Peningkatan hasil perikanan laut tak hanya menyangkut pemberantasan illegal fishing.

Upaya Meningkatkan Hasil Perikanan Nasional menimbulkan polemik, khususnya yang berhubungan dengan strategi “meningkatkan hasil perikanan“. Polemik makin berkembang dengan makin tajamnya perbedaan pendapat antara Menko Maritim Luhut Pandjaitan dan Menteri Perikanan dan Kelautan, Susi Pudjiastuti.

Dua pendapat yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama ini pada dasarnya bermuara pada “bagaimana melakukan Upaya Meningkatkan Hasil Perikanan Nasional”.

Menteri Kelautan dan Perikanan berpendapat bahwa “illegal fishing” dan penggunaan “jaring cantrang” merupakan faktor utama penyumbang rendahnya hasil tangkapan ikan nelayan, sehingga memberlakukan penenggelaman kapal dan pelarangan penggunaan cantrang untuk perikanan tangkap.

Harapannya, dengan penenggelaman kapal akan membawa efek jera, dan pelarangan penggunaan cantrang bisa memulihkan kembali ekosistem laut, dalam hal ini naiknya reproduksi ikan.

Sedangkan Menko Maritim bersandar pada fakta rendahnya hasil tangkapan ikan akibat berbagai pelarangan dan kurang fokus dalam pengelolaan perikanan tangkap, yang berkontribusi pada turunnya produksi ikan nasional.

Dua pendapat ini pada dasarnya bertujuan sama, yang berujung pada cita-cita bagaimana upaya meningkatkan hasil perikanan nasional.

Namun dua pendapat tersebut tidak menyentuh sama sekali faktor-faktor penyebab lain yang menyebabkan rendahnya reproduksi ikan.

Turunnya laju reproduksi bukan hanya disebabkan illegal fishing, penggunaan jaring cantrang, pengeboman ikan, dan penangkapan ikan menggunakan racun. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya hasil perikanan justru disebabkan oleh kerusakan lingkungan dan pemanasan global dan lokal.

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa rendahnya pertumbuhan hasil perikanan laut justru lebih banyak disebabkan oleh efek pemanasan global dan polusi air laut.

Pengaruh Kerusakan Lingkungan Terhadap Perlambatan Pertumbuhan Hasil Perikanan

Kerusakan lingkungan membawa dampak besar bagi pertumbuhan ekosistem perairan laut. Kerusakan lingkungan disumbang dari banyak sebab, antara lain :

1. Naiknya kekerasan air (kesadahan air).

Naiknya kesadahan disumbang dari banyak kegiatan, antara lain ; pemupukan di pertanian dan perkebunan, hujan asam yang disebabkan polusi udara, aktifitas industri dan rumah tangga, dan proses pembuatan garam secara tradisional.

2. Pergeseran Keseimbangan alkali.

3. Naiknya kandungan senyawa organik di dalam air laut, yang disumbang oleh pencemaran lingkungan dan pemanasan global.

Kenaikan konsentrasi senyawa organik berdampak pada naiknya kelarutan logam-logam beracun, yang berdampak langsung pada rendahnya pertumbuhan dan naiknya tingkat kematian biota laut.

4. Makin keruhnya air akibat degradasi lingkungan di daratan.

Ini terjadi akibat; urban development, aktifitas pertambangan, perkebunan, dan pembukaan lahan pertanian di hulu, aktifitas industri yang menghasilkan air limbah dengan turbidity tinggi, dan sebagainya.

Naiknya Kesadahan Air merupakan masalah dalam upaya meningkatkan hasil perikanan

Kesadahan air naik dikarenakan naiknya konsentrasi ion Ca2+ dan Mg2+ di perairan.

Kenaikan ion-ion alkali tanah dalam perairan disebabkan oleh beberapa hal berikut :

5.  Aktifitas pembuatan garam tradisional di daerah pesisir.

Makin luas lahan garam yang dibuka, makin tinggi sumbangan kesadahan air yang diterima oleh air laut. Pembuatan garam secara tradisional menghasilkan kristal NaCl, dan meninggalkan sebagian besar ion Mg2+ dan Ca2+ di air limbah, yang sering diberi istilah “air bitten”.

Makin banyak dan luas lahan penggaraman, makin besar konsentrasi air bitten yang dihasilkan, dimana air ini menyebabkan naiknya kesadahan air laut. Tiap produksi 1 ton garam, dihasilkan 50 kg senyawa Magnesium dan Calcium. Jika dalam 4 bulan di suatu area bisa menghasilkan 50.000 ton garam, maka wilayah sekitar area tersebut tercemar 2.500 ton senyawa Ca dan Mg.

Masuknya kembali ion Ca2+ dan Mg2+ ke perairan akibat aktifitas pembuatan garam tradisional, menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan komposisi kimia di air, yang secara langsung menyebabkan hambatan dalam reproduksi dan produktifitas ikan di wilayah tersebut.

Celakanya, garam yang dihasilkan sebagian besar tidak renewable, bukan suatu hal yang bersirkulasi. Lebih dari 80% dari garam yang dihasilkan justru tak kembali lagi ke laut, melainkan di diversifikasi menjadi produk-produk industri kimia dan kegunaan lainnya.

6. Aktifitas pertanian dan perkebunan.

Pertanian dan perkebunan menggunakan kapur sebagai material pengendali pH di tanah. Hujan asam menyebabkan larutnya ion Ca2+ dan Mg2+, yang akhirnya semua bermuara di perairan pesisir.

7. Aktifitas pemurnian air, industri, degradasi jalan, dan hujan asam di wilayah-wilayah pegunungan kapur.

8. Naiknya kekeruhan air.

Kekeruhan air disebabkan aktifitas penggundulan hutan, pembukaan lahan, industri, limbah rumah tangga, dan sebagainya.

Kekeruhan air laut berdampak pada naiknya suhu permukaan air, turunnya massa jenis air laut di permukaan, yang berimplikasi pada rendahnya pertumbuhan plankton di perairan.

Phytoplankton sebagai sumber utama makanan dalam rantai makanan di perairan. Makin rendahnya pertumbuhan phytoplankton berimbas pada menurunnya pertumbuhan biota laut. Kekeruhan membuat naiknya efek thyndall, yang menyebabkan tingginya serapan panas di permukaan air, dan daya tembus sinar ultra violet yang menurun dari semestinya.

Naiknya Kandungan Senyawa Organik di Perairan mengganggu upaya meningkatkan hasil perikanan

Naiknya kandungan senyawa organic sebagian besar disumbang oleh industri dan limbah rumah tangga. Industri-industri membuang limbah cair yang banyak mengandung senyawa organik, peternakan yang membuang limbah sembarangan, perikanan tambak yang menghasilkan larutan organik dan limbah logam cair akibat aktifitas pemberian pakan dan obat-obatan, dan termasuk juga limbah cair PLTU-PLTU yang menggunakan air sebagai pendingin.

Kombinasi kenaikan konsentrasi senyawa organik, kesadahan, dan hujan asam, menyebabkan larutnya logam-logam beracun, membentuk senyawa organik logam berupa ion-ion kompleks yang stabil dan mampu bertahan lama di perairan.

Logam seperti tembaga bersifat toksik terhadap sistem sensor indra periferal ikan dan biota air laut lainnya.

Tembaga yang terlarut secara khusus merusak fungsi normal neuron sensorik mekanis dan penciuman, mengurangi respons fisiologisnya terhadap isyarat lingkungan, dan pada konsentrasi pemaparan yang lebih tinggi menyebabkan kematian sel.

Isolasi Sensor pada gilirannya mengganggu perilaku yang dimediasi oleh indra ini, termasuk deteksi predator dan penghindaran, interaksi sosial, deteksi mangsa, dan rheotaxis, dan sebagainya. Tembaga dan ion-ion logam lain membuat dampak penting pada kelangsungan hidup, distribusi, dan keberhasilan reproduksi ikan.

Pada ikan dan organisme air lainnya, dosis kematian akut yang disebabkan oleh tembaga diketahui dimediasi oleh epitel insang ikan. Konsentrasi relatif di mana tembaga membunuh ikan dipengaruhi oleh berbagai parameter kimia air seperti kekerasan, alkalinitas, pH, dan karbon organik terlarut.

Kation (misalnya, Ca2+) mengurangi bioavailabilitas ion logam ke tempat pengikatan (ligan biotik) pada insang ikan, sedangkan anion (misalnya, CO32+, dan SO42+), karbon organik terlarut HCOCl3 (Dissolving Organic Carbon/DOC) mengikat ion logam bebas untuk membentuk kompleks anorganik dan organik. Karena kompleksitas yang terkandung di dalam ikatan kimia ini dapat menghambat metabolisme ikan dan biotik-biotik lainnya.

Pengaruh Efek Pemanasan Global (Global Warming) Terhadap Perlambatan Pertumbuhan Hasil Perikanan

Pemanasan global, peningkatan suhu atmosfer rata-rata bumi yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Karena gas rumah kaca seperti CO2 dan metana dilepaskan ke atmosfer, perisai terbentuk di sekitar bumi, menjebak panas di dalam planet dan oleh karena itu menciptakan efek pemanasan umum.

Salah satu wilayah yang paling terpengaruh pemanasan adalah lautan.

Meningkatnya suhu udara mempengaruhi sifat fisik perairan laut dan darat. Saat suhu udara naik, berat jenis air menjadi lebih ringan dan terpisah dari lapisan dingin yang mengandung nutrisi di bawahnya. Ini adalah dasar untuk efek rantai yang mempengaruhi semua kehidupan laut yang mengandalkan nutrisi untuk bertahan hidup.

Ada dua efek fisik umum yang muncul akibat dari pemanasan laut pada populasi laut yang penting untuk dipertimbangkan:

  • Perubahan habitat alami dan suplai makanan
  • Mengubah kimia laut / pengasaman

Perubahan Habitat Alam dan Pasokan Pangan

Fotosintesis

Fitoplankton, tanaman bersel satu yang hidup di permukaan laut, dan alga menggunakan fotosintesis untuk pemenuhan nutrisi. Fotosintesis adalah proses yang menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer dan mengubahnya menjadi karbon organik dan oksigen yang memberi makan hampir setiap ekosistem laut. Menurut sebuah studi NASA baru-baru ini, fitoplankton lebih cenderung berkembang di samudra yang lebih dingin.

Demikian pula, ganggang, tanaman yang menghasilkan makanan untuk kehidupan laut lainnya melalui fotosintesis, hilang karena pemanasan laut. Karena lautan lebih hangat, nutrisi sebagian besar diblokir dari perjalanan ke lapisan atas dari air, oleh karena itu tidak dapat melengkapi kehidupan laut dengan karbon organik dan oksigen yang diperlukan.

Siklus Pertumbuhan Perikanan Tahunan

Berbagai tanaman dan hewan di lautan kita membutuhkan suhu dan keseimbangan cahaya agar bisa berkembang. Biota yang dikendalikan oleh suhu, seperti Phytoplankton, telah memulai siklus pertumbuhan tahunan mereka di awal musim karena pemanasan lautan.

Biota yang pertumbuhannya dipengaruhi oleh cahaya memulai siklus pertumbuhan tahunan di sekitar waktu yang sama. Karena Phytoplankton berkembang di musim-musim yang tak seharusnya, keseluruhan rantai makanan akan terpengaruh. Akibatnya, binatang laut yang naik ke permukaan untuk mendapatkan makanan sekarang menemukan area yang kosong dari nutrisi.

