Ekstraksi Mineral Zinc Menggunakan Aluminium

Sphalerite ((Zn,Fe)S) adalah batuan mineral logam penghasil utama logam zinc. Batuan ini mengandung senyawa utama zinc sulfida, disamping senyawa besi sulfida yang selalu menyertainya. Kandungan zinc dan besi di dalam batuan sphalerite memiliki perbandingan yang terbalik ; jika kandungan besi tinggi, maka kandungan zinc akan rendah, demikian sebaliknya. Batuan ini sering berasosiasi denga galena, pyrite, chalcopyrite, dan senyawa-senyawa sulfida lainnya.

Sphalerite mudah ditemukan, dan tersebar luas di wilayah-wilayah pertambangan mineral logam, khususnya batuan mineral logam penghasil emas dan timah hitam. Dengan galena sebagai penghasil timah hitam, sphalerite membentuk paduan yang sulit dipisahkan secara mekanis.

Tak seperti logam senyawa-senyawa sulfida logam lainnya yang bisa tereduksi menjadi logam dalam proses peleburan, senyawa zinc sulfida hanya mengalami proses substitusi, dimana ion sulfida digantikan oleh ion oksigen, membentuk senyawa zinc oksida berwarna putih.

Untuk memperoleh logam zinc, maka tepung zinc oksida harus dilarutkan dalam asam, yang kemudian dilakukan elektrolisis terhadap larutan tersebut. Logam zinc mudah menguap pada suhu tinggi, oleh karena itu hasil lumpur zinc yang menempel di katoda harus dilebur sedikit di atas suhu cair logam zinc, atau pada suhu 4500C.

Pelatihan Ekstraksi Zinc dari Sphalerite Menggunakan Aluminium…

Sejak diberlakukannya PP No.1 tahun 2014, usaha perdagangan atau ekspor batuan atau konsentrat zinc mengalami mati suri. Hal ini disebabkan kurangnya antisipasi dunia usaha menyikapi aturan yang pasti berlaku tersebut.

Sejatinya, industri dalam negeri juga sangat membutuhkan bahan baku zinc. Industri plat seng membutuhkan zinc sebagai pelapis tahan karat dari plat seng. Industri kuningan membutuhkan zinc sebagai campuran, yang dilebur bersama logam tembaga. Industri baja juga membutuhkan zinc. Obat-obatan, pupuk, peralatan kecantikan, juga membutuhkan zinc sebagai bahan bakunya.

Pengolahan Batuan Zinc Menggunakan Aluminium

Proses ekstraksi zinc dari batuan atau konsentrat memiliki beberapa persamaan dan perbedaan dengan proses pengolahan galena, batuan tembaga sulfida, dan batuan emas bersulfida tinggi, namun memiliki prinsip dasar yang hampir sama. Pengolahan zinc meliputi proses desulfurisasi, oksidasi, pelarutan oksida zinc, dan elektrolisa.

Pengolahan batuan atau konsentrat zinc bisa dilakukan menggunakan logam aluminium sebagai oksidator belerang, reduktor logam, dan sebagai sumber panas pada tungku. Ekstraksi zinc menggunakan aluminium memiliki keuntungan yang signifikan dalam hal waktu, biaya pengolahan, kapasitas produksi, dan ramah terhadap lingkungan.

Pelatihan Ekstraksi Zinc Menggunakan Aluminium…

Ekstraksi Emas Sulfida Tinggi Menggunakan Aluminium

Emas selalu ditemukan dalam batuan mineral logam yang mengandung belerang, termasuk batuan bersulfida tinggi. Pada batuan jenis pyrite / pirit, kandungan emas umumnya antara 0,2 gram / ton hingga 7 gram / ton. Batuan jenis pyrrhotite memiliki kandungan emas antara 0,2 gram hingga 30 gram per ton ore, dan pada batuan berjenis arsenopyrite, kandungan emas bisa ditemukan dalam jumlah yang jauh lebih tinggi, bahkan bisa mencapai 16 kg per ton ore.

