Menghindari Kontaminasi Air Laut dalam Proses Sianidasi

Dalam proses pengolahan mineral emas menggunakan proses sianidasi, pH memegang peranan yang sangat penting. Pentingnya pengendalian pH disebabkan mudahnya pergeseran dari ion CN menjadi senyawa asam lemah HCN akibat turunnya pH larutan. pH yang paling tepat dalam proses sianidasi adalah antara 10,5 – 11.

pH larutan atau lumpur yang berada di bawah 10,5 menyebabkan terbentuknya HCN (dalam proses sianidasi), dimana senyawa ini mudah menguap, meskipun dalam suhu kamar (25oC). Agar pH larutan atau lumpur naik dari pH awal air baku (pH air baku = 7), sebelum proses sianidasi, perlu dimasukkan kapur masak / gamping (CaO) atau larutan soda api (NaOH) ke dalam larutan atau lumpur yang mengandung emas di dalamnya.

Permasalahan Sianidasi Jika Menggunakan Air Baku Bersumber dari Air Laut

Air laut mengandung sejumlah kation yang bersifat buffer (menjaga pH larutan tetap di posisi awal), diantaranya ion magnesium (Mg2+). Saat kapur gamping dimasukkan ke dalam larutan atau lumpur yang akan disianidasi, kapur bereaksi dengan air sebagai berikut :

CaO  +  H2O  →  Ca(OH)2 ,

dimana sebagian dari Ca(OH)2 terlarut membentuk ion bebas Ca2+ dan OH di dalam  lumpur.

Kenaikan pH terjadi saat kandungan ion OH lebih banyak dari kandungan ion H+. Jika kandungan kedua ion  ini seimbang, maka pH tak akan beranjak dari angka 7, sebab reaksi kimia yang terjadi hanya menghasilkan air (H2O) yang memiliki pH = 7

H+ + OH →  H2O (aq)

Seperti yang dijelaskan di atas, air laut atau air yang tercemar dengan air laut, ataupun air payau dan air sadah, mengandung sejumlah ion Mg2+ yang menghalang-halangi terjadinya kenaikan pH saat larutan diberi kapur. Makin pekat kelaruatn mineral di dalamnya, makin tinggi kandungan ion Mg di dalam air tersebut.

Mengapa kandungan Mg menyebabkan sulitnya pH naik?

Ion Mg2+ dari air laut atau air payau bereaksi dengan ion OH dari kapur atau soda api, membentuk senyawa Mg(OH)2 yang tak larut dalam air, sehingga air lumpur tak menghasilkan ion OH berlebih. Makin tinggi kandungan ion Mg dari air, makin sulit menaikkan pH larutan atau lumpur. Dengan kata lain, makin tinggi kandungan Mg dalam air, makin boros penggunaan kapur untuk menaikkan pH lumpur. Atau analog dengan makin asin suatu air baku, makin tak baik digunakan sebagai air baku untuk proses sianidasi dalam pengolahan emas.

Unsur Kimia Cobalt (Co)

Cobalt adalah unsur kimia logam dengan simbol Co dan nomor atom 27. Seperti nikel, kobalt ditemukan di kerak bumi hanya dalam senyawa kimia, kecuali sebagian kecil yang ditemukan dalam paduan meteorik besi alami. Logam murninya diproduksi melalui peleburan reduktif. Logam cobalt adalah logam keras, berkilau, dan berwarna perak keabu-abuan.

Sebagian kobal yang ada sekarang diproduksi secara khusus dari sejumlah bijih berkalori metalik, seperti misalnya cobaltite (CoAsS). Namun logam ini lebih banyak diproduksi sebagai hasil sampingan dari penambangan tembaga dan nikel. Sabuk tembaga di Republik Demokratik Kongo (DRC), Republik Afrika Tengah dan Zambia menghasilkan sebagian besar produksi kobalt dunia. Menurut beberapa sumber (USGS, BGS, dan NRC), Zambia menyumbang lebih dari 50% produksi koballt dunia pada tahun 2016 (123.000 ton).

Cobalt adalah logam feromagnetik dengan berat jenis 8.9, dan momen magnetik 1,6–1,7 magneton Bohr per atom. Cobalt terutama digunakan dalam pembuatan paduan logam bersifat magnetik, logam tahan aus dan berkekuatan tinggi.

Senyawa kobalt silikat dan kobalt (II) alumina (CoAl2O4, biru kobalt) memberikan warna biru tua yang khas pada kaca, keramik, tinta, cat dan pernis.Pigmen biru berbasis kobalt (biru kobalt) telah digunakan sejak zaman kuno untuk perhiasan dan cat, dan untuk memberikan warna biru yang khas ke kaca dan porselen.

Kobalt adalah pusat aktif sekelompok koenzim yang disebut cobalamin. Vitamin B12, contoh yang paling terkenal dari jenisnya, adalah vitamin penting untuk semua hewan. Kobalt dalam bentuk anorganik juga merupakan mikronutrien untuk bakteri, alga, dan jamur.

Mirip dengan aluminium, cobalt adalah logam reduksi lemah yang dilindungi dari oksidasi lebih lanjut oleh lapisan oksida kobalt berupa film pasif (yang sangat rapat) di permukaan luarnya. Logam ini mudah bereaksi dengan unsur-unsur kimia golongan halogen dan belerang. Pemanasan logam kobalt dalam ruangan yang mengandung oksigen menghasilkan senyawa Co3O4, yang kehilangan oksigen pada 900 o C, menjadi senyawa Cobalt Monoksida (CoO) CoO. Logam kobalt bereaksi dengan fluor (F2) pada 520 oK menjadi senyawa CoF3; reaksi dengan klorin (Cl2), bromin (Br2) dan yodium (I2), menghasilkan halida biner ekuivalen.

Kobalt tidak bereaksi dengan gas hidrogen (H2) atau gas nitrogen (N2) bahkan ketika dipanaskan. Pada suhu biasa, ia bereaksi lambat dengan asam mineral, dan sangat lambat pada udara yang lembab.

Senyawa – Senyawa kobalt.

Bilangan oksidasi umum kobal adalah +2 dan +3, meskipun senyawa dengan bilangan oksidasi mulai dari −3 hingga +5 juga ditemukan. Suatu keadaan oksidasi yang umum untuk senyawa sederhana adalah +2 (kobalt (II)). Garam-garam ini membentuk kompleks aquo berwarna merah muda [Co (H2O) 6] 2+ dalam air. Penambahan klorida memberikan [CoCl4] 2−. Dalam uji nyala manik boraks, kobalt menunjukkan warna biru pada kedua oksidasi dan mengurangi nyala api.

Senyawa Cobalt dengan oksigen dan chalcogen

Beberapa oksida kobalt diketahui ada dalam struktur batuan, seperti green cobalt (II) oxide (CoO). Senyawa ini mudah teroksidasi dengan air dan oksigen menjadi warna coklat senyawa kobalt (III) hidroksida (Co (OH) 3). Pada suhu 600–700 ° C, CoO teroksidasi menjadi kobal biru (II, III) oksida (Co3O4), yang memiliki struktur spinel. Senyawa black kobalt (III) oksida (Co2O3) juga ada. Oksida kobalt bersifat antiferromagnetik pada suhu rendah: CoO (Néel temperatur 291 o K) dan Co3O4 (suhu Néel: 40 o K), yang analog dengan magnetit (Fe3O4), dengan campuran bilangan oksidasi +2 dan +3.

Chalcogenides utama kobal termasuk sulfida kobalt (II) hitam, CoS2, yang mengadopsi struktur seperti pirit, dan kobalt (III) sulfida (Co2S3).

Ada empat senyawa dihalida kobalt (II) yang sering ditemukan: kobalt (II) fluorida (CoF2, berwarna pink), kobalt (II) klorida (CoCl2, warna biru), kobal (II) bromida (CoBr2, warna hijau), kobal (II) iodida (CoI2, warna biru hitam). Halida ini ada dalam bentuk anhidrat dan terhidrasi. Sedangkan diklorida anhidrat berwarna biru, hidratnya berwarna merah.

Senyawa organologam kobalt

Cobaltocene adalah struktur analog untuk ferrocene, dengan kobalt sebagai pengganti besi. Cobaltocene jauh lebih sensitif terhadap oksidasi daripada ferrocene. Karbonil kobalt (Co2 (CO) 8) adalah suatu katalis dalam reaksi karbonilasi dan hidrosililasi. Vitamin B12 adalah senyawa organologam yang ditemukan di alam, dan merupakan satu-satunya vitamin yang mengandung atom logam.

Kobalt di Alam

Logam kobalt murni tidak ditemukan di Bumi karena oksigen di atmosfer dan klorin di lautan. Keduanya cukup melimpah di lapisan atas kerak Bumi untuk mencegah pembentukan logam kobal. Kecuali dalam besi meteorik, kobalt murni dalam bentuk logam asli tidak ditemukan di Bumi. Unsur ini memiliki kelimpahan sedang di bumi, tetapi senyawa alami kobalt cukup banyak, dan sejumlah senyawa kobalt ditemukan di sebagian besar batuan, tanah, tumbuhan, dan hewan.

Di alam, kobalt sering dikaitkan dengan nikel. Keduanya merupakan komponen karakteristik darri besi meteorik, meskipun kobalt jauh lebih sedikit (pada meteorit besi daripada nikel. Seperti nikel, kobalt dalam paduan besi meteorik mungkin cukup terlindungi dari oksigen dan kelembaban untuk tetap sebagai logam bebas (tetapi paduan), meskipun tidak ada unsur yang terlihat dalam bentuk seperti itu pada kerak terestrial kuno.

Kobal dalam bentuk senyawa terjadi pada mineral tembaga dan nikel. Senyawa ini adalah komponen logam utama yang berikatan dengan sulfur dan arsen dalam kobaltite sulfida (CoAsS), safflorite (CoAs2), glaukodot ((Co, Fe) AsS), dan mineral skutterudite (CoAs3). Cattierite merupakan mineral yang mirip dengan pirit, dan terjadi bersama dengan vaesit di deposit tembaga. Ketika batuan diletakkan di atas tanah, proses pelapukan terjadi; mineral sulfida mengoksidasi dan membentuk eritrit merah muda (“pandangan kobal”: Co3 (AsO4) 2 · 8H2O) dan spherocobaltite (CoCO3).

