Apakah Air Alkali (Air Alkaline / Alkaline Water) Baik Untuk Kesehatan ?

Mengkonsumsi air bersih dan murni merupakan pangkal kesehatan yang baik. Lebih dari 80% berat tubuh kita berupa air, sehingga asupan air murni yang berkelanjutan sangat penting untuk setiap fungsi di dalam tubuh. Air memiliki rumus kimia H2O, tanpa embel-embel mineral atau alkali. Air sehat adalah air yang memiliki kandungan molekul H2O tertinggi. Makin murni air yang dikonsumsi, makin sehatlah air tersebut jika dikonsumsi.

Modernisasi memiliki dampak negatif berupa tingginya tingkat pencemaran lingkungan hidup, terutama pencemaran terhadap air dan perairan. Saat ini hampir semua sumber-sumber air alami telah tercemar (termasuk air yang berasal dari hujan). Persoalan ini diperparah oleh kebingungan besar yang muncul dalam menilai jenis air yang tepat dikonsumsi dan membantu bagi kesehatan seseorang.

Sebagian orang  memilih air alkali sebagai minuman utama mereka, disebabkan banyaknya kampanye yang berslogan benefit kesehatan yang diperoleh (sebagian tanpa dasar argumentasi yang jelas) jika mengkonsumsi air alkali. Sebagian lainnya keranjingan air mineral, meskipun tidak tahu arti mineral yang sesungguhnya. Sebagian lagi mengkonsumsi air rendah mineral, atau air yang terbebas dari kandungan mineral di dalamnya (Air TDS = 0 atau potable water).

Pengertian Alkali dan Air Alkali / Air Alkaline

Alkali atau alkaline memiliki beberapa arti, yang disesuaikan dengan kata-kata ikutannya. Dalam pengelompokan unsur-unsur kimia, alkali adalah unsur-unsur kimia yang berada di golongan IA, dimana semua unsur-unsur ini memiliki valensi elektron = +1. Unsur-unsur kimia dalam golongan IA juga memiliki banyak kesamaan sifat antara 1 unsur kimia dan unsure kimia lainnya.

Unsur-unsur kimia dalam golongan alkali adalah lithium (Li), Kalium atau potasium (K), Natrium (Na), Rubidium (Rb), Cesium (Cs), dan Fransium (Fr).

Dalam istilah umum, alkali atau alkaline sering dihubungkan dengan sifat kebasaan, yaitu suatu senyawa logam alkali yang memiliki pH di atas 7. Senyawa alkali jenis ini sudah bisa dipastikan berupa ikatan kimia antara ion logam-logam alkali dan anion hidroksil (OH). Ion hidroksil (OH) adalah anion pembawa basa.

Air alkali memiliki konotasi air yang memiliki pH di atas 7, dimana kation-kation nya merupakan unsur-unsur kimia dari golongan IA. pH adalah defenisi dari kandungan konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam  suatu larutan. Disamping pH, ada juga pOH, yaitu defenisi dari kandungan ion hidroksil (OH) dalam suatu larutan.  Range pH berada di antara 0 – 14, dimana pH netral terletak di angka 7.

pH netral berarti kandungan konsentrasi kation hidrogen dan anion hidroksil memiliki nilai yang sama, sehingga berlaku persamaan kimia berikut ini :

H+    +    OH               →                   H2O (aq)            …….(i)

Dari persamaan (i), pertemuan fisik antara ion hidrogen dan ion hidroksil menghasilkan molekul air yang memiliki pH = 7.

Larutan yang memiliki pH di atas 7 memiliki kandungan ion hidroksdil yang jauh lebih banyak dibanding ion hidrogen. Makin tinggi pH suatu larutan, makin tinggi konsentrasi ion hidroksil di dalam larutan tersebut.

Senyawa-senyawa alkali hidroksida semuanya larut dengan mudah dalam air. Soda api (NaOH) Kristal / flake yang dilarutkan dalam air terionisasi (terdissosiasi) sempurna menjadi kation Na+ dan anion OH, demikian juga dengan senyawa-senyawa basa dari unsur-unsur kimia golongan alkali lainnya.

Pertanyaannya adalah, apakah air yang mengandung senyawa alkali hidroksida merupakan air yang baik dikonsumsi dan merupakan air yang sehat bagi tubuh kita?

I. Efek Negatif dari Larutan alkaline (Alkali Hidroksida) Pada Pertanian

Senyawa-senyawa alkali hidroksida antara lain LiOH, NaOH (soda api), KOH (potassium hidroksida), dan berberapa jenis senyawa lainnya. Senyawa alkali mudah bereaksi dengan berbagai unsur dan senyawa kimia lain. Reaksi dengan berbagai larutan logam anorganik umumnya  menghasilkan sejumlah endapan (suspensi) atau material koloid.

