Sianida Tak Bisa Dihasilkan Dari Proses Post-Mortem (Pembusukan)

Isu adanya kemungkinan sianida dihasilkan melalui proses pembusukan pertama kali digaungkan oleh saksi ahli Prof. Dr. Beng Beng Ong, ketika bersaksi di persidangan kasus sianida yang menyebabkan kematian korban Wayan Mirna Salihin. Isu ini bergulir kemudian melalui saksi-saksi ahli selanjutnya, yang kemudian mulai dipercaya oleh sebagian dari orang-orang. Upaya pembodohan ini dengan mudah diterima tanpa dicari dasar faktanya.

Pada tulisan-tulisan sebelumnya, penulis menerangkan bahwa formalin bukan menghasilkan atau bahkan mengandung sianida, namun justru menyebabkan terjadinya reaksi sintesa (reaksi pembentukan atau penggabungan zat-zat kimia) yang menyebabkan hilangnya identitas sianida (C≡N) pada senyawa yang baru. Tak berapa lama (setelah informasi menyebar via social media), akhirnya salah satu saksi ahli terdakwa (Michael Robertson) menjelaskan hal yang mirip, meskipun sebenarnya penjelasannya memiliki substansi yang berbeda. Sianida bukan terdegradasi atau terurai oleh formaldehyde, namun justru menjadi bahan baku untuk terjadinya reaksi sintesa, dimana salah satunya reaksi sintesa Strecker.

Pada persidangan yang menghadirkan saksi ahli dari Australia ini (Michael Robertson), lagi-lagi dipelihara isu menyesatkan lainnya, yaitu adanya sianida yang diakibatkan proses post-mortem. Isu yang menyesatkan terhadap sains ini sangat berbahaya jika terus berkembang, tanpa ada usaha untuk menghentikannya. Jika tak dihentikan, tak tertutup kemungkinan di kemudian hari muncul konflik-konflik di daerah-daerah yang dekat dengan pemakaman umum, dan daerah-daerah yang sedang tertimpa bencana yang merenggut sedemikian banyak jiwa, disebabkan adanya fitnah sianida.

Apa Benar Proses Pembusukan Bisa Menghasilkan Senyawa Sianida?

Sebelum masuk ke inti pembahasan, penulis menggambarkan bagaimana banyaknya mayat yang dimakamkan secara massal saat setelah tsunami berlangsung di Aceh. Ada hamparan ratusan ribu mayat dalam lokasi yang berdekatan, dimana hamparan ini ada yang baru dimakamkan setelah lebih dari 10 hari. Jika mayat-mayat tersebut bisa menghasilkan sianida, dapat dibayangkan banyaknya korban yang keracunan sianida pada saat itu. Peristiwa tsunami Aceh menewaskan lebih dari 250.000 orang pada suatu area yang tak terlalu luas, suatu angka yang sangat tinggi.

Saat berlangsungnya peristiwa tersebut, bau busuk menyebar ke mana-mana. Namun tak pernah diberitakan adanya orang yang mati atau keracunan disebabkan sianida yang dihasilkan dari proses pembusukan mayat. Peristiwa tsunami Aceh tak hanya menewaskan manusia, namun juga menewaskan ratusan ribu hewan ternak berjenis mammalia, jutaan hewan berjenis unggas, hewan-hewan moluska, jutaan ikan-ikan, dan hewan-hewan lainnya. Bayangkan jika teori adanya sianida akibat post-mortem benar adanya, maka pasti terjadi ledakan kematian massal yang diakibatkan menghirup gas sianida dan meminum air tanah yang tercemar sianida.

Peristiwa bencana yang mengakibatkan kematian massal berikutnya terjadi pada tahun 2006 di Yogyakarta dan Klaten, dimana gempa menyebabkan lebih dari 5000 orang tewas di Kabupaten Bantul Yogyakarta, dan lebih dari 2000 orang tewas di Kabupaten Klaten. Apakah anda pernah mendengar adanya pencemaran sianida di lokasi gempa Jogja, terutama di sekitar lokasi pemakaman korban?! Apakah kita pernah mendengar adanya peringatan dari otoritas negara yang melarang penggunaan air tanah dan menjauhi mayat, karena dikhawatirkan terkontaminasi paparan gas HCN yang muncul dari mayat?!

