari sianida tetap terlepas dan membentuk gas hydrogen sianida yang berbau seperti almond pahit (tidak semua orang bisa mencium bau khas ini). Sodium sianida bereaksi cepat dengan asam kuat, melepaskan gas hidrogen sianida yang jumlahnya sebanding dengan ion hydrogen yang ditambahkan. Gas HCN yang terlepas bersifat sangat toksik dan dapat menyebabkan kematian.

Sodium sianida juga bisa dihasilkan dari senyawa kalsium sianamida (calcium cyanamide Ca(CN)2) melalui 2 tahapan reaksi kimia sebagai berikut :

Ca(CN)2 + 2 HX (l)    →    CaX + 2 HCN (l)                             ………………………(vii)
2 HCN (l) + NaOH (l)     →       NaCN (l) + H2O (aq)               ………………………(viii)

Alkali Sianida juga bisa diproduksi dari proses hidrolisis senyawa cyanohydrins yang berasal dari tanam-tanaman, yang diikuti beberapa proses lainnya, dan diakhiri melalui proses stabilisasi menggunakan larutan NaOH atau KOH.

IV. Ciri-Ciri Keracunan Sianida

Keracunan sianida terjadi ketika organisme hidup terkena senyawa yang menghasilkan ion sianida (CN-) ketika dilarutkan dalam air. senyawa sianida yang beracun umum termasuk gas hidrogen sianida dan sianida padatan kristal kalium, natrium sianida, dan calcium cyanamide. Ion sianida menghentikan respirasi sel dengan menghambat enzim sitokrom c oksidase yang berada di dalam mitokondria.

Keracunan sianida biasanya sulit dideteksi secara visual. Efek dari menelan sianida sangat mirip dengan efek dari mati lemas, karena sianida menghentikan kemampuan sel-sel tubuh dalam menggunakan oksigen, suatu zat yang sangat vital untuk kehidupan sel tubuh. Gejala-gejala keracunan sianida sangat mirip dengan kekurangan oksigen yang dialami ketika hiking atau mendaki di ketinggian.

Pada dosis yang lebih rendah, kehilangan kesadaran seseorang mungkin didahului oleh kelemahan umum, pusing, sakit kepala, vertigo, kebingungan, dan kesulitan bernafas. Pada tahap pertama dari ketidaksadaran, pernapasan seringkali cukup atau bahkan cepat, meskipun keadaan korban berlangsung menuju koma, kadang disertai edema paru, dan pada akhirnya menyerang jantung.

Biasanya, konsumsi akut akan memiliki dramatis, onset yang cepat, mempengaruhi jantung dengan cepat dan dapat menghentikan detak jantung secara tiba-tiba. Keracunan sianida juga dapat langsung mempengaruhi otak dan menyebabkan kejang atau koma. Jika sianida yang dihirup menyebabkan koma dengan kejang, apnea, dan serangan jantung, kematian sudah dalam hitungan detik. Sianida tidak langsung menyebabkan sianosis. Dosis fatal bagi manusia bisa terjadi mulai dari 1,5 mg / kg berat badan. Berat tubuh sekitar 50 kg mungkin bisa mengalami kematian jika menelan minimum 75 mg sianida.

Kulit orang yang terkena racun sianida sianida kadang-kadang bisa menjadi sangat merah muda atau merah ceri, dan berubah menjadi gelap, yang disebabkan oksigen yang tertinggal di dalam darah dan tidak masuk ke dalam sel. Penderita mungkin juga bernapas sangat cepat dan memiliki detak jantung sangat cepat atau sangat lambat. Terkadang napas seorang yang keracunan bisa berbau seperti almond pahit, meskipun ini mungkin sulit dideteksi.  Apakah Mirna Tewas Karena Racun Sianida?

V. Cara Menetralisir Racun Sianida

Sianida bisa dinetralisir menggunakan beberapa jenis senyawa kimia. Pencegahan pencemaran sianida di perairan bisa dilakukan menggunakan beberapa jenis bahan kimia. Demikian juga dengan keracunan sianida pada manusia, yang juga bisa disembuhkan menggunakan beberapa jenis bahan kimia.

