Peringatan Kemerdekaan RI ke 71 : Saatnya Sains Sebagai Panglima

9 hari setelah tulisan ini dimuat, kita akan memperingati (lagi) hari kemerdekaan RI yang ke-71 tahun. Usia kemerdekaan yang boleh disebut cukup bagi kemajuan suatu negara yang dikaruniai sumber daya alam sangat berlimpah. Usia kemerdekaan yang lebih tua dibanding beberapa negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan beberapa negara yang memiliki kemakmuran relatif lebih baik dibanding Indonesia.

Korea, suatu negara semenanjung yang miskin sumber daya alam, mulai melakukan restorasi dan pembangunan pada tahun 1955, 10 tahun setelah kemerdekaan RI. Vietnam bahkan baru saja melakukan reformasi ekonomi, setelah dilanda perang selama hampir 10 tahun lamanya. Namun kemajuan dan pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut terlihat relatif lebih cepat dibanding kita.

Cina (Tiongkok) mulai melakukan reformasi ekonomi sejak akhir tahun 1978, sekitar 33 tahun setelah kemerdekaan RI. Hasil revolusi ekonomi yang dikomandoi olehy Deng Xiaoping membuat negara ini menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ke-2 di dunia saat ini.

Apa yang menyebabkan kemajuan ekonomi Indonesia tak sepesat negara-negara lain, yang secara notabene sebagian darinya memiliki sumber daya alam yang minim ?

Sains Sebagai panglima Bagi Kemajuan Ekonomi Suatu Bangsa

Kemajuan yang diperoleh oleh negara-negara lain, tak bisa dipungkiri, sebagai hasil dari pengembangan sains dan teknologi. Jepang, negara yang sebelumnya kalah perang dan porak-poranda akibat dijatuhi oleh bom nuklir, mampu maju dengan cepat menjadi kekuatan ekonomi ke-3 dunia akibat pengembangan sains. Korea, Taiwan, Cina, Singapura, dan bahkan Malaysia, membangkitkan perekonomian mereka melalui pengembangan sains dan teknologi. Saat ini Vietnam pun makin gencar mengembangkan sains dan teknologi.

Berdasarkan data dari Bank Dunia, pada tahun 2015 Indonesia memiliki GDP (PPP) per kapita sebesar USD 3.346,50 , Malaysia USD 9.766,20 , Cina USD 7.924,70 , Jepang USD 32.477,20 , Singapura 52.888,70 , Pilipina 2.899,40 , Suriname 8.983,60 , Thailand USD 5.816,40 , dan Vietnam USD 2.111,10 (http://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.PCAP.CD).

Angka-angka di atas merupakan cuplikan data GDP per capita negara-negara tahun 2015 yang dirilis oleh Bank Dunia, dimana pada cuplikan data di atas terlihat bahwa GDP per capita Indonesia hanya unggul dari Pilipina dan Vietnam.

Pilipina, hingga kini, masih merupakan suatu negara yang rentan terhadap keamanan, disebabkan masih bergolaknya negara tersebut akibat konflik separatisme. Persoalan ini mengakibatkan terhambatnya laju pertumbuhan ekonomi mereka. Hail lainnya, negara ini juga sering menjadi langganan bencana topan.

Vietnam, seperti yang kita ketahui, baru mulai melakukan reformasi ekonomi sejak pertengahan dasawarsa 1980-an. Kemajuan negeri ini dapat dikatakan fenomenal di Asia Tenggara dan dunia. Dilihat dari GDP percapita mereka di tahun 2015, bukan tidak mungkin GDP per capita Vietnam nantinya mampu melewati Indonbesia.

Apa yang salah dengan model pembangunan yang dilakukan oleh kita ?

Kemajuan ekonomi Cina yang mencengangkan dunia dimulai dari era kepemimpinan Deng Xiaoping. Saat Deng mulai berkuasa, dia mulai merintis cetak biru industri nasional. Langkah awal dimulai dari pengiriman puluhan ribu pelajar ke negara-negara yang saat itu telah lebih maju, dimana ditekankan bahwa dari pelajar-pelajar inilah nantinya cikal bakal pengembangan sains dan teknologi, setelah mereka menyelesaikan pendidikannya.

Sektor infrastruktur juga menjadi perhatian utama dari pemerintah Cina. Kala itu, Indonesia juga menjadi tujuan belajar dari birokrat Cina. Mereka meniru konsep Otorita Batam, dan mengembangkan dengan model yang lebih baik lagi di beberapa wilayah yang berdekatan dengan Taiwan dan Hongkong.

