Misteri Berkurangnya Kandungan Sianida di Lambung Mirna

Misteri hilangnya sebagian besar sianida di lambung Mirna mulai terjawab dengan sangat baik. Misteri ini terjawab setelah munculnya kesaksian ahli patologi forensik dari RSCM, Dr. Djaja Surya Atmadja. Saksi memberi keterangan bahwa ia lah yang membalsem jenazah Mirna Salihin, dengan cara memasukkan cairan formalin ke dalam tubuh korban.

Tanpa disadari oleh sebagian dari pihak-pihak yang berperkara, masuknya formalin ternyata menyebabkan terjadinya reaksi antara sianida dan formalin, yang menyebabkan jumlah sianida bebas menjadi sangat  berkurang (pada bagian-bagian tertentu bisa hilang sama sekali) dari jumlah awalnya.

Analisa penulis, terlihat bahwa pelaku (siapa pun orangnya) paham benar atas apa yang akan dilakukan pada jenazah Mirna, yaitu jenazah Mirna pasti mengalami pengawetan setelah kematian. Pengawetan dilakukan pasti menggunakan cairan formalin yang dipaparkan ke seluruh tubuh mayat. Upacara penguburan almarhum Mirna Wayan Salihin yang dijadwalkan beberapa hari setelah meninggalnya, tentu membutuhkan formalin, agar jenazah tidak cepat membusuk, dan ini sangat dipahami oleh pelaku.

Masuknya formalin menyebabkan terjadinya reaksi kimia spontan antara sianida dan formaldehyde, membentuk senyawa organik karboksilat dan asam amino, peristiwa ini sama dengan proses “Sintesa Strecker / Strecker Synthesis”, dimana HCN, NaCN, bersama-sama dengan formalin (gugus aldehyde) merupakan bahan dasar terbentuknya gugus karboksilat dan asam amino.

Apa Itu formalin ?

Formalin adalah istilah lain dari senyawa formaldehyde cair, yang merupakan senyawa organik dari gugus terpendek aldehyde. Formalin banyak digunakan untuk pengawet dan pembasmi hama. Di dunia kedokteran, formalin umumnya digunakan untuk membalsem mayat, agar tidak cepat membusuk. Secara illegal, formalin juga digunakan oleh para penjual hewan dan ikan agar tak cepat mengalami pembusukan. Formalin (bersama-sama dengan potassium permanganate) juga dipakai pada kandang-kandang ayam yang akan diisi oleh bibit baru, dimana fungsi bahan kimia ini dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme dan virus di dalam kandang yang akan diisi.

Formaldehyde adalah gas yang memiliki rumus kimia CH2O. Formaldehyde membentuk hidrat saat dilarutkan ke dalam air, yang sering disebut dengan nama methanediol (H2C (OH) 2). Larutan jenuh formaldehyde di dalam air memiliki konsentrasi maksimum 40% v/v, atau 37% w/w. Untuk mencegah cepatnya proses oksidasi (membuat cairan formalin menjadi tahan lama), ditambahkan zat-zat seperti alkohol (jenis methanol), yang sering berjumlah 10% dari beratnya.

Bagaimana Reaksi Antara Formalin dan Sianida?

Lambung almarhum Mirna yang sebelumnya berisi NaCN dalam porsi besar, diinjeksi oleh saksi ahli menggunakan formalin, menyebabkan terjadinya reaksi pembentukan cyanohydrins dan “Sintesa Stecker”.  Cyanohydrins sendiri adalah senyawa sianida organik yang sangat beracun, namun senyawa ini tak stabil. Reaksi dapat balik apabila terjadi pengenceran menggunakan air. Proses selanjutnya, cyanohydrins bereaksi kembali membentuk gugus kimia baru, seperti asam karboksilat dan asam-asam amino, dimana pada senyawa-senyawa kimia ini (contohnya asam amino), jejak sianida telah raib dengan sempurna.

Proses perubahan formalin menjadi asam amino di seluruh tubuh Mirna bisa terjadi menggunakan mekanisme “Sintesa Stecker”, dengan reaksi umum sebagai berikut :

reaksi sintesa Strecker

 

 

 

Gambar 1. Reaksi Sintesa Stecker

Pada gambar 1, cirri-ciri sianida yang ditandai dengan symbol CN, hilang setelah terciptanya asam amino.