Kobalt juga merupakan konstituen dari asap tembakau. Pohon tembakau menyerap dan mengakumulasi logam berat seperti kobalt dari tanah di sekitarnya, yang ditumpuk di daun. Ini kemudian dihirup selama merokok tembakau.

Bijih utama kobalt adalah kobaltite, erythrite, glaucodot dan skutterudite, tetapi sebagian besar kobalt diperoleh melalui pemurnian nikel dan tembaga.

Karena kobalt umumnya diproduksi sebagai produk sampingan, pasokan kobalt sangat tergantung pada kelayakan ekonomi penambangan tembaga dan nikel di pasar tertentu. Permintaan untuk kobalt diproyeksikan tumbuh 6% pada tahun 2017.

Beberapa metode yang ada bisa digunakan untuk memisahkan kobalt dari tembaga dan nikel, yang tergantung pada konsentrasi kobal dan komposisi yang tepat dari bijih yang digunakan. Salah satu metode adalah flotasi busa, di mana surfaktan mengikat komponen bijih yang berbeda, yang mengarah ke pengayaan bijih kobalt. Pemanggangan berikutnya mengubah bijih menjadi kobalt sulfat, dan tembaga serta besi teroksidasi menjadi oksida. Leaching dengan air mengekstrak sulfat bersama dengan arsenat. Residu selanjutnya tercuci dengan asam sulfat, menghasilkan larutan tembaga sulfat. Kobalt juga dapat tercuci dari slag peleburan tembaga.

Produk dari proses yang disebutkan di atas diubah menjadi oksida kobalt (Co3O4). Oksida ini direduksi menjadi logam oleh reaksi aluminothermic atau reduksi dengan karbon dalam tanur tinggi.

Penggunaan Kobalt

Paduan Logam

Paduan logam berbasis cobalt banyak digunakan dalam berbagai terapan. Stabilitas suhu paduan kobal membuat mereka cocok untuk pisau turbin pada turbin gas dan mesin jet pesawat, meskipun paduan kristal tunggal berbasis nikel mengungguli paduan kobalt dalam kinerja.

Paduan berbasis kobalt juga tahan korosi dan tahan aus, membuatnya, seperti titanium, berguna untuk membuat implan ortopedi yang tidak aus seiring waktu. Pengembangan paduan kobalt tahan aus dimulai pada dekade pertama abad ke-20 dengan paduan stellite, mengandung kromium dengan berbagai jumlah tungsten dan karbon. Paduan dengan karbida krom dan tungsten sangat keras dan tahan aus. Paduan kobalt-chromium-molybdenum khusus seperti Vitallium digunakan untuk bagian prostetik (penggantian pinggul dan lutut).

Paduan Cobalt juga digunakan untuk prosthetics gigi sebagai pengganti nikel. Beberapa baja berkecepatan tinggi juga mengandung kobalt untuk meningkatkan ketahanan panas dan ketahanan aus. Paduan khusus dari aluminium, nikel, kobalt dan besi, yang dikenal sebagai Alnico, samarium dan kobalt (magnet samarium-kobalt) digunakan dalam magnet permanen. Paduan kobalt dengan platinum 95% digunakan untuk perhiasan, menghasilkan paduan yang cocok untuk pengecoran halus, yang juga memiliki sedikit magnet.

Baterai

Lithium cobalt oxide (LiCoO2) banyak digunakan dalam katoda baterai lithium-ion. Materi ini terdiri dari lapisan oksida kobalt dengan litium interkalasi. Selama pemakaian, lithium dilepaskan sebagai ion lithium. 

Meskipun pada tahun 2018 sebagian besar kobal dalam baterai digunakan dalam perangkat seluler, aplikasi yang lebih baru untuk kobalt adalah baterai yang dapat diisi ulang untuk mobil listrik. Industri mobil/motor listrik menyebabkan meningkatnya permintaan untuk kobal dunia, hingga 5 kali lipat.

Katalis

Beberapa senyawa kobalt adalah katalis dalam proses oksidasi. Kobalt asetat digunakan untuk mengubah xilena menjadi asam tereftalat, prekursor polimer polietilena tereftalat besar. Katalis tipikal adalah karboksilat kobal (dikenal sebagai sabun kobalt). Senyawa kobalt juga digunakan dalam cat, pernis, dan tinta. Karboksilat yang sama digunakan untuk meningkatkan adhesi antara baja dan karet di ban radial.

Kobalt berbasis katalis juga digunakan dalam reaksi yang melibatkan karbon monoksida. Kobalt juga merupakan katalis dalam proses Fischer – Tropsch untuk hidrogenasi karbon monoksida menjadi bahan bakar cair. Hidroformilasi alkena sering menggunakan kobalt octacarbonyl sebagai katalis, meskipun sering digantikan oleh katalis berbasis iridium dan rhodium yang lebih efisien, misalnya proses Cativa.

Hidrodesulfurisasi minyak bumi juga menggunakan katalis yang berasal dari kobalt dan molibdenum. Proses ini membantu membersihkan minyak dari kotoran sulfur yang mengganggu penyulingan bahan bakar cair.

Pigmen dan Pewarna

Sebelum abad ke-19, kobalt sudah digunakan sebagai pigmen untuk membuat glasir, gelas berwarna biru. Smalt diproduksi dengan mencairkan campuran smaltite mineral panggang, kuarsa dan kalium karbonat, yang menghasilkan kaca silikat biru tua, yang digiling halus setelah diproduksi. Smalt secara luas digunakan untuk mewarnai kaca dan sebagai pigmen untuk lukisan. 

Vitamin B12

struktur kimia vitamin B12

Struktur Kimia Cobalamin

Kobalt sangat penting untuk metabolisme semua hewan. Zat ini adalah konstituen kunci dari struktur kimia cobalamin, yang juga dikenal sebagai vitamin B12. Bakteri di perut hewan ruminansia mengubah garam kobalt menjadi vitamin B12, senyawa yang hanya dapat diproduksi oleh bakteri atau archaea. Kehadiran minimal kobalt dalam tanah karenanya sangat meningkatkan kesehatan hewan penggembalaan, dan penyerapan 0,20 mg / kg sehari dianjurkan karena mereka tidak memiliki sumber vitamin B12 lainnya.

Pada awal abad ke-20, selama pengembangan pertanian di Dataran Tinggi Vulkanik Pulau Utara di Selandia Baru, ternak menderita apa yang disebut “penyakit semak”. Ditemukan bahwa tanah vulkanik tidak memiliki garam kobalt yang penting untuk rantai makanan ternak.

Pada manusia, B12 memiliki dua jenis alkil ligan: metil dan adenosil. MeB12 mempromosikan transfer kelompok metil (−CH3). Versi adenosyl dari B12 mengkatalisasi penataan ulang di mana atom hidrogen secara langsung ditransfer antara dua atom yang berdekatan dengan pertukaran bersamaan dari substituen kedua, X, yang mungkin merupakan atom karbon dengan substituen, sebuah atom oksigen dari alkohol, atau amina. Methylmalonyl coenzyme A mutase (MUT) mengubah MMl-CoA menjadi Su-CoA, langkah penting dalam ekstraksi energi dari protein dan lemak.

Meskipun jauh lebih umum daripada metaloprotein lain (misalnya seng dan zat besi), kobaltrotein lain diketahui selain B12. Protein ini termasuk methionine aminopeptidase 2, enzim yang terjadi pada manusia dan mamalia lain yang tidak menggunakan cincin corrin B12, tetapi mengikat kobalt secara langsung. Enzim kobalt non-corrin lainnya adalah nitrile hydratase, enzim pada bakteri yang memetabolisme nitril.

Unsur Kimia Arsen

Arsen atau arsenik adalah unsur kimia yang diberi simbol As dan nomor atom 33. Arsenik ditemukan di banyak batuan mineral, biasanya dalam kombinasi dengan belerang dan logam lain, namun juga bisa ditemukan sebagai kristal unsur murni (elemental). Arsenik bukanlah logam, namun termasuk golongan metaloid. Unsur ini memiliki berbagai alotrop, tetapi hanya bentuk abu-abu yang memiliki penampilan metalik, yang memegang peranan penting bagi industri.

Penggunaan utama arsenik adalah untuk paduan timah (misalnya, dalam baterai mobil dan amunisi). Arsenik adalah dopan tipe-n umum dalam perangkat elektronik semikonduktor, dan senyawa optoelektronik galium arsenide adalah semikonduktor kedua yang paling umum digunakan setelah silikon. Arsenik dan senyawanya, terutama trioksida, digunakan dalam produksi pestisida, produk kayu yang diolah, herbisida, dan insektisida. Aplikasi ini berkurang karena toksisitas arsenik dan senyawanya.

Beberapa spesies bakteri dapat menggunakan senyawa arsenik sebagai metabolit pernapasan mereka. Melacak jumlah sebaran arsen penting dilakukan pada makanan tikus, hamster, kambing, ayam, dan mungkin spesies lain. Namun peran arsenik dalam metabolisme manusia hingga saat ini belum diketahui. Akan tetapi keracunan arsenik terjadi dalam kehidupan multiseluler jika jumlahnya lebih besar dari yang dibutuhkan. Kontaminasi arsenik pada air tanah adalah masalah yang mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia.

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat menyatakan bahwa semua bentuk arsenik merupakan risiko serius bagi kesehatan manusia. Badan Zat-Zat dan Daftar Penyakit Beracun Amerika Serikat menempatkan arsenik sebagai bahan kimia nomor 1 dalam Daftar bahan Berbahaya 2001. Arsenik diklasifikasikan sebagai karsinogen Kelompok-A.