Saat ini sangat mudah kita saksikan keperkasaan Cina dalam sains. Produk-produk industri mereka membanjiri dan menyebar secara luas di Indonesia. Alasan upah tenaga kerja yang murah sebagai landasan kemajuan ekonomi suatu bangsa, lagi-lagi terbantahkan oleh keajaiban yang dilakukan oleh Cina. Saat memulai revolusi industrinya, tingkat pendapatan per kapita rakyat Tiongkok berada pada level yang jauh di bawah kita, namun kini pendapatan rata-rata per kapita mereka telah melampaui kita, bahkan sudah mendekati tingkat pendapatan per kapita yang diraih oleh penduduk Malaysia.

Produk otomotif buatan Jepang yang mendominasi jalan-jalan di Indonesia bukan disebabkan oleh upah tenaga kerja mereka yang murah, atau disebabkan oleh lebih baiknya infrastruktur yang dimiliki oleh mereka. Banjirnya produk Jepang disebabkan majunya ilmu sains mereka, sehingga mampu menghasilkan produk teknologi yang kompetitif  dan berkualitas.

Di era orde baru, pembangunan dititik beratkan pada ekonomi, dengan kekuatan utama berasal dari sumber daya alam berlimpah, yang notabene adalah komoditi dasar berharga murah. Pendidikan sains pada masa itu belum menjadi prioritas pemerintah, sehingga masuknya investasi sebatas akibat upah buruh murah, ketersediaan sumber daya alam yang murah, dan iklim keamanan nasional yang kondusif. Seiring makin menipisnya ketersediaan sumber daya alam dan tuntutan upah yang makin tinggi, industri-industri yang beroperasi mulai mengalihkan basis produksi mereka ke negara lain yang lebih kompetitif, dengan sumber daya manusia yang jauh lebih baik.

Kondisi sekarang ternyata hanya sedikit lebih baik dari era orde baru, dengan pertumbuhan ekonomi yang masih bersandar pada hasil komoditi alam. Beberapa perbaikan dan regulasi yang dilakukan pemerintah di beberapa sektor riel pun belum mampu merubah keadaan. Hal ini terjadi disebabkan lemahnya SDM, khususnya berkaitan dengan sains dan pengembangan sains itu sendiri.

Contoh kenyataan yang ironis adalah persoalan pemenuhan garam untuk industri dan farmasi. Dengan bentang garis pantai terpanjang di dunia dan cuaca panas sepanjang tahun, sejak merdeka hingga kini kita masih terus menjadi pengimpor, sedangkan produksi dalam negeri masih di posisi 0%. Kebutuhan garam di atas 2 juta ton per tahun mestinya bisa dijadikan peluang usaha yang sangat menarik. Meskipun sangat menarik dan menjanjikan untung besar, namun kenyataannya tetap saja sektor ini tak dilirik.

Sumber daya air laut bisa menciptakan lebih dari 11 bidang usaha industri kimia, dengan omset yang bisa mencapai puluhan trilyun rupiah pertahunnya. Mengapa sektor ini tak dilirik ? Tentu saja jawaban yang tepat adalah tidak dikuasainya ilmu sains dan teknologi tentang cara-cara pengolahan air laut. Masih ada ratusan contoh ketidakberdayaan kita dalam memanfaatkan komoditi menjadi “nilai maksimum”, yang disebabkan lemahnya sumber daya manusia.

Perbaikan Apa Yang Harus Dilakukan ?

Kemauan dan kerja keras pemerintah saat ini yang habis-habisan menggenjot pembanguan infrastruktur harus diacungi jempol, meskipun di saat yang sama kita prihatin dengan sedikitnya peran dunia usaha nasional (khususnya sektor manufaktur) dalam memenuhi local content dari produk penunjang.

Pembangunan pembangkit listrik skala raksasa, kereta cepat, MRT, infrastruktur pelabuhan, dan beberapa prasarana lain yang sedang berlangsung saat ini, masih menempatkan Indonesia (nyaris) hanya sebagai pengguna, alias pemakai dari produk industri negara-negara lain. Namun percepatan pembangunan infrastruktur merupakan suatu keharusan, yang tak mungkin menunggu hingga kita mampu menguasai teknologinya.

Pembangunan infrastruktur harusnya sejalan dengan pembangunan industri manufaktur, yang menjadi motor dari kemajuan perekonomian nasional. Infrastruktur dimaksudkan sebagai sarana meningkatkan daya saing produk industri suatu negara, bukan sebagai tujuan pembangunan.

Sains berhubungan langsung dengan sistem pendidikan dan nasionalisme. Untuk menguasai sains dibutuhkan sistem pendidikan yang baik, dengan bidang sains sebagai prioritas utama bagi pembangunan pendidikan nasional. Anggaran untuk ilmu sains dan teknologi haruslah diberikan dalam porsi yang terbesar, meskipun kita tidak boleh mengabaikan bidang-bidang lainnya.