Batuan emas bersulfida tinggi sulit diolah dengan cara-cara yang biasa, disebabkan banyaknya belerang dan logam-logam dasar dalam batuan tersebut. Penggunaan merkuri sebagai alat ekstraksi tidak efektif disebabkan belerang dalam batuan bisa membentuk senyawa larut H2S selama proses penggilingan dan penghalusan di dalam tromol atau glundung. Larutan H2S bereaksi dengan merkuri, membentuk lapisan merkuri II sulfide (lapisan berwarna hitam) di kulit terluar dari dari merkuri :

H2S (l) + Hg (s) → HgS (s) + H2 (g) …………..(i)

Terbentuknya lapisan HgS di klulit terluar dari logam cair merkuri mengakibatkan terhalangnya bijih emas untuk masuk dan melakukan penetrasi ke dalam merkuri, sehingga membawa dampak sebagai berikut :

  • Rendahnya perolehan hasil bullion emas yang teramalgamasi, dimana bijih yang teramalgamasi hanya berasal dari bijh emas yang memiliki diameter beasar dan berkadar tinggi
  • Rusaknya merkuri, yang selanjutnya membentuk butiran-butiran kecil logam merkuri di dalam tromol, dimana proses pecahnya logam-logam merkuri menjadi ukuran yang lebih kecil ini disebabkan terbentuknya lapisan hitam merkuri II sulfida. Makin banyak senyawa sulfida yang larut selama proses amalgamasi di dalam tromol, akan mengakibatkan makin banyaknya merkuri yang membentuk bubur, dan makin tinggi susut berat dari merkuri.

Adanya senyawa sulfida yang larut selama proses amalgamasi juga menyebabkan rusaknya lapisan luar bijih emas, terutama pada bijih emas berkadar emas rendah (bijih emas yang memiliki kadar Au di bawah 50%, dimana sisanya umumnya berupa logam perak). Ini terjadi disebabkan perak pada bijih emas bereaksi dengan H2S, membentuk lapisan hitam Ag2S di permukaan bijih emas. Senyawa perak sulfida yang terbentuk akan menghalangi proses amalgamasi emas.

Ag (s) + H2S (l)     →     Ag2S (s) + H2 (g)                        ……….   (ii)

Belerang dalam batuan emas sulfida tinggi juga menyebabkan sulitnya bijih emas di ekstraksi menggunakan sianida (refractory-sulit diolah). Faktor kesulitan disebabkan kemungkinan terbentuknya banyak senyawa larut Na2S dan H2S selama berlangsungnya proses sianidasi. Na2S dan H2S bereaksi dan merusak permukaan bijih emas, khususnya bijih emas berkadar rendah, yang memiliki kandungan perak tinggi. Perak sulfida yang terbentuk akibat bijih emas bereaksi dengan larutan Na2S atau H2S akan menyebabkan terbentuknya bijih emas pasif, yang pada akhirnya sulit dilarutkan oleh pelarut sianida.

Pelatihan Ekstraksi Emas Sulfida Tinggi…

Sianida bebas juga mengalami kerusakan akibat pengaruh larutan Na2S dalam proses sianidasi. Dalam proses sianidasi, ion sulfida yang terbentuk dari belerang akan bereaksi dengan ion CN-, membentuk senyawa larut thiocyanate, yang memiliki kemampuan pelarutan emas yang sangat rendah. Rusaknya sebagian besar ion sianida bebas memngakibatkan naiknya konsumsi sianida selama berlangsungnya proses leaching.

Batuan emas bersulfida tinggi umumnya mengandung mineral tembaga yang relatif tinggi. Dalam proses sianidasi, tembaga memiliki laju pelarutan yang lebih tinggi dibanding emas dan perak. Jumlah mineral tembaga yang tinggi akan menaikkan pemakaian sianida selama berlangsungnya proses sianidasi.

Pengayaan kandungan emas dari batuan emas sulfida tinggi menggunakan flotasi, juga harus diikuti oleh proses lanjutan yang benar, dimana sebagian besar praktisi pengolahan emas menggunakan flotasi sering mengalami kegagalan dalam hal ini.

Kandungan Belerang Dalam Batuan Emas

Belerang dalam batuan emas umumnya terikat dalam senyawa dengan logam-logam dasar dan logam perak, membentuk senyawa sulfida logam. Tembaga membentuk senyawa sulfida CuS, CuFeS2, Cu2S, 2CuS.CuS.FeS, Cu12As4S13, dimana hampir semua senyawa tembaga yang disebutkan mudah merusak merkuri dalam proses amalgamasi, dan mudah larut dalam sianida. Kandungan belerang dalam batuan emas bersulfida tinggi umumnya antara 5% – 12% dari total kandungan berat batuan.

Pada dasarnya keberadaan belerang dalam batuan emas sulfida tinggi memiliki keuntungan tersendiri, jika pengolahan dilakukan dengan benar dan sesuai dengan kaidah metallurgy. Kombinasi antara belerang dan aluminium mampu menaikkan suhu pada proses pyrometallurgy, dan bisa mereduksi dan melelehkan logam-logam, khususnya logam-logam yang memiliki suhu leleh maksimum di sekitar 12000C.

