Kontroversi Keterangan Saksi Ahli Pada Persidangan Jessica Kumala Wongso

Persidangan Jessica Kumala Wongso yang didakwa membunuh Mirna Wayan Salihin menggunakan racun sianida masih terus bergulir, yang saat tulisan ini dimuat sedang mendengarkan keterangan saksi-saksi ahli. Pada bagian ini kita mencoba mendalami kebenaran dari keterangan saksi-saksi ahli tersebut, khususnya pengertian ahli di bidang racun, dan lebih khusus lagi keahlian di bidang racun sianida.

Pada tulisan ini, penulis tidak bermaksud memihak, namun ingin meluruskan kebenaran tentang sianida, agar publik mendapat informasi yang tercerahkan.

Penamaan Sianida di Berbagai Daerah

Sianida memiliki banyak nama “istilah”, merujuk pada ucapan awal dari siapa yang pertama kali memperkenalkan pada daerah tersebut. Di sebagian Jawa Barat, sianida sering disebut dengan istilah “sangkalim”. Di sumatera zat ini sering diberi istilah ‘potas” atau “tuba”, merujuk dari kation potassium pada senyawa potassium sianida (KCN), dan “tuba” memiliki arti “racun”. Di beberapa daerah di pulau Jawa dan Indonesia Timur, sianida sering diberi istilah “air emas”, karena memang sianida digunakan untuk proses ektraksi emas dan larutan untuk bahan baku penyepuh dan pembersih perhiasan emas. Di beberapa lokasi penambangan, sianida diberi istilah “CN”, merujuk pada kation CN dari senyawa sianida.

Keterangan – keterangan Saksi Ahli yang Bertentangan dengan Fakta Menyangkut Sianida

  1. Keterangan yang Mengatakan Senyawa Alkali Sianida Bisa Merusak Kulit

Pada umumnya sianida yang mengandung alkali hidroksida (misalnya sodium sianida yang juga mengandung senyawa soda api atau caustic soda) hanya memiliki sifat iritasi sangat ringan pada kulit. Namun pada jenis kulit yang sensitif terhadap golongan alkali, pengaruh terpapar sianida bisa menyebabkan gatal-gatal dan iritasi. Jika kulit yang terkena alkali sianida segera dibasuh dengan air, maka sifat iritasi menjadi hilang. Iritasi yang timbul bukan disebabkan oleh sianida, namun terjadi akibat reaksi antara kulit dan senyawa alkali. Alkali hidroksida yang terkandung dalam sianida memiliki jumlah yang sedikit, sehingga efek iritasi yang ditimbulkan umumnya ringan saja. Bandingkan dengan sebagian besar dari senyawa sianida organik yang ada pada tanaman (contohnya umbi singkong racun), dimana jenis sianida ini tidak menyebabkan iritasi pada kulit.

  1. Keterangan Prof. Beng Beng Ong yang mengatakan kemungkinan lambung Mirna berisi Formalin, bukan Sianida

Keracunan yang ditimbulkan formalin dan sianida memiliki gejala yang sangat berbeda. Formalin adalah nama lain dari formaldehyde, yang memiliki rumus kimia CH2O. Formalin merupakan senyawa formaldehyde yang terlarut dalam air. Formalin memiliki titik didih −19 0C (minus 190C), dimana pada suhu ini pun telah terjadi penguapan formalin.

Jika formalin yang digunakan sebagai racun di dalam kopi yang diminum Mirna, tentulah bau dari senyawa ini tersebar luas di ruangan café tempat kejadian perkara. Bau formalin bersifat khas dan menusuk hidung orang yang menghirupnya. Bau formalin pasti juga akan dirasakan oleh Jessica dan Hani, saat sebelum dan sesudah Mirna meminum kopi tersebut. Gejala keracunan akibat formalin memiliki ciri-ciri yang sangat berbeda dengan gejala keracunan yang disebabkan oleh sianida.

Formalin juga tak mungkin terbentuk pada tubuh orang yang telah mati, karena sifat dari zat ini justru memperlambat pembusukan. Keterangan ahli yang mengatakan bahwa mungkin di dalam lambung Mirna bukan sianida, melainkan formalin, tentulah tak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmu kimia.

