Penampakan UFO sering dipublikasikan oleh para penggemar UFO di berbagai media.

Mungkinkah Manusia Tak Sendiri di Jagat Raya ?! Baru-baru ini The New York Times merilis berita dalam kolom politiknya, yang diberi judul “Glowing Auras and ‘Black Money’: The Pentagon’s Mysterious U.F.O. Program“.

Diterangkan bahwa Departemen Pertahanan Amerika Serikat telah menghabiskan anggaran USD 22 juta untuk program identifikasi ancaman pesawat angkasa luar.

Program ini bertujuan menyelidiki laporan tentang benda terbang yang tak dikenal.

Departemen Pertahanan Amerika Serikat sebelumnya tak pernah mau mengakui keberadaan program ini, yang dikatakan telah berakhir tahun 2012. Namun para pendukung program mengatakan, meskipun telah ditutup, namun program itu masih tetap berjalan. Program ini di danai atas permintaan Senator Demokrat Harry Reid, yang dimulai sejak tahun 2007.

Pejabat dalam program tersebut telah mempelajari video pertemuan antara objek yang tidak diketahui dan pesawat tempur Amerika Serikat, termasuk yang dirilis pada bulan Agustus dari sebuah benda oval keputihan seukuran pesawat komersial, yang dikejar oleh dua jet tempur Angkatan Laut F/A-18F dai kapal induk Nimitz di lepas pantai san Diego, tahun 2004.

Video pertemuan antara dua pesawat jet tempur dengan objek yang diperkirakan UFO bisa dilihat pada link berita The New York Times.

Pencarian tentang adanya kemungkinan kehidupan di luar bumi terus dilakukan oleh berbagai lembaga penelitian internasional. NASA, sejauh ini masih sebagai leader dalam penelitian angkasa luar.

Adanya potensi kehidupan di luar bumi terus diobservasi, baik menggunakan teleskop canggih, maupun dengan mengirim pesawat-pesawat penjelajah antariksa.

Penjelajahan planet Mars menunjukkan kemajuan yang pesat dengan berhasilnya pendaratan robot penjelajah darat “Curiosity Rover” di permukaan planet Mars.

Penemuan bakteri di luar angkasa

Belum lama ini ilmuwan Rusia yang merupakan kosmonot di ISS telah berhasil mendeteksi bakteri hidup “dari luar angkasa” dalam sampel yang dikumpulkan dari luar Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) selama berjalan di orbit rendah bumi.

Kosmonot yang bernama Anton Shkaplerov ini mengatakan kepada kantor berita milik Rusia “TASS”, bahwa ia telah menemukan bakteri hidup di luar ISS bagian Rusia. Penemuan terjadi setelah kapas yang digunakan untuk membersihakn bagian luar ISS diteliti. Hasilnya, ditemukan sekelompok bakteri yang tak ditemukan sebelumnya (saat pesawat dalam persiapan peluncuran dari Baikonur, Kazakhstan).

Kutipan pernyataan Shkaplerov dalam wawancara itu sebagai berikut:”Dan sekarang ternyata entah bagaimana, penyeka ini menunjukkan bakteri yang tidak hadir saat peluncuran modul ISS,”kata Shkaplerov kepada kantor berita Rusia TASS. “Artinya, mereka datang dari angkasa luar dan menetap di permukaan luar pesawat. Mereka sedang dipelajari sejauh ini, dan nampaknya tidak menimbulkan bahaya”.

Dengan penemuan ini, mungkinkah manusia tak sendiri di jagat raya ?!

Meskipun pihak NASA meragukan kemungkinan cemaran bakteri ini berasal dari luar bumi, namun paling tidak telah ada bukti baru bahwa bakteri mampu hidup lama di ruang hampa. Ini menunjukkan adanya kemungkinan berkeliarannya bakteri-bakteri di angkasa luar. Artinya, potensi kemungkinan adanya kehidupan di luar bumi mulai menunjukkan tanda-tanda yang positif.

