Deret Volta

Deret volta atau deret elektrokimia adalah urutan logam-logam (termasuk hidrogen) yang didasarkan oleh kenaikan potensial elektroda standar nya. Deret volta yang umum dipakai sebagai berikut :

Li K Ba Sr Ca Na Mg Al Mn Zn Cr Fe Cd Co Ni Sn Pb H Sb Bi Cu Hg Ag Pt Au

Pada deret volta di atas, unsur logam yang memiliki potensial elektroda standar lebih kecil ditempatkan di bagian sebelah kiri, sedangkan logam yang memiliki potensial elektroda yang lebih besar ditempatkan di sebelah kanan.

Pada deret di atas, logam tembaga (Cu) memiliki potensial elektroda standar yang lebih besar dibanding logam bismuth (Bi), logam zinc (Zn) memiliki potensial elektroda yang lebih besar dari logam mangan (Mn), logam lithium (Li) memiliki potensial elektroda standar yang paling kecil, dan logam emas (Au) memiliki potensial elektroda standar terbesar.

Dari deret di atas, makin ke kiri kedudukan suatu logam, maka :

  • Logam tersebut makin reaktif (makin mudah melepas elektron)
  • Logam sebelah kiri merupakan reduktor yang makin kuat. Konsekwensi dari hal ini, maka logam yang makin ke kiri memiliki sifat yang makin mudah teroksidasi.
  • Logam sebelah kiri akan mereduksi ion logam sebelah kanannya, sebaliknya ion logam sebelah kanan akan mengoksidasi logam sebelah kirinya.

Hal sebaliknya terjadi jika ditinjau kedudukan logam yang makin ke kanan :

  • Logam sebelah kanan semakin kurang reaktif (makin sulit melepas elektron)
  • Logam sebelah kanan merupakan oksidator yang makin kuat (makin mudah tereduksi)

Contoh dari deret volta, reaksi kimia berikut ini :

CuSO4 (l)  +  Fe(s)  →  Cu (s)  +  FeSO4 (l)                  …………………….(1)

yang secara ion bisa ditulis

Cu2+  +  SO42-  +  Fe (s)  →  Cu (s)  +  Fe2+  +  SO42-

Dari reaksi di atas, logam besi (Fe) mereduksi kation logam tembaga yang memiliki muatan 2+ menjadi logamnya (Cu). Pada saat yang bersamaan, kation tembaga mengoksidasi logam besi menjadi kationnya (Fe2+). Dilihat dari deret volta, logam tembaga memiliki kedudukan jauh di sebelah kanan dari logam besi, dan logam besi memiliki kedudukan yang jauh lebih ke kiri daripada logam tembaga. Makin jauh jarak kedudukan logam dalam deret volta, makin cepat reaksi reduksi-oksidasi yang terjadi. Hal ini dapat kita bandingkan antara reaksi no. 1 dengan reaksi no.2 berikut ini :

CuSO4 (l)  +  Zn (s)  →  Cu (s)  +  ZnSO4 (l)         …………………………(2)

yang secara ion ditulis seperti berikut

Cu2+  +  SO42-  +  Zn (s)  →  Cu (s)  +  Zn2+  +  SO42-

Dari persamaan reaksi antara no.1 dan no.2, reaksi redoks no.2 berlangsung lebih cepat dibanding reaksi redoks no.1. Ini terjadi karena jarak antara tembaga dan logam zinc jauh lebih besar dibanding jarak antara logam tembaga dan logam besi.

Tinggalkan Balasan