Ekstraksi Emas Sulfida Tinggi Menggunakan Aluminium

Desulfurisasi dan Metalisasi

Proses ekstraksi emas menggunakan aluminium diawali oleh proses kering (pyrometallurgy), dengan tujuan menghasilkan proses desulfurisasi yang simultan dengan metalisasi dan pelelehan mineral menjadi logamnya.

3 Ag2S (s)  +  2 Al (s)      →    3 Ag (s)    +    Al2S3 (s)      ……………..(iii)

3 CuS (s)  +  2 Al (s)     →    3 Cu (s)    +    Al2S3 (s)               …………….(iv)

3 PbS (s)  +  2 Al (s)   →   3 Pb (s)   +   Al2S3 (s)                ……………..(v)

3 FeS2 (s)  +  4 Al (s)   →   Fe (s)   +   2 Al2S3 (s)                     …..………..(vi)

3 CuFeS2 (s)   +   4 Al (s)   →   3 CuFe (s)   +   2 Al2S3     …………..(vii)

Persamaan reaksi kimia diatas terjadi pada suhu yang terus meningkat tinggi. Naiknya suhu disebabkan teroksidasinya logam aluminium menjadi senyawa Al2S3, yang mengakibatkan lepasnya kalor laten yang terkandung di dalam logam aluminium.

Senyawa Al2S3 akan melepaskan gas sulfur dioksida saat bersentuhan dengan udara, dengan reaksi kimia sebagai berikut :

Al2S3 (s)   +   O2 (g)   →   Al2O3 (s)   +   SO2 (g)          …………..(viii)

Keunggulan dari proses ekstraksi emas dari batuan sulfida tinggi menggunakan aluminium adalah mudahnya melakukan proses desulfurisasi, dengan investasi peralatan yang sangat murah, biaya produksi yang paling rendah, kecepatan produksi tinggi, dan volume produksi yang signifikan terhadap laju produksi. Pada suhu yang optimal (12000C) ,proses ini bisa langsung menghasilkan ingot logam emas, yang tentu saja masih bercampur dengan logam pengikutnya (tembaga, besi, perak, timah hitam, dan logam-logam jenis lainnya).

Pelatihan Ekstraksi Emas Sulfida Tinggi…

Proses ekstraksi emas dari batuan emas bersulfida tinggi yang menggunakan aluminium sebagai reduktor dan bahan bakar pada suhu tinggi, sama sekali tidak menggunakan bahan bakar karbon atau pun hidrokarbon sebagai pemanas, dan juga tidak menggunakan energi listrik. Pada proses ini, energi panas timbul akibat terjadinya oksidasi logam aluminium, dari logam Al0 menjadi kation Al3+. Energi yang dihasilkan selama proses ini mampu menghasilkan panas yang sangat tinggi, bahkan dengan campuran yang diperkaya, panas yang timbul mampu mencapai suhu maksimum hingga 15000C.

Pengolahan batuan emas sulfide tinggi (sebagian orang menyebutnya dengan istilah emas pirit) menggunakan aluminium merupakan terobosan besar di bidang metalurgi, khususnya berkaitan dengan proses pyrometallurgy terhadap batuan mineral emas yang memiliki kandungan belerang tinggi. Proses ini memiliki langkah yang jauh lebih singkat dan sederhana, dibandingkan proses amalgamasi atau proses pelarutan menggunakan sianida atau menggunakan klorinasi.

Pemisahan Logam dan Pemurnian Emas dan Perak

Bongkahan hasil peleburan tepung batuan emas sulfida tinggi selanjutnya dipisahkan dari silika yang merupakan material pengotor. Paduan logam selanjutnya dipisah dan dimurnikan menggunakan reaksi kimia. Metode dan bahan kimia yang digunakan disesuaikan dengan logam-logam dasar sebagai pengikut, ataupun jika logam-logam dasar merupakan logam yang dominan dalam paduan tersebut.

