Korban Miras Oplosan yang Terus Bertambah

Miras oplosan terus menimbulkan korban baru, baik korban jiwa maupun cacat permanen. Pihak-pihak yang terkait harus mencari penyebab tingginya konsumsi miras oplosan. Senyawa kimia yang mematikan dari miras oplosan adalah methanol, yang jika masuk ke tubuh tersintesa menjadi senyawa baru asam format dan formalin . Alasan maraknya miras oplosan sesungguhnya bukan karena harganya yang lebih murah, karena sesungguhnya harga methanol (bahan miras oplosan) dan ethanol (bahan miras) hampir sama.

Miras oplosan sesungguhnya jelas-jelas racun yang mematikan. Sebagaimana telah dijelaskan pada artikel sebelumnya (link https://bestekin.com/2017/12/27/penyebab-fatal-mengkonsumsi-miras-oplosan/) meminum miras oplosan jelas-jelas memasukkan racun berupa asam format (asam semut) dan formalin ke dalam tubuh. Penambahan suplai oksigen via paru-paru malah mempercepat terjadinya sintesa asam format dan formalin.

Pengobatan yang tercepat adalah memasukkan sodium bikarbonat (NaHCO3) via oral, atau meminum ethanol (etil alkohol) / miras asli secara bertahap (melalui pengawasan dokter), dan jalan terbaik melalui cuci darah (hemodialisis). Memang pengobatan penderita terpapar miras oplosan cukup sulit dan tidak umum. Oleh karena itu pemerintah perlu menyosialisasikan bahaya jenis minuman ini (secara rinci) kepada khalayak umum, dan sosialisasi cara pengobatan ke sentra-sentra layanan kesehatan, mulai dari tingkat terbawah hingga ke atasnya.

Khusus penegak hukum, perlu kiranya dipikirkan (dan diterapkan) pemberian sanksi hukum yang paling berat kepada para pembuat dan pengedar minuman ini. Karena miras oplosan jelas-jelas racun, dan dibuat memang untuk meracuni orang-orang yang mengkonsumsinya, maka pengenaan KUHP pasal 340 kiranya sudah tepat untuk diterapkan.

Sianida adalah racun yang mematikan, namun tujuan pembuatannya sesungguhnya untuk keperluan industri kimia, pupuk, industri pengolahan emas, pembuatan perhiasan imitasi, industi baja, dan sebagainya. Kasus pembunuhan menggunakan sianida adalah penyalahgunaan dari senyawa kimia sianida. Sedangkan miras oplosan dibuat memang dikhususkan untuk meracuni orang yang mengkonsumsinya, jadi bukan hanya penyalahgunaan obat atau bahan kimia.

Berbekal dari penanganan kasus-kasus pembunuhan menggunakan racun yang banyak divonis menggunakan KUHP pasal 340, kiranya hal yang sama seharusnya bisa diterapkan pada para pembuat dan pengedar minuman yang mematikan ini. Pelajaran persidangan kasus kematian Mirna harusnya bisa digunakan untuk menjerat para pembuat dan pengedar cairan mematikan ini.

Tinggalkan Balasan