Penetralisiran Kontaminasi Sianida di Perairan Yang Tercemar

Perairan yang tercemar oleh sianida bisa dinetralkan menggunakan senyawa-senyawa kimia, antara lain ; hydrogen peroksida H2O2, besi II sulfat atau besi II klorida, besi II hidroksida, klorinasi pada pH tinggi, dan menggunakan cahaya ultraviolet dari matahari.

Hidrogen Peroksida
Efek racun dari sianida bisa dikurangi atau dinetralisir menggunakan larutan hydrogen peroksida (H2O2). Proses ini umumnya dilakukan di industry penambangan emas, yang menggunakan sianida sebagai pelarut bijih emas. Detoksifikasi menggunakan H2O2 juga dilakukan pada industri pelapisan emas pada perhiasan emas, dan beberapa industry yang menggunakan sianida sebagai salah satu bahan kimia dalam proses produksinya. Pada proses detoksifikasi sianida menggunakan H2O2, sianida bereaksi dengan peroksida menghasilkan senyawa baru NaOCN yang kurang beracun, dan air.

NaCN + H2O2    →      NaOCN + H2O                              …………….…………………(ix)

Hidrogen peroksida tak bisa digunakan untuk mengobati pasien yang terpapar racun sianida, karena memiliki karakter reaksi yang bisa membahayakan tubuh manusia.

Pengobatan Penderita Keracunan Sianida

Senyawa sianida tidak menimbulkan efek yang berarti terhadap kulit luar seseorang. Jika pun terjadi iritasi atau gatal-gatal, hal itu lebih disebabkan oleh senyawa alkali hidroksida (NaOH atau KOH) yang bercampur bersama alkali sianida. Kulit yang terkena alkali sianida (NaCN atau KCN) akan terasa licin pada saat basah, yang lama-kelamaan berubah menjadi agak lengket pada saat kulit yang terkena mendekati kering. Membersihkan bagian kulit yang terpapar cairan sianida bisa dilakukan menggunakan air yang dikombinasi dengan sabun, dilanjutkan pembilasan menggunakan air bersih dalam jumlah yang banyak, hingga bagian kulit yang terkena sudah tak terasa licin dan lengket.
Racun sianida bisa masuk ke dalam tubuh bisa melaui mulut, hidung, dan suntikan ke dalam darah. Sianida yang masuk bereaksi dengan cepat di dalam darah, dan dalam dosis yang cukup sangat bisa menimbulkan efek kematian. Hingga kini telah ditemukan beberapa jenis senyawa kimia yang mampu mengobati keracunan sianida. Senyawa-senyawa kimia tersebut dijelaskan pada bagian berikut ini.

Nitrite
Pada proses netralisasi racun sianida menggunakan ion nitrit (NO2), nitrit mengoksidasi sebagian dari senyawa besi dalam hemoglobin, mengubah ion besi II menjadi besi III, yang mengakibatkan terkonversinya hemoglobin menjadi methemoglobin.
Methemoglobin yang terbentuk selanjutnya bereaksi dengan sianida, membentuk cyanmethemoglobin. Reaksi ini simultan dengan terlepasnya sianida dari enzim sitokrom oksidase. Pengobatan dengan nitrit tidak berbahaya karena methemoglobin tidak dapat membawa oksigen, dan efek methemoglobinemia yang terbentuk bisa diobati menggunakan biru metilen.

Hydroxocobalamin
Hydroxocobalamin (vitamin B12) bisa digunakan untuk pengobatan penderita keracunan sianida. Cara kerja dari vitamin B12 adalah reaksi kimia substitusi yang terjadi antara ligand hydroxo dari hydroxocobalamin dengan ion sianida, membentuk senyawa cyanocobalamin yang tak beracun, yang juga masih merupakan jenis lain dari vitamin B12.