Untuk keterangan proses yang lebih lengkap, klik di bagian ini…

Pengolahan Galena Menggunakan Aluminium

Galena adalah batuan mineral logam dengan timah hitam (timbal) sebagai kandungan logam utama. Karena sebagai logam mayor, maka galena merupakan batuan mineral yang menjadi sumber utama penghasil timah hitam. Timah hitam yang ada dalam batuan galena bersenyawa dengan belerang, membentuk ikatan kimia tak larut PbS (plumbum sulphide) yang berwarna hitam. Senyawa PbS bersifat sangat stabil dalam lingkungan, dan memiliki kelarutan dalam air yang sangat rendah, yaitu 2.6×10−11 kg/liter. Senyawa PbS juga sangat stabil terhadap kenaikan suhu yang tak terlalu ekstrim. Suhu lingkungan yang naik hingga 3000C tidak menghasilkan perubahan struktur kimia terhasap senyawa PbS. Ini sebabnya mengapa keberadaan mineral galena di dalam tanah tak mempengaruhi kelarutan timbal sulfida dalam air tanah.

Kandungan Logam-Logam Dalam Galena

Logam utama dalam batuan galena adalah timah hitam (timbal). Pada beberapa batuan galena yang memiliki konsentrasi timbal tinggi, kandungan timbal bisa mencapai hingga 80% dari total berat ore, dimana sisa berat sebesar 20% didominasi oleh unsur belerang. Namun dalam kebanyakan urat galena, kandungan timbal umumnya berkisar antara 10% hingga 40% dari total berat batuan.

Disamping sebagai sumber utama penghasil logam timah hitam, galena juga mengandung berbagai jenis logam ikutan lain, yang sebagian besar diantaranya memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Di beberapa tempat ditemukan juga batuan galena yang bercampur dengan batuan sphallerite, yang merupakan sumber bahan baku pembuatan logam zinc. Dalam beberapa jenis sampel batuan, ditemukan kandungan logam timbal dan logam zinc yang seimbang dalam batuan, dan pada sebagian sampel lainnya, zinc yang berasal dari senyawa logam zinc (ZnS) merupakan kandungan logam mayor ke-2 setelah timbal.

Pelatihan Pengolahan Galena Menggunakan Aluminium…..

Kehadiran logam perak dalam galena sangat umum, dan selalu ditemukan dalam berbagai tingkatan persentase. Dalam beberapa kasus, kandungan perak dalam galena bisa mencapai 1% dari total berat galena, dalam kasus lainnya bahkan bisa lebih dari 1%. Namun umumnya perak dalam galena berada di kisaran 1000 ppm, atau 0,1% dari total berat batuan.

Emas selalu ditemukan dalam batuan galena, dengan kandungan yang bervariasi. Secara umum, kandungan emas rata-rata dalam galena berkisar antara 5 ppm – 7 ppm. Dalam beberapa sampel, ditemukan kandungan emas yang bisa mencapai 15 kilogram dalam 1 ton galena ore. Ini ditemukan pada beberapa spot yang bersinggungan dengan urat dari batuan emas, khususnya urat emas yang mengandung arsenopyrite.

Tembaga merupakan logam yang juga selalu ditemukan dalam batuan galena. Kandungan tembaga dalam galena umumnya kecil, dibawah 1% dari berat ore. Namun dalam beberapa jenis galena, khususnya urat galena yang bercampur dengan urat batuan tembaga, kandungan tembaga bisa mencapai 6% dari total berat batuan.

Besi juga selalu ditemukan dalam galena, dalam bentuk senyawa pyrite, chalcopyrite, atau pyrrhotite. Disamping besi, logam-logam minor lain beserta metalloid juga ada dalam galena, seperti antimony, arsenik, dan sebagainya.

Sejarah Industri Pengolahan Galena di Indonesia

Galena merupakan sumber utama logam timbal, yang banyak digunakan sebagai komponen utama accumulator pada kendaraan bermotor. Penggunaan lainnya di bidang percetakan, industri persenjataan, pelapis anti karat pada pipa-pipa untuk pemakaian di bawah laut, pelapis dalam reaktor nuklir, dan beberapa penggunaan lainnya.

Akifitas penambangan galena mulai meningkat tajam sejak awal era reformasi dan otonomi daerah. Pada awalnya galena diekspor glondongan ke berbagai Negara. Lahirnya UU No.4 tahun 2009 membuat aktifitas ekspor mineral glondongan mulai dihambat, sehingga praktisi penambangan mineral logam harus mengolah terlebih dahulu batuan sebelum melakukan ekspor. Hasil dari pengolahan berupa konsentrat galena berkadar tinggi, yang siap untuk diekspor.

