Cara Membuat Air Suling (Air Destilasi) Menggunakan Resin Penukar Ion

  1. Pendahuluan

Air memiliki rumus kimia H2O, yang merupakan ikatan kovalen antara 2 atom dari unsu kimia hidrogen dan 1 atom oksigen. Air bisa melarutkan berbagai unsur kimia, senyawa kimia, dan ion-ion dari unsur kimia yang terdisosiasi. Kemampuan melarutkan inilah menyebabkan air mengandung sejumlah unsur kimia ikutan di dalamnya.

Disamping melarutkan, air juga menjadi wadah material koloid, yang membuat sebagian dari air menghalangi sebagian cahaya yang melewatinya (efek tyndall). Contoh air koloid antara lain cairan teh, kopi, susu, air keruh yang merupakan campuran antara H2O dan partikel halus silica, dan beberapa jenis koloid lainnya.

Air yang bersumber dari hujan pun tak luput dari unsur-unsur kimia ikutan yang terlarut di dalamnya. Pada beberapa wilayah dengan tingkat cemaran tinggi, bahkan air hujan nya tidak hanya mengandung ion-ion, namun sebagian juga bercampur dengan material koloid yang berasal dari cemaran zat padat ukuran nano meter di udara. Air juga menjadi wadah bagi mikroorganisme yang berukuran micron, dan wadah bagi sebagian besar jenis virus yang memiliki ukuran nano-meter.

Air bersih adalah air yang memiliki konsentrasi H2O tinggi. Makin tinggi konsentrasi H2O dalam air, makin tinggi tingkat kemurnian air tersebut. Umumnya air yang baik bagi kesehatan adalah air yang hanya mengandung partikel padat terlarut kurang dari 50 ppm ; namun hal ini belum menjadi jaminan bahwa air yang dikonsumsi benar-benar sehat.

Beberapa senyawa logam dapat larut dengan mudah di dalam air, terutama senyawa logam-logam golongan IA – IIA. Larutan senyawa-senyawa logam golongan ini terionisasi membentuk kation dan anion, yang pada jumlah proporsional memiliki keuntungan bagi tubuh. Jumlah senyawa alkali dan alkali tanah yang larut berlebihan juga tak baik bagi kesehatan tubuh. Di daerah-daerah yang banyak mengandung kapur dan daerah-daerah yang perairannya tercemar, potensi tingginya kandungan logam golongan IA dan IIA sangat tinggi, sehingga air pada daerah ini kemungkinan tak sehat untuk langsung dikonsumsi.

Pada daerah dengan cemaran logam tinggi, resiko air tercemar oleh logam berat menjadi tinggi. Beberapa senyawa logam berat juga mudah larut dalam air, membentuk ion-ion. Meskipun warna air bening di daerah tersebut, bukan menjadi jaminan bahwa air tersebut tak tercemar oleh logam berat.

Air yang paling sehat adalah air dengan kandungan mineral nol, atau setidaknya mendekati nol ppm. Untuk mendapatkan air dengan kualitas ini, kita bisa melakukan proses penyulingan, yaitu proses pemisahan H2O dari berbagai material padat yang terlarut padanya. Teknologi proses penyulingan air tertua menggunakan cara penguapan air mendidih, dimana uap air dilewatkan pipa-pipa, kemudian didinginkan sehingga mengembun kembali menjadi air. Untuk mendapatkan uap dengan cepat, air dipanaskan menggunakan perebusan di dalam ketel hingga mencapai 1250C. Proses penyulingan tradisional ini saat ini mulai ditinggalkan, disebabkan biaya produksi tinggi dan tingginya pencemaran udara akibat asap CO2 yang dihasilkan dari proses pembakaran.

Perkembangan teknologi menyebabkan proses penyulingan air menjadi lebih murah dan cepat. Saat ini telah tersedia 2 jenis teknologi penyulingan air; teknologi penyulingan melalui proses penyaringan menggunakan membrane osmosis, dan teknologi demineralisasi menggunakan resin penukar ion. 2 jenis teknologi ini memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dalam beberapa implementasi, 2 jenis teknologi ini diterapkan secara bersamaan.

I. Dasar Teori Penyulingan Menggunakan Resin Penukar Ion

II. Penyiapan Peralatan Penyulingan Menggunakan Resin Penukar Ion

III. Proses Penyulingan ; Demineralisasi dan Penyaringan Partikel Mikro dan Koloid