Garam Bestekin, Solusi Swasembada Garam Nasional (1)

Garam bestekin adalah proses pembuatan garam industri menggunakan metode bestekin, dimana metode ini khas, karena mampu menghasilkan garam kualitas tinggin hanya dalam hitungan jam saja.

Persoalan rendahnya kuantitas dan kualitas hasil produksi garam yang masih berlangsung hingga saat ini, diharapkan mampu terselesaikan dengan mulai diterapkannya (dalam skala pilot project) teknologi pengolahan air laut menggunakan metode bestekin.

 Demplot hasil kerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam program swakelola yang dikelola oleh Subdirektorat Pemanfaatan Air Laut dan Biofarmakologi, yang merupakan salah satu dari unit kerja Direktorat Jasa Kelautan, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut, saat ini mulai dioperasikan oleh Koperasi Produsen Garam Rejeki Agung, Indramayu.

Dari luasan lahan + gudang sebesar 2500 m2, dipasang geomembrane untuk meja penggaraman seluas 1500 m2. Hasil ujicoba yang dilakukan dari tanggal 3 Desember – 7 Desember 2017 didapatkan data sebagai berikut :

Tabel 1.

Data Hasil Garam Pada Periode 3 Desember – 7 Desember 2017 (luasan lahan 1500 m2)

No Tanggal BE Air Indeks UV Cuaca Hasil Garam (Kg)
1. 03 Desember 14 08 Berawan 120 kg
2. 04 Desember 17 11 Panas sepanjang hari 700 kg
3. 05 Desember 14 09 Berawan, hujan di malam hari 350 kg
4. 06 Desember 09 10 Mendung, hujan di malam hari 300 kg
5. 07 Desember 12 09 Berawan, gerimis di malam hari 300 kg

Dari data di atas terlihat bahwa :

  • Hasil garam terbesar terjadi pada tanggal 4 Desember, dimana pada saat tersebut Bé air baku berskala 17, indeks UV 11 (ekstrim), dan cuaca panas sepanjang hari.
  • Cuaca mendung tetap mampu menghasilkan garam.
  • Hujan yang terjadi di sore dan malam hari tak mempengaruhi proses penggaraman. Nilai BE air garam, tingkat kemurnian larutan NaCl (cairan garam), indeks UV matahari, dan kecepatan angin, sangat menentukan kuantitas garam yang dihasilkan.
  • Hasil rerata per hari (saat tulisan ini dimuat berkategori musim hujan) dengan indeks UV yang rata-rata rendah sebesar 2,36 ton per hektar per hari.

Ke halaman 2

Tinggalkan Balasan