Dunia sains membutuhkan daya juang yang keras, ketekunan dan kedisiplinan. Untuk mecapai hal ini, dibutuhkan nasionalisme yang kuat, baik dari sisi pemangku kepentingan, maupun bagi warga negara sebagai pelaku sains yang sesungguhnya. Sains adalah kunci utama memenangkan persaingan, lebih tepatnya memenangkan persaingan antar negara.

Dunia sains adalah dunia yang penuh keajaiban. Bagaimana tidak, seorang pemuda Nadiem Makarim sukses besar hanya dalam rentang 5 tahun, dimana perusahaan Go-jek yang dipimpinnya telah memiliki kekayaan hingga Rp 17 trilyun.

Bagaimana dengan perusahaan-perusahaan IT di luar kita?! Lihat saja linkedin.com, suatu usaha internet yang bergerak di social media. Perusahaan yang didirikan di Dublin di penghujung tahun 2002 ini, diakuisisi oleh Microsoft Coorporation pada bulan Juni 2016, dengan harga yang fantastis, USD 26 Milyar (setara dengan Rp 349 trilyun jika dibandingkan dengan kurs rupiah pada saat yang bersamaan). Nilai ini hampir 2 x lipat dibanding target penerimaan negara dari program tax amnesty yang sedang berlangsung saat ini. Berdasarkan jumlah pengunjung, linkedin.com berada di ranking 17 dunia, masih jauh dibawah website-website ternama lainnya.

Internet, aplikasi, dan IT, tentulah berasal dari penemuan dan pengembangan sains, bukan cuma didasarkan pada kreatifitas semata. Saat ini kita dibanjiri oleh situs-situs sosial media dari luar, yang mengalirkan uang (hasil dari penayangan iklan) setiap detik ke negara-negara pemiliki website tersebut. Tentu saja kita pun bisa memiliki hal yang sama, jika menguasai sains yang sama, seperti yang dilakukan oleh startup-startup local saat ini.

 “Nilai Tambah” Atau “Nilai Maksimum”?     

Sering kita temui sahabat-sahabat yang pulang dari negara-negara maju, hampir selalu membawa cendera mata cemilan coklat atau panganan yang menggunakan bahan dari kakao. Sangat mungkin bahan baku coklat tersebut berasal dari kita, yang merupakan pengekspor komoditi kakao nomor 2 dunia (http://www.perfectinsider.com/top-10-cocoa-producing-countries-in-the-world/).

Produk sarung tangan terbuat dari karet dan ban-ban kendaraan bermotor, sebagian besar dibuat oleh industri-industri dari negara-negara yang sebagian diantaranya justru tak memiliki tanaman karet. Dengan nilai jual yang jauh melampaui harga karet sebagai bahan baku utama, tentulah industri pembuat bahan dan peralatan yang terbuat dari karet jauh lebih diuntungkan dibanding petani karet itu sendiri. Hingga saat ini, Indonesia merupakan negara produsen karet alam terbesar ke-2 dunia.

Berbagai produk kimia pangan, kecantikan, dan obat-obatan yang berasal dari bahan baku buah kelapa sawit, justru berasal dari negara-negara yang tak memiliki 1 batang pun pohon sawit. Indonesia menduduki posisi ke-1 sebagai produsen sawit terbesar di dunia. Jika saja kita memiliki industri-industri hilir di bidang komoditi andalan, tentu turunnya nilai jual komoditi akibat kelesuan ekonomi yang melanda dunia saat ini mampu diredam dengan sangat baik.

Penyebutan “Nilai Tambah” mestinya mengacu pada nilai awal yang besar, dengan besaran penambah yang harus lebih kecil dari nilai utama. Pengertian “nilai tambah” tentu tak layak digunakan sebagai istilah pada industri manufaktur yang menggunakan komoditi alam sebagai bahan bakunya. Nilai 1 kg camilan coklat tentu mencapai puluhan kali dari nilai riel harga komoditinya. Demikian juga dengan perbandingan harga ban kendaraan bermotor, yang mencapai puluhan kali nilai harga karet sebagai bahan baku. Turunnya harga komoditi ternyata tak menyebabkan turunnya harga produk manufaktur yang menggunakan komoditi tersebut. Bahkan dalam berbagai kasus, harga produk industri yang berkaitan dengan harga komoditi justru naik, disaat harga komoditinya sedang turun.

Sebagai negara penghasil komoditi, penyebutan nilai tambah sebagai istilah untuk “industri hilir” menjadi tidak tepat dan jauh dari sasaran. Bukankah lebih baik jika istilah “nilai tambah” digantikan dengan istilah “nilai maksimum”?!

Pada akhirnya, untuk mewujudkan Indonesia makmur yang disegani, dibutuhkan kerja keras dan kerjasama berbagai pihak. Tak hanya dari sisi pemerintah, kunci terbesar justru terletak dari sisi warga negara. Kesadaran akan keharusan menguasai sains haruslah menjadi cita-cita dari segenap bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.