Upaya Meningkatan Hasil Perikanan Nasional

Naiknya Kesadahan Air

Kesadahan air naik dikarenakan naiknya konsentrasi ion Ca2+ dan Mg2+ di perairan. Kenaikan ion-ion tersebut disebabkan oleh beberapa hal berikut :

  1. Aktifitas pembuatan garam tradisional di daerah pesisir. Makin luas lahan garam yang dibuka, makin tinggi sumbangan kesadahan air yang diterima oleh air laut. Pembuatan garam secara tradisional menghasilkan kristal NaCl, dan meninggalkan sebagian besar ion Mg2+ dan Ca2+ di air limbah, yang sering diberi istilah “air bitten”.

Makin banyak dan luas lahan penggaraman, makin besar konsentrasi air bitten yang dihasilkan, dimana air ini menyebabkan naiknya kesadahan air laut. Tiap produksi 1 ton garam, dihasilkan 50 kg senyawa Magnesium dan Calcium. Jika dalam 4 bulan di suatu area bisa menghasilkan 50.000 ton garam, maka wilayah sekitar area tersebut tercemar 2.500 ton senyawa Ca dan Mg.

Masuknya kembali ion Ca2+ dan Mg2+ ke perairan akibat aktifitas pembuatan garam tradisional, menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan komposisi kimia di air, yang secara langsung menyebabkan hambatan dalam reproduksi dan produktifitas ikan di wilayah tersebut.

Celakanya, garam yang dihasilkan sebagian besar tidak renewable, bukan suatu hal yang bersirkulasi. Lebih dari 80% dari garam yang dihasilkan justru tak kembali lagi ke laut, melainkan di diversifikasi menjadi produk-produk industri kimia dan kegunaan lainnya.

  1. Aktifitas pertanian dan perkebunan. Pertanian dan perkebunan menggunakan kapur sebagai material pengendali pH di tanah. Hujan asam menyebabkan larutnya ion Ca2+ dan Mg2+, yang akhirnya semua bermuara di perairan pesisir.
  2. Aktifitas pemurnian air, industri, degradasi jalan, dan hujan asam di wilayah-wilayah pegunungan kapur.
  3. Naiknya kekeruhan air. Kekeruhan disebabkan aktifitas penggundulan hutan, pembukaan lahan, industri, limbah rumah tangga, dan sebagainya. Kekeruhan air laut berdampak pada naiknya suhu permukaan air, turunnya massa jenis air laut di permukaan, yang berimplikasi pada rendahnya pertumbuhan plankton di perairan.

Phytoplankton sebagai sumber utama makanan dalam rantai makanan di perairan. Makin rendahnya pertumbuhan phytoplankton berimbas pada menurunnya pertumbuhan biota laut. Kekeruhan membuat naiknya efek thyndall, yang menyebabkan tingginya serapan panas di permukaan air, dan daya tembus sinar ultra violet yang menurun dari semestinya.

Naiknya Kandungan Senyawa Organik di Perairan

Naiknya kandungan senyawa organic sebagian besar disumbang oleh industri dan limbah rumah tangga. Industri-industri membuang limbah cair yang banyak mengandung senyawa organik, peternakan yang membuang limbah sembarangan, perikanan tambak yang menghasilkan larutan organik dan limbah logam cair akibat aktifitas pemberian pakan dan obat-obatan, dan termasuk juga limbah cair PLTU-PLTU yang menggunakan air sebagai pendingin.

Kombinasi kenaikan konsentrasi senyawa organik, kesadahan, dan hujan asam, menyebabkan larutnya logam-logam beracun, membentuk senyawa organik logam berupa ion-ion kompleks yang stabil dan mampu bertahan lama di perairan.

Logam seperti tembaga bersifat toksik terhadap sistem sensor indra periferal ikan dan biota air laut lainnya. Tembaga yang terlarut secara khusus merusak fungsi normal neuron sensorik mekanis dan penciuman, mengurangi respons fisiologisnya terhadap isyarat lingkungan, dan pada konsentrasi pemaparan yang lebih tinggi menyebabkan kematian sel.

Isolasi Sensor pada gilirannya mengganggu perilaku yang dimediasi oleh indra ini, termasuk deteksi predator dan penghindaran, interaksi sosial, deteksi mangsa, dan rheotaxis, dan sebagainya. Tembaga dan ion-ion logam lain membuat dampak penting pada kelangsungan hidup, distribusi, dan keberhasilan reproduksi ikan.

Pada ikan dan organisme air lainnya, dosis kematian akut yang disebabkan oleh tembaga diketahui dimediasi oleh epitel insang ikan. Konsentrasi relatif di mana tembaga membunuh ikan dipengaruhi oleh berbagai parameter kimia air seperti kekerasan, alkalinitas, pH, dan karbon organik terlarut. Kation (misalnya, Ca2+) mengurangi bioavailabilitas ion logam ke tempat pengikatan (ligan biotik) pada insang ikan, sedangkan anion (misalnya, CO32+, dan SO42+), karbon organik terlarut HCOCl3 (Dissolving Organic Carbon/DOC) mengikat ion logam bebas untuk membentuk kompleks anorganik dan organik. Karena kompleksitas yang terkandung di dalam ikatan kimia ini dapat menghambat metabolisme ikan dan biotik-biotik lainnya.

Ke halaman 3…

Tinggalkan Balasan