Program Swasembada Garam, Harus Mulai dari Mana?

Oleh : M. Ja’far Sodikin

Hingga hari ini Indonesia masih keteteran dalam upaya memenuhi kebutuhan garam dalam negeri. Persoalan ini telah berlangsung selama puluhan tahun. Seolah-olah pemenuhan kebutuhan garam adalah beban, bukan merupakan peluang usaha yang menjanjikan.

Mengapa Kita Impor Garam?

Banyak pendapat yang simpang-siur tentang masalah garam ini. Ada yang berpendapat bahwa teknologi garam kita tertinggal dibanding negara-negara lain. Pendapat ini didasarkan bahwa nusantara memiliki garis pantai terpanjang ke-2 dunia, namun tetap mengimpor garam (sedangkan negara yang hampir tak punya pantai malah surplus garam). Pendapat ini umum dianut oleh sebagian besar masyarakat.

Bahwa sesungguhnya, garam yang beredar di pasaran dunia saat ini, 85% berasal dari penambangan, bukan melalui evaporasi. Artinya, 85% dari suplai garam dunia diperoleh dari penambangan batu garam, bukan pengolahan garam, alias menambang garam yang sudah jadi.

Sedangkan petambak garam kita menghasilkan garam melalui evaporasi air laut, melalui pengolahan.

China memproduksi garam melalui penambangan di gunung-gunung garam, demikian juga Amerika dan sebagian besar negara-negara benua lainnya. Tambang garam adalah deposit garam yang telah terbentuk secara geologi sejak jutaan tahun yang lalu, dimana konsentrasi terbesarnya berada di pusat-pusat benua. Sebagai bukti visual, adanya deposit garam di ketinggian 3000 m di Bolivia (Salar de Uyuna). Hampir 100% dari produksi garam Amerika didapatkan dari penambangan, sisanya berasal dari eksploitasi danau garam purba.

Proses alami yang terjadi selama ribuan tahun menyebabkan terbentuknya sedimen garam yang memiliki kadar NaCl tinggi, sebagai akibat dari tingginya panas bumi saat terjadinya proses kristalisasi garam.

Sayangnya, Indonesia tak memiliki deposit berupa tambang garam. Adapun sumber air asin akibat proses geologis hanya berupa danau-danau kecil, yang tak layak digarap secara ekonomis. Lantas apakah kita harus menyerah terhadap kenyataan yang ada?

Angka produksi garam dunia menurun dari tahun ke tahun, sedangkan permintaan naik di atas 4% per tahun, hingga tahun 2024. Penurunan produksi disebabkan mulai berkurangnya deposit-depoisit, dan makin naiknya tingkat kesulitan dalam penambangan. Keadaan ini menyebabkan naiknya harga garam dunia secara bertahap.

Pola-pola konvensional upaya swasembada garam yang cenderung merugikan petani

Pada tahun-tahun sebelumnya (selain tahun 2017), petani garam sering menjadi objek dalam persoalan yang menyangkut garam. Slogan swasembada tak sehebat kenyataan yang terjadi di lapangan. Di saat produksi berlimpah, harga garam petambak anjlok hingga Rp 50,- per kg, sedangkan harga garam industri di pasaran justru tetap stabil. Disparitas harga yang keterlaluan ini sebenarnya dipengaruhi oleh midle men, yang memanfaatkan penawaran tinggi (dari sisi petani) terhadap kualitas yang tak memadai. Akibatnya, pedagang perantara dan sebagian industri pemurnian garam lah yang banyak meraup keuntungan dari keberlimpahan produksi garam di tingkat petani.

Di awal-awal musim, harga garam di tingkat petani cenderung tinggi, akan tetapi pembelian dari pedagang perantara justru dikecilkan. Stok garam petani yang terus naik seiring makin naiknya produktifitas akibat cuaca kemarau, membuat harga garam mulai turun (penawaran naik, permintaan tetap). Pola ini berlanjut hingga masa panen raya, dimana harga garam jatuh tajam semurah-murahnya. Disaat yang sama, pedagang mulai melakukan pembelian besar-besaran, namun masih tetap menjaga permintaan, agar harga tetap murah di tingkat petani. Kejadian ini berulang-ulang terjadi setiap tahunnya (kecuali tahun 2017).

Tinggalkan Balasan