Thiosulfate
Sodium thiosulfate (Na2S2O3) atau calcium thiosulfate (CaS2O3) bisa digunakan sebagai obat pada penderita keracunan sianida ringan. Thiosulfate bereaksi dengan sianida, membentuk senyawa baru thiocyanate (SCN) yang relatif kurang beracun. Penggunaan thiosulfate pada penderita akut kurang efektif, disebabkan lambatnya laju reaksi antara ion thiosulfate dan sianida dalam darah. Agar thiosulfate bisa efektif digunakan untuk pengobatan penderita yang terpapar sianida akut, maka dosis thiosulfate harus ditingkatkan, dan dikombinasikan secara simultan dengan asupan ion nitrit.

4-Dimethylaminophenol
4-dimethylaminophenol (4-DMAP) bisa digunakan sebagai penangkal untuk racun sianida dan hidrogen sulfida yang masuk ke dalam tubuh. Zat ini bekerja seperti nitrit dalam pengobatan keracunan sianida, dimana hasil akhir adalah terbentuknya methemoglobin, yang selanjutnya berikatan dengan sianida membentuk senyawa cyanmethemoglobin. 4-dimethylaminophenol cocok digunakan untuk pertolongan darurat terhadap penderita keracunan berat, karena kemampuan zat ini menghasilkan methemoglobin yang banyak dalam waktu yang sangat singkat. Pengobatan menggunakan 4-dimethylaminophenol harus ditindaklanjuti dengan pengobatan menggunakan kombinasi thiosulfate dan cobalamin.

Dicobalt Edetate (Dicobalt EDTA)
Ion kobalt juga dapat mengikat sianida. Saat ini telah diedarkan obat penangkal keracunan sianida yang berbasis kobalt dengan nama dicobalt edetate atau dicobalt-EDTA, dijual dengan nama dagang Kelocyanor. Dicobalt EDTA mengikat sianida dalam bentuk senyawa kobalt sianida. Meskipun dicobalt EDTA bekerja lebih cepat dan kuat dalam menangkal keracunan sianida, namun kesalahan diagnosa bisa menimbulkan efek yang serius, hal ini disebabkan sifat kompleks kobalt yang juga beracun. Karena efek samping racun kobalt, maka penggunaan senyawa ini hanya dianjurkan untuk pengobatan penderita yang mengalami serangan sianida berat. Terhadap keracunan sianida skala sedang, penggunaan nitrit dan thiosulfate jauh lebih disukai.

Glukosa
Glukosa cocok digunakan bersamaan dengan pemberian dicobalt EDTA, nitrit, atau obat-obat penangkal keracunan sianida lainnya. Penggunaan glukosa yang bersamaan dengan dicobalt EDTA akan mampu menurunkan resiko racun sampingan yang telah ada pada dicobalt EDTA itu sendiri.

3-Mercaptopyruvate
3-mercaptopyruvate sulfurtransferase (3-MPST) mengkonversi sianida menjadi tiosianat dalam jaringan tubuh yang jauh lebih luas dibanding enzim rhodanese. 3-MPST menggunakan katabolit sistein 3-mercaptopyruvate (3-MP). Namun karena ketidakstabilan 3-MP secara kimia, maka penggunaan 3-MPST dilakukan dalam bentuk senyawa sulfanegen natrium (2, 5-dihidroksi-1,4-dithiane-2,5-asam dikarboksilat garam disodium), yang terhidrolisi menjadi 2 molekul 3-MP setelah diberikan secara oral atau parenteral.

Therapy Oksigen
Terapi oksigen bukan merupakan obat sianida, namun hanya membantu fungsi hati dalam melakukan metabolisme sianida pada dosis yang rendah. Perokok menghirup hidrogen sianida yang terkandung dalam asapnya, namun dengan bantuan oksigen sianida mampu dimetabolisme dengan cepat dalam hati, sehingga tak terjadi penumpukan sianida di dalam hati. Pada penderita keracunan sianida yang berat, penggunaan obat harus diikuti oleh penggunaan oksigen sebagai pembantu yang mempercepat proses penyembuhan.

