Pengolahan Air Laut, Wujud Masa Depan Industri Kimia Nasional

Tabel 2. 20 Top Negara-negara Eksportir Garam

Ranking Negara Nilai Ekspor garam tahun 2015 (USD)
1 Netherlands $277,913,000
2 Germany $205,826,000
3 Chile $189,179,000
4 Canada $170,906,000
5 Mexico $154,741,000
6 United States $148,313,000
7 India $129,097,000
8 Belgium $79,767,000
9 China $75,523,000
10 France $73,443,000
11 Spain $65,751,000
12 Belarus $59,500,000
13 United Kingdom $59,417,000
14 Austria $58,059,000
15 Denmark $48,330,000
16 Egypt $43,153,000
17 Italy $42,703,000
18 Tunisia $41,215,000
19 Ukraine $36,163,000
20 Poland $33,075,000

Tabel 2 menampilkan 20 teratas negara-negara eksportir garam dunia. Pada tabel ini, Belanda justru menempati rangking 1 dunia dalam hal negara eksportir garam terbesar, dengan nilai ekspor sebesar US$277,913,000 (Rp 3 trilyun). Sebagai produsen garam terbesar, China ternyata hanya menduduki rangking 9 sebagai negara pengekspor garam. Ini terjadi disebabkan China lebih banyak menggunakan garam sebagai bahan baku industri-industri kimia mereka. Australia sebagai negara langganan pengekspor garam ke RI, tak termasuk dalam 20 besar negara-negara eksportir garam.

Dari tabel2, jika dijumlahkan, maka nilai ekspor garam dari 20 negara tersebut mencapai US$ 1.992.074.000, atau hampir mencapai 2 milyar dollar Amerika Serikat. Jika dikonversi ke rupiah, nilai ini menjadi Rp 27 trilyun. Nilai besar ini menunjukkan bahwa garam bukanlah hanya komoditi pangan untuk kebutuhan domestik, namun juga merupakan produk komoditi yang memegang peranan penting.

Total produksi garam dunia mencapai puncak di tahun 2011, selanjutnya menurun hingga tahun 2016. Penurunan ini disebabkan adanya pengaruh signifikan dari mulai habisnya deposit-deposit garam dari area pertambangan. Penurunan juga disebabkan anomali iklim dan cuaca, yang berimbas pada ketidakpastian produksi garam evaporasi. Pada tahun 2011, total produksi garam dunia sebesar 286 juta ton, turun pada 2012 menjadi 280 juta ton, dan tahun 2016 menjadi hanya 255 juta ton. Tren turunnya produksi garam justru bertolak belakang dengan naiknya permintaan dunia. Pada masa mendatang, diperkirakan akan terus terjadi kenaikan harga garam dunia. (1)

Komoditas Ikutan 13 Senyawa Kimia dalam Air Laut

 Pengolahan air laut tak hanya menghasilkan garam, namun juga belasan produk-produk senyawa kimia lainnya. Produk selain garam juga memiliki nilai jual yang lebih menarik, dan pangsa pasar internasional yang sangat besar. Magnesium dalam segala variannya (Mg elementer, MgO, Mg(OH)2, MgCl2, MgSO4) memiliki pangsa pasar yang berlimpah. Dari segi ekonomi, nilai perdagangan magnesium dunia justru melampaui nilai perdagangan garam.

Sistem produksi garam bestekin (lebih tepatnya sistem pengolahan air laut metoda bestekin) menghasilkan belasan produk utama, dimana garam adalah salah satu darinya. Melihat besarnya potensi ekonomi dari pengolahan air laut, layak kiranya jika slogan “swasembada garam” yang telah dicanangkan oleh pemerintah, diperluas menjadi “swasembada mineral-mineral essensial”. Dengan panjang pantai no.2 dunia, kiranya Indonesia bisa memanfaatkan potensi ekonomi dari pengolahan air laut.

Swasembada Garam Sebagai Syarat Utama Majunya Industri Kimia Nasional

Garam dan senyawa-senyawa kimia hasil pengolahan air laut merupakan bahan baku utama untuk ribuan produk industri kimia lainnya. Harga garam bekualitas yang bisa diperoleh dengan murah tentulah akan mengundang masuknya ribuan investasi di bidang industri kimia. Industri klor-alkali merupakan industri yang paling banyak menggunakan garam sebagai bahan baku. Soda api, HCl, NaOCl, dan H2O2 merupakan hasil utama dari industri klor-alkali, yang diperoleh dari hasil elektrolisa garam.

Pasar soda kaustik global diperkirakan mencapai USD 46,31 miliar (Rp 625 Trilyun) pada tahun 2024 (menurut sebuah laporan baru dari Grand View Research, Inc). Meningkatnya permintaan berbagai industri tekstil, pulp & kertas, bahan kimia organik, industri aluminium, dan lain-lainya, diharapkan dapat memperkuat pertumbuhan pasar. Meningkatnya permintaan alumina di industri otomotif terutama di Asia Pasifik, dinilai dapat merangsang pertumbuhan pasar.

Harga jual yang berfluktuasi karena konsumsi energi yang tinggi dan tingkat produksi yang tak merata cenderung membatasi pertumbuhan pasar. Produksi klor juga diharapkan dapat mempengaruhi harga pasar soda kaustik.

Pembuatan bahan kimia organik muncul sebagai segmen aplikasi terdepan dan menyumbang 16,3% dari total volume pasar soda api tahun 2015. Karena permintaan serat buatan yang terus meningkat, industri tekstil diperkirakan akan muncul sebagai segmen aplikasi dengan pertumbuhan tercepat sebesar CAGR 4,4% (Compound annual growth rate) dari tahun 2016 sampai 2024. Tekstil diperkirakan akan muncul sebagai pemakai soda api terdepan, yang melebihi pemakaian untuk pembuatan bahan kimia organik lainnya, selama periode yang diperkirakan.

Permintaan pasar soda kaustik global mencapai 74,57 juta ton pada tahun 2015 dan diperkirakan akan mencapai 99,30 juta ton pada tahun 2024, tumbuh pada CAGR sebesar 3,2% dari tahun 2016 sampai 2024. (2)

Pada tahun 2014, A.S dan China merupakan pemasok utama soda api global, dengan pangsa gabungan 60,3% dari ekspor global. China mendominasi produksi soda kaustik global, dan menempati posisi kedua dalam perdagangan global. Pada tahun 2014, China mengekspor 6,2% dari total hasil soda kaustiknya. Dari jumlah ini, 36% dipasok ke Australia, dimana soda kaustik China menguasai 17% pangsa pasar impor soda api Australia.(3)

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan industri kimia sangat bergantung pada harga bahan baku yang murah dan selalu tersedia. Swasembada garam berarti membuat harga garam menjadi lebih ekonomis, dan secara langsung akan menumbuhkan industri-industri kimia turunan.

(1.) https://www.statista.com/statistics/237162/worldwide-salt-production/

(2).  https://www.grandviewresearch.com/press-release/global-caustic-soda-market

(3).  http://www.indexbox.co.uk/news/The-US-and-China-in-Control-of-Global-Caustic-Soda-Exports/

Tinggalkan Balasan