Koperasi SIGN Segera Memproduksi Garam Metode Bestekin

Sejak tanggal 20 Maret hingga 29 Maret 2018 Koperasi Sekunder Induk Garam Nasional mengadakan pelatihan pengolahan air laut metode bestekin, yang diselenggarakan di demplot Metode bestekin, Eretan Kulon, Indramayu.

Ket gbr : Panen perdana Koperasi SIGN bersama Direktur Jasa kelautan, Kementerian KKP

Pelatihan yang dilakukan memiliki 3 tujuan utama, yaitu :

  • Peningkatan produksi garam tanpa melalui perluasan lahan tambak garam
  • Peningkatan mutu hasil garam agar layak dikategorikan sebagai garam industri (NaCl 97% up) dan garam farmasi (NaCl 99,85 %), dan bisa langsung diserap tanpa proses pencucian.
  • Penekanan biaya produksi melalui penerapan sejumlah rekayasa teknik (kimia dan fisika) dalam proses pemurnian, penuaan, dan penggaraman. Biaya produksi sementara masih berkisar Rp 250,00 per kg garam kadar 98 %.
  • Masa produksi yang lebih panjang. Proses penuaan air yang sangat cepat (hanya dibutuhkan sekitar 6 jam) dipadu dengan penggunaan tabung vakum sebagai alat penggaraman, membuat proses produksi garam sistem bestekin dapat dilakukan hingga 325 hari dalam 1 tahun.

Pelatihan yang berlangsung selama 9 hari ini menghasilkan output pada peserta yang telah mampu memproduksi garam bukan hanya berstandar industri, namun bisa masuk kategori farmasi.

Latar Belakang Koperasi SIGN

Koperasi SIGN adalah koperasi sekunder yang bergerak dalam industri garam dan produk turunannya. Koperasi ini dibentuk dari koperasi-koperasi primer produsen garam rakyat, sehingga bisa dikatakan bahwa Koperasi SIGN menjadi induk dari koperasi-koperasi primer yang ada saat ini.

Pembentukan koperasi SIGN dibidani oleh Direktorat Jasa Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan koperasi-koperasi primer dari 22 kabupaten penghasil garam. Koperasi SIGN dibuat bertujuan untuk memperkuat koperasi-koperasi primer yang telah ada, khususnya bertujuan untuk :

  • Penyatuan pasar dan harga menjadi 1 pintu.
  • Penyatuan mutu hasil produksi, dengan cara penunjukan Koperasi SIGN sebagai satu-satunya pintu pemasaran garam yang dihasilkan oleh koperasi-koperasi primer. Tiap produk yang akan dipasarkan telah terlebih dahulu melalui uji mutu yang terukur.
  • Pengembangan teknologi proses pengolahan air laut secara berkelanjutan, sehingga di masa depan akan menghasilkan produk dengan mutu yang makin super dan harga produksi yang makin murah.

Hubungan antara Pelatihan Koperasi SIGN dan PP No. 9 Tahun 2018

PP No.9 tahun 2018 yang diterbitkan belum lama ini mengatur tentang mekanisme impor garam, khususnya berkaitan dengan pemenuhan garam sebagai bahan baku sektor industri. Industri membutuhkan garam dengan kandungan NaCl yang tinggi (NaCl minimal 97%), sebagai syarat mutu untuk bahan baku industri turunan. Karena memang hingga akhir tahun 2017 belum ditemukan adanya tambak garam rakyat yang menghasilkan garam bermutu tinggi, sedangkan produk ini bersifat sangat strategis, maka pemerintah membuat langkah strategis melalui penerbitan PP No.9 tahun 2018.

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa peserta pelatihan (Koperasi SIGN) telah mampu membuat garam dengan mutu yang lebih tinggi dari persyaratan garam industri, maka lahirnya peraturan pemerintah tersebut tak memiliki pengaruh, khususnya terhadap hasil produksi para peserta pelatihan.

Justifikasi impor garam yang mengatasnamakan “bahwa impor dilakukan karena petambak garam tak mampu memproduksi garam bermutu tinggi dengan harga bersaing” telah terpatahkan selama berlangsungnya pelatihan tersebut. Bahwa petani garam telah berhasil membuat garam bermutu tinggi (jauh di atas garam impor) dengan HPP termurah telah terbukti melalui hasil garam yang dibuat sendiri oleh para peserta pelatihan.

Hambatan Aplikasi

Ketua dan Humas Koperasi SIGN Setyo Awan dan Muhammad Ja’far Sodikin senada mengatakan bahwa teknologi yang diperoleh selama mengikuti pelatihan merupakan solusi paling tepat dan akan diterapkan secepat mungkin, agar produksi garam mereka mampu bersaing secara bebas dengan produk impor, dan berencana masuk pada segmen pasar yang sama dengan garam impor.

Lanjut mereka, dengan biaya produksi rendah dan kualitas sangat baik, para anggota koperasi siap bertarung secara bebas dengan produk impor.

Namun bagaimana dengan para petambak lain yang belum tersentuh teknologi bestekin? Ini yang menjadi masalah, karena teknologi bestekin mensyaratkan penguasaan sains dalam proses pengolahan air laut, sedangkan yang akan mulai menerapkan baru sebagian kecil saja dari petambak garam rakyat yang ada saat ini.

Ket. gbr. pemanas air tenaga surya sebagai pemercepat penuaan air garam

Disamping itu, permodalan juga menjadi kendala utama, khususnya menyangkut kesiapan swasembada garam secara nasional. Garam sistem bestekin menerapkan teknologi berbasis sains, dengan modal sebagai salah satu syarat utama. Mungkin kendala inilah yang harus dipikirkan oleh para pembuat kebijakan, dalam hal ini pemerintah.

Tinggalkan Balasan