NaOH (l)  +  FeCl2 (l)     →      NaCl (l)  +  Fe(OH)2 (s)             ……….(ii)

NaOH (l)  +  AgNO3 (l)      →      NaCl (l)  +  AgOH  (s)               ………(iii)

NaOH (l)  +  CuSO4 (l)      →        Na2SO4 (l)  +  Cu(OH)2 (s)       ………(iv)

Dari beberapa persamaan kimia di atas, dapat dikatakan bahwa larutan alkali hidroksida bereaksi dengan sebagian besar senyawa logam yang larut dalam air, menjadi senyawa  logam hidroksida yang tak larut dalam air.

Tanaman membutuhkan nutrisi mineral-mineral logam di dalam tubuhnya. Logam-logam ini diserap dalam bentuk ionnnya, yang diserap melalui akar tanaman. Klorofil merupakan gugus fungsi kimia dengan ion magnesium sebagai ligannya. Saat air yang mengandung ion magnesium  bereaksi dengan larutan alkali hidroksida, terjadi pengendapan  ion magnesium, seperti reaksi klimia di bawah ini :

MgX (l)  +  NaOH (l)      →        Mg(OH)2 (s)  +  Na2X (l)           …………………(v),

Dimana X merupakan simbol anion selain OH yang larut dalam air (misalnya ion klor / Cl, SO42-, dan sebagainya).

Dari reaksi kimia (v), dapat dikatakan bahwa naiknya pH tanah hingga lebih dari  7 menyebabkan akar sulit menyerap ion magnesium. Akibat yang terjadi, pertumbuhan daun pada suatu tanaman menjadi terhambat, sehingga mengganggu pertumbuhan bagian-bagian lain dari tanaman tersebut.

Reaksi (ii) juga menunjukkan implikasi  rendahnya serapan besi pada suatu tanaman yang membutuhkan zat besi di dalam tubuhnya. Ini terjadi akibat ion besi yang mestinya mudah terserap, justru terasosiasi menjadi senyawa besi hidroksida yang tak larut dalam air.

II. Perbandingan Reaksi Kimia Antara Senyawa Alkali Hidroksida VS Alkali Tanah Hidroksida di Dalam Lambung Manusia

Lambung seseorang mengandung senyawa asam klorida (hidrogen klorida) yang memiliki banyak fungsi bagi kesehatan dan pertumbuhan seseorang. pH lambung yang baik berada di angka 2, suatu tingkat keasaman lambung yang moderat bagi kesehatan. pH lambung yang lebih rendah dari 2 bisa menimbulkan iritasi pada lambung, yang dapat menimbulkan penyakit maag. pH yang lebih tinggi dari 2 juga berimplikasi negatif bagi kesehatan, karena kenaikan pH menyebabkan turunnya konsentrasi HCl dari tingkat normal.

Penyakit mag disebabkan meningkatnya konsentrasi asam klorida hingga berlebihan di dalam lambung. Obat-obat untuk mengatasi penyakit maag umumnya terbuat dari kombinasi senyawa magnesium hidroksida dan aluminium hidroksida. Magnesium hidroksida merupakan senyawa basa dari unsur kimia magnesium, suatu unsur kimia yang terletak di golongan IIA dari tebel periodik unsur-unsur kimia.

Tak seperti senyawa alkali hidroksida yang 100% larut dalam air, magnesium  hidroksida dan aluminium hidroksida memiliki kelarutan yang sangat rendah. Pada suhu kamar (250C) magnesium hidrokida / Mg(OH)2 memiliki kelarutan yang hanya 0,0064 gram/liter. Angka ini memiliki arti, 1 liter air hanya mampu melarutkan 0,0064 gram dari kristal senyawa Mg(OH)2. Aluminium hidroksida / Al(OH)3 memiliki kelarutan yang lebih kecil lagi, yaitu 0.001 gram/liter pada suhu 20 °C.

Mengapa obat penyakit maag hanya menggunakan senyawa hidroksida yang memiliki kelarutan sangat rendah ? Tujuan dari asupan obat penyakit maag adalah mengurangi kelebihan konsentrasi asam lambung di dalam perut, bukan menghilangkan keasaman lambung. Resiko tertinggi dari mengkonsumsi obat penyakit maag secara berlebihan hanya menghasilkan kenaikan pH lambung yang tak lebih dari 7.