  1. Keterangan yang Mengatakan Keracunan Sianida yang Dihirup Melalui Udara Lebih Mematikan Dibanding Sianida yang Diminum

Gas sianida sebenarnya merupakan senyawa hidrogen sianida (asam lemah) yang berwujud gas pada temperatur yang sedikit di atas suhu kamar. Gas sianida yang terhirup paru-paru memang bersifat sangat mematikan. Gas HCN yang masuk ke ruang paru-paru langsung bereaksi secara spontan dengan oksigen dan berbagai senyawa kimia anorganik dan organik yang terdapat di rongga pernafasan dan paru-paru. Ada ratusan kemungkinan reaksi kimia yang terjadi jika gas sianida terhirup paru paru, beberapa diantaranya diulas pada persamaan reaksi berikut :

Oksigen yang masuk ke rongga paru-paru bisa bereaksi dengan sianida sebagai berikut :

4 HCN (g)  +  3 O2 (g)   →   2 H2O (aq)  +  4 CNO (l)  ………………..(i)

Pada persamaan reaksi (i) sianida bereaksi dengan oksigen, menghasilkan air dan senyawa CNO. Reaksi ini mengakibatkan paru-paru kehilangan oksigen dan tergenang oleh air.

Asam sianida yang masuk paru-paru juga bereaksi dengan senyawa-senyawa yang ada di dalam sel darah merah, mengakibatkan hilang dan terdegradasinya struktur kimia dari darah merah. Rusaknya struktur kimia dari sel darah merah mengakibatkan terhentinya aliran darah ke jantung dan otak, yang membawa kematian bagi penghirup hidrogen sianida.

Orang yang menghirup sekitar 110 ppm hidrogen sianida beresiko mati setelah 1 jam. Jika menghirup sianida hingga 546 ppm, orang akan mati tak lebih dari 10 menit. Makin pekat kandungan sianida yang dihirup paru-paru, makin cepat proses kematian orang yang terpapar.

Bagaimana jika sianida termakan atau terminum lewat mulut, apakah waktu menuju kematian menjadi lebih lama dibanding menghirup sianida lewat paru-paru ?

Alkali sianida yang terkonsumsi lewat mulut justru memiliki bahaya yang jauh lebih tinggi dibanding sianida yang masuk melalui paru-paru. Mulut dan saluran pencernaan manusia memiliki pH yang rendah dikarenakan adanya kandungan larutan asam klorida. Saat larutan alkali sianida masuk ke rongga mulut, sianida langsung bereaksi spontan (eksotermik) dengan berbagai senyawa kimia yang sejatinya ada di dalam mulut. HCl sebagai penghuni rongga mulut bereaksi seketika dengan sianida sebagai berikut :

HCl (l)  +  NaCN (l)   →  HCN (g)  +  NaCl (l)        …………….        (ii)

HCN yang terbentuk di rongga mulut sebagian kecil langsung masuk ke paru-paru melalui pernafasan mulut, sebagian lagi terbuang melalui udara yang keluar dari mulut. Artinya, masuknya senyawa alkali sianida ke mulut juga langsung berimplikasi ke paru-paru, dalam hitungan seper-sekian detik.

Sianida yang masuk juga bereaksi spontan dengan senyawa-senyawa sulfida yang ada di rongga mulut, mengakibatkan terbentuknya thiosianat yang sedikit beracun. Sianida yang masuk ke mulut sebagian juga terurai menjadi gas CO2, gas N2, larutan NaCl, dan larutan-larutan organik lainnya. Reaksi pembentukan HCN dan penguraian ion CN menjadi gas CO2 dan N2 menimbulkan panas di mulut, yang dalam jumlah banyak menimbulkan rasa seperti terbakar hebat.

Alkali hidroksida yang merupakan ikutan dari larutan sianida juga bereaksi spontan dengan zat-zat yang ada di dalam mulut. Reaksi antara NaOH dan HCl di dalam mulut menghasilkan cairan garam dan air, dimana pada reaksi ini dilepaskan panas laten yang terkandung di dalam NaOH dan HCl. Lapisan luar dari rongga mulut yang sangat tipis sehingga mudah mengalami iritasi dan terbakar. Ini yang menyebabkan orang yang mengkonsumsi sianida melalui mulut merasa terbakar.

Sebelum sianida masuk ke lambung, kandungan awal sianida yang masuk ke mulut telah berkurang akibat terjadinya penguraian sebagian dari senyawa tersebut di dalam rongga mulut. Ada banyak kemungkinan reaksi dan hasil reaksi antara sianida dan zat-zat kimia yang ada di dalam mulut, yang mengakibatkan berkurangnya kandungan sianida yang masuk ke kerongkongan dan  selanjutnya ke lambung.

