Batuan Mineral Logam Sebagai Sumber Energi Pembangkit Listrik

Setelah melakukan riset panjang mengenai “batu sebagai bahan bakar”, tim bestekin.com saat ini melangkah lebih lanjut melalui penelitian pengembangan batu sebagai sumber energi PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap).

Seperti halnya bahan bakar fosil dan bahan bakar minyak nabati, batu juga merupakan bahan bakar yang memiliki kalori yang jauh lebih tinggi dibanding bahan bakar jenis lainnya. Dibanding bahan bakar fosil, kelebihan batuan mineral terletak pada beberapa hal berikut ini :

  • Ramah lingkungan, karena tak menghasilkan gas buang CO2 yang menyebabkan efek rumah kaca.
  • Dalam berat yang sama, energi yang dihasilkan lebih besar daripada yang dihasilkan bahan bakar jenis fosil
  • Bahan baku tersedia luas di hampir setiap pulau di Indonesia, dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada cadangan batubara nasional.
  • Memiliki hasil sampingan yang tinggi. Sebagai contoh, batuan jenis sulfida menghasilkan gas SO2 yang bisa menghasilkan produk lanjutan berupa aneka bahan kimia. SO2 bisa dikonversi menjadi larutan asam sulfat (H2SO4 / sulphuric acid), oleum (H2S2O7), dan gypsum (CaSO4). Meskipun beberapa industri dalam negeri telah mampu membuat asam sulfat dan gypsum, namun kita masih mengimpor sebagian dari bahan-bahan kimia tersebut, dan juga mengimpor belerang sebagai bahan bakunya.
  • Disamping gas belerang dioksida, batuan mineral logam juga memiliki kandungan puluhan jenis logam yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi (emas, perak, tembaga, platinum group metals, timah hitam, zinc, dan sebagainya). Ampas sisa batu yang terbakar mengandung aneka jenis logam tersebut, baik sebagai logam yang telah tereduksi dari sewnyawa nya, maupun oksida-oksida logam dan mineral tanah jarang.
  • Biaya investasi dan biaya produksi yang sangat murah. Tak seperti halnya batubara yang harus dibeli dan habis terbakar, batuan mineral logam memiliki nilai tambah yang sangat tinggi. Saat fase pembakaran dilakukan, sesungguhnya terjadi proses-proses kimia metalurgi, yang menghasilkan bahan-bahan kimia baru yang bernilai sangat ekonomis.

Penggunaan batuan mineral logam sebagai bahan bakar PLTU searah dan sejalan dengan misi pemerintah membangun pembangkit listrik 35.000 MW. PLTU berbahan bakar batuan mineral logam sangat tepat diterapkan di daerah-daerah pedalaman dan lokasi-lokasi yang berdekatan dengan wilayah penambangan mineral logam.

Hingga saat ini beberapa perusahaan penambangan mineral kelas dunia, perusahaan tambang nasional, perusahaan tambang swasta nasional, justru masih mengandalkan energi listrik yang disuplai dari PT. PLN. Kenyataan inilah yang turut memberatkan defisit listrik nasional.

Pada dasarnya, proses pelelehan batuan mineral logam yang dilakukan menggunakan udara merupakan proses desulfurisasi berbiaya murah dan bisa menghasilkan energi listrik berkapasitas besar, dimana proses ini justru merupakan tahap awal dari rangkaian proses pengolahan mineral logam.

Sejak diterbitkannya Peraturan Pemerintah No.1 Tahun 2014 yang melarang ekspor material mentah, dunia tambang nasional dihadapkan pada mahalnya biaya pembuatan smelter. Akibat singkat dari peraturan ini,  terjadi penurunan angka ekspor yang cukup tajam, sehingga ikut mempengaruhi penurunan penerimaan negara. Dengan adanya reaktor pembangkit listrik berbahan baku batuan mineral logam, tak hanya perusahaan tambang yang terbantu, namun masyarakat sekitar juga turut terbantu oleh berlimpahnya ketersediaan tenaga listrik.

Tinggalkan Balasan