Pelatihan Pengolahan Emas Menggunakan Sianida

Ketersediaan urat emas dengan kualitas bagus dan mudah diproses menggunakan sianidasi makin langka, disebabkan tingginya tingkat eksploitasi, sementara mineral tambang bukanlah sumber ekonomi yang bisa diperbaharui. Turunnya kualitas batuan emas menyebabkan makin sulitnya proses sianidasi, yang berdampak pada naiknya tingkat resiko kerugian.

Pengertian kualitas bijih emas pada paragraph di atas bukanlah berarti banyak tidaknya kandungan emas di dalam batuan, melainkan tingkat kemudahan bijih emas diproses menggunakan sianida. Kriteria batuan yang memiliki kulitas tinggi untuk di-sianidasi adalah batuan-batuan emas yang memiliki bijih emas liberal, kandungan belerang rendah, kandungan logam tembaga rendah, bijih emas relatif kasar, kandungan metalloid rendah, dan kandungan karbon rendah. Kriteria-kriteria inilah yang menentukan kualitas bijih emas terhadap sianidasi. Artinya, kualitas batuan emas yang akan disianidasi bergantung pada hal-hal tersebut, bukan pada kuantitas emas di dalam batuan. Contohnya, batuan yang mengandung 8 ppm emas dan memiliki kriteria mudah disianidasi memiliki kualitas yang lebih baik dibanding batuan emas yang memiliki kandungan emas 20 ppm, namun refractory (sulit di sianidasi).

Agar batuan emas yang refractory (sulit di-sianidasi) menjadi mudah disianidasi, dibutuhkan beberapa rekayasa teknik terhadap batuan tersebut. Terhadap batuan berkadar emas rendah (persentase logam perak tinggi di dalam bijih) dan batuan refractory lainnya, proses yang terjadi selama penghalusan batuan menjadi lumpur tak hanya melibatkan proses fisika, melainkan terjadi juga proses kimia. Proses milling yang melibatkan air sebagai media, bisa menimbulkan reaksi kimia spontan, antara lain reaksi kimia yang menghasilkan larutan H2S, alkali / alkali tanah sulfida, tereduksinya kation tembaga menjadi logam, dan sebagainya.

Terbentuknya larutan H2S atau alkali sulfida dapat merusak bijih emas berkadar rendah, karena ion sulfur mudah bereaksi dengan logam perak, membentuk lapisan perak sulfida (Ag2S) yang refractory terhadap sianida. Tembaga yang tereduksi selama proses penghalusan menyebabkan naiknya konsumsi sianida selama proses leaching, diiringi naiknya juga konsumsi adsorbent selama proses adsorbsi.

Untuk mencegah munculnya efek refractory selama proses penghalusan, dibutuhkan beberapa jenis bahan kimia, yang dicampurkan selama proses penggilingan, dimana jumlahnya disesuaikan dengan tingkat refractory dari batuan tersebut.

Proses leaching juga memerlukan pelarut yang jauh lebih cepat dibanding pelarut sianida biasa. Penggunaan pelarut sodium feri sianida mampu menaikkan kecepatan leaching menjadi 6 x dari biasanya, mampu melarutkan bijih-bijih emas pasif, mampu menyeleksi logam-logam yang dilarutkan. Sodium feri sianida cenderung mudah melarutkan emas dan perak dibanding logam tembaga, oleh karena itu jenis pelarut ini digolongkan dalam pelarut emas yang sangat selektif.

Adsorbsi merupakan satu tahapan yang juga sangat penting dalam  proses sianidasi. Penentuan jumlah karbon aktif, penentuan kualitas karbon aktif yang digunakan (jika adsorbsi menggunakan activated carbon) menjadi kunci utama suksesnya pengolahan emas dengan sianida. Jika adsorbsi menggunakan anion resin exchange, maka harus dipastikan bahwa resin yang digunakan harus berjenis macropore, memiliki size yang cukup besar agar mudah memisahkannya dari lumpur, dan memiliki daya serap yang juga sangat besar.

Metode terbaru yang diperkenalakan oleh bestekin.com adalah metode penyaringan  menggunakan filter khusus, yang mampu menyaring dan memisahkan molekul kompleks emas dan perak dari larutan kompleks dan ion-ion lainnya. Metode ini mendasarkan pada ketidaksamaan ukuran fisik tiap-tiap molekul dan berbagai senyawa kimia, sehingga tiap senyawa bisa dipisahkan dari senyawa lainnya menggunakan penyaringan.

Pelatihan pengolahan emas menggunakan sianida disusun lengkap, dari mulai awal berupa batuan, hingga proses akhir yang merupakan proses pemurnian emas dan perak.

Materi pelatihan :

  1. Penentuan atau pengujian kadar atau kandungan logam emas, perak, dan mineral ikutan di dalam sampel batuan emas (raw material).
  2. Proses penghalusan batuan emas disertai penggunaan hidroksida logam sebagai penangkal terbentuknya larutan H2S atau alkali sianida.
  3. Proses leaching menggunakan kombinasi sianida dan feri sianida, pada kondisi pH dan indikator lain yang tak sama dengan proses sianidasi biasa.
  4. Adsorbsi menggunakan activated carbon, yang dikomparasi dengan penggunaan anion resin exchange Purolite A 500 / 2788, dan filter molekul emas dan perak.
  5. Elusi dan regenerasi activated carbon dan resin Purolite A 500 / 2788.
  6. Pemurnian logam emas dan perak.
  7. Pembuatan Peralatan Pengolahan.
  8. Analisa Biaya Produksi

Info lanjut, klik di sini

Email   : marketing@bestekin.com