Kasus Sianida Mirna : Upaya Mengungkap atau Menilep Kebenaran ?

Sidang kasus kematian Mirna lagi-lagi menampilkan saksi ahli yang tidak netral, bukan menerangkan. Beragam atraksi yang dilakukan oleh saksi-saksi ahli dari pihak terdakwa, bak pembela mereka melawan fakta, mengatasnamakan ilmu namun tak sesuai dengan ilmu itu sendiri.

Kimia adalah eksak”, kata Dr. rer.nat. Budiawan, tapi dia tidak tahu reaksi sintesa asam amino bisa terjadi pada formaldehyde (dengan adanya metal sianida), yang terjadi disebabkan masuknya formalin ke dalam darah, tidak mengerti defenisi dari korosif (saksi menggunakan parameter pH), tidak menguasai sebagian dari reaksi kimia, tidak menguasai cara kerja sistem penyaringan (filtrasi), dan banyak hal lainnya. Bicara korosif, air laut yang memiliki pH =7 adalah sangat korosif, disebabkan NaCl yang terkandung di dalamnya. Bicara penguapan, harus juga bicara luas permukaan, laju penguapan terhadap suhu, dan sebagainya. Apa yang dimaksud HCN, apakah larutan atau gas, dan banyak lagi. Mengatakan “hanya dalam 10 menit semua sianida dipastikan menguap” jika tanpa didasari oleh pembuktian yang empiris bukanlah perkataan dari seorang ahli kimia. Saat penulis masih duduk di bangku SMP pun, defenisi laju penguapan sudah dijelaskan oleh guru, yang berbanding lurus dengan luas permukaan, berbanding lurus dengan suhu, dan sebagainya.

Dengan banyaknya gelar “hebat-hebat” yang dihadirkan terdakwa di sidang Jessica namun defenisi eksak ditarik-tarik seperti tarik tambang, maka wajarlah jika hingga saat ini negara kita belum bisa membuat garam industri, dimana negara-negara lain telah sampai di Mars. Penulis sungguh memprihatinkan gaya-gaya sok tau dan menggurui ini. Kalau saja informasi yang disampaikan benar adanya, tentulah berguna bagi kemajuan ilmu pengetahuan anak negeri. Bagaimana jika yang disampaikan adalah penyesatan??

Penulis membuka sedikit mengenai pengertian korosif. Korosif atau tidaknya suatu zat kimia bergantung pada kekuatan zat kimia tersebut untuk mengoksidasi suatu benda atau zat kimia lainnya. Dalam bidang kesehatan, istilah oksidator ini diganti dengan istilah “oksidan”, dimana sebaliknya, istilah “reduktor” pada ilmu kimia diganti menjadi ‘anti-oksidan” pada dunia kesehatan. Perak nitrat (AgNO3), tembaga sulfat (CuSO4), perak halida (AgH), adalah garam-garam kimia yang sangat korosif, dimana pH larutan dari garam tersebut = 7. Bahkan sebagian dari perak halide merupakan padatan tak larut (AgCl, AgBr), namun sangat super korosif. Anda bisa menghancurkan loagam-logam dasar menggunakan tepung perak halide!

Saat kulit terpapar oleh cairan perak nitrat, maka bisa dipastikan kulit akan berwarna hitam, disebabkan teroksidasinya zat -zat dari kulit dan tereduksinya ion perak menjadi logam perak halus yang menempel di permukaan kulit. Ion perak sangat korosif, bahkan terhadap ion klor sekalipun. Adanya energi dari sinar ultra violet yang dipaparkan ke permuakaan garam perak halide menyebabkan ion perak (Ag+) mengoksidasi ion klor atau brom (Cl atau Br) menjadi gas klor atau bromine (Cl2 atau Br2), dimana pada saat yang bersamaan ion perak tereduksi (oleh ion halide) menjadi logamnya (Ag0). Peristiwa ini terjadi saat seseorang melakukan foto rontgen, dimana klise yang terkena cahaya X-Ray akan berwarna hitam, dan yang tak terkena menjadi tembus pandang.

Jika sianida menyebabkan korosi di rongga mulut, kerongkongan, lambung, tentu itu bukan disebabkan oleh proses fisika. Memasukkan suatu benda ke rongga mulut, kerongkongan, lambung, adalah suatu aksi (fisika), yang menyebabkan terjadinya reaksi (kimia). Reaksi kimia menimbulkan dampak fisika berupa panas dan rusaknya sistem. Korosi di mulut tentu akibat dari reaksi kimia (disebabkan proses fisika yang memasukkan zat), begitu pun di kerongkongan dan lambung.

Penulis akan “mengupas tuntas” keterangan saksi ahli ini pada post yang berikutnya. Bagaimana yang dia maksud defenisi “pengenceran” yang dilakukan oleh formalin pada darah, 10 menit sianida menguap total, masuknya racun via kulit, sifat korosif ditinjau dari ilmu kimia, cara-cara pengukuran sampel menggunakan berbagai instrumen pengukuran, dan sebagainya. Bestekin juga akan mensimulasikan proses embalming, bagaimana cara masuknya formalin ke tubuh, reaksi apa yang ditimbulkan oleh formalin, bagaimana reaksi sianida di dalam mulut, kerongkongan, lambung, dan paru-paru. Semua akan disajikan pada artikel yang akan datang.

5 comments

  1. Gua sebenarnya juga udah tau kalo banyak “keanehan” dalam “kuliah” para saksi ahli itu. Soalnya gua emang jagonya di kimia dulu. Ternyata dugaan gua bener tuh..hadeh..

  2. Kok bisa ya pak Budiawan seorang doktor lulusan jerman tidak mengerti korosif?? Apakah dia sedang berupaya membodohi masyarakat??. Bapak penulis yang pintar kenapa tidak dilakukan percobaan pada hewan percobaan seperti kelinci atau tikus dengan memberikan sianida, lalu dilihat bagaimana reaksi korosifnya??

  3. Kalau memang benar spt itu maka kyar biasa pembodohan kpd masyarakat yang dilakukan dr. Budiawan. Kalau dia mengajar mudah2an tidak banyak muridnya yang juga ikut2an sesat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.