Penyebab Fatal Mengkonsumsi Miras Oplosan

Methanol mudah diserap oleh semua jaringan dan didistribusikan ke dalam cairan tubuh (volume distribusi 0,6 L / kg), dan dimetabolisme secara ekstensif (terutama melalui hati), namun sebagian kecil dikeluarkan dari paru-paru dan ginjal. Ekskresi metanol relatif lambat (kira-kira 24 jam) dan terutama diekskresikan sebagai asam format dalam urin.

Penghilangan metanol sebagai asam format terjadi terutama melalui ekskresi urin. Pada konsentrasi tinggi, eliminasi metanol menjadi jenuh dan tak signifikan, dengan laju kira-kira 85 mg / L, yaitu sekitar setengah dari laju eliminasi etanol. Ekskresi asam formiat maksimum mungkin terjadi pada hari ke 2 atau ke-3 setelah konsumsi. Sejumlah kecil metanol yang diekskresikan tidak berubah di paru-paru dan ginjal (2% dari dosis 50 mg / kg). Konsentrasi metanol dalam urin mungkin 20-30% lebih tinggi dari pada darah. Lambatnya ekskresi methanol menyebabkan orang yang sakit karena minum miras oplosan mungkin tak langsung tewas, namun bisa saja setelah 2 atau 3 hari kemudian.

Penggunaan metanol sebagai minuman beralkohol telah menyebabkan cacat parah dan hilangnya nyawa manusia. Setelah menelan atau menghirup, metanol awalnya memiliki efek narkotika yang diikuti oleh periode asimtomatik sekitar 10-15 jam. Gejala awal keracunan metanol (minum 1-4 ons) dapat tertunda selama 10-15 jam saat tubuh sedang memetabolisme metanol untuk diubah menjadi formalin dan asam format.

Tahap selanjutnya tubuh mengalami kelemahan, pusing, sakit kepala, mual muntah, dan penglihatan kabur. Pada kasus-kasus yang parah akibat sengaja minum metanol melalui miras oplosan, keracunan metanol dapat menyebabkan kebutaan atau kematian permanen.

Perawatan Korban Miras Oplosan

Ada beberapa jenis perawatan yang tersedia untuk menangani keracunan metanol, termasuk perawatan dini dengan sodium bicarbonate untuk membantu mencegah gangguan penglihatan. Dalam penanganan rumah sakit, hemodialisis (cuci darah) adalah tindakan paling efektif dalam menghilangkan metanol, formalin, dan asam format dari darah.

Asupan etanol secara bertahap telah terbukti mengurangi kadar asam format, dimana proses ini harus dalam pengawasan dokter. Metanol menghasilkan efek toksik pada hampir semua sistem organ tubuh, namun sistem saraf pusat, sistem kardiovaskular dan sistem pernapasan sangat terpengaruh oleh toksisitas metanol.

Dapat disimpulkan bahwa mengkonsumsi miras oplosan sama saja dengan meminum formalin dan asam format, alias minum racun yang disengaja.  Ancaman hukuman yang relatif ringan bagi para pembuat miras oplosan tak sebanding dengan efek yang ditimbulkan. Perlu kiranya dibuat sanksi hukum yang jauh lebih berat bagi para pembuat dan pengedar miras oplosan.

Tinggalkan Balasan