Sifat Kimia Arsenik

Arsenik memiliki elektronegativitas dan energi ionisasi yang mirip dengan fosfor, dan dengan mudah membentuk ikatan kovalen dengan sebagian besar unsur kimia nonlogam. Meskipun stabil di udara kering, arsenik membentuk noda perunggu keemasan pada paparan di kelembaban udara, yang akhirnya menjadi lapisan permukaan berwarna hitam. Ketika dipanaskan di udara, arsen teroksidasi menjadi arsenik trioksida; asap dari reaksi ini memiliki bau yang menyerupai bawang putih. Bau ini dapat dideteksi pada mineral arsenide yang mencolok seperti arsenopirit yang dipukul dengan palu. Saat dipukul palu, arsenik terbakar oksigen membentuk arsenik trioksida dan arsenik pentoksida, yang memiliki struktur sama dengan senyawa fosfor yang lebih terkenal. Arsenik (dan beberapa senyawa arsenik) menyublim setelah dipanaskan pada tekanan atmosfir, berubah secara langsung menjadi bentuk gas pada suhu 614 ° C, mengeluarkan bau seperti bawang putih.

Arsenik bereaksi dengan asam nitrat pekat menjadi asam arsenik, dengan asam nitrat encer membentuk asam arsenous, dan arsenik trioksida dengan asam sulfat pekat.

Namun senyawa atau unsur arsenik elemental tidak bereaksi dengan air, alkali, atau asam yang tidak mengoksidasi. Arsenik bereaksi dengan logam membentuk arsenides, meskipun senyawa ini bukan senyawa ion yang mengandung ion As3−, karena pembentukan anion seperti itu akan sangat endotermik dan bahkan kelompok 1 arsenides memiliki sifat senyawa yang intermetalik.

Senyawa anorganik Arsenik

Salah satu senyawa arsenik yang paling sederhana adalah trihidrida, arsen piroforik yang sangat beracun, mudah terbakar, (AsH3). Senyawa ini umumnya dianggap stabil, karena pada suhu kamar hanya terdekomposisi secara perlahan. Namun pada suhu 250–300 ° C, proses dekomposisi menjadi arsenik dan hidrogen berlangsung cepat. Beberapa faktor seperti kelembaban, kehadiran cahaya dan katalis tertentu (yaitu aluminium) memfasilitasi laju dekomposisi senyawa ini. Senyawa AsH3 teroksidasi dengan mudah di udara, membentuk arsenik trioksida dan air, dan reaksi analog terjadi dengan sulfur dan selenium sebagai pengganti oksigen.

Arsenik oksida tidak berwarna, tidak berbau, oksida kristal As2O3 (“arsenik putih”) dan As2O5 yang bersifat higroskopis dan mudah larut dalam air membentuk larutan asam. Asam Arsen (V) adalah asam lemah dan garamnya disebut arsenat.

Arsenat adalah kontaminan arsenik yang paling umum ditemukan pada air tanah, dan masalah yang mempengaruhi banyak orang. Arsenat sintetik (buatan) termasuk Scheele Green (arsenat hidrogen tembaga, arsenat tembaga asam), kalsium arsenat, dan arsenat hidrogen timah. Ketiganya telah digunakan sebagai insektisida dan racun pertanian.

Ada banyak senyawa sulfur arsenik yang telah diketahui. Orpiment (As2S3) dan realgar (As4S4) agak melimpah dan dulunya digunakan sebagai pigmen lukisan.

Semua trihalida arsenik (III) dikenal baik kecuali astatide, yang tidak diketahui. Arsenic pentafluoride (AsF5) adalah satu-satunya pentahalide yang penting, yang mencerminkan stabilitas yang lebih rendah dari keadaan oksidasi +5.

Paduan Arsenik

Arsenik digunakan sebagai unsur kelompok 5 dalam semikonduktor III-V galium arsenide, indium arsenide, dan aluminium arsenide. Jumlah elektron valensi Gaas adalah sama dengan sepasang atom Si, tetapi struktur band benar-benar berbeda yang menghasilkan sifat curah yang berbeda. Paduan arsenik lainnya termasuk semikonduktor II-V cadmium arsenide.

Berbagai Penggunaan Arsenik

Toksisitas arsenik yang sangat kuat pada serangga, bakteri, dan jamur, menyebabkan zat ini dipakai sebagai pengawet kayu pada tahun 1930-an. Proses pengolahan kayu dengan kromatik arsenat tembaga (juga dikenal sebagai CCA atau Tanalith) ditemukan pada saat itu, dan selama beberapa dekade kemudian perawatan kayu masih mengandalkan arsenik, yang digunakan secara luas. Peningkatan apresiasi terhadap toksisitas arsenik menyebabkan larangan CCA dalam produk konsumen pada tahun 2004, diprakarsai oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat. Namun CCA tetap digunakan di beberapa negara lain, seperti di perkebunan karet Malaysia.

Arsenik juga digunakan dalam berbagai insektisida dan racun pertanian. Sebagai contoh, hydrogen timbal arsenate adalah insektisida umum yang digunakan pada pohon buah-buahan. Akan tetapi kontak dengan senyawa ini kadang-kadang mengakibatkan kerusakan otak pada para penyemprot. Pada paruh kedua abad ke-20, monosodium methyl arsenate (MSMA) dan disodium methyl arsenate (DSMA) – bentuk organik arsenik yang kurang beracun – menggantikan arsenat timbal dalam pertanian. Arsenik organik ini pun pada gilirannya dihapus juga pada tahun 2013 di semua kegiatan pertanian, kecuali pertanian kapas.

Biogeokimia arsenik bersifat kompleks dan mencakup berbagai proses adsorpsi dan desorpsi. Toksisitas arsenik terhubung ke kelarutannya dan dipengaruhi oleh pH. Arsenite (AsO3−3) lebih larut daripada arsenat (AsO3−4) dan lebih beracun; Namun, pada pH yang lebih rendah, arsenat menjadi lebih mobile dan beracun. Ditemukan bahwa penambahan sulfur, fosfor, dan oksida besi ke tanah dengan arsenit tinggi sangat mengurangi fitotoksisitas arsenik.

Arsenik digunakan sebagai aditif pakan pada unggas dan produksi babi, khususnya di AS, digunakan untuk meningkatkan berat badan, meningkatkan efisiensi pakan, dan mencegah penyakit. Contohnya adalah roxarsone, yang telah digunakan sebagai starter broiler oleh sekitar 70% dari petani broiler AS. The Poison-Free Poultry Act of 2009 mengusulkan untuk melarang penggunaan roxarone dalam produksi babi dan industri unggas. Alpharma, anak perusahaan Pfizer Inc., yang memproduksi roxarsone, secara sukarela menghentikan penjualan obat dalam menanggapi penelitian yang menunjukkan peningkatan kadar arsenik anorganik, karsinogen, pada ayam yang dirawat. Penerus Alpharma, Zoetis, terus menjual nitarsone, terutama untuk digunakan dalam kalkun.

Arsenik sengaja ditambahkan ke pakan ayam yang dibesarkan untuk konsumsi manusia. Senyawa arsen organik yang lebih beracun daripada arsen murni ini digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ayam. Dalam beberapa kondisi, arsenik dalam pakan ayam diubah menjadi bentuk anorganik beracun.

Penggunaan medis

Selama abad 18, 19, dan 20, sejumlah senyawa arsenik digunakan sebagai obat-obatan, termasuk arsphenamine (oleh Paul Ehrlich) dan arsenik trioksida (oleh Thomas Fowler). Arsfenamin serta neosalvarsan, diindikasikan untuk pengobatan sifilis dan tripanosomiasis, tetapi kemudian telah digantikan oleh antibiotik modern.

Arsenik trioksida telah digunakan dalam berbagai cara selama 500 tahun terakhir, paling sering digunakan dalam pengobatan kanker. Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS (FDA) pada tahun 2000 menyetujui senyawa ini untuk pengobatan pasien leukemia promyelocytic akut yang resistan terhadap semua asam trans retinoat.

Baru-baru ini, para peneliti telah menemukan tumor menggunakan arsenik-74 (emitor positron). Isotop ini menghasilkan gambar PET scan yang lebih jelas daripada agen radioaktif sebelumnya, yodium-124, karena tubuh cenderung mengangkut yodium ke kelenjar tiroid yang bisa menghasilkan gangguan sinyal.

Dalam dosis subtoksik, senyawa arsenik yang larut berfungsi sebagai stimulan, dan pernah populer dalam dosis kecil sebagai obat pada pertengahan abad ke-18 hingga 19.

Paduan Logam

Penggunaan utama arsenik adalah paduan dengan logam timbal. Komponen timbal dalam baterai mobil diperkuat oleh keberadaan persentase yang sangat kecil dari arsenik. Dezincifikasi kuningan (paduan tembaga-seng) sangat berkurang dengan penambahan arsenik. “Fosfor Tembaga Arsenik Fosfor” dengan kandungan arsenik 0,3% memiliki stabilitas korosi yang meningkat di lingkungan tertentu. Gallium arsenide adalah bahan semikonduktor penting, yang digunakan dalam sirkuit terpadu (IC). Sirkuit yang dibuat dari Gaas jauh lebih cepat, namun juga jauh lebih mahal daripada yang terbuat dari silikon. Tidak seperti silikon, Gaas memiliki celah pita langsung, dan dapat digunakan pada dioda laser dan LED untuk mengubah energi listrik langsung menjadi cahaya.

Cara Penggunaan Pupuk Urea yang Efisien

Pupuk urea adalah pupuk organik yang stabil, bisa menyuplai kebutuhan nitrogen untuk kebutuhan tanaman. Urea biasanya dijual dalam bentuk kering, granular. Ada beberapa manfaat penggunaan urea sebagai pupuk, tetapi pemakaian urea yang sembarangan bisa menyebabkan kerugian. Mengetahui cara mengaplikasikan pupuk urea ke tanah dan bagaimana urea berinteraksi dengan pupuk lain dapat membantu Anda menghindari kerugian ini, serta mendapatkan manfaat sebanyak mungkin dari penggunaan pupuk tersebut.

Berikut beberapa petunjuk pemakaian urea yang tepat :

1. Meminimalkan kehilangan amonia melalui pemberian urea pada cuaca yang teduh, suhu yang rendah. Pada suhu yang tinggi, konersi urea menjadi amoniak berlangsung relatif lebih cepat, sehingga urea banyak yang menguap ke udara. Urea paling baik diterapkan pada hari yang dingin, dalam cuaca di bawah 20 0 C, serta pada kondisi angin yang relatif tenang. Sayangnya, di Indonesia, suhu serendah tersebut sangat jarang ditemukan. Umumnya pertanian terletak di dataran rendah, dengan suhu antara 25 0C – 35 0C. Agar potensi kerugian akibat tingginya pemakaian urea yang tak sebanding dengan hasil yang diharapkan, maka pemberian urea pada tanaman sebaiknya dilakukan sesering mungkin, dengan dosis yang tepat. Pemberian urea pun sebaiknya dilakukan pada pagi hari, atau sore menjelang gelap.

2. Gunakan pupuk urea dengan inhibitor urease sebelum menanam. Urease adalah enzim yang memulai reaksi kimia yang mengubah urea menjadi kebutuhan nitrat tanaman. Menggunakan pupuk dengan inhibitor urease dapat memperlambat reaksi kimia, dan membantu mempertahankan urea di dalam tanah.

3. Gunakan urea setelah tanaman tumbuh. Menerapkan pupuk urea sebelum penanaman menyebabkan tingginya jumlah urea yang hilang sebelum tumbuhnya tanaman.

4. Sebarkan urea secara merata di seluruh tanah. Urea dikemas dan dijual dalam bentuk pelet atau butiran kecil yang padat. Sebarkan urea dengan penyebar pupuk atau taburkan pelet dengan tangan secara merata di tanah. Untuk sebagian besar tanaman, Anda harus menjaga agar urea tetap dekat dengan akar tanaman, atau dekat dengan tempat menanam benih.

5. Basahi tanah. Sebelum urea berubah menjadi nitrat yang dibutuhkan tanaman, pertama-tama urea berubah menjadi gas amoniak. Karena gas dapat dengan mudah keluar dari permukaan tanah, memberikan pupuk ketika tanah basah akan membantu memasukkan urea ke dalam tanah sebelum reaksi kimia dimulai. Dengan cara ini, lebih banyak amonia terperangkap di dalam tanah. Minimum setengah inci lapisan tanah harus basah untuk menyimpan sebanyak mungkin gas amoniak di dalam tanah. Anda bisa menyirami sendiri, berikan urea sebelum hujan, atau aplikasikan dalam waktu paling lambat 48 jam setelah hujan.

6. Masukkan urea ke dalam tanah. Mengolah sawah atau kebun adalah cara yang bagus untuk memasukkan pupuk urea ke dalam tanah sebelum gas amonia tersebut hilang. Garu, seret, atau cangkul bidang tanah untuk memasukkan urea ke lapisan bagian atas dari tanah.

7. Terapkan penggunaan urea ke biji jagung secara tidak langsung. Berikan urea ke jagung secara tidak langsung, dengan menyebarkan urea ke tanah minimal 2 inci (5 cm) dari tanaman jagung. Paparan langsung urea beracun bagi biji, dan sangat mengurangi hasil tanaman jagung.

8. Gabungkan urea dengan pupuk tambahan untuk menciptakan campuran pupuk yang stabil. Urea memberikan nitrogen pada tanaman, tetapi unsur lain seperti fosfor dan kalium juga penting untuk kesehatan tanaman. Pupuk yang bisa anda campur dengan aman bersama urea meliputi: Kalsium cyanamide, kalium sulfat, dan magnesium sulfat.

9. Cegah reaksi kimia yang tidak diinginkan dari merusak tanaman Anda. Beberapa pupuk akan bereaksi dengan urea baik untuk menciptakan reaksi kimia yang mudah menguap, atau untuk membuat campuran pupuk sama sekali tidak berguna. Jangan pernah menggabungkan urea dengan pupuk berikut: Kalsium Nitrat, Kalium atau ammonium nitrat, Superfosfat, Triple superphosphate

Berbagai Penggunaan Senyawa Kimia Urea

Urea (juga dikenal sebagai karbamid) adalah produk limbah dari banyak organisme hidup, dan merupakan komponen organik utama dari urin manusia dan hewan. Ini karena di ujung rantai reaksi kimia tubuh memecah asam amino membentuk protein. Asam amino dimetabolisme dan diubah dalam hati menjadi amonia, CO2, air, dan energi. Akan tetapi amonia beracun bagi sel, dan karenanya harus dikeluarkan dari tubuh. Makhluk air, seperti ikan, dapat membuang amonia langsung ke dalam air, tetapi hewan darat membutuhkan metode pembuangan lain. Jadi hati mengubah amonia menjadi senyawa tidak beracun, urea, yang kemudian dapat dengan aman diangkut dalam darah ke ginjal, di mana ia dikeluarkan bersama urin.

Urea adalah senyawa organik dengan rumus kimia CO (NH2) 2. Amida ini memiliki dua gugus -NH2 yang bergabung dengan gugus fungsi karbonil (C = O).

Urea memainkan peran penting dalam metabolisme senyawa yang mengandung nitrogen pada hewan dan manusia. Urea merupakan substansi yang mengandung nitrogen utama dalam urin mamalia. Senyawa ini tidak berwarna dan tak berbau, sangat larut dalam air, dan praktis tidak beracun (LD50 adalah 15 g / kg untuk tikus).

Urea larut dalam air, tidak bersifat asam atau basa. Tubuh menggunakannya dalam banyak proses, terutama ekskresi nitrogen. Hati membentuknya dengan menggabungkan dua molekul amonia (NH3) dengan molekul karbon dioksida (CO2) dalam siklus urea. Urea banyak digunakan sebagai pupuk untuk sumber nitrogen pada daun dari tanaman, dan merupakan bahan baku penting untuk beberapa industri kimia.

Urea ditemukan oleh Friedrich Wöhler pada tahun 1828. Bahwa urea dapat diproduksi dari bahan awal anorganik merupakan tonggak konseptual yang penting dalam ilmu kimia. Ini menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa zat yang sebelumnya hanya diketahui sebagai produk sampingan kehidupan dapat disintesis di laboratorium, tanpa bahan awal biologis, sehingga bertentangan dengan doktrin vitalisme yang dipegang secara luas.

Penggunaan Urea

Urea untuk Pertanian

Lebih dari 90% produksi urea dunia digunakan sebagai pupuk untuk sumber nitrogen pada tanaman. Urea memiliki kandungan nitrogen tertinggi dari semua pupuk nitrogen padat yang umum digunakan. Oleh karena itu, ia memiliki biaya transportasi terendah per unit nutrisi nitrogen.

Saat ditaburkan ke tanah, pupuk urea dengan cepat berubah menjadi bentuk amonium di tanah. Perubahan dipercepat melalui bantuan enzim urease yang dihasilkan oleh berbagai bakteri tanah. Di antara bakteri tanah yang diketahui membawa urease, beberapa bakteri pengoksidasi amonia (AOB), seperti spesies Nitrosomonas, juga dapat berasimilasi dengan karbon dioksida, dan menghasilkan energi dengan mengoksidasi amonia menjadi nitrit, proses yang disebut nitrifikasi. Bakteri pengoksidasi nitrit, terutama Nitrobacter, mengoksidasi nitrit menjadi nitrat, yang sangat mobile di tanah karena muatan negatifnya. Amonium dan nitrat mudah diserap oleh tanaman, dan merupakan sumber nitrogen yang dominan untuk pertumbuhan tanaman. Urea juga digunakan dalam banyak formulasi pupuk padat multi-komponen. Urea sangat larut dalam air dan karena itu juga sangat cocok untuk digunakan dalam larutan pupuk (dalam kombinasi dengan amonium nitrat), khususnya dalam pembentukan daun.

Urea buatan pabrik bisa tercemar oleh biuret, suatu senyawa yang terbentuk akibat penyimpangan reaksi kimia, dimana zat ini justru mengganggu pertumbuhan tanaman.

Urea untuk Industri kimia

Urea adalah bahan baku untuk pembuatan dua produk industri kimia: resin urea-formaldehida dan urea-melamin-formaldehida, yang digunakan sebagai pelapis kayu.

Urea sebagai Bahan Baku Pembuatan Peledak

Urea dapat digunakan sebagai bahan baku untuk menghasilkan urea nitrat, bahan peledak tinggi yang digunakan secara industri dan sebagai bagian dari beberapa alat peledak improvisasi.

Urea Untuk Mengurangi Emisi Sistem Pembakaran

Urea digunakan dalam reaksi SNCR dan SCR untuk mengurangi polutan NOx dalam gas buang dari sistem pembakaran Diesel, bahan bakar ganda, dan mesin gas alam tanpa bakar. Sistem BlueTec, misalnya, menyuntikkan larutan urea berbasis air ke dalam sistem pembuangan. Amonia yang dihasilkan oleh hidrolisis urea bereaksi dengan emisi oksida nitrogen dan diubah menjadi nitrogen dan air di dalam catalytic converter.

Penggunaan Laboratorium

Urea dalam konsentrasi hingga 10 M merupakan protein denaturant yang kuat karena mengganggu ikatan non-kovalen dalam protein. Properti ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kelarutan beberapa protein. Campuran urea dan kolin klorida digunakan sebagai pelarut eutektik yang dalam, sejenis cairan ionik.

Swasembada Garam, Apa Hubungannya dengan Panjang Pantai?

Selama puluhan tahun kita terjebak pada asumsi “garam hanya dibuat dari air laut”. Hal ini disebabkan memang sejak jaman penjajahan Belanda, garam yang beredar dihasilkan melalui proses penguapan air laut. Namun tahukah anda bahwa sebagian besar kebutuhan dunia dihasilkan melalui penambangan kristal garam?

Lebih 85% dari konsumsi garam dunia dihasilkan dari proses penambangan kristal garam, 10% dari proses kristalisasi air dari danau garam, dan kurang dari 5% saja yang diperoleh melalui proses evaporasi air laut. Produksi garam Indonesia termasuk di dalam 5% tersebut.

Sejarah Geologi Pembentukan Garam

Deposit-deposit garam yang ada sekarang umumnya berasal dari proses kristalisasi NaCl dari air laut sejak ratusan juta hingga jutaan tahun yang lalu. Pada perode awal pembentukan bumi, benua-benua yang ada saat ini umumnya masih menyatu, dengan pemisah berupa selat-selat sempit yang melalui bagian tengah benua. Celah-celah sempit tersebut terhubung ke danau-danau di tengah benua, yang menjadi pusat tampungan air laut yang masuk kedalamnya. Karena jumlah air yang masuk lebih banyak dari air yang keluar, dari danau-danau, pada akhirnya terbentuk kristal-kristal garam yang mengendap ke dasar danau.

Akibat evaporasi, sedimen garam terus-menerus selama jutaan tahun, membentuk daratan kristal garam yang sangat tebal (bisa mencapai tebal 10 km). Proses selanjutnya, material-material yang impermeable sejenis lumpur masuk ke bagian atas dari deposit garam, sehinnga menutupi deposit garam dari kemungkinan cair akibat air hujan atau aliran air dari pegunungan.

Proses selanjutnya, terjadi pemisahan benua akibat pergerakan lempeng masing-masing anak benua lama. Pemisahan benua ini turut serta membawa garam yang telah ada di masing-masing benua.

Proses-proses lanjutan juga masih terjadi terhadap deposit garam yang terbentuk. Adanya dorongan magma dari bawah membawa deposit garam naik ke bagian atas, sehingga membentuk gunung dan kubah garam (seperti di Salar de Uyuni, Bolivia).

Di sebagian tempat, garam mengalami pelelehan akibat pemanasan magma di bawahnya, membuat garam mencair pada suhu tinggi, dan mengalir mencari tempat yang lebih rendah. Kumpulan garam cair ini membentuk danau garam yang kering, seperti Salt lake di Amerika Serikat dan Australia.

Danau garam kering yang dialiri air hujan pada periode tertentu, membentuk danau garam air asin, seperti Laut mati (Laut Kaspia) di Asia Tengah.

Pegunungan garam banyak ditemukan di tengah-tengah benua Asia, Eropa, Amerika, Afrika, dan Australia. Negara-negara yang berada di tengah benua justru memiliki deposit garam yang jauh lebih besar dari negara-negara di pinggir benua.

Indonesia bukanlah bagian dari tengah benua Asia. Kepulauan kita baru muncul jutaan tahun setelah terjadinya pemisahan antar benua. Oleh karena itu kita tak mengandung deposit garam seperti negara-negara benua.

Video dibawah memperlihatkan proses penambangan dan transportsi garam di Kanada.

Proses-proses Produksi Garam

Di sebagian besar negara benua, garam diproduksi dengan cara penambangan. Kubah-kubah garam yang terbentuk jutaan tahun yang lalu umumnya memiliki luasan yang luar biasa, bisa mencapai ratusan km2, dengan kedalaman hingga 5 km.

Amerika Serikat, Kanada, negara-negara eropa, Australia, China, India dan beberapa negara Asia dan Afrika menghasilkan garam melalui proses penambangan. Beberapa negara yang memiliki danau asin dengan kandungan garam sangat tinggi, menghasilkan garam melalui “evaporasi air asin”. 

Garam yang dihasilkan melalui proses penambangan menjadi pemasok utama dari kebutuhan garam dunia. Garam tambang umumnya memiliki kemurnian yang tinggi, rata-rata memiliki kandungan NaCl antara 97% – 98%. Karena proses produksi tak memerlukan lahan yang luas, disamping harga yang murah, garam hasil tambang menjadi pemasok utama kebutuhan garam dunia.

Sebagai kepulauan baru yang tak memiliki deposit garam maupun danau air asin, Indonesia beserta negara-negara kepulauan lainnya menghasilkan garam melalui proses “evaporasi air laut”.

Mengapa Kita Sulit Untuk Swasembada Garam?

Dari penjelasan-penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pemenuhan garam dunia bukan melalui proses pembuatan garam melalui evaporasi air laut, akan tetapi sebagian besar melalui proses penambangan garam. Garam yang ditambang juga memiliki kualitas NaCl yang sangat tinggi.

Garam yang dihasilkan melalui proses evaporasi air laut umumnya hanya memiliki kandungan NaCl kurang dari 90%, dengan kadar air yang juga tinggi. Para petambak garam rakyat maupun tambak garam BUMN PT. Garam saat ini hanya mampu menghasilkan garam berkualitas rendah, dengan kuantitas yang juga tak mampu memenuhi kebutuhan garam nasional.

Kebutuhan garam nasional, seperti di negara-negara industri lainnya, lebih banyak digunakan untuk kebutuhan industri, khususnya sebagai bahan baku untuk industri kimia. Di Indonesia, 70% dari kebutuhan garam nasional digunakan untuk industri, sedangkan untuk makanan dan minuman hanya menghabiskan porsi 30% dari kebutuhan garam nasional.

Karena rendahnya kualitas dan lebih mahalnya biaya produksi, maka pemerintah harus mendatangkan garam dari luar sebagai bahan penolong untuk kebutuhan industri di dalam negeri.

Dari beberapa paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kaitan antara panjang pantai dengan jumlah produksi garam tak relevan untuk dijadikan sebagai dasar argumentasi. Karena nyatanya, negara-negara yang berada di dataran tinggi (seperti Turkmenistan) justru telah memiliki deposit garam yang sangat besar.

Apakah Masih Memungkinkan Indonesia Swasembada Garam?

Tambak garam yang ada saat ini masih menggunakan teknologi yang diperoleh dari jaman Belanda. Namun di negara-negara lain pun, teknologi pembuatan garam melalui penguapan air laut nyaris tak mengalami perkembangan yang signifikan. Oleh karena itu, wajar saja kondisi yang dialami oleh Indonesia saat ini.

Swasembada garam bisa dilakukan melalui pengembangan teknologi penguapan dan pemurnian air laut, salah satunya yang telah dilakukan oleh bestekin.com. Namun di lapangan, teknologi yang telah diterapkan oleh bestekin.com ternyata sulit untuk diterapkan oleh para petambak garam, yang notabene umumnya memiliki tingkat penguasaan teknis yang rendah.

Penerapan teknologi pembuatan garam bestekin hanya mungkin dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki kemampuan sumber daya manusia yang handal.

Persoalannya, pemerintah, sesuai dengan amanat undang-undang, wajib melindungi petambak garam dari tekanan-tekanan impor dan persaingan bebas harga dan kulaitas garam di pasaran.

Target swasembada saja tanpa memikirkan nasib petambak garam tentu telah menyalahi prinsip ekonomi kerakyatan. Artinya, swasembada garam bisa dilakukan, namun memerlukan waktu yang tidak cepat.

Layakkah garam Dipolitisasi?

Sebagai negara importir garam, Indonesia menghabiskan devisa yang kecil untuk memenuhi kebutuhan garam melalui impor. Tahun 2018 sekarang, pemerintah mengeluarkan ijin impor sebanyak 3,7 juta ton garam, dengan valuasi yang kurang dari Rp 3 Trilyun. Nilai ini sangat kecil dibandingkan PDB Indonesia, yang saat ini telah mencapai Rp 15.500 trilyun.

Meskipun memiliki nilai nominal yang kecil, namun garam digunakan sebagai bahan baku untuk industri pengolahan yang menyumbang lebih dari 20% PDB nasional. Oleh karena itu, kelangkaan garam akan sangat berbahaya bagi kelangsungan industri nasional.

Politisasi garam dengan semboyan “Harus Swasembada garam” adalah kekonyolan, mengingat rendahnya kontribusi usaha tambak garam terhadap PBD nasional. Hingga saat ini, jumlah pekerja di tambak garam juga sangat kecil dibanding jumlah pekerja di sub-sektor perikanan lainnya.

Pemerintah, sejak jaman reformasi, terus melakukan pembenahan di berbagai bidang usaha garam, dimana semua pembenahan tersebut lebih menbgarah pada perlindungan pekerja garam dan peningkatan kesejahteraan petambak garam.

Haruskah Indonesia Swasembada Pangan?

Suhu perpolitikan yang makin memanas menjelang Pilpres dan Pileg tahun depan banyak mengusung isu-isu tentang swasembada, khususnya pangan. Pada postingan ini, kita tak membahas isu swasembadea pangan ini dari sisi politik, namun lebih menekankan dari sisi kepentingan ekonomi rakyat.

Haruskah kita swasembada pangan ?

Swasembada memiliki pengertian mampu memenuhi kebutuhan melalui produksi. Swasembada beras memiliki pengertian mampu memenuhi kebutuhan beras nasional melalui produksi beras yang dilakukan di dalam negeri.

Pangan adalah kebutuhan utama seorang manusia untuk hidup sehat. Sektor pangan terdiri dari ratusan jenis bahan makanan, termasuk diantaranya beras, sayur-sayuran, susu, jagung, ikan, daging, gandum, kedelai, dan sebagainya.

Indonesia, sebagai negara kelautan, sejak puluhan tahun yang lalu telah swasembada ikan, sebagai salah satu produk pangan. Namun beras, jagung, kedelai, dan beberapa produk lainnya terkadang swasembada, namun di lain waktu mengalami kekurangan produksi. Sehingga untuk menutupi kekurangan tersebut, pemerintah harus menempuh jalan melalui impor terhadap item yang dibutuhkan.

Fungsi Ekonomi Sebagai Standar Kebutuhan Suatu Bangsa

Swasembada atau tidak seharusnya bukan persoalan yang sangat penting bagi keberlangsungan suatu bangsa. Kemakmuran suatu bangsa bukan hanya diukur dari kemampuan swasembada, namun diukur berdasarkan daya beli untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Artinya, sepanjang rakyat mampu membeli produk pangan dengan harga yang murah, impor pangan bukanlah persoalan.

Politisasi swasembada pangan yang selama ini diperdebatkan lebih banyak menempatkan rakyat sebagai objek, bukanlah subjek. Politik pangan haruslah menempatkan produsen pangan sebagai subjek, yang harus disejahterakan. Bukan produsen pangan yang dipaksa untuk swasembada, namun kesejahteraan produsen justru diabaikan.