Sejak diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 2014 tentang pengaturan minerba, maka mineral logam baru bisa diekspor jika sudah berupa barang jadi (harus berupa batangan logam berkadar tinggi). Akibat dari regulasi yang merupakan implementasi dari UU No. 4 Tahun 2009 ini, geliat penambangan mineral logam mengalami mati suri, disebabkan tak siapnya industri pertambangan mineral logam menghadirkan teknologi pengolahan logam, termasuk dalam hal ini industri pengolahan galena menjadi logam timbal. Adapun satu dua industri pengolahan galena yang berdiri di Indonesia saat ini adalah penanaman modal asing, yang belum tentu akan melakukan proses alih teknologi pengolahan.

Teknik Pengolahan / Pemrosesan Galena Menggunakan Aluminium

Aluminium memiliki penampilan yang sangat baik jika digunakan sebagai reduktor dan penghasil panas dalam proses peleburan galena. Proses peleburan galena adalah reaksi kimia, yang terdiri dari 2 tahap reaksi, dengan persamaan reaksi sebagai berikut :

PbS (s) + Al (s)   →   Pb (s) + Al2S3 (s)                        ……….(i)

Al2S3 (s) + O2 (g)   →   Al2O3 (s) + SO2 (g)               ………..(ii)

Dari reaksi (i), logam jika logam aluminium bersentuhan secara fisik dengan senyawa PbS, akan timbul reaksi kimia berupa reaksi redoks, dimana aluminium akan mereduksi kation Pb2+ menjadi logam Pb, dan dalam waktu yang sama aluminium teroksidasi menjadi kation dari senyawa tak larut Al2S3. Pada reaksi (ii), senyawa Al2S3 bereaksi dengan oksigen, dimana oksigen mengoksidasi anion belerang menjadi gas SO2, dan oksigen tereduksi menjadi anion O2-, yang berpasangan dengan kation aluminium, membentuk senyawa tak larut Al2O3.

Pada saat terjadinya reaksi, sangat banyak kalor dilepaskan di dalam tungku, yang menyebabkan naiknya suhu hingga 12000C, sehingga logam-logam yang bereaksi mengalami pelelehan dan cair di dasar tungku.

Pelatihan Pengolahan Galena Menggunakan Aluminium….

Proses selanjutnya adalah pemurnian logam timah hitam. Pemurnian dilakukan di dalam ketel, pada suhu jyang terjaga di kisaran titik cair timah hitam. Pada dasarnya logam-logam lain tidak suka membentuk paduan logam dengan logam timbal. Untuk pemiusahan logam-logam lain dari timmah, dibutuhkan logam yang memiliki titik leleh yang hamper sama dengan tirtik leleh timah hitam, namuin logam yang digunakan mampu berikatan dengan logam-logam yang akan dipisahkan. Untuk hal ini logam yang paling tepat digunakan adalah logam zinc.

Pelatihan Pengolahan Galena Menggunakan Aluminium, klik di sini

Pengolahan Batuan Tembaga (Copper Ores) Menggunakan Aluminium

Logam tembaga diperoleh dari proses ekstraksi batuan yang mengandung mineral tembaga. Di alam, tembaga ditemukan dalam berbagai jenis :

  • Batuan yang mengandung tembaga logam tembaga native (nugget tembaga) yang bisa ditemukan di wilayah Selatan Jawa Timur (Blitar dan Tulungagung), wilayah Kalimantan dan Sulawesi
  • Batuan tembaga dalam bentuk senyawa tak larut tembaga karbonat hidroksida, yang umumnya disebut dengan istilah batuan malachite Cu2CO3(OH)2 dan azurite CuCO3.Cu(OH)2.
  • Batuan oksida tembaga, antara lain cuprite Cu2O dan Chrysocolla CuO.SiO2.2H2O.
  • Batuan tembaga yang bersenyawa dengan belerang (batuan sulfida tembaga), diantaranya Chalcopyrite CuFeS2, Chalcocite Cu2S, Covelite CuS, Bornite 2CuS.CuS.FeS, Tennantite Cu12As4S13.

Di alam, batuan tembaga sebagian kecil ditemukan sudah berupa logam (tembaga native). Di Indonesia, batuan jenis ini ditemukan pada beberapa wilayah, dengan luasan wilayah dan volume yang kecil. Sebagian besar tembaga ditemukan pada batuan yang mengandung sulfida tinggi.

