Hal Yang Menyebabkan Sianida Hanya Ditemukan di Lambung Korban yang Keracunan Sianida

Apa yang Menyebabkan Sianida Hanya Ditemukan Di Lambung Korban?

Proses embalming tak hanya dilakukan via pembuluh darah, namun juga dilakukan pada bagian-bagian tubuh lain, menggunakan cara yang berbeda. Embalming pada mata dilakukan menggunakan semprotan cairan formalin. Embalming yang dilakukan pada rongga mulut hingga lambung juga dilakukan  dengan cara yang berbeda, termasuk proses embalming pada kemaluan, telinga, hidung, dan sebagainya.

Embalming yang masuk via saluran darah rata-rata bisa berlangsung dengan sempurna dan menyeluruh, mengakibatkan hilangnya jejak-jejak sianida. Setelah masuknya racun sianida di lambung korban, pH naik akibat terbentuknya NaOH karena reaksi antara NaCN + HCl di dalam lambung, sebagai berikut :

NaCN (l)  +  HCl (l)   ==========è>  NaCl (l)  +  HCN (g)  …………(i)

menyebabkan berkurangnya banyak cairan HCl di lambung. Padahal HCl dan asam lainnya menjadi kunci utama sukses atau tidaknya reaksi antara formaldehyde dan methanol terhadap sianida. Pada pH yang tinggi, reaksi–reaksi antara cairan formalin dan cairan sianida menjadi terhambat. Ini disebabkan hal berikut :

  • Tak tersintesanya alkil halide, yang harusntya terjadi antara HCl dan methanol.
  • Sintesa Strecker terjadi hanya jika reaktor (dalam hal ini lambung) bersuasana asam. Pada kasus lambung Mirna, cairan memiliki pH yang tinggi, dengan konsentrasi kandungan asam yang rendah. Akibatnya sintesa hanya berlangsung sebagian saja, hanya menyisakan sebagian sianida lain yang belum bereaksi.
  • Karena pH yang tinggi juga menyebabkan sintesa aromatic tiosianat dan sintesa Riem Schneider hanya terjadi pada sebagian thiosianat yang terbentuk.
  • Tak menyeluruhnya reaksi sintesa Strecker (sintesa α-asam amino) dan sintesa Riem Schneider (sintesa Thiocarbamate) menyebabkan kandungan sisa sianida di lambung menjadi tergantung pada sebanyak apa larutan formalin yang masuk, rata atau tidaknya sebaran formalin pada permukaan lambung, dan juga tergantung pada sebanyak apa sisa asam klorida (HCl) di dalam lambung korban.

Proses Terkonversinya Ion Tiosianat di Organ dan darah Mirna

Embalming should not to be done prior to medico legal autopsy because certain findings which could be misinterpreted by the forensic pathologist and may destroy the medico-legal evidences (1). Embalming alters the colour and consistency the body tissues and organ, sometimes making it difficult to differentiate any injury or disease (1). Embalming incisions and puncture wound may be mistaken for nonexistent ante mortem incised and stab wounds. Skin bruises may be accentuated due to force of embalming fluid and perfusion of fixative. During embalming many chemicals are introduced to the body, hence if later toxicological analysis of viscera conducted there could be problem in differentiation and report of false positive cases. Detection of certain poisons especially alkaloids and organic poisons will be difficult (2). It becomes extremely difficult to analyze the viscera for the heavy metal poisoning (1). Embalming prior to medico-legal autopsy may invite charge of destruction of evidence…………….. (1).

(Autopsy on embalmed body: A case report and discussion of Medico- legal issues

By JatinBodwal, Mohit Singh Chouhan, C. Behera,)

http://www.academia.edu/3477162/Autopsy_on_embalmed_body_A_case_report_and_discussion_of_Medico-legal_issues

Terjemahan bebas dari paragraph di atas sebagai berikut :

Pembalseman seharusnya tidak dilakukan sebelum proses Medico otopsi hukum, karena temuan tertentu bisa di salah-artikan oleh ahli patologi forensik dan dapat menghancurkan bukti-bukti medis-hukum (1). Pembalseman mengubah warna dan konsistensi jaringan tubuh dan organ, kadang-kadang membuat sulit untuk membedakan akibat cedera atau penyakit (1). Luka akibat sayatan dari pembalseman dan luka tusukan mungkin keliru untuk menentukan ada tidaknya luka gores dan tusukan ante mortem. Memar kulit bisa disebabkan karena kekuatan pembalseman cairan dan perfusi dari fiksatif. Selama pembalseman banyak bahan kimia yang masuk ke tubuh, maka jika analisis toksikologi kemudian dilakukan pada bagian dalam, mungkin ada masalah dalam diferensiasi dan laporan kasus positif palsu. Deteksi racun tertentu terutama alkaloid dan racun organik akan sulit (2). Juga menjadi sangat sulit untuk menganalisis visera untuk keracunan logam berat (1). Pembalseman sebelum otopsi untuk medis-hukum dapat menyebabkan hancurnya alat bukti………………………… (1).