Sejak merdeka, penopang utama ekonomi Indonesia berubah dari waktu ke waktu. Di jaman awal orde baru, penopang utama ekonomi nasional berasal dari migas. Pertumbuhan penduduk dan makin menurunnya hasil migas, menyebabkan bergesernya penopang ekonomi bangsa, ke sumber daya alam non migas. Di awal tahun 1990 an, penerimaan negara dari migas mulai mengalami penurunan yang signifikan. Pola perdagangan dan produksi pun bergeser ke pengolahan hasil hutan dan tanaman keras.

Memasuki reformasi, migas sudah bukan lagi menjadi andalan, namun telah menjadi beban secara nasional. Lifting minyak yang makin menurun seiring menurunnya deposit, menyebabkan Indonesia bergeser dari negara produsen menjadi negara konsumen minyak.

Di era reformasi, sektor usaha yang paling banyak menyumbang Pendapatan Domestik Bruto (PDB) bukan lagi berasal dari migas maupun pertanian, namun telah bergeser ke industri pengolahan dan manufaktur, yang menyumbang 20,27 % PDB nasional, diikuti oleh pertanian (meliputi perkebunan, kehutanan, pertanian, perikanan) yang menyumbang 13,26% PDB, perdagangan 13,12% PDB, dan seterusnya (data BI dan BPS Maret 2018).

Celakanya, sektor pertanian yang merupakan gabungan dari perikanan + peternakan + pertanian + perkebunan ini justru memiliki persentase tenaga kerja yang paling besar, yaitu sebesar 30,46 % dari jumlah pekerja Indonesia, atau sebanyak 38,70 juta orang. Sektor perdagangan di urutan ke-2, sebesar 18,53% atau sebanyak 23,55 juta orang, diikuti oleh industri pengolahan 14,11% atau 17,92 juta orang.

Dari data-data yang dikeluarkan oleh BPS di atas, terlihat bahwa, meskipun sektor pertanian memiliki jumlah tenaga kerja terbesar, namun justru menghasilkan PDB yang sangat kecil. Artinya, tingkat kesejahteraan para pekerja pertanian jauh dibawah pekerja di industri pengolahan. Padahal sebagian dari kebutuhan pertanian masih diimpor dari luar negeri. Apa jadinya jika program swasembada pertanian dipaksakan?! Bukankah justru akan menambah kesengsaraan para pekerja di sektor pertanian?!

Negara Makmur Tanpa Swasembada Pangan

Banyak negara-negara yang makmur tanpa harus swasembada pangan, salah satunya negara tetangga Singapura. Jepang mengandalkan sebagian besar dari kebutuhan pangannya melalui impor, termasuk beras. Namun impor bukan masalah yang berat, sepanjang bisa dipenuhi oleh pendapatan dari rakyat. Jepang merupakan negara yang mengandalkan manufaktur sebagai basis penyumbang PDB terbesar, demikian juga Korea Selatan, Taiwan, bahkan China sekalipun.

Pada dasarnya tak satu negara manapun yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan pangan melalui swasembada. Amerika memiliki pertanian kedelai dan gandum yang terluas di dunia. Namun Amerika juga mengimpor minyak dan CPO dari Indonesia, sebagai negara eksportir terbesar ke-1 ke Amerika. Produk ikan kita swasembada, dan banyak menghasilkan devisa ekspor ke berbagai negara.

Solusi Produktifitas dan Kenaikan Kesejahteraan Lebih Penting dari Target Swasembada Pangan

Kehidupan suatu negara tak mungkin bisa dipisahkan dari ekspor impor. Indonesia sebagai negara tropis, tentu tak mampu menghasilkan gandum dan kapas. Demikian juga kedelai yang tumbuh kurang baik di negara kita. Namun kita pun memiliki kelebihan pangan seperti ikan dan CPO yang terus menunjukkan pertumbuhan produksi makin pesat.

Jumlah penduduk yang makin besar dan luasan lahan pertanian yang makin berkurang makin menyulitkan untuk menargetkan swasembada pangan secepatnya. Kebijakan model apapun tak akan mampu membuat swasembada pangan utama dalam waktu 5 atau 10 tahun.

Penekanan produktifitas melalui sentuhan teknologi adalah cara yang paling mungkin untuk mencapai swasembada pangan. Naiknya produktifitas melalui implementasi teknologi akan langsung dirasakan oleh para pelaku sektor pertanian, berupa naiknya tingkat kesejahteraan. Dengan cara ini, dalam waktu jangka menengah dimungkinkan terjadinya swasembada bagi produk-produk pertanian yang memungkinkan tumbuh di Indonesia.

Bukan masalah besar impor beras dan jagung yang dilakukan pemerintah, sepanjang kita bisa menukarnya dari hasil sektor-sektor ekonomi lainnya. Yang terpenting adalah menaikkan kesejahteraan para pelaku di sektor pertanian.

PT. Garam Berencana Mengadopsi Teknologi Garam Bestekin

  1. Garam secara resmi telah mengikuti pelatihan Pengolahan Air Laut Metode Bestekin. Pelatihan yang diselenggarakan di Cirebon dan Indramayu, berlangsung selama 5 hari sejak tanggal 5 Februari sampai dengan 9 Februari 2018.

sesi pembekalan teori bestekin, pt.garam

Sebagai satu-satunya BUMN yang membidangi garam, PT. Garam sangat serius untuk terus melakukan inovasi dalam produksi. Inovasi yang dilakukan bertujuan agar hasil garam yang diperoleh bisa langsung masuk kategori industri, yang bisa langsung diserap industri-industri penggunanya.

Selama puluhan tahun Indonesia terus-menerus melakukan importasi garam, yang dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Harga yang murah, dan pengolahan lanjutan yang lebih mudah, membuat import garam menjadi pilihan utama.

Kendala mutu menjadi alasan perlunya dilakukan impor garam. Tahun ini saja, pemerintah melakukan impor garam sebanyak 3,7 juta ton. Naiknya kebutuhan garam industri disebabkan terus tumbuhnya industri yang menggunakan garam sebagai bahan baku maupun bahan penolong.

praktek lapangan pt. garamTahun ini PT. Garam berusaha untuk memproduksi garam berspesifikasi industri (NaCl > 97%), agar garam yang diproduksi mampu mensubtitusi garam impor. Untuk menaikkan konsentrasi NaCl dan volume produksi, dibutuhkan sentuhan sains dan teknologi terhadap proses produksi.

Teknologi pembuatan garam sistem bestekin mampu menaikkan kapasitas produksi hingga 30 kali lipat per tahun, dengan hasil NaCl di atas 97%. Sebagai gambaran, waktu penuaan air yang secara umum memerlukan hingga 40 hari, dengan sistem bestekin menjadi lebih cepat, hanya 6 jam.

Teknologi produksi yang saat ini masih diterapkan PT. Garam sebagian masih berasal dari jaman Belanda. Transisi sains dan teknologi pengolahan air laut yang diperkirakan berlangsung selama 3 tahun akan mampu menaikkan produktifitas hasil garam hingga 30 kali lipat dari kapasitas produksi mereka saat ini. PT. Garam memiliki lahan dengan luasan yang hampir mencapai 5000 Ha, tersebar di beberapa lokasi di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur.

Dengan penerapan teknologi bestekin, PT. Garam berencana meningkatkan volume produksi tanpa harus memperluas lahan. Tak seperti garam impor yang masih harus diproses pencucian terlebih dahulu, hasil garam metode bestekin dipastikan bisa langsung digunakan oleh industri pemakai.

Inovasi Sepeda Motor Sebagai Alat Transportasi Maritim

Transportasi berbiaya tinggi tak hanya menyangkut ketaktersediaan infrastruktur, namun juga disebabkan lemahnya inovasi sains dan teknologi anak bangsa. Indonesia terdiri dari ribuan pulau, yang sebagian besar diantaranya berupa pulau-pulau kecil, bahkan sebagian tak berpenghuni.

Contoh persoalan terjadi di sebagian besar dari kepulauan Maluku, dengan ratusan pulau-pulau kecil di dalamnya. Sebagian dari pulau hanya digunakan untuk perkebunan, atau tanaman keras. Persoalannya, minimnya infrastruktur jalan dan dermaga menyebabkan munculnya transportasi berbiaya tinggi.

 

Bayangkan, seseorang yang memanen kopra di suatu pulau sangat kecil, akan kesulitan membawa hasil ke pasar terdekat. Untuk menuju pulau kelapanya, yang bersangkutan harus menyeberang menggunakan perahu kecil atau boat, kemudian panen dan membawa hasilnya ke boat atau perahu secara manual, selanjutnya bersama perahu menyeberang menuju pulau yang menampung hasil panen. Saat telah sampai ke pulau tujuan, hasil panen harus dibongkar dari perahu, dipindahkan ke sarana transportasi darat, yang selanjutnya di bawa ke pasar tujuan. Banyaknya tahapan kegiatan inilah yang membuat biaya transportasi menjadi sangat tinggi.

Melihat kecil-kecilnya luasan beberapa pulau, maka pembangunan infrastruktur terlihat mungkin mubazir. Langkah yang tepat adalah pengembangan sarana transportasi alternatif, yang bisa dijadikan sebagai sarana transportasi multiguna di pulau-pulau tersebut.

Pemerintah tak mungkin membangun infrastruktur di pulau-pulau sangat kecil, bahkan di pulau-pulau tak berpenghuni. Disinilah perlunya inovasi teknologi, dalam rangka pengembangan sarana transportasi yang tepat dan murah. Pihak swasta atau yang sedang membuka usaha-usaha manufaktur baru harus melihat permasalahan ini sebagai peluang, bukan hambatan.

Tingkat penjualan sepeda motor di Indonesia adalah salah satu tertinggi di dunia. Namun pengembangan inovasi sepeda motor sebagai alternatif transportasi sungai dan maritim belum berkembang.

Pengembangan sarana trasportasi alternatif atau sarana transportasi khas, memiliki banyak manfaat sebagai berikut :

  • Inovasi teknologi bermanfaat bagi banyak hal, khususnya peningkatan kemajuan ekonomi lokal dan nasional.
  • Rancang bangun yang dilakukan akan membuka peluang industri manufaktur baru bagi anak bangsa, yang sekaligus memperkuat basis sains dan teknologi nasional.