Saat sianida masuk ke rongga mulut, suasana asam di dalam mulut berubah drastis ke basa. Perubahan pH yang drastis ini mengakibatkan saraf otak memberi perintah ke lambung untuk memperbesar produksi larutan HCl sebagai penyeimbang pH, mengakibatkan peningkatan akifitas lambung dari kondisi normalnya. Sisa sianida yang belum bereaksi masuk ke kerongkongan dan kemudian ke lambung, dimana kandungan sianida terus berkurang selama melewati bagian per bagian dari saluran pencernaan. Rongga mulut, kerongkongan, dan lambung memborbardir larutan basa sianida dengan larutan HCl yang diproduksi lambung, menyebabkan akumulasi gas HCN yang dikeluarkan melalui mulut, dan sebagian diantaranya masuk ke paru-paru via tenggorokan dan saluran hidung.

Sianida yang terminum selanjutnya menyerang sekaligus lambung dan paru-paru, menyebabkan terhentinya suplai oksigen secara mendadak ke jantung dan otak, dan menyebabkan orang yang mengkonsumsi mati dalam hitungan menit.

Dari penjelasan ini dapat dikatakan bahwa sianida yang terminum memiliki resiko kematian lebih tinggi dibanding sianida yang terhirup oleh paru-paru. Ini disebabkan sianida yang terhirup hanya menyerang bagian pernafasan, sementara sianida yang terminum menyerang saluran pencernaan dan juga sekaligus saluran pernafasan.

Sianida adalah senyawa kimia yang reaktif dan sangat mudah terurai. Sianida bisa terurai oleh udara dengan bantuan sinar matahari (ultraviolet), menjadi gas CO2 dan N2. Di tubuh sianida bereaksi spontan dengan senyawa-senyawa asam di dalam tubuh, menghasilkan gas HCN yang mudah menguap. Reaksi dengan ion sulfur di tubuh menghasilkan senyawa SCN yang bersifat kurang beracun. Ada ratusan jenis reaksi antara sianida dengan darah, mengakibatkan sulitnya mendeteksi adanya kandungan sianida di dalam darah.

Jika sianida yang dihirup sekitar 546 ppm saja bisa mematikan dalam hitungan dibawah 10 menit, maka sianida yang diminum sekitar 289 mg bisa mematikan orang hanya dalam hitungan dibawah 5 menit !

Keterangan saksi ahli yang mengatakan bahwa kematian lebih cepat bagi orang yang menghirup dibandingkan orang yang meminum sianida jelas-jelas dapat dikatakan tidak memenuhi fakta, dan bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmu kimia.

Untuk kasus kematian Mirna, tentulah tak sama takaran kandungan sianida di dalam kopi, di rongga mulut, dan di lambung korban. Kandungan terbesar sianida tentu berada di kopi, berkurang saat masuk ke mulut, dan terus berkurang saat tiba di lambung.

  1. Ong menjelaskan, ketika seseorang meminum sianida, kandungan tersebut akan langsung masuk ke lambung (dalam jumlah yang sama. Masuknya racun ke lambung dipastikan terjadi sebelum racun diserap sebagian oleh tubuh.

Pada keterangan ini, lagi-lagi terlihat kelemahan kesaksian Ong. Masuknya sianida ke lambung tentulah harus melewati mulut terlebih dahulu, dimana pada rongga ini pun telah terjadi reaksi pertama antara sianida dan zat-zat kimia yang ada di dalam mulut, misalnya asam klorida yang merubah alkali sianida menjadi gas hidrogen sianida. Alkali sianida yang berubah menjadi asam sianida di mulut ini sebagian dikeluarkan melalui nafas yang dihembuskan dari mulut (dapat dilihat di CCTV saat Mirna merasa mulutnya terbakar), dan sebagian kecil lagi terhisap masuk ke rongga pernafasan.

Orang yang terpapar oleh sianida yang memiliki kandungan hanya 13 mg/m3 udara bisa menyebabkan fatal dan kematian setelah 8 jam mengkonsumsinya. Dan seterusnya, kadar sianida yang meningkat pada udara menyebabkan waktu transisi menuju kematian menjadi lebih singkat. Pada paparan hanya 54 mg/m3 udara, dalam waktu 10 menit bisa menyebabkan kematian (U.S. Department of Health & Human Services  http://www.cdc.gov/niosh/ershdb/emergencyresponsecard_29750036.html).