Hingga saat ini, pengolahan batuan tembaga umumnya masih dilakukan dengan 3 cara, yaitu :

  • Pelarutan langsung terhadap batuan atau lumpurnya (leaching), yang dilakukan oleh bahan kimia pelarut tembaga. Pada proses ini, larutan tembaga selanjutnya dipisahkan dari material padatan, dimana logam tembaga kemudian diekstrak dari cairan menggunakan proses electrowinning, atau bisa juga menggunakan reduktor logam atau bahan kimia, yang bisa mereduksi ion tembaga menjadi logamnya.
  • Selain pelarutan menggunakan bahan kimia, proses hydrometallurgy lainnya dilakukan menggunakan metode flotasi, dimana mineral tembaga diflotasi dari lumpur halus yang berasal dari batuan asalnya, untuk menghasilkan konsentrat berkadar tembaga yang tinggi. Konsentrat selanjutnya dilebur di dalam smelter untuk proses desulfurisassi dan metalisasi.
  • Pyrometallurgy terhadap batuan tembaga bisa dilakukan terhadap batuan yang mengandung logam tembaga dalam persentase yang cukup tinggi (di atas 40%).

Bestekin.com telah berhasil menemukan cara baru dalam proses pengolahan batuan tembaga yang dilakukan menggunakan aluminium,sebagai reduktor dan penghasil panas dalam sistem, baik dalam proses desulfurisasi, maupun dalam proses peleburan. Metode ini bisa dilakukan untuk berbagai jenis batuan tembaga, baik batuan basa berupa tembaga karbonat hidroksida, maupun batuan tembaga bersulfida tinggi.

Pelatihan Peleburan Batuan / Konsentrat Tembaga Sulfida Tinggi Menggunakan Aluminium…

Proses ekstraksi tembaga menggunakan aluminium dilakukan menggunakan proses kering (pyrometallurgy), dengan tujuan mendapatkan desulfurisasi dan metalisasi tembaga menjadi logamnya.

3 CuS (s) + 2 Al (s)   →   3 Cu (s) + Al2S3 (s)                         ……………….(i)
Al2S3 (s) + O2 (g)   →    Al2O3 (s) + SO2 (g)                             ……………..(ii)
3 CuFeS2 (s) + 4 Al (s)   →    3 CuFe (s) + 2 Al2S3                 ……………..(iii)

Dimana dari proses reaksi kimia di atas, kation tembaga bereaksi dengan logam aluminium, mengoksidasi aluminium menjadi Al3+, dan tembaga tereduksi menjadi logamnya. Peristiwa reaksi kimia pada persamaan reaksi (i) dan (ii) menghasilkan kalor yang tinggi (eksotermik), dimana suhu reaksi bisa mencapai temperatur 12000C, dan pada suhu ini tembaga tidak hanya menjadi logam, melainkan juga meleleh dan mencair.

Keunggulan dari proses ekstraksi tembaga menggunakan aluminium adalah mudahnya melakukan proses desulfurisasi, dengan investasi peralatan yang sangat murah, biaya produksi yang jauh lebih rendah, kecepatan produksi yang tinggi, dan volume produksi yang signifikan terhadap laju produksi. Pada suhu yang optimal (12000C) ,proses ini bisa langsung menghasilkan ingot logam tembaga, yang masih bercampur dengan logam pengikutnya (besi, perak, timah hitam, dan emas).

Proses ekstraksi tembaga dari batuan (utamanya batuan bersulfida tinggi) menggunakan aluminium yang dilakukan pada suhu tinggi, sama sekali tidak menggunakan bahan bakar karbon atau pun hidrokarbon sebagai pemanas, dan juga tidak menggunakan energy listrik. Pada proses ini, energi panas timbul akibat terjadinya oksidasi logam aluminium, dari logam Al0 menjadi kation Al3+. Energi yang dihasilkan selama proses ini mampu menghasilkan panas yang sangat tinggi, bahkan dengan campuran yang diperkaya, panas yang timbul mampu mencapai suhu maksimum hingga 15000C.

Pelatihan Peleburan Batuan / Konsentrat Tembaga Sulfida Tinggi Menggunakan Aluminium…

Pengolahan batuan tembaga menggunakan aluminium merupakan terobosan besar di bidang metalurgi, khususnya berkaitan dengan proses pyrometallurgy terhadap batuan mineral tembaga yang memiliki kandungan belerang tinggi. Proses ini memiliki langkah yang jauh lebih singkat dan sederhana, dibandingkan proses pyrometallurgy yang selama ini dilakukan. Proses ini juga berbiaya termurah dibanding proses hydrometallurgy yang dilakukan menggunakan pelarut kimia, atau proses pengkonsentrasian menggunakan metode flotasi.