Sintesis asam amino Strecker adalah reaksi organik yang digunakan untuk mengkonversi sebuah gugus aldehid (contohnya formalin) atau keton dan amina primer atau amonia menjadi asam α-amino. Proses ini menggunakan metal sianida (NaCN/KCN), katalis asam, dan air. Mekanisme proses dimulai dari reaksi katalisasi asam terhadap karbonil dengan amina untuk menghasilkan imina. Imina selanjutnya diserang oleh sianida untuk menghasilkan gugus nitrile, yang merupakan perantara untuk pembuatan asam amino.

Selanjutnya nitrile yang terprotonasi oleh asam, diserang oleh molekul air, dan setelah serangkaian transfer proton, dihasilkan produk antara amida. Pada reaksi yang berlangsung dalam kondisi asam, amida akan terprotonasi dan gugus amina digantikan oleh air, yang pada akhirnya menghasilkan kelompok asam karboksilat dan produk asam amino akhir.

Rentetan proses yang terjadi sebagai berikut :

  1. Reaksi antara NaCN dan HCl serta H2S di tubuh Mirna sebagian menghasilkan gas HCN, dan sebagian lagi masih berupa NaCN.
  2. Gas HCN yang dihasilkan sebagian dibuang via pernafasan mulut, sebagian lagi ikut masuk terhirup paru-paru.
  3. Gas HCN dan NaCN masuk ke dalam darah dan bagian dalam tubuh (termasuk dalam hal ini hati / liver).
  4. Jenazah almarhum diawetkan oleh Dr. Djaja Surya Atmadja menggunakan larutan formalin sebanyak 3 liter, dimana pada proses ini telah berlangsung reaksi antara sianida dengan formalin (formaldehyde), yang menyebabkan terkonversinya dengan sempurna ion sianida menjadi asam amino, gugus karboksilat, dan senyawa-senyawa organik lainnya.
  5. Perubahan hidrogen sianida menjadi HCN yang masuk ke aliran darah menyebabkan berkurangnya kandungan ion hidrogen di lambung, yang menyebabkan pH lambung menjadi naik.
  6. Masuknya formalin yang juga mengandung alkohol sebagai penstabil turut menyumbang kenaikan pH. Sebagaimana diketahui, gugus alkohol merupakan senyawa organik yang bersifat basa lemah. Ini yang menyebabkan hasil autopsi menunjukkan pH lambung Mirna di angka 13.

Suatu keberuntungan bahwa meskipun telah 3 hari dibalsem, jeazah Mirna masih menyisakan sedikit sianida di dalam lambungnya. Banyaknya larutan formalin yang dimasukkan ke tubuh (menurut keterangan saksi, beliau menggunakan 3 liter formalin) ternyata belum bisa menghapus total jejak-jejak sianida di tubuh Mirna.

Kesaksian Dr Djaja Surya atmadja

Beliau mengatakan sejak tahun 1986 hingga saat ini (30 tahun) telah melakukan 200.000 hingga 300.000 autopsi pada mayat. Jika kita ambil titik tengahnya, maka kemungkinan beliau telah mengautopsi 250.000 mayat selama karirnya di dunia kedokteran. Jika di rata-rata kan per tahun, maka Dr. Djaja Surya Atmadja telah mengautopsi sebanyak 8333,3 orang per tahunnya. Rata-rata beliau mengautopsi 22,8 orang setiap hari nya, tanpa adanya hari libur, selama 30 tahun. Penulis tak habis pikir akan kekuatan fisik beliau, seandainya pernyataannya dianggap benar. Namun secara normal, pernyataan saksi ahli ini diperkirakan berlebihan.

Saksi ahli menerangkan bahwa mendeteksi sianida di tubuh harus melihat kandungan sianida bebas yang ada di dalamnya, atau paling tidak adanya kandungan thiosianat. Penulis kurang paham apakah kandungan sodium ferro sianida dan sodium ferri sianida atau biru Prussia yang juga ikut terbentuk selama proses keracunan termasuk diperhitungkan juga oleh Dr. Djaja Surya Atmadja. Namun paling tidak, dengan keterangan ini, terlihat beliau mengerti tentang kimia.

Keterangan Dr. Djaja Surya Atmadja ternyata banyak yang bertentangan dengan keterangan saksi ahli dari Australia, Prof Beng Beng Ong, yang mengatakan bahwa pengaruh keracunan sianida baru dirasakan setelah 30 menit meminum atau mengkonsumsinya. Keterangan Dr. Djaja Surya Atmadja mengatakan bahwa, dosis sianida antara 150 mg – 250 mg membuat orang yang mengkonsumsi langsung mati. Dalam hal ini, penulis sependapat dengan keterangan Dr. Djaja, dan menganggap saksi ahli dari Australia telah melakukan kebohongan.

Keterangan Dr. Djaja mengatakan bahwa cairan sianida sebanyak 7000 mg per liter bisa membuat orang pingsan dalam radius 500 meter !. Keterangan dan fakta pada alinea berikut bisa membantah candaan Dr. Djaja ini.

Ratusan ribu orang Indonesia telah mengenal dan memiliki pengalaman yang berhubungan langsung dengan sianida.1 butir sianida di pasaran umumnya memilki berat 7 gram lebih sedikit. Larutnya 1 butir sianida di dalam air sebanyak 200 ml biasa dilakukan oleh para perajin emas, dimana larutan ini berguna untuk mencerahkan kembali perhiasan emas yang telah dipakai. Para perajin perhiasan emas bekerja di dalam ruangan tertutup, umumnya bersama karyawan dan keluarganya. Namun tak pernah terjadi situasi seperti yang dikatakan oleh Dr. Djaja Surya Atmadja. Dalam hal ini penulis menganggap keterangan ahli ini cenderung melebih-lebihkan.  Di lokasi-lokasi penambangan emas (baik legal maupun illegal), penggunaan sianida merupakan hal yang sangat biasa. Proses sianidasi emas (baik berupa slurry maupun menggunakan metode heap leach) sangat mudah ditemukan, dimana kandungan sianida di dalam lumpur atau air berada di angka minimum 2 kg per ton (2000 pmm). Kandungan sianida awal biasanya bertambah disebabkan menurunnya kadar sianida bebas dan masih berlangsungnya proses leaching. Pada lokasi pengolahan emas (baik illegal maupun yang memiliki ijin), pekerja sering berada kurang dari 1 meter dari posisi reaktor, dimana pada umumnya reaktor pengolahan emas terbuka di bagian atasnya.

Mirip dengan yang disampaikan oleh saksi ahli Beng Beng Ong, ahli Dr. Djaja menerangkan bahwa pada saat mayat membusuk, asam amino sebagian terurai menjadi sianida, tanpa membuktikan bagaimana proses tersebut bisa berlangsung. Pada kenyataannya, sianida digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan asam amino, dan proses yang terjadi bersifat irreversible (tak bisa balik). Keterangan beliau kali ini dianggap penulis tak mempunyai dasar.

Ahli Dr. Djaja mengatakan bahwa natrium merupakan basa kuat, dan CN merupakan asam lemah. Keterangan ini membuktikan bahwa saksi ahli tak mengerti defenisi asam dan basa. Derajat keasaman diukur dari tingkat konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam larutan, sedangkan derajat kebasaan dihitung berdasarkan konsentrasi ion hidroksil (OH) di dalam larutan. Kutipan keterangan Dr Djaja pada paragraph ini dianggap penulis seperti keterangan orang yang tidak mengerti tentang sifat asam dan basa.

Kontroversi berikutnya, Dr. Djaja mengatakan pH lambung berada di angka 3, disebabkan adanya HCl (hydrochloric Acid). Di sini pH rendah karena adanya ion H+, bukan ion Na+. Lantas apakah jika ion hidrogen diganti dengan ion natrium membuat pH lebih rendah lagi?! Tentu tidak, karena senyawa NaCl adalah garam dapur, yang memilki pH netral di posisi 7. Dengan tidak mengertinya saksi ahli akan defenisi pH, seharusnya saksi tak memberikan keterangan tentang pokok perkara yang menyangkut  pH.

Saksi ahli mengatakan di lambung NaCN bereaksi dengan HCl menjadi Na, OH, Cl dan HCN. Ini adalah reaksi kimia yang tak pernah terjadi ! Yang benar, NaCN bereaksi dengan HCl menghasilkan larutan NaCl dan HCN, dimana NaCl adalah garam yang memiliki pH 7, dan HCN merupakan asam lemah. Saat JPU menanyakan apakah saksi mengerti akan kimia analis, saksi ahli mengatakan tidak, namun saksi berani mengucapkan persamaan reaksi kimia di depan persidangan.

Saksi ahli Dr. Djaja Surya Atmadja menerangkan bahwa ia lah yang melakukan pengawetan pada jenazah Mirna, dengan alasan bahwa proses formalin harus ditangani oleh dokter forensik. Saksi sempat menyatakan pada keluarga korban (sebelum melakukan injeksi formalin), bahwa pemasukan formalin dapat membuat perubahan pada tubuh korban, yang bisa menyebabkan hilangnya bukti racun di dalam tubuh. Dari cuplikan percakapan terlihat bahwa saksi sudah tahu bahwa pemasukan formalin ke tubuh dapat membuat hilangnya bukti sianida (ini diperkuat dengan perkataan bahwa yang bersangkutan adalah dosen di mata kuliah sianida). Namun keterangan saksi dibantah sendiri, dengan mengatakan bahwa sianida sebesar 0,2 mg di lambung tidak bisa membuat terjadinya kematian. Bukankah formaldehyde yang dimasukkan saksi ke tubuh korban telah menghapuskan sebagian besar jejak sianida?!

11 comments

  1. Utk Kel Almh Mirna…. kematian adalah misteri ilahi, jadi terimalah kenyataan ini sebagai rencana indah dari Yang Mahakuasa… Gusti Allah tidak pernah membiarkan kejahatan merajalela .. biarlah Gusti Allah yg bekerja dgn caraNYA sendiri

  2. ada yg sampai ga pakai akal logika nganggap MWS meninggal karena penyakit jantung. sdh jelas kopinya ada racun masih bilang sakit jantung.
    balik ke sd saja dah.

  3. Udah jelas Mirna meninggal sesudah minum kopi yg mengandung Sianida. Meminum dan Mencicipi itu beda. kalo Hani dan manager Kafe Olivier kan cuma “Mencicipi”, mencicipi kan cm di Lidah, ya gak bakalan masuk perut, ya pasti gak mati.

  4. Penjelasan yg bagus. Walau tdk terlalu ahli tp saya jg ngerti kimia analisis. Jadi sebel sendiri kalau lihat persidangannya. Apalagi ada saksi ahli yg bilang bisa mendeteksi keberadaan sianida dgn penciumannya walau cuma 1 ppm. Hebat banget, instrument analisa nggak kepake dong ya..hi…hi..

  5. Sianida tak ditemukan dalam cairan lambung yang diambil 7 jam setelah kematian di RS Abdy Waluyo tapi cairan lambung tsb baru diperiksa kadar sianidanya 4 hari kemudian. Di lambung ada HCl yg dihasilkan sel parietal lambung. HCl bereaksi dg NaCN membentuk NaCl dan HCN. HCN mudah menguap dalam suhu kamar, sehingga setelah diperiksa 4 hari kemudian mungkin tak terdeteksi lagi sianidanya.Penyuntikan formalin melalu V. femoralis sinistra, akan bereaksi dg sianida dalam darah tapi tak akan mempengaruhi kadar sianida dalam lambung karena tindakan embalming (penyuntikan formalin ke dalam vena)tak menyebabkan keluarnya formalin ke dalam lambung.Jika dalam darah ditemukan sianida 3 µg/ml (= 3 mg/liter) berarti sianida tsb cukup memnyebabkan kematian.

  6. Kenapa sianida hilang dr tubuh mirna …dr dja ja telah meghilangkan bb .mesti nya djaja dijadikan tersangka aku beri kepada keluarga kk mirna saya sudah kesal terhadap orang 2mempojokan papamirna.biarku habiskan orang jelek2kluarga mirna

  7. Setuju. Seharusnya dr djaja yang sangat ahli dalam sianida menolak embalming krn tahu akan berakibat menghilangkan sianida. Apalagi belakangan terungkap bahwa dialah orang yang menawarkan embalming. Patut dicurigai oleh penyidik dan dijadikan petunjuk untuk menguak kasus kematian mirna.

  8. Acung jempol buat penulis. Om tolong dong dibuat juga kajian tentang kesaksian ahli IT Rismon. Saya ini orang awam kok merasa janggal, tapi saya tidak memahami kajian secara ilmiahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.