Penentuan dan Persiapan Lahan Produksi Untuk Pembuatan Garam Industri

Proses pembuatan garam membutuhkan luasan lahan yang cukup besar. Kebutuhan lahan berbanding lurus dengan target dan hasil produksi yang diinginkan. Pemilihan lokasi lahan merupakan proses awal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan suatu industri pembuatan garam.

Beberapa pertimbangan yang harus dipikirkan dalam memutuskan lokasi lahan harus mengacu pada beberapa hal berikut ini :

  • Lokasi lahan harus berdekatan dengan sumber bahan baku, dalam hal ini adalah air laut. Agar bahan baku mudah diperoleh dan tidak mengeluarkan biaya, maka lahan pembuatan garam harus berdekatan dengan pantai. Pengisian air laut biasanya dilakuan pada saat datangnya pasang, dimana tinggi permuakaan air laut naik dari biasanya. Pengisian dilakukan dengan cara membuka pintu air dari kolam penampungan, sehingga air laut bisa masuk dan bertahan di kolam penampungan. Pengisian selesai saat air pasang mulai surut. Penggunaan energi dalam proses pengisian air sebaiknya dihindari, keculai jika volume air pasang yang dibutuhkan tak memenuhi target volume bahan baku yang diinginkan.
  • Lokasi sebaiknya tidak berdekatan dengan muara sungai. Pantai yang berada di atau dekat dengan muara sungai umumnya memiliki kandungan garam NaCl yang rendah, namun kandungan MgCl2 nya justru tinggi. Kandungan NaCl yang rendah dalam air laut turut mnenentukan rendahnya kapasitas produksi garam yang diinginkan. Lokaksi pembuatan garam sebaiknya berjarak minimum 1 km dari bibir muara sungai atau irigasi. Jarak yang makin jauh makin menaikkan potensi hasil yang diinginkan.
  • Struktur tanah. Tanah di pinggir pantai memiliki beberapa jenis, mulai dari tanah berlumpur hingga tanah berpasir. Tanah berlumpur memiliki sifat yang keras di saat kering, namun sangat lembek di saat basah. Tanah berlumpur sulit dibentuk dan diratakan, sehingga jenis tanah ini membutuhkan investasi awal yang cukup tinggi. Tanah berpasir pun memiliki permasalahan, namun proses penaganan terhadap tanah jenis ini lebih mudah dibanding lahan tanah berlumpur.
  • Lokasi penggaraman harus memiliki akses jalan yang baik, dan dekat dengan infrastruktur jalan utama. Lokasi juga turut menentukan besaran biaya produksi. Lokasi penggaraman yang jauh dari konsumen (pemakai garam) mengakibatkan komponen biaya transportasi menjadfi mahal dan tidak ekonomis. Infrastruktur jalan yang buruk atau minim juga menaikkan biaya produksi.
  • Lokasi penggaraman harus terhindar dari banjir rob musiman yang besar. Pada daerah-daerah tertentu, banjir rob tahunan bisa mencapai ketinggian di atas 1 meter. Banjir rob yang tinggi sangat mungkin merusak prasarana dan sarana penggaraman, dapat menghancurkan tanggul, dan menimbulkan jenis-jenis kerugian lainnya.
  • Lokasi sebaiknya berjauhan dengan pemukiman warga, dan masih memiliki potensi perluasan lahan di masa mendatang. Lokasi yang berdekatan dengan pemukiman membuat tingkat kenaikan harga lahan yang cepat, sehingga menghambat potensi perluasan investasi, sedangkan lokasi yang sempit tak memungkinkan dilakukannnya perluasan lahan dengan mudah.
  • Lokasi penggaraman sebaiknya berdekatan dengan lokasi pembuatan garam rakyat. Hasil garam rakyat dapat digunakan sebagai cadangan bahan baku pada masa-masa paceklik (masa dimana tingkat curah hujan tinggi). Pada musim hujan, proses kristalisasi harus terjadi dalam waktu yang singkat, dan harus memperhitungkan perubahan cuaca yang berlangsung cepat. Pembuatan air garam menggunakan kombinasi antara air laut + garam petani + desalinasi menjadi pilihan utama jika ingin produksi berjalan kontinu dalam cuaca yang ekstrim.

Dari beberapa paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa penentuan awal lokasi penggaraman menjadi suatu hal yang sangat penting untuk dilakukan. Sukses atau tidaknya usaha pembuatan garam industri ikut ditentukan oleh strategi pemilihan lahan yang tepat.

 

Bab Selanjutnya :

III.  Persiapan Peralatan Produksi.