  • Tingkat pengaruh racun sianida terhadap tubuh seseorang bergantung pada beberapa hal berikut ini :
    Berat tubuh seseorang yang terpapar racun. Dalam jumlah yang sama, pengaruh sianida lebih cepat terjadi pada orang yang memiliki bobot tubuh yang ringan, dibanding orang yang memiliki bobot tubuh yang lebih berat.
  • Kondisi kesehatan saat sebelum terpapar racun sianida. Kondisi kesehatan yang baik membuat daya tahan tubuh yang juga jauh lebih baik. Pada kasus sianida yang masuk melalui mulut, kondisi asam lambung juga sangat mempengaruhi kecepatan penyebaran racun sianida di dalam tubuh. Senyawa alkali sianida yang masuk ke lambung akan bereaksi spontan dengan asam lambung, membentuk gas HCN yang memiliki toksisitas lebih tinggi dibanding senyawa-senyawa sianida lainnya.
  • Tubuh seseorang yang baru saja mengkonsumsi penawar sianida semacam thiosulfat, vitamin B12, atau senyawa-senyawa kimia penawar sianida lainnya, memiliki ketahanan yang jauh lebih baik terhadap resiko keracunan sianida.

18 comments

  1. kami sangat meyakini bahwa Jessica adalah korban fitnah. ada scenario lain yg belum terungkap dalah kasus ini. membaca uraian dan pemaparan tentang racun cyanida maupun reaksi terhadap tubuh manusia dengan menggunakan perantara minuman atau makanan, maka kami sangat berkeyakinan kalau kejadian itu bukanlah dilakukan oleh Jessica.
    Figur Jessica dengan segala tingkah lakunya, memang akan mengesankan kalau dia adalah aktor dari kasus ini, ditambah opini yg dibangun oleh ayahnya mirna yg begitu bersemangat dangan menyederhanakan pengungkapan hanya dengan metode kronologis, sangat-sangat mungkin penyidikan hanya berputar pada sosok Jessica.
    ada ungkapan yg kami pertimbangkan dan juga prasangka-prasangka yg tertanam dibenak kami, namun kami tdk mungkin mengungkap itu disini atau mungkin juga hanya kami simpan sambil mengikuti perkembangan kasus ini.
    kami berkeyakinan kasus ini akan mengarah pada persoalan lain dan meninggalkan BAP yang telah dibuat leh pihak penyidik.
    Manajemen restoran, ayahnya mirna, posisi tempat cuci dan posisi obat pembersih di tempat cuci, dlsb juga harusnya menjadi bagian dari penyelidikan.
    tks.

  2. Mitra Pembangunan: Pikiran kita mirip. Seseorang yang kehilangan anak wanita jarang yang bertingkah seperti ayah si korban. Si ayah terlihat terlalu yakin bahwa pembunuh adalah terdakwa tanpa mempedulikan bahwa fakta/bukti/saksi di persidangan tidak kuat. Dia juga ikut menyelidik seperti polisi dan sangat mudah mendapatkan barang bukti seperti CCTV dan rekening seorang pegawai kafe. Mengapa dia bisa datang ke TKP? Kasihan terdakwa yang menjadi kambing hitam.

  3. Yup..dari awal penangkapan jesica,sya sudah yakin ada kesalahan penyidik,dan bukti bukti yg ada sangat di paksakan,bersabar ya jes..kebenaran pasti terungkap..bukti bukti rekayasa dengan sendirinya pasti gugur dngan realita kebenaran…

  4. yup, kita tidak bisa bilang ada kesalahan siapa-siapa sebelum dipalu..
    btw yang pasti kita lihat nyata kenapa Otopsi tidak dilakukan komperhensif? kenapa data otopsi tidak menunjukkan ada sianida di darah? padahal itu akan bisa bereaksi ketika menyebar.. dan kenapa tidak ada di hati sianida? TY

  5. Menurut saya: 1. Background Kerja Jessica di Ausie pernah dibagian Kimia, dan Crime Record di Ausie juga banyak. 2. Jessica yang memesankan Ice Kopi Vietnam untuk Mirna dengan durasi waktu lebih dari 1 jam menunggu kedatangan Mirna. Dan selama itu Jessice yang paling dekat dengan posisi Ice Kopi Vietnam tersebut.
    Menurut saya, Jessica sedang mencari alibi lain dalam menghadapi tuduhan tewasnya Mirna.

