Beberapa tahun belakangan beredar wacana penggunaan air limbah dari sistem pendingin PLTU (water cooling waste) sebagai air baku untuk tambak pembuatan garam. Mengingat makin banyaknya didirikan PLTU-PLTU baru di sepanjang pantai, dan naiknya konsumsi akan kebutuhan garam di dalam negeri, maka wacana ini perlu dipertimbangkan dan diperhitungkan.

Layakkah air limbah PLTU digunakan sebagai air baku proses pembuatan garam?

Mari kita lihat data-data yang berkaitan dengan penggunaan air pendingin (water cooling) pada pembangkit listrik tenaga batu bara. Mengacu pada link https://bestekin.com/2017/12/27/menjaga-kualitas-cooling-water-dalam-utilitas-industri/, dimana kebanyakan PLTU menggunakan sistem pendingin recirculating system, maka kebutuhan air pendingin bisa dihitung menggunakan data penggunaan air yang valid, seperti tabel di bawah ini :

Coal, once-through, subcritical, wet FGD0.52 litres/kWh
Coal, once-through, supercritical, wet FGD0.47 litres/kWh
Nuclear, once-through, subcritical0.52 litres/kWh
Coal, recirculating, subcritical, wet FGD1.75 litres/kWh
Coal, recirculating, supercritical, wet FGD1.96 litres/kWh
Nuclear, recirculating, subcritical2.36 litres/kWh

Sumber : http://www.world-nuclear.org/information-library/current-and-future-generation/cooling-power-plants.aspx

Jika diasumsikan bahwa suatu PLTU yang akan dimanfaatkan air limbahnya memiliki kapasitas listrik 500 MW (500 megawatt), atau 500.000 kW (500.000 kilowatt), maka kita bisa menghitung volume air yang digunakan oleh reaktor tersebut selama operasi 24 jam, sebagai berikut :

  • Asumsi penggunaan air per kWh = 1,96 liter/kWh (coal, recirculating, supercritical, wet FGD)
  • Energi listrik yang dihasilkan dalam 1 jam = 500.000 kWh
  • Energi listrik yang dihasilkan selama 24 jam = 24 x 500.000 kWh = 12.000.000 kWh
  • Total penggunaan air dalam 1 jam = 500.000 x 1,96 L = 980.000 L = 980 m3
  • Kebutuhan air pendingin untuk 24 jam = 24 x 980 m3 = 23.500 m3

Jika dalam proses pendinginan, suatu pembangkit PLTU menggunakan air laut sebagai air baku dengan salinitas rata-rata berskala Be 02, maka kita bisa menghitung potensi garam yang dihasilkan dari air limbah tersebut, sebagai berikut :

  • 1 m3 air Be 02 rata-rata memiliki kandungan mineral garam 30 kg.
  • Maka untuk 23.500 m3 air pendingin, mengandung potensi garam 23.500 x 30 kg = 705.000 kg garam (NaCl) = 705 ton NaCl per hari

Biasanya reaktor PLTU sering berada dekat dengan muara sungai, dan tak selalu menggunakan air laut sebagai air pendingin reaktornya. Jika air yang digunakan bukan air laut, maka perhitungan ideal di atas menjadi tak berlaku.

Bagaimana jika air pendingin yang dipakai memang menggunakan air laut ?!

Tentu saja air limbah bisa digunakan sebagai air baku pembuatan garam, sepanjang air limbah yang akan digunakan harus diproses treatment terlebih dahulu. Karena air limbah dari air pendingin PLTU umumnya mengandung sejumlah senyawa kimia tambahan yang digunakan untuk mencegah korosi reaktor, maka air limbahnya telah dipastikan mengandung sejumlah kontaminan yang berbahaya jika langsung dipakai sebagai air baku dalam proses penggaraman.

Beberapa kendala dalam pemakaian air limbah PLTU :

  1. Air limbah mengandung sejumlah kontaminan yang larut di dalamnya, sehingga tak layak jika langsung digunakan (tanpa proses pemurnian terlebih dahulu). Proses pemurnian membutuhkan biaya dan investasi yang harus dihitung sebagai satu kesatuan dalam HPP (Harga Pokok Produksi).
  2. Air limbah PLTU umumnya dibuang agak ke tengah dari pantai, sehingga kita mengalami kesulitan dalam transportasinya. Untuk melancarkan transportasi, dibutuhkan instalasi tambahan agar air bisa dialirkan ke darat. Ini pun membutuhkan investasi dan akan menaikkan komponen HPP.
  3. Lahan produksi garam harus berdekatan dengan lokasi PLTU, untuk mencegah tingginya biaya transportasi air limbah.
  4. Regulasi yang mengatur tentang air limbah yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain belum ada, sehingga diperlukan adanya studi kasus dan penyusunan AMDAL. Disamping itu, apakah regulasi mengijinkan penggunaan air limbah sebagai bahan baku air pembuatan garam?!
  5. Opini masyarakat. Bahwa penggunaan air limbah sebagai air baku belum tentu mendapat sambutan positif dari masyarakat pemakai garam. Meskipun telah dilakukan sejumlah treatment dan telah terbukti aman dikonsumsi, namun opini publik perlu diperhitungkan secara cermat.

Dari berbagai pemaparan di atas dapat dikatakan bahwa :

  • Secara volume, air pendingin reaktor PLTU bisa digunakan sebagai bahan baku proses pembuatan garam, dengan catatan harus terlebih dahulu dilakukan proses pemurnian dari limbah-limbah.
  • Banyaknya kendala yang dihadapi perlu dikaji jika ingin menggunakan limbah air pendingin PLTU sebagai bahan baku proses pembuatan garam. Kendala-kendala tersebut berhubungan dengan penambahan biaya produksi, peraturan-peratutan yang berlaku, serta opini publik yang bisa saja negatif.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *