Penerapan pasal 340 pada pembuat miras oplosan perlu dilakukan. Ini agar para pembuat menjadi jera, karena diancam hukuman mati.

Miras oplosan terus secara sporadis merenggut puluhan nyawa tiap tahun, dan menyebabkan gangguan kesehatan permanen bagi ratusan orang yang mengkonsumsinya.  Methanol adalah senyawa kimia utama yang menjadi biang kerok tingginya resiko kematian akibat mengkonsumsi miras oplosan.

Meskipun upaya penegakan hukum terus dilakukan, namun usaha pembuatan dan pengedaran miras oplosan terus terjadi di berbagai wilayah.

Ini disebabkan sanksi yang dikenakan masih relatif ringan, dengan sanksi menggunakan UU Pangan tahun 2013 dan UU Kesehatan tahun 2009.

Meskipun pasal lebih berat mulai diterapkan ( KUHP Pasal 204), namun pasal ini tak bisa menjerat pembuat sebagai otak pelaku. Melihat dari belum adanya efek jera dari pembuat jenis minuman ini, perlu kiranya penegak hukum menggunakan pasal yang lebih berat. Misalnya penerapan KUHP pasal 340.

Berkaca dari kasus-kasus pembunuhan menggunakan sianida, dimana para pelakunya didakwa menggunakan KUHP pasal 340 (pembunuhan berencana), kiranya hal sama bisa diterapkan pada para pembuat maupun pengedar miras oplosan, yang menyebabkan terjadinya korban jiwa.

Sebagaimana diketahui, methanol adalah racun yang sangat berbahaya jika dikonsumsi. Meski tak sekuat sianida, namun methanol juga bersifat sangat mematikan, dan sulit dinetralisasi jika masuk ke dalam tubuh ( https://bestekin.com/2017/12/27/efek-minum-miras-oplosan/ ).

Saat masuk ke dalam tubuh, methanol tersintesa menjadi berbagai jenis senyawa, 2 diantaranya menjadi asam format dan formalin. Peristiwa yang mengakibatkan terjadinya sintesa senyawa baru inilah yang menyebabkan efek fatal bagi orang yang mengkonsumsinya.

Idiom dengan methanol, sianida, saat masuk ke darah menyebabkan tersingkirnya oksigen dari sel-sel darah (terbentuknya senyawa baru antara sianida dan haemoglobin), sehingga orang yang terpapar akan mengalami kekurangan oksigen, dan pada dosis tertentu bisa menyebabkan kematian.

Berkaca dari kasus-kasus pembunuhan menggunakan sianida, dimana para pelakunya didakwa menggunakan KUHP pasal 340 (pembunuhan berencana), kiranya hal sama bisa diterapkan pada para pembuat maupun pengedar, yang memang secara sengaja menyebabkan terjadinya korban jiwa.

Oleh karena itu, penerapan pasal 340 pada pembuat miras oplosan sudah sangat tepat. Karena secara delik memang hal ini bisa memmenuhi syarat.

Bahkan jika dilihat dari tujuan pembuatannya, pembuat miras oplosan sudah dikategorikan memiliki tujuan jelas untuk mencelakakan atau menyebabkan seseorang terbunuh.

Sianida, pada fungsi utamanya, berguna untuk proses pelindian emas, pengerasan baja, penyepuhan, dan sebagainya. Penggunaan sianida sebagai racun yang mematikan adalah penyimpangan (penyalahgunaan). Sedangkan miras oplosan memang dibuat (hanya) untuk mencelakakan orang-orang yang mengkonsumsinya.