Upaya Swasembada Garam Industri vs Realitas

Upaya menargetkan swasembada garam industri yang dilakukan oleh pemerintah pada tahun 2017 pasti sulit dilakukan. Hal ini di dasari oleh rendahnya penerapan teknologi dalam pengolahan garam yang dilakukan oleh penyuluh maupun para petani selama ini.

Dari tahun ke tahun, impor garam untuk keperluan industri dan farmasi terus meningkat, seiring tumbuhnya industri kimia dasar, industri farmasi, dan industri makanan dalam negeri.

Di tahun 2014, angka impor garam mencapai lebih dari 2 juta ton, dengan nilai yang melebihi Rp 2 trilyun.

Hingga saat ini, Indonesia belum menghasilkan garam yang memenuhi spesifikasi garam industri dan farmasi.

Jangankan untuk swasembada garam industri, bahkan untuk swasembada garam krosok pun kemungkinan tak mungkin terwujud.

Metode pembuatan garam yang dilakukan dengan hanya mengandalkan penguapan air laut sesungguhnya hanya menghasilkan garam bermutu rendah, dengan kandungan NaCl yang variatif antara 80%-90%.

Garam yang dihasilkan para petani garam masih jauh dibawah standar garam industri, yang mensyaratkan kandungan minimum NaCl 97%. Pengolahan garam yang dilakukan para petani, mengandalkan tanah sebagai “meja” bagi air laut yang sudah akan mengkristal.

Hasil garam yang diperoleh tentu saja kotor, bercampur dengan lumpur dan tanah. Di samping kotor, kristal garam yang diperoleh juga tidak hanya terdiri dari senyawa NaCl, melainkan masih mengandung ratusan senyawa dan usur kimia lainnya.

Penggunaan geo membrane sebagai alas pada proses penggaraman memang menghasilkan kristal garam yang relatif bersih dibandingkan garam yang diperoleh melalui penjemuran air kaya di atas tanah.

Akan tetapi kristal yang bersih ini bukan berarti menunjukkan kualitas garam yang telah memenuhi spesifikasi garam industri. Kandungan mineral pengotor pada air laut bervariasi di tiap areal perairan ; perairan di wilayah perkotaan dan industri, tentu tingkat pencemaran sudah sangat tinggi, sehingga kualitas garam yang dihasilkan pun tentu bermutu sangat rendah.

Di perairan yang bersih pun tidak memungkinkan memperoleh garam dengan kandungan NaCl 97%, jika hanya mengandalkan proses penguapan air laut.

Untuk lebih jelasnya, komposisi umum unsur dan senyawa kimia yang terdapat di air laut bisa dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1. Kandungan Unsur Kimia dalam Air Laut

Nama Unsur KimiaMassa Atomppm (part per million)
Hydrogen1.00797110.000
Oxygen15.9994883,000
Sodium Na22.989810,800
Chlorine Cl35.45319,400
Magnesium Mg24.3121,290
Sulfur S32.064904
Potassium K39.102392
Calcium Ca40.08411
Bromine Br79.90967.3
Helium He4.00260.0000072
Lithium Li6.9390.170
Beryllium Be9.01330.0000006
Boron B10.8114.450
Carbon C12.01128.0
Nitrogen N14.00715.5
Fluorine F18.99813
Neon Ne20.1830.00012
Aluminium Al26.9820.001
Silicon Si28.0862.9
Phosphorus P30.9740.088
Argon Ar39.9480.450
Scandium Sc44.956<0.000004
Titanium Ti47.900.001
Vanadium V50.9420.0019
Chromium Cr51.9960.0002
Manganese Mn54.9380.0004
Ferrum (Iron) Fe55.8470.0034
Cobalt Co58.9330.00039
Nickel Ni58.710.0066
Copper Cu63.540.0009
Zinc Zn65.370.005
Gallium Ga69.720.00003
Germanium Ge72.590.00006
Arsenic As74.9220.0026
Selenium Se78.960.0009
Krypton Kr83.800.00021
Rubidium Rb85.470.120
Strontium Sr87.628.1
Yttrium Y88.9050.000013
Zirconium Zr91.220.000026
Niobium Nb92.9060.000015
Molybdenum Mo0.095940.01
Ruthenium Ru101.070.0000007
Rhodium Rh102.905
Palladium Pd106.4
Argentum (silver) Ag107.8700.00028
Cadmium Cd112.40.00011
Indium In114.82
Stannum (tin) Sn118.690.00081
Antimony Sb121.750.00033
Tellurium Te127.6
Iodine I166.9040.064
Xenon Xe131.300.000047
Cesium Cs132.9050.0003
Barium Ba137.340.021
Lanthanum La138.910.0000029
Cerium Ce140.120.0000012
Praesodymium Pr140.9070.00000064
Neodymium Nd144.240.0000028
Samarium Sm150.350.00000045
Europium Eu151.960.0000013
Gadolinium Gd157.250.0000007
Terbium Tb158.9240.00000014
Dysprosium Dy162.500.00000091
Holmium Ho164.9300.00000022
Erbium Er167.260.00000087
Thulium Tm168.9340.00000017
Ytterbium Yb173.040.00000082
Lutetium Lu174.970.00000015
Hafnium Hf178.49<0.000008
Tantalum Ta180.948<0.0000025
Tungsten W183.85<0.000001
Rhenium Re186.20.0000084
Osmium Os190.2
Iridium Ir192.2
Platinum Pt195.09
Aurum (gold) Au196.9670.000011
Mercury Hg200.590.00015
Thallium Tl204.37
Lead Pb207.190.00003
Bismuth Bi208.9800.00002
Thorium Th232.040.0000004
Uranium U238.030.0033
Plutonimu Pu244
Sumber: Karl K Turekian: Oceans. 1968. Prentice-Hall

Di samping penguapan dan penggunaan geo membrane, proses pembuatan garam industri juga memerlukan proses pemisahan dan pemurnian mineral NaCl. Proses pemurnian NaCl harus dilakukan secara kimia, yang bertujuan untuk memisahkan unsur-unsur sebagai berikut :

  • Unsur – unsur logam berat, baik yang berbahaya maupun tidak
  • Unsur-unsur anion yang berbahaya, semacam sianida dan sulfat
  • Unsur-unsur alkali dan alkali tanah sebagai pengotor, dalam hal ini unsur kalium (K), magnesium (Mg), dan kalsium (Ca). Unsur-unsur alkali pengotor ini umumnya memiliki persentase antara 10%-20% dalam kandungan garam yang diperoleh dari hasil penjemuran.

Upaya swasembada garam industri harus didahului oleh kemampuan sains dan teknik dari para pemangku kebijakan. Dengan adanya kemampuan ini, aplikasi pembuatan garam industri menjadi mungkin untuk dimulai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *