Garam Bestekin, Solusi Swasembada Garam Nasional (1)

  • Pada saat hujan di siang hari, proses penggaraman dihentikan. Air garam dipindahkan dari meja ke tandon pemurnian.
  • Panen garam bisa dilakukan tiap hari, karena proses pengkristalan garam hanya memakan waktu maksimum 5 jam (bahan baku BE minimal 8).
  • Proses penggaraman selalu menyesuaikan dengan prakiraan cuaca yang mendekati real time”. Penggunaan aplikasi cuaca yang dikombinasikan dengan “Rain Allert System” yang sedang dibangun, mampu membaca keadaan cuaca secara tepat. Dengan kombinasi ini, proses pembuatan garam di musim hujan sudah bukan menjadi kendala lagi. Proses produksi garam menggunakan “rain allert system” membuat jumlah hari produksi yang melebihi 300 hari per tahunnya.

Pada dasarnya bestekin.com telah melakukan beberapa penelitian mandiri untuk pembuatan garam bestekin, jauh sebelum dimulainya pembangunan demplot KKP. Riset-riset lapangan yang telah dilakukan sebagai berikut:

  • Penelitian skala mikro dilakukan pertama kali di lahan seluas 70 m2 pada periode Februari 2014 – April 2014. Hasil penelitian diperoleh angka panen yang kurang dari 1 to per hektar per hari.
  • Penelitian ke-2 dilakukan bulan Juni 2014-Agustus 2014, di Kecamatan Patrol, Indramayu. Lahan yang digunakan seluas kurang dari 10.000 m2. Penelitian ini menghasilkan data panan garam rata-rata 1,6 ton per hektar per hari. Kendala yang dihadapi adalah rob yang sering menggenangi lahan penggaraman.
  • Riset ke-3 dilakukan di Yogyakarta, periode Juni 2015-Juli 2015, pada luasan lahan 200 m2. Hasil rerata per hektar naik hingga melebihi 2 ton per hari.
  • Riset ke-4 dilakukan di Kabupaten Demak, selama bulan Juni-Agustus 2017. Pada periode ini bestekin.com mulai menerapkan kombinasi ilmu kimia-fisika dalam proses penggaraman. Perluasan permukaan air dilakukan menggunakan fog sprayer. Hasil riset diperoleh angka produksi garam 11 ton per hektar per hari.
  • Riset ke-5 dilakukan di desa Blendung Kabupaten Indramayu, periode Agustus-September 2017. Proses penuaan air dilakukan menggunakan material Asam poliakrilat yang merupakan “Strong Absorbent Polymer“. Tanpa penggunaan fog sprayer, hasil panen rata-rata diperkirakan hanya mencapai 4 ton per hektar per hari.

Dari beberapa penelitian dan kalkulasi bestekin.com memperoleh hasil sebagai berikut :

  • Proses penggaraman menjadi lebih cepat jika terlebih dahulu air baku dimurnikan.
  • Kuantitas hasil bergantung pada curah hujan tiap daerah, pola musim, intensitas cahaya, tekanan permukaan lahan, pengaruh rob, dan kecepatan angin.

Proses penggaraman yang dilakukan menggunakan metode bestekin tetap bisa dilakukan di musim hujan. Proses penggaraman hanya memakan waktu kurang dari 4 jam sejak air baku masuk ke meja garam.

Khusus untuk demplot yang sedang berjalan dengan KKP, diperoleh kesimpulan sementara sebagai berikut :

  • Lokasi yang berdekatan dengan muara sungai menyebabkan rendahnya kadar garam air laut yang digunakan sebagai bahan baku. Intensitas hujan yang tinggi saat ini menyebabkan turunnya kandungan garam dalam air laut, dimana kandungan air baku terbaik berada di posisi Be 2 atau 2,5, dan nilai Be terburuk di posisi 1 atau 1,5.
  • Belum terpasangnya semua peralatan utama, seperti pompa teflon, filter-filter penyaring, dan instrumen pengukur kecukupan reaksi kimia. Belum digunakannya pompa teflon menyebabkan kemungkinan ditemukannya sejumlah impurities Fe dan Al pada garam. Air yang belum difilter dengan baik memungkinkan adanya insoluble matter pada hasil garam, terutama senyawa CaSO4 dan CaCO3, sebagian kecil Mg(OH)2, dan material padat yang berasal dari kaki-kaki para pekerja. Deteksi terhadap kecukupan reaksi kimia yang masih menggunakan perkiraan manual menyebabkan kemungkinan ditemukannya sejumlah residu senyawa-senyawa yang harusnya tersementasi oleh reaksi.
  • Adanya banyak kebocoran pada plastik meja garam. Plastik LDPE yang digunakan sebaiknya memiliki ukuran tebal 0,5 mm. Tebal yang kurang memudahkan plastik mengalami kebocoran, baik yang terjadi saat pemasangan maupun saat panen.
  • Lambatnya pemasangan alat dan pekerjaan lahan disebabkan masih barunya teknologi yang digunakan, sehingga para pekerja belum memiliki pengetahuan yang cukup dalam pelaksanaan pekerjaan.

Selanjutnya…

Tinggalkan Balasan