Mengenang 1 Tahun Wafatnya Mirna (Yang Menyebabkan Seseorang di Pidana Bagian 2)

Dengan makin dekatnya waktu putusan dari Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Jakarta terhadap permohonan banding yang dilakukan oleh terdakwa Jessica, dan usia kematian Mirna yang sudah 1 tahun (tanggal 6 Januari), maka bestekin.com kembali mengulas dasar-dasar yang digunakan kuasa hukum terdakwa dalam melakukan pembelaan, dan dasar-dasar JPU dan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam membuat materi tuntutan dan putusan.

Sebagaimana yang diatur dalam KUHAP Pasal 184 ayat 1 huruf b, keterangan ahli merupakan satu dan 5 jenis alat bukti yang bisa menyebabkan seseorang didakwa dan dijatuhi hukuman pidana.

Dalam melakukan pembuktian, JPU dalam persidangan terdakwa Jessica menghadirkan sejumlah ahli agar salah satu syarat alat bukti “keterangan ahli” dalam KUHAP Pasal 184 terpenuhi. Terdakwa melalui penasehat hukumnya mencoba melakukan bantahan dengan cara yang juga menghadirkan saksi-saksi ahli yang relevan dengan keahlian yang dimiliki oleh saksi-saksi ahli dari JPU. Hakim sebagai penilai tentu menilai kebenaran dari keterangan saksi-saksi ahli tersebut. Jika sekiranya keterangan saksi ahli dari JPU tak bisa dimentahkan oleh keterangan saksi ahli dari pihak terdakwa, maka keterangan ahli tersebut menjadi bernilai sebagai satu dari minimal 2 alat bukti. Namun sebaliknya, jika keterangan ahli pihak terdakwa memiliki bobot kebenaran yang jauh lebih kuat, maka keterangan ahli dari pihak JPU bisa gugur, yang menyebabkan tak terpenuhinya alat bukti pasal 184 ayat 1 huruf b.

Dalam kasus ini, ternyata Majelis Hakim memutuskan hanya mempertimbangkan alat bukti yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum, yang dengan kata lain menganggap keterangan dari para ahli yang dihadirkan terdakwa tidak memiliki nilai pembuktian sama sekali.

Pada bagian ini bestekin.com mencoba menganalisa ketentuan pasal 184 ayat 1 huruf b, yang dijadikan dasar bagi Hakim dalam memutus perkara atas terdakwa Jessica Kumala Wongso, khususnya ditinjau dari sisi sains.

A. Dalam persidangan, dapat kita simpulkan dasar-dasar yang digunakan pihak terdakwa dalam melakukan pembelaan, antara lain sebagai berikut :

  • Hani minum kopi yang sama dengan yang diminum oleh Mirna, namun tak mati atau mengalami hal-hal yang berbahaya.
  • Tanda-tanda cherry-red sebagai penanda pada kulit orang yang keracunan sianida, tak terlihat pada kulit korban.
  • Warna permukaan lambung yang menghitam bukan menunjukkan adanya tanda keracunan sianida (yang seharusnya berwarna merah terang).
  • Temuan sisa sianida yang hanya sedikit di dalam lambung korban.
  • Tak ditemukannya sianida atau thiosianat pada sampel hati, empedu, dan urin korban.
  • Adanya temuan sianida dimungkinkan terjadi selama post-mortem. Bahkan ahli Dr. Djaja mengatakan bahwa sianida mungkin berasal dari cairan embalming (formalin).
  • BB 4 (Barang Bukti nomor 4) yang negatif terhadap sianida.

Ke halaman 2…

Tinggalkan Balasan