Penemuan Berbagai Eksoplanet yang mirip dengan bumi

Melalui teleskop Keppler, NASA banyak menghasilkan penemuan ratusan eksoplanet yang mirip bumi, diantaranya puluhan memiliki potensi untuk didiami oleh manusia. Eksoplanet adalah planet-planet yang berada di luar sistem tata surya.

Eksplorasi angkasa luar yang terus-menerus dilakukan, bertujuan mengetahui banyak hal yang berhubungan dengan keberlangsungan hidup manusia dan bumi.

Mungkinkah hilangnya pesawat Malaysia MH 370 berkaitan dengan benda terbang asing (UFO) ?!

Misteri hilangnya pesawat komersial Malaysia Airlines MH 370 hingga kini belum terjelaskan, baik penyebab, lokasi jatuhnya pesawat, dan bangkai pesawatnya. Meski telah dilakukan pencarian di wilayah yang sangat luas, namun hingga kini belum ditemukan tanda-tanda jatuh dan bangkai pesawat tersebut.

Pada tanggal 8 Maret 2014, Maskapai MH 370 dengan total penumpang 239 orang, berangkat malam hari dari Kuala Lumpur. Tujuan penerbangan ke Beijing. Pesawat tersebut telah mencatat 7.525 take-off dan landing, serta 53.420 jam terbang saat melakukan perjalanan terakhirnya.

Boeing MH 370 terlihat untuk terakhir kalinya di radar militer pada pukul 2.14 pagi, dekat dengan selatan pulau Phuket di Selat Malaka.

Sebelum itu, pihak berwenang Malaysia mendengar kalimat terakhir dari pesawat uang mengucapkan “Selamat Malam Malaysia tiga tujuh nol”.

Setengah jam kemudian maskapai mulai kehilangan kontak dengan pesawat. Bukti dari radar militer menduga pesawat tersebut tiba-tiba berubah arah, menukik tajam ke atas bumi, dan selanjutnya hilang dari pengamatan radar.

Pencarian melibatkan puluhan pesawat dan kapal-kapal laut, membentang hingga hampir tiga juta mil persegi, yang merupakan 1,5 persen dari luas permukaan bumi.

Penyelidik Australia telah menyampaikan laporan akhir mereka tentang hilangnya penerbangan MH 370, dengan mengatakan bahwa ketidakmampuan menghasilkan kesimpulan merupakan tragedi besar dan hampir tak terbayangkan di era modern.

Operasi untuk menemukan MH370 dihentikan pada bulan Januari 2017, setelah berlangsung selama 1.046 hari, yang menyebabkan kemarahan di antara kerabat beberapa korban.

Penemuan Partikel Higgs Boson

Pada tahun 2012, lembaga penelitian ATLAS dan CMS mengumumkan keberhasilan pengamatan pada partikel baru, yang diberi nama “Higgs Boson”. Hasil penemuan mengatakan bahwa berat atom ditentukan oleh partikel Higgs Boson, dimana higgs boson adalah partikel pembentuk berat dari atom. Penemuan ini diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan dalam dunia fisika.

Persoalan gravitasi dan cara membuat antigravitasi menjadi mulai memungkinkan. Seperti yang terlihat oleh pesawat tempur F/A-18F, betapa cepatnya pergerakan benda asing yang dikejar. Dengan penemuan partikel ini diharapkan manusia mampu membuat suatu wahana jelajah antariksa yang mampu bergerak sangat cepat.

Pada akhirnya, kita berkesimpulan bahwa penelitian antariksa sangat dibutuhkan, terutama untuk keberlangsungan kehidupan manusia. Melalui penelitiaj antariksa, sedikitnya diperoleh manfaat seperti “mengatasi potensi serangan asteroid-asteroid yang bisa membahayakan bumi dan kehidupan di dalamnya”.