Sifat dan Kegunaan Barium dan Berbagai Senyawa Kimianya

Deposit Mineral Barium di Indonesia

 Karena reaktifitas kimianya yang tinggi, maka di alam logam ini tak pernah ditemukan dalam bentuk unsur bebas. Jenis mineral yang paling sering ditemukan adalah batuan barit (barite ore / BaSO4), diikuti oleh witherite (BaCO3).  Kedua jenis mineral ini tak larut dalam air, sehingga keberadaannya aman bagi lingkungan sekitarnya.

Kandungan barium diperkirakan sekitar 0,0425% dari total kerak bumi. Barium juga ditemukan dalam air laut, dengan kandungan rata-rata sekitar 13 μg / L. Sumber deposit mineral barium di Indonesia (yang hingga kini belum dieksploitasi) ada di Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis, sebagian lainnya ada di beberapa pulau, seperti Kalimantan dan Sumatera.

Sifat Racun Garam-Garam Barium

Karena ketidakstabilan logam yang tinggi, maka data toksikologi unsur ini hanya tersedia untuk senyawa-senyawanya. Senyawa yang mampu larut dalam air bersifat racun. Dalam dosis rendah, ion Ba2+ bertindak sebagai stimulan otot, namun dalam dosis yang lebih tinggi akan menyerang sistem saraf, menyebabkan penyimpangan jantung, tremor, kelelahan, gelisah, sesak napas, dan kelumpuhan. Toksisitas ini mungkin disebabkan oleh ion Ba2+ yang memblokir saluran ion potassium, yang sangat penting untuk fungsi sebenarnya dari sistem saraf.

Barium dan senyawanya tidak bersifat karsinogenik dan tidak terakumulasi di dalam tubuh. Debu senyawa tak larut yang terhirup oleh paru-paru hanya menyebabkan kondisi sakit ringan, yang disebut dengan istilah baritosis.

Senyawa BaSO4 dan BaCO3 tidak bersifat racun, dan tidak diklasifikasikan sebagai barang berbahaya dalam peraturan transportasi.

BaCl2 bersama dengan senyawa barium larut lainnya bersifat sangat beracun. Sodium sulfat (Na2SO4) dan magnesium sulfat (MgSO4) merupakan penangkal potensial, karena reaksi dengan ion Ba2+ menghasilkan BaSO4 yang padat tak larut.

Barium Sebagai Pemurni Larutan Garam dalam Industri Pembuatan Garam Industri dan Farmasi

 Kemurnian suatu garam NaCl tak hanya diukur dari rendahnya kandungan kation-kation ikutan selain natrium, namun juga tergantung pada rendahnya kandungan anion selain klorin. Pada umumnya air laut mengandung ion sulfat yang cukup tinggi, ke-2 setelah ion natrium.

Adanya kandungan ion sulfat pada garam sangat mengganggu dalam sejumlah penerapan dan proses-proses dalam industri kimia. Ion sulfat yang berpasangan dengan ion kalsium dalam tubuh dan darah menghasilkan garam kalsium sulfat (CaSO4) yang menyebabkan terjadinya penyumbatan saluran darah.

Adanya garam NaCl yang bercampur dengan ion sulfat membuat ketidakmurnian garam, karena garam juga mengandung kemungkinan MgSO4 dan CaSO4 yang memiliki rasa hambar dan cenderung pahit. Rasa yang tak enak untuk konsumsi ini akan mempengaruhi cita rasa suatu produk makanan dan minuman, dimana hal ini menjadi kurang baik untuk digunakan pada industri makanan.

Adanya kandungan ion sulfat (meskipun hanya sedikit) sangat berdampak pada produk garam untuk kebutuhan farmasi. Garam farmasi digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan obat-obatan dan cairan infus. Cairan infus digunakan sebagai nutrisi yang dimasukkan langsung ke dalam darah pasien.

Alasan-alasan di atas menjadi penyebab perlunya eliminasi ion sulfat (SO42-) dari larutan jenuh garam NaCl. Senyawa BaSO4 memiliki tingkat kelarutan yang sangat kecil, yaitu hanya 2,85 g/m3. Tingkat kelarutan yang rendah dan tak terionisasinya larutan BaSO4 (yang terlarut) dalam larutan garam mengakibatkan sisa-sisa BaSO4 tak mempengaruhi kesehatan manusia yang mengkonsumsi.

Reaksi antara ion Ba2+ dengan ion sulfat dalam larutan garam sebagai berikut :

Ba2+  +  SO42-  →   BaSO4 (s).      …………………(iv)

Reaksi (iv) di atas harus memperhitungkan kesetimbangan antara sisa-sisa ion sulfat dan banyaknya ion Ba2+ yang dimasukkan ke dalam larutan garam. Dalam hal ini, pencampuran BaCl2 dalam larutan garam harus dilakukan menggunakan titrasi yang akurat. Yang paling dikhawatirkan adalah terjadinya kelebihan BaCl2, dimana hal ini berdampak fatal, yaitu keracunan bagi konsumen yang mengkonsumsi garam yang dihasilkan.

Oleh karena itu, proses pemurnian larutan NaCl menggunakan BaCl2 harus dilakukan oleh para analis yang memahami proses titrasi dengan sangat baik.

2 comments

Tinggalkan Balasan