Mengenang 1 Tahun Wafatnya Mirna (Yang Menyebabkan Seseorang di Pidana Bagian 2)

  • Lethal dose sianida bukan diukur dari banyaknya kandungan sianida di lambung, melainkan dosis minimum sianida yang mematikan jika diminum. Sianida yang diminum tentu telah mengalami pengurangan selama proses propagasi, mulai dari rongga mulut, kerongkongan, hingga lambung korban. Sianida yang menempel di mulut bereaksi dengan udara (O2 dan CO2) dan cairan mulut korban (HCl) yang sebagian reaksinya berlangsung sebagai berikut :

2 NaCN (l)  +  O2 (g)  =====>   2 NaCNO (l)     ……..(iii)

Hasil reaksi (iii) selanjutnya menyebabkan terurainya CNO menjadi gas CO2 dan N2, yang keluar dari mulut korban.

NaOH yang selalu terkandung dalam NaCN bereaksi dengan CO2 yang berasal dari tenggorokan korban, proses pembusukan di mulut, dan reaksi (iii) sebagai berikut :

2 NaOH (l)  +  CO2 (g)   =====>  Na2CO3 (l)  +  H2O (aq) ……..(iv)

Sodium karbonat (Na2CO3) yang terbentuk pada reaksi (iv) menyebabkan turunnya pH di dalam mulut, sebagai konsekwensi terkonversinya NaOH (yang memiliki pH tinggi) menjadi Na2CO3 (memiliki pH 7). Akibat dari reaksi ini, cairan ludah yang mengandung HCl bereaksi dengan NaCN seperti berikut ini :

HCl (l)  +  NaCN (l)   ======>   HCN (g)  +  NaCl (l)   ……….(v)

HCN yang terbentuk kemudian keluar dari mulut korban, sehingga pada akhirnya ruang mulut korban tak menyisakan sedikit pun ion-ion sianida.

Reaksi (iii) hingga (v) hanya sebagian dari puluhan reaksi kimia yang terjadi di rongga mulut korban saat dan selama masuknya sianida ke rongga tersebut.

Hal yang sama juga terjadi di saluran kerongkongan dan lambung korban. Masuknya gas HCN ke dalam ruang paru (akibat dari menghirup HCN yang terbentuk) mempercepat interval kematian Mirna.

  • Embalming yang dilakukan oleh ahli Dr Djaja (secara terpisah) juga dilakukan di lambung dan usus korban. Ini dimaksudkan agar tak terjadi pembusukan pada bagian-bagian ini. Berbeda dengan embalming yang dimasukkan ke dalam jaringan darah, embalming terhadap lambung dan usus dilakukan dengan tanpa mengeluarkan isinya terlebih dahulu. Cairan formalin yang masuk ke lambung menyebabkan terjadinya reaksi (i), (ii), reaksi sintesa strecker, dan reaksi-reaksi sintesa kimia lainnya, dan reaksi-reaksi kimia lain, yang akhirnya menghilangkan identitas ikatan kovalen rangkap III ion sianida di lambung korban, yang sebenarnya menjadi acuan penyebab kematian Mirna. Hal mukjizat lah yang menyebabkan masih ditemukannya sedikit sianida di lambung korban.

d. Penyebab tak ditemukannya jejak sianida di hati, empedu, dan urin korban sebelumnya telah diulas oleh penulis di https://bestekin.com/2016/09/08/misteri-berkurangnya-kandungan-sianida-di-lambung-mirna/, dan https://bestekin.com/2016/09/17/kasus-sianida-mirna-efek-embalming-terhadap-hilangnya-jejak-sianida/.

e. Sianida tak terbentuk selama berlansungnya post-mortem pada jenazah manusia yang mati secara normal. Sebagaimana materi tuntutan jaksa pada kasus ini, sianida yang terbentuk adalah sianida yang ter-recovery dari senyawa sianida yang telah masuk sebelumnya. Recovery sianida juga biasa dilakukan pada proses pelindian batuan emas menggunakan sianida, dimana thiosianat yang terbentuk diubah menjadi CNO dan selanjutnya menjadi CN.

Jika ingin keterangannya dipakai dalam putusan Hakim, maka seharusnya keterangan ahli dari pihak terdakwa juga menjelaskan bagaimana terbentuknya sianida pada post-mortem. Tanpa penjelasan lanjutan menyebabkan keterangan sianida yang terbentuk selama post-mortem menjadi tak bernilai dan bersifat menutup-nutupi kebenaran penyebab kematian Mirna.

f. BB4 yang dipersoalkan oleh terdakwa adalah barang bukti yang diperoleh sebelum dimulainya investigasi oleh penyidik, sehingga bisa dikatakan bahwa BB4 sulit untuk dianggap sebagai barang bukti yang valid untuk diperdebatkan. Beberapa hal berikut bisa terjadi pada BB4 :

  • BB 4 diambil setelah kematian Mirna, dengan volume yang diperkirakan 0,1 ml. BB 4 berasal dari cairan ludah korban, dimana reaksi (iii) hingga (v) telah berlangsung sempurna sebelum diambilnya barang bukti ini. Jika pun BB 4 langsung diperiksa saat itu juga, maka kemungkinan menemukan adanya jejak sianida menjadi nihil, karena sampel diambil setelah lebih dari 1 jam sejak kematian Mirna.
  • BB 4 diperiksa setelah 4 hari sejak sampel diambil (bukan 70 menit setelah kematian korban). Faktor penguapan sisa-sisa sianida dan reaksi pembusukan (penguraian) selama periode 4 hari tak bisa dihindari terhadap sampel.
  • Kemungkinan tertukarnya sampel antara periode sebelum dan saat mulai dilakukannya penyelidikan (4 hari) menjadi mungkin.
  • Penguapan, penguraian, kecilnya volume, dan kemungkinan kesalahan sampel, menyebabkan nilai BB 4 menjadi hilang, sehingga menjadi tak layak untuk diperdebatkan.

Putusan atas banding yang dilakukan oleh terdakwa tinggal menunggu waktu. Di saat usia kematian Mirna yang telah menginjak 1 tahun, sangat selayaknyalah korban Almarhumah Wayan Mirna Salihin dan terdakwa Jessica memperoleh keadilan yang sejati.

Tinggalkan Balasan