Kasus Sianida Jessica : Motif Apa Dibalik Keterangan Saksi Ahli ?

Awalnya penulis simpati ketika terdakwa mengajukan saksi-saksi ahli, khususnya untuk membandingkan keterangan saksi-saksi ahli yang sebelumnya dihadirkan oleh jaksa penuntut umum. Mungkin (harapan penulis) keterangan saksi-saksi yang dihadirkan pihak terdakwa bisa memperbaiki, jika memang ditemukan kesalahan pada keterangan saksi ahli dari pihak penuntut. Namun setelah mengikuti persidangan, penulis terkaget-kaget akan banyaknya pemutarbalikan fakta yang dilakukan oleh para saksi.

Kali ini penulis mencoba menggali fakta-fakta persidangan yang diperoleh dari keterangan saksi ahli Dr. Djaja Surya Atmadja, seorang lulusan S3 yang juga telah 30 tahun mengajar di Fakultas Kedokteran. Saksi ini mengaku sebagai ahli toksikologi racun, dimana saksi juga telah puluhan tahun mengajar mata kuliah sianida di fakultas kedokteran.

Hal pertama yang mengherankan penulis adalah keterangan awal yang mengatakan bahwa sejak tahun 1986 yang bersangkutan telah mengotopsi antara 200.000 – 300.000 jasad manusia. Setelah dihitung-hitung oleh penulis, ternyata keterangan awal ini terindikasi bohong. Tidak mungkin seseorang mampu mengotopsi rata-rata 25 mayat tiap harinya, tanpa libur, tanpa sakit, selama 30 tahun. Bahkan petugas di RPH (Rumah Potong Hewan) pun belum tentu mampu melakukan aktivitas seluar biasa ini.

Tahap berikutnya penulis kembali kaget ketika saksi mengaku sebagai orang yang membalsem jasad Mirna, namun menutup-nutupi efek yang ditimbulkan dari proses pengawetan mayat, yang dilakukan menggunakan bahan kimia formalin.

Prosedur dan Proses Pengawetan Jenazah (Embalming)

Hal yang sering dipermasalahkan saksi dalam persidangan antara lain :

  • Tidak cukupnya kandungan sianida di lambung untuk membuat seseorang mati.
  • Tak ditemukannya kandungan sianida di hati dan organ-organ tubuh penting lainnya, dimana pada kasus-kasus keracunan yang diakibatkan sianida, menurut mereka harus ditemukan jejak sianida.
  • Tak sama nya ciri-ciri warna kulit korban dengan warna kulit orang yang mati akibat keracunan sianida (pemeriksaan berdasarkan hasil otopsi). Padahal otopsi dilakukan 3 hari setelah saksi melakukan proses balming pada korban.

Mencermati jalannya persidangan, penulis tergelitik untuk mencoba membantu tercerahkannya persoalan yang sedang diperdebatkan.

Pengawetan Jenazah (Embalming)

Berkurangnya kandungan sianida di lambung, serta tak ditemukannya jejak zat kimia ini di organ-organ tubuh lainnya, ternyata disebabkan pada satu sumber, yaitu proses pengawetan jenazah.

Mesin Embalming

Gambar 1. Mesin Embalming

Pengawetan (embalming) bertujuan memperlambat pembusukan tubuh, dimana pada proses ini dimasukkan zat-zat kimia yang mampu mematikan berbagai jenis mikroorganisme dan virus ke dalam tubuh. Pada kasus kematian Mirna, zat yang dimasukkan adalah formalin dengan volume sebanyak 3 liter (merujuk pada keterangan saksi). Umumnya, untuk menjaga warna tubuh mendekati aslinya, dalam beberapa peristiwa pengawetan jenazah, formalin dicampur dengan zat pewarna dan air.

Dalam kasus Mirna, saksi ahli Dr. Djaja mengaku memberikan formalin sebanyak 3 liter, dan tak disebutkan adanya tambahan air dan pewarna. Pengakuan saksi ke kuasa hukum terdakwa : Formalin dimasukkan melaui pembuluh darah utama di pangkal paha, dipompa menggunakan kompresor, agar zat pengawet ini bisa menyebar ke seluruh tubuh.