  1. Profesor Beng Beng Ong berpendapat bahwa kematian Wayan Mirna Salihin belum tentu disebabkan keracunan alkali sianida, dan ada kemungkinan akibat dari sakit jantung yang diderita.

Fakta : Kematian tentu selalu terjadi akibat berhentinya kerja jantung. Kematian akibat berhentinya kerja jantung secara mendadak bisa disebabkan, beberapa hal. Orang yang diinjeksi menggunakan dosis 90 gram KCl pun bisa mati mendadak dalam hitungan detik. KCl, dalam dosis normal, meningkatkan kinerja dan laju pacu jantung. Dalam dosis yang tinggi, KCl bisa menyebabkan hyperkalamia, yang bisa menyebabkan jantung berhenti mendadak. Naiknya laju pacu jantung karena asupan KCl disebabkan ion kalium. Sianida juga bisa menyebabkan berhentinya kerja jantung secara mendadak.

  1. Atas adanya temuan sianida di sampel lambung Mirna sebanyak 0,2 miligram per liter, ia menerangkan bahwa sianida itu bisa jadi timbul sebagai hasil dari reaksi kimia yang terjadi pasca-kematian atau post-mortem change.

Fakta : Sianida, disamping senyawa sianida yang dibuat melalui proses pabrikasi, juga ditemukan di tumbuh-tumbuhan (dalam bentuk sianida organik), dimana pada tumbuhan jenis tertentu, kandungan sianida bisa sangat tinggi. Sianida, baik yang berasal dari proses pabrikasi, maupun yang berasal dari tumbuhan, terbentuk karena proses kimia yang dipaksakan (reaksi endotermik), dimana pada proses ini dibutuhkan energi panas yang masuk ke dalam sistem. Pada orang yang telah mati, proses yang terjadi bukanlah pembentukan senyawa, melainkan proses-proses penguraian yang dilakukan oleh mikroorganisme dan virus-virus.

Proses pembusukan menghasilkan senyawa-senyawa yang memiliki gugus fungsi dan struktur kimia yang lebih kecil. Pada proses pembusukan juga terbentuk senyawa-senyawa sulfida (diantaranya alkali dan alkali tanah sulfida), dan senyawa gas sulfida (H2S) yang berbau busuk. Amoniak dan gas metana juga terbentuk pada proses ini. Sianida yang awalnya relatif masih tinggi di lambung Mirna (sesaat setelah terminum) , dalam waktu yang tak lama terurai oleh gas sulfida dan senyawa sulfida yang terbentuk di dalam lambung, dimana senyawa sulfida ini merubah sianida menjadi senyawa thiosianat (SCN).

Kristal yang mengandung 98% alkali sianida yang ditaruh di udara bebas dan terpapar matahari, akan terdegradasi setiap saat, dimana dalam waktu seminggu saja kandungan sianidanya bisa hilang hingga 80% dari kandungan awalnya (meskipun sianida tersebut masih dalam kondisi tak larut).

Terdegradasinya sianida di udara disebabkan oleh sinar ultraviolet, gas oksigen, CO2, uap asam, dan sebagainya. NaOH yang bercampur dengan NaCN lambat laut berubah menjadi senyawa Na2CO3, dimana hal ini terjadi akibat reaksi antara NaOH dan gas CO2 dari udara. Perubahan soda api menjadi soda ash ini menyebabkan pH turun, yang berimplikasi pada makin cepatnya laju penguapan sianida, seperti reaksi berikut ini.

NaOH (l)  +  CO2 (g)   →  Na2CO3 (l)  +  H2O (aq)     ……….(iii)

Berubahnya senyawa NaOH menjadi Na2CO3 mengakibatkan turunnya pH sianida, membuat sebagian dari sianida menguap dalam bentuk gas HCN.

Jika Kristal sianida yang terpapar udara saja mampu terdegradasi dalam rentang waktu yang cepat, apalagi dengan sianida yang berada di lambung, yang dipenuhi oleh berbagai jenis zat kimia tubuh.

  1. Profesor Beng Beng Ong menjelaskan, orang yang meninggal dengan kondisi bibir gelap dan kehitaman bukan berarti menandakan keracunan sianida.Kondisi bibir gelap dan kehitaman tidak dapat ditendensikan sebagai akibat dari keracunan sianida. Selain itu, Ong menyampaikan, kulit orang yang keracunan sianida memiliki warna yang merah terang.

