Sidang Duplik Jessica : Keterangan Bohong Amir Papalia

Apa hubungan Jessica dan Amir Papalia?

Berikut video fakta kebohongan berjama’ah yang dilakukan Jessica.

Dari video yang ditampilkan di atas, terlihat ada perbedaan keterangan antara terdakwa dan PH, khususnya menyangkut TKP yang dimaksudkan oleh Amir Papalia. Terdakwa mengatakan kejadian penyerahan uang terjadi di parkiran Sarinah (klip 1), sedangkan PH mengatakan bahwa Amir Papalia melihat Arief menyerahkan uang pada Rangga di Jalan Thamrin (klip 2).

Untuk lengkapnya kita lihat visual lokasi parkiran kendaraan Sarinah berikut :

visualisasi lokasi parkir motor Sarinah

Gambar 1. Lokasi Parkiran Sepeda Motor Sarinah

Dari gambar 1, terlihat bahwa area parkir sepeda motor di Sarinah terpisah dari area parkiran kendaraan roda 4, sehingga tak memungkinkan adanya pertemuan 2 jenis kendaraan (roda 2 dan roda 4) pada lokasi yang sama. Padahal dari keterangan AP yang dibacakan Hidayat Boestam (HB), dia (Amir Papalia) melihat mobil Arief dan sepeda motor Rangga pada lokasi yang sama, dalam jarak 5 meter dari Amir Papalia (AP). Melihat dari visual parkiran Sarinah, jarak terdekat antara parkiran sepeda motor dan mobil 10-20 meter.

Jika Rangga dan Arief bertemu di area parkiran (seperti duplik yang dibacakan terdakwa), dan masing-masingnya berada di atas kendaraan masing-masing (sesuai dengan yang dibacakan HB, AP melihat motor Rangga dan mobil Arief di lokasi yang sama), maka :

  • Seharusnya jarak antara mereka berdua minimum 1 meter, karena AP melihat motor dan mobil pada titik yang sama.
  • Berdasarkan lokasi parkiran Sarinah yang memisahkan area parkir motor dan mobil, menjadi tak memungkinkan terjadinya penyerahan kantong plastik hitam yang dimaksud oleh Amir.
  • Motor Rangga bisa saja berada di dekat mobil Arief jika Rangga mengeluarkan dengan paksa sepeda motornya dari area parkir motor, dengan cara memikul (mengangkat) melewati pagar (suatu hal yang tak mungkin, dan pasti menjadi masalah besar).

Seandainya tuduhan serah terima uang terjadi di parkiran Sarinah (seperti yang dibacakan terdakwa), dapat disimpulkan keterangan yang dibacakan terdakwa 100% bohong.

Pembahasan Keterangan AP, yang dibacakan oleh PH terhadap Lokasi Kejadian

Dari cuplikan video pembacaan duplik di atas, AP mengatakan :

  1. Parkir kendaraan di lokasi parkiran Sarinah, dengan tujuan mau ke Sriwijaya (tak ditemukan adanya gedung Sriwijaya di sekitar Sarinah)
  2. AP keluar dari Sarinah lewat jembatan penyeberangan orang, yang pada gambar 2. berikut hanya ada di depan Sarinah, tepatnya di Jalan Thamrin, menyatu dengan halte bus way. Fakta menunjukkan, di sebelah kanan-kiri dan belakang gedung Sarinah tak ditemukan adanya jembatan penyeberangan orang.

JPO Jl. Thamrin

Gambar 2. Jembatan Penyeberangan Orang menyatu dengan halte bus way

  1. Tapi AP juga mengatakan bahwa dia terhenti di pembatas jalan, karena lalu lintas berbeda arah. Jadi jika kita mengikuti logika AP yang berubah-ubah, ada kemungkinan juga AP menyeberang melalui traffic light pada ruas jalan yang sama, seperti gambar berikut ini :

pos polis perempatan Sarinah Thamrin

Gambar 3. Titik tengah perempatan Sarinah, serah dengan jembatan penyeberangan

  1. AP terhenti di pembatas jalan (di antara ruas Thamrin dari arah Istana dan ruas Thamrin dari Arah Sudirman). Di posisi ini dia melihat Rangga dan Arief, dimana Arief berada di dalam mobil bagian belakang, dan Rangga di dekat Arief bersama sepeda motornya.
  2. AP melihat 2 orang tersebut sejarak 5 meter darinya.
  3. AP melihat adanya bungkusan hitam yang diserahkan oleh Arief ke Rangga, yang diperkirakan uang, dari jarak 5 meter.
  4. Uang yang dilihat dipastikan berjumlah Rp 140.000.000,-
  5. AP mengatakan mengetahui Rangga pelakunya setelah melihat wajah Arief dan Rangga di televisi pada tanggal 06 dan 10 Januari 2016