Keberanian memulai sesuatu yang baru, khususnya berkaitan dengan sains dan teknologi, adalah salah satu keunggulan suatu bangsa, dalam hal sumber daya manusia pada bangsa tersebut. Kurangi konsumsi politik, perbanyak karya sains dan aplikasi teknologi.

Program Swasembada Garam, Harus Mulai dari Mana?

Oleh : M. Ja’far Sodikin

Hingga hari ini Indonesia masih keteteran dalam upaya memenuhi kebutuhan garam dalam negeri. Persoalan ini telah berlangsung selama puluhan tahun. Seolah-olah pemenuhan kebutuhan garam adalah beban, bukan merupakan peluang usaha yang menjanjikan.

Mengapa Kita Impor Garam?

Banyak pendapat yang simpang-siur tentang masalah garam ini. Ada yang berpendapat bahwa teknologi garam kita tertinggal dibanding negara-negara lain. Pendapat ini didasarkan bahwa nusantara memiliki garis pantai terpanjang ke-2 dunia, namun tetap mengimpor garam (sedangkan negara yang hampir tak punya pantai malah surplus garam). Pendapat ini umum dianut oleh sebagian besar masyarakat.

Bahwa sesungguhnya, garam yang beredar di pasaran dunia saat ini, 85% berasal dari penambangan, bukan melalui evaporasi. Artinya, 85% dari suplai garam dunia diperoleh dari penambangan batu garam, bukan pengolahan garam, alias menambang garam yang sudah jadi.

Sedangkan petambak garam kita menghasilkan garam melalui evaporasi air laut, melalui pengolahan.

China memproduksi garam melalui penambangan di gunung-gunung garam, demikian juga Amerika dan sebagian besar negara-negara benua lainnya. Tambang garam adalah deposit garam yang telah terbentuk secara geologi sejak jutaan tahun yang lalu, dimana konsentrasi terbesarnya berada di pusat-pusat benua. Sebagai bukti visual, adanya deposit garam di ketinggian 3000 m di Bolivia (Salar de Uyuna). Hampir 100% dari produksi garam Amerika didapatkan dari penambangan, sisanya berasal dari eksploitasi danau garam purba.

Proses alami yang terjadi selama ribuan tahun menyebabkan terbentuknya sedimen garam yang memiliki kadar NaCl tinggi, sebagai akibat dari tingginya panas bumi saat terjadinya proses kristalisasi garam.

Sayangnya, Indonesia tak memiliki deposit berupa tambang garam. Adapun sumber air asin akibat proses geologis hanya berupa danau-danau kecil, yang tak layak digarap secara ekonomis. Lantas apakah kita harus menyerah terhadap kenyataan yang ada?

Angka produksi garam dunia menurun dari tahun ke tahun, sedangkan permintaan naik di atas 4% per tahun, hingga tahun 2024. Penurunan produksi disebabkan mulai berkurangnya deposit-depoisit, dan makin naiknya tingkat kesulitan dalam penambangan. Keadaan ini menyebabkan naiknya harga garam dunia secara bertahap.

Pola-pola konvensional upaya swasembada garam yang cenderung merugikan petani

Pada tahun-tahun sebelumnya (selain tahun 2017), petani garam sering menjadi objek dalam persoalan yang menyangkut garam. Slogan swasembada tak sehebat kenyataan yang terjadi di lapangan. Di saat produksi berlimpah, harga garam petambak anjlok hingga Rp 50,- per kg, sedangkan harga garam industri di pasaran justru tetap stabil. Disparitas harga yang keterlaluan ini sebenarnya dipengaruhi oleh midle men, yang memanfaatkan penawaran tinggi (dari sisi petani) terhadap kualitas yang tak memadai. Akibatnya, pedagang perantara dan sebagian industri pemurnian garam lah yang banyak meraup keuntungan dari keberlimpahan produksi garam di tingkat petani.

Di awal-awal musim, harga garam di tingkat petani cenderung tinggi, akan tetapi pembelian dari pedagang perantara justru dikecilkan. Stok garam petani yang terus naik seiring makin naiknya produktifitas akibat cuaca kemarau, membuat harga garam mulai turun (penawaran naik, permintaan tetap). Pola ini berlanjut hingga masa panen raya, dimana harga garam jatuh tajam semurah-murahnya. Disaat yang sama, pedagang mulai melakukan pembelian besar-besaran, namun masih tetap menjaga permintaan, agar harga tetap murah di tingkat petani. Kejadian ini berulang-ulang terjadi setiap tahunnya (kecuali tahun 2017).

Korban Miras Oplosan yang Terus Bertambah

Miras oplosan terus menimbulkan korban baru, baik korban jiwa maupun cacat permanen. Pihak-pihak yang terkait harus mencari penyebab tingginya konsumsi miras oplosan. Senyawa kimia yang mematikan dari miras oplosan adalah methanol, yang jika masuk ke tubuh tersintesa menjadi senyawa baru asam format dan formalin . Alasan maraknya miras oplosan sesungguhnya bukan karena harganya yang lebih murah, karena sesungguhnya harga methanol (bahan miras oplosan) dan ethanol (bahan miras) hampir sama.

Miras oplosan sesungguhnya jelas-jelas racun yang mematikan. Sebagaimana telah dijelaskan pada artikel sebelumnya (link https://bestekin.com/2017/12/27/penyebab-fatal-mengkonsumsi-miras-oplosan/) meminum miras oplosan jelas-jelas memasukkan racun berupa asam format (asam semut) dan formalin ke dalam tubuh. Penambahan suplai oksigen via paru-paru malah mempercepat terjadinya sintesa asam format dan formalin.

Pengobatan yang tercepat adalah memasukkan sodium bikarbonat (NaHCO3) via oral, atau meminum ethanol (etil alkohol) / miras asli secara bertahap (melalui pengawasan dokter), dan jalan terbaik melalui cuci darah (hemodialisis). Memang pengobatan penderita terpapar miras oplosan cukup sulit dan tidak umum. Oleh karena itu pemerintah perlu menyosialisasikan bahaya jenis minuman ini (secara rinci) kepada khalayak umum, dan sosialisasi cara pengobatan ke sentra-sentra layanan kesehatan, mulai dari tingkat terbawah hingga ke atasnya.

Khusus penegak hukum, perlu kiranya dipikirkan (dan diterapkan) pemberian sanksi hukum yang paling berat kepada para pembuat dan pengedar minuman ini. Karena miras oplosan jelas-jelas racun, dan dibuat memang untuk meracuni orang-orang yang mengkonsumsinya, maka pengenaan KUHP pasal 340 kiranya sudah tepat untuk diterapkan.

Sianida adalah racun yang mematikan, namun tujuan pembuatannya sesungguhnya untuk keperluan industri kimia, pupuk, industri pengolahan emas, pembuatan perhiasan imitasi, industi baja, dan sebagainya. Kasus pembunuhan menggunakan sianida adalah penyalahgunaan dari senyawa kimia sianida. Sedangkan miras oplosan dibuat memang dikhususkan untuk meracuni orang yang mengkonsumsinya, jadi bukan hanya penyalahgunaan obat atau bahan kimia.

Berbekal dari penanganan kasus-kasus pembunuhan menggunakan racun yang banyak divonis menggunakan KUHP pasal 340, kiranya hal yang sama seharusnya bisa diterapkan pada para pembuat dan pengedar minuman yang mematikan ini. Pelajaran persidangan kasus kematian Mirna harusnya bisa digunakan untuk menjerat para pembuat dan pengedar cairan mematikan ini.

Peluang Usaha Industri Magnesium Nasional

Magnesium adalah unsur kimia yang sangat penting peranannya di dalam banyak bidang kehidupan. Namun hingga saat ini belum ditemukan adanya usaha atau industri yang memproduksi logam magnesium maupun senyawa-senyawa kimianya di dalam negeri. Padahal jika dilihat dari sisi bisnisnya, perdagangan dan volume penggunaan unsur kimia ini sangat tinggi, baik di pasar dunia maupun pasar lokal.

Magnesium merupakan mineral kedua terbesar di dalam air laut, terbesar ke-dua setelah natrium. Ketersediaannya yang melimpah sudah seharusnya mampu menarik minat bagi usaha-usaha atau investasi yang bergerak di sektor industri. Senyawa magnesium di dalam air laut bersifat deliquescence, yang menyebabkan lambatnya penguapan air. Pengolahan air laut untuk pembuatan garam kualitas tinggi mensyaratkan pemisahan ion magnesium sebagai pemisahan tingkat ke-2.

Limbah magnesium hidroksida yang diperoleh akibat pemurnian air garam sangat berniali ekonomis. Dari 600 m3 air laut, bisa diperoleh paling sedikit 1 ton senyawa magnesium hidroksida.

Teknologi ekstraksi magnesium dari air laut bukanlah teknologi yang rumit dan canggih, namun telah dilakukan oleh industri dari negara-negara lain sejak ratusan tahun yang lalu. Lantas mengapa hingga kini belum berkembang di dalam negeri?

Selama ini terlihat bahwa pengusaha lokal belum menunjukkan kinerja pada keikutsertaan dalam pembangunan industri nasional, khususnya industri kimia. Indikasi ini bisa dengan mudah dibuktikan, melalui kenyataan bahwa produk-produk kimia yang tersedia nyaris semuanya diperoleh melalui impor.

Dunia usaha nasional masih berkutat pada sektor-sektor dagang yang mengutamakan keamanan investasi. Adapun industri yang dibangun lebih kepada industri padat karya yang memanfaatkan upah buruh sebagai instrumen utamanya.

Magnesium adalah salah satu komponen komoditi yang luar biasa kandungannya di perairan nasional. Pemanfaatan magnesium dari perairan kita, tak hanya berguna untuk kemajuan pembangunan, namun turut menunjang dalam ketahanan nasional, khususnya dalam perlombaan kemajuan teknologi dunia.

Berdasarkan data yang dirilis oleh British Geological Survey dengan judul “ World Mineral Production 2011-2015” (https://www.bgs.ac.uk/downloads/start.cfm?id=3120)  halaman 45-46, tak ditemukan bahwa Indonesia telah memproduksi magnesia (MgO) dan senyawa magnesium lainnya. Pada data tersebut, China menempati produsen utama, dengan volume produksi 33.000.000 ton pada tahun 2015.

Sedangkan terhadap logam magnesium, Indonesia pun tidak membuat sama sekali, dimana lagi-lagi China menempati produsen utama sebesar 852.064 ton pada tahun 2015.

Harga berbagai senyawa magnesium dan logam magnesium jauh lebih mahal dibanding harga garam industri, sedangkan cara memproduksinya bukan merupakan hal yang sulit untuk dilakukan. Melihat masih belum adanya usaha produksi senyawa-senyawa magnesium nasional, dapat dikatakan bahwa peluang usaha sektor ini sangatlah menjanjikan.

Berbagai Kegunaan Magnesium Hidroksida

Magnesium hidroksida adalah senyawa anorganik dengan rumus kimia Mg (OH)2. Di alam senyawa ini dikenal sebagai mineral brucite. Magnbesium hidroksida berupa padatan putih dengan kelarutan rendah dalam air (Ksp = 5,61 × 10−12). Magnesium hidroksida adalah komponen antasida yang umum, seperti susu magnesia, serta obat pencahar.

Magnesium Hidroksida di Alam

Brucite adalah mineral Mg (OH)2 yang umum ditemukan di alam, dimana mineral ini juga terjadi pada mineral lempung dengan perbandingan 1: 2: 1, antara lain dalam klorit, di mana ia menempati posisi interlayer, yang biasanya diisi oleh kation monovalen dan divalen seperti Na +, K +, Mg2 + dan Ca2 +.

Brucite, di mana beberapa kation Mg2 + telah digantikan oleh kation Al3 +, menjadi bermuatan positif dan merupakan dasar utama dari hidroksida ganda berlapis (LDH). Mineral LDH sebagai hidrotalsit adalah anion sorben yang kuat, tetapi relatif jarang ditemukan di alam.

Brucite juga dapat mengkristal pada semen dan beton yang bersentuhan dengan air laut. Memang, kation Mg2 + adalah kation yang paling berlimpah urutan kedua di air laut, tepat di setelah Na + dan sebelum Ca2 +. Karena brucite adalah jenis mineral yang mengembang, maka mineral ini menyebabkan ekspansi volumetrik lokal yang bertanggung jawab untuk tegangan tarik pada beton. Mineral inilah yang bertanggungjawab pada pembentukan retakan dan celah dalam beton, yang mempercepat degradasi dalam air laut.

Untuk alasan yang sama, dolostone tidak dapat digunakan sebagai agregat konstruksi untuk membuat beton. Reaksi magnesium karbonat dengan hidroksida alkali bebas yang ada dalam air pori-pori semen juga mengarah pada pembentukan breksi yang luas.

MgCO3 + 2 NaOH → Mg (OH) 2 + Na2CO3

Reaksi ini, salah satu dari dua reaksi alkali-agregat utama (AAR) juga dikenal sebagai reaksi alkali-karbonat.

Pembuatan Mg(OH)2

Pembuatan magnesium hidroksida bisa dilakukan dengan mereaksikan larutan magnesium dengan ion hidroksil yang bisa berasal dari ion-ion hidroksil senyawa-senyawa alkali, alkali tanah, atau ammonium.

Mg2+ + 2 OH → Mg (OH)2

Reaksi di atas menghasilkan senyawa magnesium hidroksida Mg(OH)2 yang berupa endapan berwarna putih.

Pada skala komersial, Mg (OH)2 diproduksi dengan mereaksikan air laut dengan kapur (Ca (OH)2). 600 m3 air laut menghasilkan sekitar satu ton Mg (OH)2.

Mg2+ + Ca (OH)2  →Mg (OH)2 + Ca2+

Penggunaan Mg(OH)2

– Bahan baku untuk pembuatan MgO

Kebanyakan Mg (OH)2 diproduksi secara industri, serta sejumlah kecil saja yang ditambang. Mg(OH)2 diubah menjadi leburan magnesia (MgO). Magnesia sangat berharga karena merupakan konduktor listrik yang buruk dan konduktor termal yang sangat baik.

Apakah Air Limbah PLTU Layak Dijadikan Sebagai Air Baku Pembuatan Garam ?

Beberapa tahun belakangan beredar wacana penggunaan air limbah dari sistem pendingin PLTU (water cooling waste) sebagai air baku untuk tambak pembuatan garam. Mengingat makin banyaknya didirikan PLTU-PLTU baru di sepanjang pantai, dan naiknya konsumsi akan kebutuhan garam di dalam negeri, maka wacana ini perlu dipertimbangkan dan diperhitungkan.

Layakkah air limbah PLTU digunakan sebagai air baku proses pembuatan garam?

Mari kita lihat data-data yang berkaitan dengan penggunaan air pendingin (water cooling) pada pembangkit listrik tenaga batu bara. Mengacu pada link https://bestekin.com/2017/12/27/menjaga-kualitas-cooling-water-dalam-utilitas-industri/, dimana kebanyakan PLTU menggunakan sistem pendingin recirculating system, maka kebutuhan air pendingin bisa dihitung menggunakan data penggunaan air yang valid, seperti tabel di bawah ini :

Coal, once-through, subcritical, wet FGD0.52 litres/kWh
Coal, once-through, supercritical, wet FGD0.47 litres/kWh
Nuclear, once-through, subcritical0.52 litres/kWh
Coal, recirculating, subcritical, wet FGD1.75 litres/kWh
Coal, recirculating, supercritical, wet FGD1.96 litres/kWh
Nuclear, recirculating, subcritical2.36 litres/kWh

Sumber : http://www.world-nuclear.org/information-library/current-and-future-generation/cooling-power-plants.aspx

Jika diasumsikan bahwa suatu PLTU yang akan dimanfaatkan air limbahnya memiliki kapasitas listrik 500 MW (500 megawatt), atau 500.000 kW (500.000 kilowatt), maka kita bisa menghitung volume air yang digunakan oleh reaktor tersebut selama operasi 24 jam, sebagai berikut :

  • Asumsi penggunaan air per kWh = 1,96 liter/kWh (coal, recirculating, supercritical, wet FGD)
  • Energi listrik yang dihasilkan dalam 1 jam = 500.000 kWh
  • Energi listrik yang dihasilkan selama 24 jam = 24 x 500.000 kWh = 12.000.000 kWh
  • Total penggunaan air dalam 1 jam = 500.000 x 1,96 L = 980.000 L = 980 m3
  • Kebutuhan air pendingin untuk 24 jam = 24 x 980 m3 = 23.500 m3

Jika dalam proses pendinginan, suatu pembangkit PLTU menggunakan air laut sebagai air baku dengan salinitas rata-rata berskala Be 02, maka kita bisa menghitung potensi garam yang dihasilkan dari air limbah tersebut, sebagai berikut :

  • 1 m3 air Be 02 rata-rata memiliki kandungan mineral garam 30 kg.
  • Maka untuk 23.500 m3 air pendingin, mengandung potensi garam 23.500 x 30 kg = 705.000 kg garam (NaCl) = 705 ton NaCl per hari

Biasanya reaktor PLTU sering berada dekat dengan muara sungai, dan tak selalu menggunakan air laut sebagai air pendingin reaktornya. Jika air yang digunakan bukan air laut, maka perhitungan ideal di atas menjadi tak berlaku.

Bagaimana jika air pendingin yang dipakai memang menggunakan air laut ?!

Tentu saja air limbah bisa digunakan sebagai air baku pembuatan garam, sepanjang air limbah yang akan digunakan harus diproses treatment terlebih dahulu. Karena air limbah dari air pendingin PLTU umumnya mengandung sejumlah senyawa kimia tambahan yang digunakan untuk mencegah korosi reaktor, maka air limbahnya telah dipastikan mengandung sejumlah kontaminan yang berbahaya jika langsung dipakai sebagai air baku dalam proses penggaraman.

Beberapa kendala dalam pemakaian air limbah PLTU :

  1. Air limbah mengandung sejumlah kontaminan yang larut di dalamnya, sehingga tak layak jika langsung digunakan (tanpa proses pemurnian terlebih dahulu). Proses pemurnian membutuhkan biaya dan investasi yang harus dihitung sebagai satu kesatuan dalam HPP (Harga Pokok Produksi).
  2. Air limbah PLTU umumnya dibuang agak ke tengah dari pantai, sehingga kita mengalami kesulitan dalam transportasinya. Untuk melancarkan transportasi, dibutuhkan instalasi tambahan agar air bisa dialirkan ke darat. Ini pun membutuhkan investasi dan akan menaikkan komponen HPP.
  3. Lahan produksi garam harus berdekatan dengan lokasi PLTU, untuk mencegah tingginya biaya transportasi air limbah.
  4. Regulasi yang mengatur tentang air limbah yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain belum ada, sehingga diperlukan adanya studi kasus dan penyusunan AMDAL. Disamping itu, apakah regulasi mengijinkan penggunaan air limbah sebagai bahan baku air pembuatan garam?!
  5. Opini masyarakat. Bahwa penggunaan air limbah sebagai air baku belum tentu mendapat sambutan positif dari masyarakat pemakai garam. Meskipun telah dilakukan sejumlah treatment dan telah terbukti aman dikonsumsi, namun opini publik perlu diperhitungkan secara cermat.

Dari berbagai pemaparan di atas dapat dikatakan bahwa :

  • Secara volume, air pendingin reaktor PLTU bisa digunakan sebagai bahan baku proses pembuatan garam, dengan catatan harus terlebih dahulu dilakukan proses pemurnian dari limbah-limbah.
  • Banyaknya kendala yang dihadapi perlu dikaji jika ingin menggunakan limbah air pendingin PLTU sebagai bahan baku proses pembuatan garam. Kendala-kendala tersebut berhubungan dengan penambahan biaya produksi, peraturan-peratutan yang berlaku, serta opini publik yang bisa saja negatif.