Fakta : Pada awalnya, kulit dari seseorang yang terkena racun sianida akan berwarna merah tua (merah cherry), namun tak berapa lama warna berubah menjadi gelap kebiruan, disebabkan jenuhnya tingkat oksigen di dalam darah. Warna biru tua kehitaman juga disebabkan sebagian dari sianida bereaksi dengan zat besi dari dalam darah, membentuk senyawa Fe7(CN)18  (biru Prussia / Prussian Blue) di dalam darah.

  1. Sementara itu, lagi-lagi kata Prof. Beng Beng Ong, di urin bisa jadi ditemukan ataupun tidak ditemukan kandungan sianida. Hal itu tergantung pada seberapa cepat orang tersebut meninggal dunia.

Fakta : Sianida sulit ditemukan di urin, karena telah bereaksi dengan senyawa-senyawa yang ada di dalam tubuh. Untuk mendeteksi kemungkinan adanya sianida di urin, maka uji laboratorium yang harus dilakukan adalah pengujian kandungan senyawa SCN (thiosianat) di dalam air seni. Namun thiosianat yang terkandung di urin bukan berarti selalu disebabkan sianida. Terbentuknya senyawa SCN salah satunya bisa disebabkan reaksi antara ion sulfur di dalam tubuh dan ion sianida (CN).

Sangat disayangkan keterangan 1 saksi ahli yang mengaku ahli patologi, yang dihadirkan oleh Jessica pada sidang lanjutan tanggal 05/09/2016. Saksi yang memiliki nama lengkap  Profesor Beng Beng Ong berasal dari Australia, mengaku sebagai ahli di bidang patologi, dimana yang bersangkutan berarti mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan sianida. Jika memang saksi ahli ini benar-benar tahu akan sianida dan efek yang ditimbulkan pada tubuh, tentu seharusnya keterangan saksi tak bertentangan dengan ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan yang berhubungan dengan kimia.

  1. Keterangan Ahli yang Mengatakan Senyawa Alkali Sianida Merupakan Basa Kuat

Keterangan ahli yang mengatakan bahwa senyawa alkali sianida (NaCN atau KCN) merupakan basa kuat adalah suatu kekeliruan jika ditinjau dari segi ilmu kimia. Kebasaan dari suatu senyawa ditentukan oleh konsentrasi ion OH yang terkandung dalam senyawa tersebut. Sodium sianida (NaCN) atau potassium sianida (KCN) tidak mengandung anion OH. NaCN merupakan ikatan kimia yang terjadi antara kation natrium (Na+) dan anion CN, seperti halnya KCN yang terdiri dari kation K+ dan anion CN. Artinya, sianida merupakan garam yang memiliki pH = 7.

Di pasaran, KCN atau NaCN yang merupakan produk dari industri kimia, memang memiliki pH yang tinggi. Kemurnian dari alkali sianida untuk industri maksium di posisi 98%, dimana 2% lagi umumnya berupa senyawa NaOH, senyawa pengering seperti silica gel,  dan sebagian kecil senyawa-senyawa jenis lainnya. NaOH dicampurkan ke dalam Kristal NaCN atau KCN, agar Kristal NaCN menjadi relatif stabil, tak mudah menguap dan terdegradasi jika terpapar oleh udara.

Mungkin yang dimaksud saksi ahli dengan keterangan ”Alkali sianida merupakan senyawa basa kuat” adalah adanya campuran NaOH atau KOH dalam kristal NaCN atau KCN. Jika kristal NaCN atau KCN dilarutkan, maka ion-ion pada garam sianida akan terdissosiasi, seperti persamaan reaksi berikut ini :

NaCN + NaOH + H2O   → 2 Na+ +  CN  +  OH  + H2O ……….(iv)

KCN + KOH + H2O    →  2 K+  + CN  +  OH  +  H2O  ………..(v)

Seperti terlihat pada persamaan reaksi (iv) dan (v), kristal alkali sianida yang dilarutkan ke dalam air terurai menjadi ion-ion yang masing-masing bebas terhadap lainnya. H2O (air) pada persamaan reaksi (i) dan (ii) hanya berfungsi sebagai pelarut. Jika pengukuran pH dilakukan pada kristal sianida yang telah dilarutkan, maka memang pH larutan akan tinggi, mencapai angka 14. Nilai pH yang tinggi ini bukan disebabkan oleh ion CN, namun terjadi akibat adanya ion OH di dalam larutan.