Untuk memudahkan pemahaman tentang embalming, penulis menghubungkan dengan link video tata cara dan praktek embalming berikut :

Video di atas menggambarkan bagaimana umumnya suatu proses embalming dilakukan. Dapat dilihat bahwa pompa kompresor digunakan untuk memasukkan cairan ke dalam tubuh orang yang mati. Pemompaan tanpa menyeimbangkan tekanan akan menyebabkan seluruh pembuluh darah pecah. Oleh karena itu proses pemompaan cairan harus diikuti oleh proses pengurasan nyaris seluruh darah dari dalam tubuh orang yang sedang di embalming. Untuk menyamarkan warna agar menyerupai warna darah, cairan embalming dicampur dengan zat pewarna.

Link berikut  merupakan pedoman yang dilakukan untuk proses embalming.

http://www.wikihow.com/Embalm

Link diatas menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk proses embalming jenazah. Ukuran bahan kimia dan komposisinya dengan air juga ditampilkan pada petunjuk. Dari tampilan video dan petunjuk pembalseman, terlihat bahwa pemakaian campuran antara bahan kimia utama dan air sebagai pengencer memiliki volume yang jauh lebih besar dari volume darah rata-rata.

Perhitungan Persentase Berat dan Volume Darah

Tubuh manusia normal umumnya mengandung darah yang rata-rata memiliki berat 7% dari berat total tubuhnya. Jika diasumsikan almarhum Mirna memiliki berat 52 Kg, maka total berat darahnya menjadi 0,07 x 52 kg =   3,64 kg. Darah manusia memiliki massa jenis rata-rata 1060 mg/liter (Cutnell, John & Johnson, Kenneth. Physics, Fourth Edition. Wiley, 1998 : 308). Dengan mengetahui massa jenis darah, kita bisa memperkirakan volume darah dalam tubuh Mirna, sekitar  3,4 liter.

Jika merujuk pada petunjuk “How to Embalm” di link http://www.wikihow.com/Embalm, bisa dipastikan darah yang tersisa di tubuh jenazah orang yang telah dibalsem berkurang lebih 95% dari total kandungan darah sebelum ia di embalming. Jika Mirna sebelumnya memiliki darah 3,4 liter, maka setelah embalming kandungan darahnya turun tajam menjadi hanya 0,17 liter, dimana pengisi ruang saluran darah mayoritas adalah formalin, alkohol, dan air.

 

Kesaksian Dr. Djaja

Sebagaimana diketahui, Dr. Djaja adalah orang yang melakukan pengawetan pada jenazah Mirna, dimana hal ini diakuinya di depan persidangan. Saksi ahli juga berargumen saat di RS. Abdi Waluyo (pada keluarga Mirna), bahwa proses balming bisa merusak dan berpotensi menghilangkan barang bukti. Pada saat setelah berlangsungnya kejadian, keluarga Mirna telah curiga dan berinisiatif meminta sampel cairan lambung, yang di saat persidangan diketahui hanya memiliki volume 0,1 ml. Ada kemungkinan saksi mengetahui kejadian dan informasi ini. Bukankah sebaiknya saksi (saat di RS. Abdi Waluyo) harus lebih waspada dibanding kewaspadaan keluarga Mirna?! Penulis sependapat dengan saksi ahli dari Polri, yang mengatakan bahwa jumlah sampel tak memenuhi syarat minimal untuk dilakukannya pengujian.

Hingga kini, ada beberapa cara pengujian kandungan suatu unsur kimia di dalam sampel, diantaranya metode AAS (Atomic Absorption Spectroscopy), ICPInductively Coupled Plasma), XRF (X-Ray Fluoresence), dan beberapa metode lainnya. ICP adalah metode yang lebih akurat dibanding AAS dan XRF, karena mampu menganalisa hingga 1 ppb (part per billion), atau 1 per satu milyar bagian.

Di persidangan, saksi ahli menyatakan bahwa proses balming hanya “memasukkan” cairan formalin ke tubuh Mirna, dan tidak menyebut “dengan cara mengeluarkan cairan darah pada saat yang bersamaan”. Saksi mengatakan peristiwa masuknya formalin hanya mengakibatkan darah menjadi encer. Bagaimana dengan tekanan?!

Jika masuknya formalin tanpa menyeimbangkan tekanan di saluran darah, maka bisa dipastikan pembuluh-pembuluh darah akan pecah, karena tak mampu menahan tekanan cairan yang didorong oleh kompresor.