 

  • Jika menggunakan asumsi AP pada point (4) dan (5) di atas, maka dia melihat Arief dan Rangga di dalam jalur bus way, tepat di depan pos Polisi! Ini merupakan keterangan yang menyesatkan, suatu hal yang mustahil. Tidak mungkin Rangga masuk jalur bus way dan menantang polisi pada titik yang dikatakan oleh AP.
  • Jika yang dimaksud AP bahwa Rangga dan Arief berada di tepi jalan, berarti Arief dan Rangga berada persis di depang gedung BAWASLU. Jika kita menggunakan logika ini, maka dalam kenyataannya bertentangan dengan PERGUB DKI No. 195 tahun 2014 dan No. 141 tahun 2015, yang melarang sepeda motor melintas di ruas tersebut mulai pukul 06 pagi hingga pukul 23.00 malam, setiap harinya.

Pergub N0. 195 tahun 2014 yang berlaku sejak 12 Desember 2014, menetapkan larangan kendaraan roda 2 melintas di jalan tersebut.

Pasal1 Pergub No. 195 tahun 2014

(1) Gubernur menetapkan ruas jalan sebagai Kawasan Pembatasan Lalu Lintas Sepeda Motor.

(2) Ruas jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:

a. Jalan MH. Thamrin, segmen Bundaran HI sampai dengan Bundaran Air Mancur Monas; dan

b. Jalan Medan Merdeka Barat.

Peraturan Gubernur ini selanjutnya mengalami penyempurnaan melalui Peraturan Gubernur DKI No. 141 tahun 2015, dengan penambahan pasal sebagai berikut :

Pasal 3 Pergub DKI No. 141 tahun 2015.

  • Pembatasan lalu lintas sepeda motor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 diberlakukan mulai Pukul 06.00-23.00.

Berdasarkan 2 Pergub tersebut, maka mustahil sepeda motor Rangga bisa berada di ruas Jalan Thamrin pada pukul 15.50, yang melanggar ketentuan Pergub DKI No. 141 pasal 3 ayat 1.

Dari penjelasan Pergub ini, dapat disimpulkan bahwa keterangan AP yang mengatakan dia melihat sepeda motor Rangga di lokasi tersebut adalah 100% bohong.

Keterangan Tentang Jumlah Uang

Dari cuplikan video duplik yang dibaca oleh terdakwa, terdakwa mengatakan Rangga menerima uang Rp 140.000.000,- dari Aref di lokasi parkiran Sarinah, berdasarkan apa yang telah disampaikan oleh penasehat hukumnya. Jessica mengatakan, AP memberikan bungkusan uang di dalam kantong plastik hitam (yang dilihat dalam jarak 5 meter), dipastikan berjumlah Rp 140.000.000,-. Namun saat PH HB membacakan keterangan rekaman pembicaraan antara HB dan AP, tidak ditemukan adanya kalimat yang menjelaskan adanya uang sejumlah Rp 140.000.000,-. Berdasarkan kenyataan ini, lagi-lagi bisa disimpulkan bahwa keterangan duplik yang dibacakan terdakwa, khususnya menyangkut tuduhan jumnlah uang, disimpulkan 100% bohong.

Kemampuan AP memastikan jumlah uang sebanyak Rp 140.000.000,- di dalam kantong plastik hitam dari jarak 5 meter merupakan suatu hal yang tak mungkin, dan dapat dipastikan 100% bohong.

Jika pun nantinya seandainya AP mengatakan dia mendengar penyebutan jumlah uang dari Arief atau Rangga, namun suasana lalu lintas yang sangat ramai di pinggir jalan Thamrin tidak memungkinkan seseorang mampu mendengar dengan baik dari jarak 5 meter.