Pada pH yang relatif atau makin rendah, ion sianida mudah membentuk senyawa asam sianida (HCN) yang bersifat asam lemah. Tak seperti alkali sianida yang memiliki titik didih  564 0C, hidrogen sianida memiliki titik didih yang sangat rendah, sekitar 26 0C. Ini adalah suhu yang sedikit di atas suhu kamar. Pada suhu didihnya, peluang penguapan senyawa hidrogen sianida menjadi sangat besar, sehingga dapat mengurangi konsentrasi sianida terlarut. Disamping itu, penguapan juga mengakibatkan resiko terhadap keselamatan mahluk hidup di sekitarnya. Terbentuknya senyawa asam sianida makin meningkat seiring turunnya pH larutan. Oleh karena itu, agar kristal dan larutan sianida tak mudah terdegradasi, maka penambahan senyawa alkali hidroksida menjadi mutlak diperlukan pada kristal alkali sianida untuk industri, dan sekaligus mengakibatkan tingginya pH pada larutan sianida.

Dari beberapa keterangan saksi-saksi ahli (bidang patologi forensik) yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum, ada sebagian kecil keterangan yang memang harus dikoreksi, karena tak sesuai dengan kaidah ilmu kimia. Namun kekeliruan dari keterangan dari saksi ahli patologi yang dihadirkan oleh JPU tidak menyentuh persoalan utama dari pokok perkara.Kesalahan yang hanya sedikit ini bisa dimaklumi, karena merupakan suatu hal yang sangat manusiawi.

  1. Keterangan Tentang Jarangnya Ditemukan Kasus Keracunan Sianida

Kasus keracunan terhadap sianida sering ditemukan pada manusia dan hewan, terutama pada hewan ternak yang sensitif terhadap sianida. Kambing merupakan hewan yang sangat rentan terhadap dedaunan yang mengandung senyawa organik sianida. Beberapa tanaman mengandung sejumlah sianida yang bisa mematikan. Sianida juga sering digunakan sebagai racun untuk menangkap ikan secara illegal. Di beberapa daerah terpencil, ditemukan orang yang sakit atau mati karena keracunan makanan yang berasal dari tumbuhan mengandung sianida.

Pada manusia, kasus pembunuhan menggunakan sianida sering ditemukan di berbagai daerah dan negara. Penggunaan istilah lain sebagai pengganti sianida sebagai racun sering terjadi di berbagai daerah. Beberapa kasus pembunuhan yang diberitakan disebabkan oleh potas, air emas, sangkalim, adalah kasus keracunan yang terjadi disebabkan oleh sianida.

Di bawah ini ditampilkan link-link yang berkaitan dengan kasus pembunuhan dan bunuh diri yang dilakukan menggunakan sianida.

http://regional.kompas.com/read/2016/02/11/23005011/Sasaran.Utama.Tak.Didapat.Dua.Pemuda.Racuni.Orang.Lain.Pakai.Potasium

http://news.detik.com/berita/3122342/kasus-pembunuhan-pakai-sianida-pernah-terjadi-di-bali-pelakunya-dihukum-mati

http://news.detik.com/berita/753632/misteri-bunuh-diri-mercy-terkuak-lewat-kapsul-potasium

http://m.madiunpos.com/2015/06/13/pembunuhan-situbondo-guru-spiritual-racuni-muridnya-kenapa-613976

http://www.nusabali.com/berita/4725/balian-cetik-minta-dijenguk

http://www.adakitanews.com/pembunuh-ratna-ternyata-pacar-korban/

http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-timur/13/05/14/mmo6i7-ibu-ini-diduga-bunuh-anak-kandungnya-dengan-racun

5 comments

    • Jika anda tidak setuju dgn artikel ini anda bisa mnulis artikel dengan tema yg sama dn jelaskan ketdak setujuan anda pada bagian yg mana saja, selayaknya artikel ini karena ktidakstujuan trhdap pndpat Prof. Beng Ong.. Prbdaan pendpat adalah hal yg wajar bukan?.. Selain itu, kcerdasan seseorang tidak bisa ditentukan secara kuantitatif.. juara 1 umum di sekokah tidak serta merta lebih pandai matematika daripd siswa yg tidak juara umum namun juara olimpiade.. Jdi jika anda tidak stuju silahkan buat artikel ktdak setujuan anda untuk mnjawab artikel ini dn berikan penjelasannya selayaknya artikel ini dibuat. Namun jika anda tidak memiliki pengetahuan materi yg sama saya rasa ada baiknya anda tidak perlu ikut berkomentar, ckup menjdi bahan pengetahuan anda saja.. salam hormat..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.