  6. Dalam kasus pembunuhan, seharusnya setiap orang bisa dijadikan tersangka dan profiling tiap orang akan mendapatkan motif masing2, misal : sakit hati, asuransi, warisan, kompetitor bisnis, terlibat bisnis ilegal, suruhan, dst. Kalau mau obyektif, setiap orang (ayah Mirna, Jessica, pegawai kafe, manajer, suami Mirna, Hani, staf bagian dapur kafe, dst) masing2 punya reaksi yang dapat dicurigai (aneh) bergantung opini kita.
    Dari keterangan ilmiah ahli dari Australia dan UI (RSCM) secara meyakinkan menunjukkan bahwa Mirna mati bukan karena racun Sianida. Pertanyaannya, bukan karena sianida, tapi di kopi mengandung sianida dengan kadar tinggi. Darimana ? Patut juga kita curiga bahwa gelas yang dibawa oleh staf kafe ke dapur sudah tidak murni lagi atau bukanlah kopi yang diminum oleh Mirna. Siapa pembunuh sebenarnya ? Apakah Mirna sudah diracun sebelum minum kopi dan bereaksi saat minum kafein ? (Andaikan ada racun seperti ini). Jika memang keluarga ingin tahu sebab kematian Mirna, mengapa menunda otopsi dan mengapa sangat keberatan diotopsi ulang ? Namun ngotot menuduh orang lain membunuh tanpa mau mencari bukti ? (Aneh).

  7. Seandainya, Mirna sadar kL coffee itu… mengandung racun,& masih ada waktu… cepatlah bertindak, dng melugek (bhs jawa) yaitu dg meletakkan telunjuk pd langit2 Mulut,telak mulut bag atas sebelah dalam mulut, agar muntah!
    *MUNGKIN’KAH KORBAN BISA TERTOLONG? Racun itu terlalu “KUAT!”
    Hanya hitungan detik…..
    *Secra tradsnal… MINUM AIR KELAPA SE’BANYAK2’nya mngkn dpt unt’ menetralisir.

  8. Yg jlas tunggu aja uang uang jessica habis ,, buat membayar pengacara pembela ,
    Baru lah nanti semua ketauan ..
    Hehehehe
    Itu semua udah di atur hehehehe

  9. Berarti ahli harusnya tahu soal PH dimana yg dianalisa adalah ion CN, dimana ion CN Ada di ph > 9.5 Jangan heran dikopi Ada dgn ph 13 ion CN ada, sedangkan di PH 6-8 yg Ada HCN..bukan ion CN..cairan lambung ph 5.5 artinya sebagian besar sudah dlm bentuk HCN, bukan ion CN..jangan dianggap cyanida ga Ada…Dan tiosianat bisa tidak Ada pada Korban yg mati cepat, dimana enzim Blm sempat bekerja…ini dgn modal googling artikel ilmiah toksikologi internasional Aja udah dapat…
    Belum lagi soal bau sianida yang kata Nya tidak tercium orang dikafe..baca deh..20 – 40 persen populasi umum tidak bisa Mencium bau sianida karena terkait dengan genetik…bahkan Sisa Nya bisa menganggap bau sianida tidak aneh krn terbuka sa.
    Terus kalau bicara soal sianida pada mayat..tau dong dlm 24 jam kadar sianida berkurang sampai 80 persen…Dan bagaimana suhu sangat mempengaruhi kecepatan peluruhan sianida…suhu 4 derjat selsius Aja sianida tetap meluruh…bayangkan suhu indonesia..sampel diambil hari ke 3..,diperiksa hari ke 5…mau berapa sianida tersisa?? Belum lagi fakta bahwa jasad diformalin betapa cepat hancur Nya sianida..# modal baca awam Aja
    nih…para ahli bagaimana mikirnya???

  10. Heran ya, ada orang2 yg baca artikel2 berbobot gini kog ya masih berpikir kalo Mirna mati bukan krn sianida. Otaknya ada di mana ya wkwkwk…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.