Jika masuknya cairan pengawet menyebabkan keluarnya darah dengan volume yang sama, maka keterangan saksi yang mengatakan bahwa seharusnya ditemukan sianida di darah, air liur, hati, dan sebagainya, seharusnya diikuti oleh keterangan yang mengatakan bahwa barang bukti sianida dan oksigen sebagian besar telah hilang terbawa oleh aliran darah yang keluar dari tubuh (saat berlangsungnya proses embalming).

Jika mengikuti keterangan saksi di depan persidangan yang mengatakan bahwa formalin selalu terkontaminasi oleh sianida, maka mestinya hasil otopsi juga ditemukan adanya kandungan sianida di organ selain lambung ! Jika misalnya keterangan saksi ahli ini dianggap empiris, maka sianida pasti ditemukan di seluruh organ tubuh Mirna, karena semua organ telah terpenuhi oleh cairan formalin !

Mengenai ditemukannya sianida di lambung, saksi mengatakan mungkin disebabkan oleh proses pembusukan, sementara dia memberi formalin sebagai zat anti busuk, yang menyeluruh di seluruh tubuh. Jika memang sianida timbul akibat dari proses pembusukan di tubuh Mirna, sudah seharusnya sianida juga ditemukan di hati dan organ-organ lainnya (tidak hanya di lambung).

Jika seluruh saluran darah korban telah dipenuhi oleh cairan formalin, maka oksigen yang terjebak akibat dari racun sianida akan keluar bersamaan dengan keluarnya darah korban.  Dapat dipahami bahwa, kesaksian saksi ahli akhirnya jadi bumerang, melawan fakta yang telah dia lakukan (proses balming) terhadap tubuh Mirna. Jantung korban tidak berwarna merah, karena sisa oksigen dan darah telah dipompa keluar oleh saksi.

Apakah Embalming via urat arteri bisa mencapai lambung?

Sebagaimana petunjuk yang disajikan pada link http://www.wikihow.com/Embalm, saat embalming menggunakan kompresor, formalin hanya masuk ke semua saluran darah korban (termasuk hati/liver). Cairan dari urat darah tak mampu menembus dinding lambung. Oleh karena itu bagian ini (bersama usus, mulut, mata, telinga, dan bagian-bagian yang tak terjangkau pembuluh darah lainnya) di balsam secara terpisah. Ini yang menyebabkan masih tersisanya sebagian kecil sianida di lambung Mirna, dan tak ditemukan di organ-organ yang dilalui oleh aliran darah.

Adapaun misalnya kemungkinan ditemukannya sisa darah yang kurang dari 5%, maka masuknya formalin menyebabkan terjadinya “Reaksi Sintesa Strecker”, suatu sintesa α-asam amino, dimana sianida merupakan bahan baku pada proses pembentukan asam amino ini.

3 comments

  1. Sungguh aneh, seorang dengan pengalaman 30 th spt dr djaja mau melakukan embalming. Padahal dia sudah tahu bahwa proses embalming akan menyingkirkan sianida. Apakah ini faktor kesengajaan untuk merusak barang bukti?? Tentunya perlu pemeriksaan lebih lanjut. Namun menurut hemat saya jika dr djaja memiliki jiwa keadilan dan integritas profesi untuk mengungkap kematian mirna tentunya dia akan menolak embalming, bahkan jika dipaksa sekalipun. Kalau sudah begini kan dampaknya sangat fatal…. Ada peristiwa pembunuhan menggunakan racun di depan mata masyarakat Indonesia, tapi tidak bisa diadili pembunuhnya gara2 barang bukti sudah rusak shg jejak racun tidak bisa ditemukan.. Sungguh tragis!!!!

  2. Mudah2an Hakim masih memiliki kepekaan didukung alat2 bukti lain sehingga tetap dapat dihukum orang yang membunuh Mirna. Jika tidak maka hal ini akan jadi preseden buruk dimasa yang akan datang : ada metode pembunuhan yang tidak dapat diadili yakni dengan menggunakan racun sianida – asalkan tidak ada saksi fakta yg melihat gerakan otot perbuatan memasukkan racun dan jejak racun ditubuh korban dapat dihilangkan dengan embalming maka bebaslah para pembunuh dengan sianida itu ….!!!

  3. Bapak penulis dari pusat info iptek, mohon dibahas pula kajian mengenai rekaman CCTV yang dapat dengan mudah dipatahkan oleh penasehat hukum dengan dalih ada rekayasa / tempering… Luar biasa ini…. Dimana kecanggihan teknologi CCTV menjadi tidak bermanfaat untuk menguak suatu kejahatan..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.