Ada 3 skenario dari meminum obat pereda sakit maag, dimana skenario-skenario yang terjadi dijelaskan pada reaksi kimia berikut ini :

  1. Mg(OH)2 (s) +  3 HCl (l)  →  MgCl2 (l)  +  HCl (l)  +  2 H2O (aq)   ………..(vi)

Dari reaksi (vi) bisa dijelaskan bahwa  reaksi antara 3 molekul magnesium hidroksida menghasilkan 1 senyawa garam larut magnesium klorida, 1 senyawa asam klorida, dan 2 molekul air. Pada reaksi ini, asupan obat magnesium hidroksida hanya bertujuan untuk mengurangi tingkat keasaman dari lambung, sehingga tingkat keasaman menjadi normal.

  1. Mg(OH)2 (s) +  2 HCl (l)   →  MgCl2 (l)  +  2 H2O (aq)                     ………(vii)

Pada reaksi (vii), magnesium hidroksida yang dikonsumsi bereaksi sempurna dengan larutan HCl dari lambung, menghasilkan senyawa magnesium klorida dan air. Reaksi ini menghasilkan larutan lambung yang memiliki pH di angka 7.

  1. Mg(OH)2 (s) +  2 HCl (l)  →   MgCl2 (l)  +  Mg(OH)2 (s)  +  H2O (aq)   ………(viii)

Reaksi kimia (viii) adalah reaksi kimia antara senyawa magnesium hidroksida yang berlebih dengan senyawa asam klorida, menghasilkan pH yang juga berada di kisaran 7. Kelebihan dari takaran magnesium hidroksida di lambung selanjutnya dibawa ke usus kecil, usus besar, selanjutnya dibuang bersama kotoran.

Dari 3 reaksi kimia (vi, vii, viii) dapat disimpulkan bahwa obat penawar penyakit maag hanya bertujuan mengurangi kelebihan konsentrasi ion hidrogen di dalam lambung, bukan bertujuan menghilangkan ion hidrogen atau malah menghadirkan ion hidroksil (OH) yang dominan di dalam lambung. Dengan kata lain, obat sakit maag hanya bertujuan menetralisir kelebihan asam klorida di dalam lambung, bukan menghilangkan sama sekali larutan HCl tersebut. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kehadiran HCl sangat berguna untuk lambung seseorang. Penggunaan senyawa hidroksida logam yang larut sempurna dalam air sebagai obat penyakit maag sangat beresiko terhadap kelebihan ion hidroksil di dalam lambung, yang pada akhirnya menimbulkan problem baru bagi kesehatan.

Bagaimana jika mengkonsumsi air alkali secara berlebihan, atau bagaimana jika kita hanya menggunakan air alkali sebagai satu-satunya sumber air minum ?

Air alkali yang memiliki pH di atas 7 bereaksi dengan cairan lambung yang memiliki pH asam akibat adanya HCl. Ada 3 skenario yang akan terjadi jika seseorang mengkonsumsi air alkaline sebagai sumber minuman utamanya.

  • 2 Alkali hidroksida (l) +  3 HCl (l)  →  2 Alkali klorida (l)  +  HCl (l)  +  2 H2O (aq)   ……..(ix)

Penjelasan reaksi (ix) di atas, konsumsi air alkalin yang dilakukan secara terbatas oleh seseorang yang menderita penyakit maag dapat mengurangi gejala penyakit maag yang diderita.

  • 2 Alkali hidroksida (l) +  2 HCl (l)  →  2 Alkali klorida (l)  +  2 H2O (aq)        ……..(x)

Dari reaksi (x), konsumsi air alkali yang setara dengan jumlah asam di dalam lambung seseorang menyebabkan naiknya pH lambung menjadi 7, dimana pada pH ini, kondisi lambung mulai tidak baik bagi kesehatan seseorang.

  • 3 Alkali hidroksida (l) + 2 HCl (l)  →  2 Alkali klorida (l)  + Alkali hidroksida (l) + 2 H2O (aq) ..(xi)

Reaksi kimia (xi) menjelaskan kondisi seseorang yang mengkonsumsi air yang memiliki pH tinggi secara berlebihan. Pada situasi ini, suasana lambung menjadi basa, pH lambung berada di atas 7, alias lambung mendapat limpahan ion hidroksil yang berlebihan. Kondisi ini menyebabkan hilangnya larutan HCl yang sejatinya sangat berguna bagi lambung dan pencernaan makanan.

Dengan seringnya pH lambung seseorang berada di atas 7, dapat menyebabkan timbulnya masalah-masalah baru bagi kesehatan seseorang. Kelebihan ion potassium (sebagai salah satu dari unsur-unsur kimia golongan alkali) di dalam tubuh dan darah bisa menyebabkan gejala hyperkalamia, yang bisa berakibat fatal bagi kesehatan jantung seseorang.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai kualitas suatu air yang layak diminum, anda dapat mengunjungi website WHO, atau bisa langsung mengklik link berikut ; http://www.who.int/water_sanitation_health/dwq/guidelines/en/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.