Di mana pun, di literatur apapun, anda selalu disuguhi keterangan ilmiah yang sama, mengatakan bahwa sianida alami hanya ditemukan di tumbuh-tumbuhan, dan konsentrasi tertinggi biasanya terletak di biji nya. Disamping sianida organik yang berasal dari tumbuhan, sianida juga dibuat melalui proses sintesa di pabrik-pabrik pembuat sianida, atau merupakan produk sampingan dari hasil sintesa senyawa kimia lain.

Bisa kita bayangkan jika keterangan ahli tersebut benar adanya, anda akan menemukan lokasi-lokasi yang berdekatan dengan pemakaman umum memiliki air tanah yang mengandung racun sianida. Tak akan pernah ditemukan cacing-cacing dan mikro-organisme (kecuali bacterial rhodanase) hidup yang berada di sekitar makam. Apakah ini benar-benar terjadi?! Jika air tanah bisa tercemar oleh sianida yang timbul akibat post-mortem, maka akan sulit untuk mendapatkan ijin lokasi untuk pemakaman umum. Bukankah justru banyak ditemukan cacing-cacing di bangkai-bangkai mahluk yang telah mati? Anda mungkin sering menemukan belatung di dalam tubuh hewan yang mati. Ini yang menandakan bahwa keterangan saksi adalah bohong dan tak bisa dipertanggungjawabkan.

Petani-petani tambak ikan dan udang sering menggunakan bangkai unggas yang berasal dari kandang sebagai makanan utama dari ikan-ikan yang diternakkan. Apa yang terjadi jika bangkai unggas-unggas tersebut mengandung sianida? Apa yang terjadi jika buaya memakan bangkai yang mengandung sianida?!

Para nelayan menggunakan sianida secara illegal, agar mampu menghasilkan ikan yang banyak dalam waktu singkat. 1 butir sianida yang beratnya sekitar 9 gram mampu meracuni area sungai yang memiliki lebar 6 meter, hingga sepanjang 500 meter. Begitupun peracunan ikan-ikan di laut, banyak menggunakan sianida. Efek dari sianida pada ikan lebih cepat dibanding efeknya terhadap manusia. Dalam hitungan detik, reaksi antar muka antara sianida terlarut dengan ikan langsung menyebabkan kematian, dimana proses ini menyebabkan ikan yang mati naik dan mengambang di permukaan air.

Jika sianida bisa dihasilkan dari proses post-mortem, akan banyak kejadian keracunan makanan yang berasal dari hewani, disebabkan terbentuknya sianida pada daging dan jeroan. Tempat-tempat penjualan daging hewan mammalia dan jenis unggas akan dipenuhi oleh bau gas HCN. Orang akan dengan sangat hati-hati membeli daging, dan ada kemungkinan daging pun tak bisa diperdagangkan. Rumah-rumah potong hewan menjadi sarang sianida, banyak korban berjatuhan karena keracunan sianida.

Jasad Mirna telah diembalming, termasuk juga bagian dari lambungnya. Pada jenazah yang telah di embalming, dapat dikatakan bahwa proses penguraian berlangsung sangat lambat, karena adanya pengawetan di tubuh korban. Jika sianida pada tubuh yang telah berformalin saja pun bisa tersintesa 0,2 mg per liter, maka tentunya sianida pada jasad-jasad yang tak diawetkan memiliki kandungan yang sangat berbahaya bagi kehidupan !

Apa yang Terjadi Jika Secara Alami Tanah dan proses Pembusukan Menghasilkan Sianida?

Jika secara alami tanah mengandung ion sianida, bisa dipastikan semua air-air tercemar oleh sianida dan logam-logam berat. Emas larut dalam sianida, perak, merkuri, tembaga, zinc, besi, antimony, dan banyak jenis logam berat lainnya, akan membanjiri perairan darat dan laut. Jika tanah secara alami mengandung sianida, tentu setelah jutaan tahun tak akan pernah ditemukan adanya mineral bijih emas dan senyawa-senyawa logam bera lainnya di tanah.

Mari kita lihat reaksi pelarutan emas menggunakan sianida berikut ini :

4 Au (s)  +  8 NaCN (l)  +  O2 (g)  +  2 H2O (aq)  =====>  4 Na[Au(CN)2] (l)  +  4 NaOH (l)   …………….(i)

Reaksi (i) di atas juga terjadi pada logam perak, tembaga, zinc, dan beberapa jenis logam berat lainnya. Dalam teori dan praktek yang dilakukan oleh penulis, bahkan dengan konsentrasi 0,2 gram NaCN per liter pun, sianida tetap mampu melarutkan emas. Larutan emas sianida ini bersifat sangat stabil, sehingga bisa terserap oleh tanam-tanaman, yang akhirnya terakumulasi di tubuh manusia.

Yang parah jika sianida di dalam tanah bereaksi dengan merkuri, baik merkuri elemental (logam), merkuri sulfida, dan jenis-jenis merkuri lainnya. Reaksi sianida dengan merkuri menghasilkan senyawa merkuri I dan merkuri II sianida (Hg2CN2 dan Hg(CN)2), yang tak terdisosiasi dan bersifat sangat reaktif. Jika hipotesa yang dikatakan ahli benar adanya, dapat dipastikan manusia telah punah sejak jutaan tahun yang lalu.

Perbuatan pembodohan dengan mengatakan bahwa “Sianida bisa terbentuk setelah post-mortem” ini sudah saatnya dihentikan.

Proses Pembusukan

Pembusukan adalah reaksi kimia, yang intinya adalah reaksi penguraian. Senyawa-senyawa polimer diurai menjadi menjadi monomer, dan seterusnya. Gas-gas bau yang terbentuk saat pembusukan antara lain gas H2S, NH3, MeHS, CH4, dan sebagainya.

Alkali sianida bukanlah senyawa organik. Zat ini terbentuk karena reaksi pembentukan (sintesa), bukan karena reaksi penguraian. Senyawa-senyawa sianida organik alami hanya berasal dari tumbuhan, dimana pada tumbuhan terbentuk senyawa organik yang timbul akibat fotosintesa. Contoh senyawa-senyawa organik di tumbuhan antara lain cyanohydrins, amygdalin (nitrile), dan sebagainya.

Ada beberapa jenis bakteri yang mampu hidup dalam cemaran sianida, namun tak ditemukan adanya bakteri yang menyebabkan terjadinya sintesa sianida. Bakterial rhodanase adalah jenis bakteri yang mampu hidup di cemaran sianida. Bakteri-bakteri ini mensintesa senyawa organo thiosulfate, dimana organo thiosulfat yang terbentuk bisa menetralkan ion sianida menjadi ion thiosianat yang kurang beracun.

Penyebab Adanya Sianida di Tanah

Pada daerah-daerah di sekitar pertambangan emas, dimungkinkan adanya cemaran sianida di tanah. Ini bisa terjadi jika bak atau kolam pembuangan limbah mengalami kebocoran. Adanya sianida di tanah disebabkan adanya pencemaran yang disebabkan proses industri dan pertambangan, yang menggunakan sianida sebagai salah satu bahan. Artinya, tidak pernah ditemukan kandungan sianida alami di tanah.

Apakah Sianida Bisa Muncul akibat Post-Mortem?

Sianida tak pernah terjadi pada proses pembusukan, termasuk proses pembusukan mayat manusia. Semua proses sintesa sianida organik yang terjadi pada tumbuhan dan sianida organik / anorganik pada industri bisa dijelaskan menggunakan reaksi kimia. Adapaun isu yang mengatakan ada mikro-organisme yang bisa menghasilkan sianida tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

6 comments

  1. Wah kog sudah disumpah masih berani berbohong. Nggak takut sama Tuhan. Tuhan nggak tidur… cepat ato lambat, pasti mereka harus bayar harganya. Itu sudah pasti.

  2. Bapak yang pintar, salut!!! Memang tuh saksi ahli dari pihak terdakwa banyak bohongnya. Dari awal menyaksikan kesaksian dr djaja sy sudah curiga kpk dia mau balsem bahkan dialah yg menawarkan balsem itu ke pak Darmawan. Ayo pak berikan penjelasan ini ke JPU dan penyidik kalau perlu menjadi saksi ahli bagi JPU, demi tegaknya keadilan bagi Mirna dan Keluarga

  3. Coba ya kalau kematiab mirna menimpa sama anak dr. Jaya apakah dia akan melakukan fotmalin itu?? Dia kan ahli jadi seharusnya kalaupun dipaksa dia tidak mau melakukannya. Makanya pantas dicurigai. Ayo bapak polisi penyidik tolong diungkap ada apa dibakik formalin mirna.

  4. Apalagi Mikhael robertson, mana bisa dipercaya. Dari artikel banyak ditulis kalau dia ahli racun yang ikut terlibat kasus pembunuhan suami dari WIL perselingkuhannya. Dan dia berhasil mengelabui hakim waktu itu dgn alibi overdosis. Mudah2an hakim di Indonesia tidak terkecoh dengan kesaksian palsunya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.