Migrasi organisme laut

Pemanasan lautan juga dapat menyebabkan migrasi organisme di sepanjang pantai. Spesies toleran panas, seperti udang, relatif bisa bertahan, sementara spesies yang kurang toleran pada panas seperti kerang dan kepiting, akan mundur ke utara (sub-tropis).

Migrasi ini akan menghasilkan campuran organisme baru di lingkungan yang sama sekali baru, yang akhirnya menyebabkan perubahan pada kebiasaan pemangsa. Jika beberapa organisme tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan laut mereka yang baru, mereka tidak akan berkembang dan mati.

Prospek Masa Depan Perikanan dan Efek Manusia

Pemanasan lautan dan pengaruhnya terhadap kehidupan laut memiliki dampak langsung pada kita.

Seiring terumbu karang mati, kita akan kehilangan seluruh habitat ikan secara ekologis. Menurut World Wildlife Fund, kenaikan kecil dua derajat celcius akan menghancurkan hampir semua terumbu karang yang ada. Selain itu, sirkulasi laut yang berubah karena pemanasan akan berdampak buruk pada perikanan laut.

Kejadian-kejadian kematian massal ikan akibat keruskan lingkungan dan pemanasan global makin sering terjadi. Setahun yang lalu terjadi kematian massal ikan di Teluk Jakarta, dimana kejadian ini dipicu oleh hujan yang menaikkan endapan racun dan merubah keseimbangan kimia di air.

Kejadian serupa juga terjadi di danau-danau di Sumatera Barat, di perairan Pulau Seram, dan sebagainya. Kejadian-kejadian tersebut harusnya menjadi sinyal kuat bahwa ancaman kepunahan ikan akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim mulai terjadi di depan mata.

Cara Yang Paling Tepat Untuk Melakukan Upaya Meningkatkan Hasil Perikanan Nasional

Mari kita lihat fenomena tambak udang dan ikan dari tahun ke tahun. Suatu wilayah yang baru dibuka untuk tambak udang maupun ikan, menghasilkan ikan atau udang dalam produktifitas yang tinggi. Produktifitas selanjutnya mulai menurun dari tahun ke tahun, dan tak lama kemudian mulai muncul gangguan hama dan kerugian-kerugian, yang ujung-ujungnya mengakibatkan tutupnya tambak, alias bangkrut.

Jika diamati dengan baik, fenomena ini terjadi tentu disebabkan oleh 2 hal ; kerusakan lingkungan oleh banyak sebab, dan pemanasan lokal di sekitar area. Rusaknya tanaman mangrove akan mempercepat fluktuasi suhu air lokal, yang makin mengganggu kesetimbangan ekosistem.

Menaikkan produktifitas ikan dari perairan laut tak cukup dengan hanya melakukan pelarangan cantrang, penagkapan illegal fishing, dan pelarangan-pelarangan konvensional lainnya.

Upaya meningkatkan hasil perikanan pun tak bisa dilakukan melalui toleransi terhadap alat tangkap cantrang, atau eksploitasi ikan besar-besaran.

Eksploitasi hasil laut secara besar-besaran hanya menghasilkan output sesaat, yang dalam jangka panjang akan menciptakan kerugian besar terhadap sumber daya laut.

Upaya untuk meningkatkan hasil perikanan laut harus mempertimbangkan berbagai hal utama yang menjadi penyebab rendahnya produktifitas, sebagai berikut :

  1. Terus melanjutkan kebijakan pelarangan-pelarangan yang dilakukan, termasuk penangkapan illegal fishing dan penenggelaman kapal.
  2. Memperbaiki kualitas lingkungan laut melalui pencegahan-pencegahan hal-hal yang menyebabkan turunnya produktifitas ikan.
  3. Pencegahan kerusakan lingkungan yang dilakukan secara lintas sectoral.

Jika 3 hal tersebut di atas berjalan beriringan, maka Upaya Meningkatkan Hasil Perikanan Nasional menjadi mudah untuk dicapai.