Pengolahan Emas Menggunakan Klorinasi

Emas memiliki laju pelarutan yang sangat tinggi terhadap gas klor, bahkan mampu mencapai lebih dari 100 x laju pelarutan menggunakan sianida. Karena kemampuan ini, maka teknik klorinasi digunakan dalam proses pengujian kandungan emas di laboratorium, baik menggunakan metoda analisa kuantitatif, AAS (Atomic Adsorption Spectroscopy), maupun ICP.

Dalam implementasinya, penggunaan gas klor sebagai pelarut dalam proses produksi emas dari batuan memiliki beberapa kendala, sehingga cara klorinasi hampir tak dipakai dalam proses pengolahan emas. Akan tetapi pada dasarnya kendala yang muncul bisa diatasi jika memiliki pengetahuan yang cukup dalam ilmu kimia dan metalurgi mineral. Ada beberapa jenis batuan mineral yang hanya bisa diolah menggunakan klorinasi. Batuan-batuan tersebut antara lain :

  • Batuan sulfida tinggi yang memiliki persentase kandungan logam dasar dan belerang antara 50-80% dari total beratnya, dengan kandungan logam emas yang mencapai 25 ppm, atau kandungan perak 1000 ppm dan emas minimum 10 ppm.
  • Batuan sulfida tinggi yang memiliki kandungan logam dasar dan belerang antara 30% – 50% dari total beratnya, dan kandungan emas menvapai 15 – 20 ppm.
  • Batuan sulfida sedang yang mengandung total logam dasar + belerang antara 10% – 30% dari total beratnya. Kandungan logam emas pada batuan ini harus memiliki nilai antara 10 – 15 ppm.
  • Batuan oksida, dan berbagai jenis batuan emas lainnya.

Ebook “Pengolahan Emas Menggunakan Klorinasi” disusun berdasarkan hasil dari pengalaman yang ditunjang oleh teori yang relevan.