Pelatihan Pembuatan Garam Bestekin, Subdit Pemanfaatan Air Laut dan Biofarmakologi, KKP (Bagian 2)

Pelatihan Pembuatan Garam Bestekin, Subdit Pemanfaatan Air Laut dan Biofarmakologi, KKP (Bagian 2)

Pelatihan pembuatan garam bestekin (yang lebih tepat disebut sebagai “Pelatihan Pengolahan Air Laut”), hari pertama diisi oleh teori-teori yang berhubungan dengan proses pengolahan air laut, dimana garam (NaCl) merupakan salah satu dari 14 produk yang bisa dihasilkan.

meja penggaraman bestekin

 

Pada hari pertama, peserta banyak menanyakan perbandingan antara pembuatan garam sistem ulir, garam prisma (pembuatan garam diberi atap), dan garam metode bestekin. Sistem ulir telah digunakan cukup lama, sedangkan garam prisma (atap plastik atau limas plastik) telah diujicobakan selama 2 tahun.

Beberapa peserta menanyakan mengapa garam prisma atau limas kurang berhasil, apakah sama dengan garam bestekin?!

Dalam penjelasannya, para tutor dari bestekin.com menjelaskan bahwa aliran angin, tekanan, dan indeks bias sangat mempengaruhi proses penguapan. Aliran dan arah angin terjadi akibat adanya perbedaan tekanan udara, dimana arah angin bersifat acak (bisa vertikal, horizontal, dan miring). Pembuatan terowongan angin seperti memastikan bahwa arah angin akan selalu melalui terowongan, suatu pendapat yang sangat keliru.

Lahan penggaraman yang ditutup plastik melanggar kaidah tekanan sebagai fungsi dari penguapan. Wadah penggaraman yang ditutupi akan menaikkan tekanan relatif, sehingga laju penguapan menjadi lambat. Bayangan akan efek rumah kaca di dalam ruang juga merupakan pendapat yang keliru.

Tutup atas yang difungsikan agar melindungi lahan jika terjadi hujan juga bertentangan dengan mekanisme penerusan cahaya matahari. Lapisan plastik bening yang menutupi bagian atas dari lahan garam justru menghalangi sebagian cahaya matahari yang akan masuk. Plastik memiliki indeks bias dan daya pantul cahaya, sehingga cahaya yang masuk sebagian ter-refleksi kembali ke atmosfir, sebagian lainnya terserap oleh lapisan plastik, yang sebagian besar dari panas plastik justru tertiup angin yang lewat di atasnya. Panas yang masuk mengakibatkan naiknya kelembaban ruang di dalam prisma, yang menimbulkan kejenihan dari uap air. Penguapan air pada sistem ini justru memerlukan energi yang jauh lebih besar, dengan tingkat keberhasilan yang rendah.

praktek pemisahan dan pemurnian air laut skala mini

 

Penggunaan atap plastik hitam merupakan cara yang makin salah, karena sebagian besar photon yang terkena atap akan diubah menjadi panas, yang sebagian diantaranya justru terbawa oleh angin yang mengalir di atas atap. Adapun sisa photon yang lolos sudah jauh berkurang dari sebelumnya. Hal-hal inilah yang mengakibatkan gagalnya sistem prisma dan limas.

Di hari ke-2 pelatihan, materi pelatihan dititikberatkan pada praktek, dimana sesi ini merupakan penjelasan dari teori-teori yang telah diberikan pada hari pertama.

Peserta dibimbing untuk proses pemurnian air baku (air laut dengan Be 2) menggunakan bahan-bahan kimia yang dibutuhkan.

Bagaimana cara mengendapkan berbagai padatan, senyawa-senyawa logam berat, dan koagulasi dan flokulasi dari berbagai padatan halus.

Pada hari ke-2, proses pemisahan dan pemurnian berbagai senyawa dalam air baku menghasilkan endapan magnesium sebagai produk awal, gypsum sebagai endapan ke-2, dan larutan garam yang mengandung NaCl dan KCl.

Proses selanjutnya urutan-urutan pembuatan garam menggunakan sirkulasi pengkabutan air di meja garam, dan bagaimana mekanisme panen. Peserta juga diajarkan bagaimana cara mengatasi hujan yang terjadi di sela-sela proses penggaraman, dan bagaimana memurnikan larutan garam yang mengalami kenaikan Be di atas 22.

Pada proses penggaraman juga diperoleh kristal KCl dalam waktu yang terpisah. Bahwa pemisahan KCl dari NaCl menggunakan prinsip kelarutan maksimum terhadap suhu larutan.

Tinggalkan Balasan