Reaksi yang Menyebabkan Hilangnya Tiosianat di Tubuh yang Telah di Embalming

Sebagaimana kutipan dari “Autopsy on embalmed body: A case report and discussion of Medico- legal issues By JatinBodwal, Mohit Singh Chouhan, C. Behera”, dalam kalimat “Detection of certain poisons especially alkaloids and organic poisons will be difficult”, yang diartikan menjadi “Deteksi racun tertentu terutama alkaloid dan racun organik akan sulit”, maka tim bestekin mencoba memberikan penjelasan untuk pencerahan.

Ada beberapa sintesa yang melibatkan formaldehyde dan ion tiosianat di dalam jasad yang telah di embalming. Sintesa-sintesa tersebut sebagai berikut :

Alkali sianida (natrium sianida) yang masuk ke tubuh sebagian tersintesa (dengan bantuan enzyme rhodanase) menjadi thiosianat sebagai berikut :

NaCN  + Na2S2O3 → NaSCN + Na2SO3   ………………………….(ii)

Hasil reaksi (i) dikatakan saksi ahli Dr Budiawan sebagai bio-indicator, yang harusnya ada di tubuh Mirna, paling tidak di hati.Pada dasarnya, memang ion thiocyanate ini harus ditemukan di hati orang yang keracunan sianida. Dr. Budiawan benar akan hal ini, namun dia menolak bahwa masuknya formalin telah menghilangkan thiocyanate.

  • Saat formalin dimasukkan ke dalam tubuh, reaksi sintesa alkil halida mulai terjadi, antara methyl alkohol (methanol) yang masuk bersama formalin, dengan senyawa asam (HCl) di darah dan tubuh Mirna, menghasilkan alkil halide (methyl klorida).
  • Alkil halida yang terbentuk selanjutnya bereaksi dengan alkali thiosianat, menghasilkan sintesa senyawa organo thiosianat / aromatic thiocyanate (penyl thiosianat dan penyl isothiosianat). Ini yang dimaksud dalam makalah “Autopsy on embalmed body: A case report and discussion of Medico- legal issues By JatinBodwal, Mohit Singh Chouhan, C. Behera”, sebagai “Racun Organik”.
  • Aromatic thiocyanate yang terbentuk selanjutnya terhidrolisis akibat pendinginan, menjadi thiocarbamate (reaksi sintesa Riem Schneider).
  • Disamping terbentuknya sintesa thiocarbamate, embalming juga mengakibatkan tiosianat di tubuh Mirna juga tersintesa menjadi thiourea (melalui formamidine disulfide), garam Bunte aromatic, dan beberapa hasil sintesa senyawa organik lainnya.

4 comments

  1. Kalau memang Budiawan penjelasannya banyak ngelantur, kasihan ya mahasiswa UI dicekokin teori sesat. Penjelasan yang jelas-jelas ngaco adalah pengunjung kafe akan banyak yang pingsan krn sianida. Ternyata percobaan yg dilakukan Kombes dr Nursamran membuktikan dengan percobaan bahwa sianida yg dimasukkan kedalam es kopi spt yg dilakukan jessica tidak berbau sama sekali, apalagi buat orang2 pingsan. Masihkan mahasiswa UI bisa mempercayai Budiawan??

  2. Saya mau tanya, apakah pH lambung saat otopsi yg 5.5 ada memiliki arti penting?
    Mengingat pH lambung yg normal adalah 1-3.
    Ada seorang ahli dari pihak terdakwa yg mengatakan bahwa pH ini membuktikan bhw cairan dlm lambung korban itu TIDAK KOROSIF,dan jumlah sianida HANYA 0.2 mg, dan kesimpulannya adalah itu TIDAK menyebabkan kematian (menurut saya itu hanya sisa)
    Bukankah pH 5.5 itu TIDAK NORMAL dan dapatkah itu memiliki arti penting bahwa lambung itu PERNAH KEMASUKAN suatu basa yg sangat kuat sehingga pH bisa naik begitu tinggi dan asam lambung hilang semua ?
    Artinya, apakah itu menunjukkan bahwa tubuh korban PERNAH kemasukan sianida atau basa kuat yg lain?

  3. Apakah bisa dilakukan pembuktian terbalik, mengingat ada yg tidak normal di pH lambung dan jejas korosif yg hebat dari permukaan lambung?

    Btw, lambung memiliki kapasitas menghasilkan 2 liter larutan HCL per hari. Yg dipicu oleh intake makanan atau minuman yg masuk ke dalam lambung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.