Keterangan AP yang dibacakan oleh HB hanya menyebutkan ada bungkusan di dalam pastik hitam yang diperkirakan uang, tidak menyebutkan jumlahnya berapa banyak, dan disaksikan dari jarak 5 meter. Adalah tidak mungkin seseorang bisa memastikan jumlah uang di dalam suatu bungkusan kantong plastik dalam jarak 5 meter. Bahkan petugas bank yang terbiasa tiap hari menghitung uang pun harus tetap menghitung setiap menerima atau mengeluarkan uang, untuk memastikan jumlah dengan tepat.

Keterangan AP yang dibacakan oleh HB juga bertentangan dengan fakta saat dia mendatangi kafe Olivier (sebulan setelah kematian Mirna), dan menuduh Rangga menerima transfer uang dari Arief senilai Rp 140.000.000,-. Ini dibuktikan oleh print-out rekening Rangga yang ditunjukkan oleh Rangga dan manajer kafe kepada AP.

Bukti-Bukti Yang Bisa Didapatkan oleh Pelapor Arief dan Rangga

Keterangan AP yang mengatakan bahwa ia masuk parkiran hari Selasa tanggal 05 Januari sekitar pukul 15.50 harusnya bisa dibuktikan oleh CCTV pada loket masuk dan keluar kendaraan roda 4, sesuai dengan gambar berikut ini.

cctv di loket keluar parkir sarinah

Gambar 4. CCTV di pintu keluar kendaraan roda 4.

cctv di loket masuk parkiran sarinah

Gambar 7. CCTV di Loket Masuk Kendaraan Roda 4

  • Berdasarkan visualisasi gambar loket masuk kendaraan roda 4 ke dalam area pakir Sarinah yang ditampilkan pada gambar 6 dan 7, maka Amir Papalia harus bisa membuktikan perkataannya, bahwa dia pernah parkir kendaraan (melalui CCTV) pada hari Selasa, tanggal 05 Januari 2016, antara pukul 15.00 hingga pukul 17.00. Jika tak terbukti adanya AP di lokasi parkiran (yang dibuktikan oleh CCTV di loket masuk dan di seluruh area parkir), maka polisi bisa dengan cepat menjadikan AP sebagai tersangka.
  • Jika Arif dan Rangga juga masuk di area parkiran Sarinah pada tanggal dan waktu yang sama (mengacu pada tuduhan AP dan keterangan duplik Jessica), maka kejadian tersebut harusnya tentu juga terekam di CCTV pintu masuk parkiran roda 4, pintu masuk parkiran kendaraan roda 2, dan CCTV area parkiran. Jika ini pun tak bisa dibuktikan oleh AP, maka polisi pun bisa dengan mudah menetapkan AP sebagai tersangka.

Keterangan Amir Papalia yang mengatakan bahwa ia melihat Arief Soemarko dan Rangga pada tanggal 06 dan 10 Januari di media televisi perlu juga didalami oleh polisi. Mirna tewas pada tanggal 06 Januari 2016, namun belum ada liputan tentang kematiannya melalui media TV pada tanggal tersebut. Keterangan AP yang mengatakan melihat wajah Arief dan Rangga pada tanggal 06 Januari 2016 di televisi merupakan suatu kebohongan besar, karena bertentangan dengan fakta, karena pada tanggal yang disebutkan, tidak ada liputan media televisi tentang kematian Mirna, apalagi kematian yang disebabkan oleh racun sianida.

Polisi baru memastikan sebab kematian Mirna setelah dilakukannya otopsi sebagian dari barang bukti, dimana keterangan ini diangkat ke media setelah tanggal 10 Januari 2016. Wajah Arief baru muncul ke media setelah adanya penetapan kematian Mirna yang disebabkan oleh racun sianida.

Maka dapat disimpulkan bahwa keterangan Amir Papalia bernilai 0, dengan persentase kebohongan yang 100%. Polisi sebaiknya segera melakukan penyelidikan dan penyidikan atas adanya laporan dari pelapor Arief dan Rangga, karena tujuan dari keterangan Amir Papali adalah untuk menyesatkan publik, melalui pembentukan opini yang 100% salah!

2 comments

  1. Ini saksi apa? Datangnya kesiangan, minta perlindungan lagi ke LPSK. Ini saksi membingungkan hakim, untung hakim tdk bingung. Sebaiknya keluarga mirna dan rangga laporkan si amir ini, biar clear.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.