Swasembada Garam, Apa Hubungannya dengan Panjang Pantai?

Swasembada garam, apa hubungannya dengan panjang pantai? Apakah panjang pantai merupakan suatu indikator akan tingginya produksi garam suatu negara?

Selama puluhan tahun kita terjebak pada asumsi “garam hanya dibuat dari air laut”. Hal ini disebabkan memang sejak jaman penjajahan Belanda, garam yang beredar dihasilkan melalui proses penguapan air laut. Namun tahukah anda bahwa sebagian besar kebutuhan dunia dihasilkan melalui penambangan kristal garam?

Lebih 85% dari konsumsi garam dunia dihasilkan dari proses penambangan kristal garam, 10% dari proses kristalisasi air dari danau garam. Hanya 5% yang diperoleh melalui proses evaporasi air laut. Produksi garam Indonesia termasuk di dalam 5% tersebut.

Sejarah Geologi Pembentukan Garam

Deposit-deposit garam yang ada sekarang umumnya berasal dari proses kristalisasi NaCl dari air laut sejak ratusan juta hingga jutaan tahun yang lalu. Pada perode awal pembentukan bumi, benua-benua yang ada saat ini umumnya masih menyatu, dengan pemisah berupa selat-selat sempit yang melalui bagian tengah benua. Celah-celah sempit tersebut terhubung ke danau-danau di tengah benua, yang menjadi pusat tampungan air laut yang masuk kedalamnya. Karena jumlah air yang masuk lebih banyak dari air yang keluar, dari danau-danau, pada akhirnya terbentuk kristal-kristal garam yang mengendap ke dasar danau.

Akibat evaporasi, sedimen garam terus-menerus selama jutaan tahun, membentuk daratan kristal garam yang sangat tebal (bisa mencapai tebal 10 km).

Proses selanjutnya, material-material yang impermeable sejenis lumpur masuk ke bagian atas dari deposit garam, sehinnga menutupi deposit garam dari kemungkinan cair akibat air hujan atau aliran air dari pegunungan.

Proses selanjutnya, terjadi pemisahan benua akibat pergerakan lempeng masing-masing anak benua lama. Pemisahan benua ini turut serta membawa garam yang telah ada di masing-masing benua.

Proses-proses lanjutan juga masih terjadi terhadap deposit garam yang terbentuk. Adanya dorongan magma dari bawah membawa deposit garam naik ke bagian atas, sehingga membentuk gunung dan kubah garam (seperti di Salar de Uyuni, Bolivia).

Di sebagian tempat, garam mengalami pelelehan akibat pemanasan magma di bawahnya, membuat garam mencair pada suhu tinggi, dan mengalir mencari tempat yang lebih rendah. Kumpulan garam cair ini membentuk danau garam yang kering, seperti Salt lake di Amerika Serikat dan Australia.

Danau garam kering yang dialiri air hujan pada periode tertentu, membentuk danau garam air asin, seperti Laut mati (Laut Kaspia) di Asia Tengah.

Pegunungan garam banyak ditemukan di tengah-tengah benua Asia, Eropa, Amerika, Afrika, dan Australia. Negara-negara yang berada di tengah benua justru memiliki deposit garam yang jauh lebih besar dari negara-negara di pinggir benua.

Indonesia bukanlah bagian dari tengah benua Asia. Kepulauan kita baru muncul jutaan tahun setelah terjadinya pemisahan antar benua. Oleh karena itu kita tak mengandung deposit garam seperti negara-negara benua.

Video dibawah memperlihatkan proses penambangan dan transportsi garam di Kanada.

Proses-proses Produksi Garam

Di sebagian besar negara benua, garam diproduksi dengan cara penambangan. Kubah-kubah garam yang terbentuk jutaan tahun yang lalu umumnya memiliki luasan yang luar biasa, bisa mencapai ratusan km2, dengan kedalaman hingga 5 km.

Amerika Serikat, Kanada, negara-negara eropa, Australia, China, India dan beberapa negara Asia dan Afrika menghasilkan garam melalui proses penambangan. Beberapa negara yang memiliki danau asin dengan kandungan garam sangat tinggi, menghasilkan garam melalui “evaporasi air asin”.¬†

Garam yang dihasilkan melalui proses penambangan menjadi pemasok utama dari kebutuhan garam dunia. Garam tambang umumnya memiliki kemurnian yang tinggi, rata-rata memiliki kandungan NaCl antara 97% – 98%. Karena proses produksi tak memerlukan lahan yang luas, disamping harga yang murah, garam hasil tambang menjadi pemasok utama kebutuhan garam dunia.

Sebagai kepulauan baru yang tak memiliki deposit garam maupun danau air asin, Indonesia beserta negara-negara kepulauan lainnya menghasilkan garam melalui proses “evaporasi air laut”.

Mengapa Kita Sulit Untuk Swasembada Garam?

Dari penjelasan-penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pemenuhan garam dunia bukan melalui proses pembuatan garam melalui evaporasi air laut, akan tetapi sebagian besar melalui proses penambangan garam. Garam yang ditambang juga memiliki kualitas NaCl yang sangat tinggi.

Garam yang dihasilkan melalui proses evaporasi air laut umumnya hanya memiliki kandungan NaCl kurang dari 90%, dengan kadar air yang juga tinggi. Para petambak garam rakyat maupun tambak garam BUMN PT. Garam saat ini hanya mampu menghasilkan garam berkualitas rendah, dengan kuantitas yang juga tak mampu memenuhi kebutuhan garam nasional.

Kebutuhan garam nasional, seperti di negara-negara industri lainnya, lebih banyak digunakan untuk kebutuhan industri, khususnya sebagai bahan baku untuk industri kimia. Di Indonesia, 70% dari kebutuhan garam nasional digunakan untuk industri, sedangkan untuk makanan dan minuman hanya menghabiskan porsi 30% dari kebutuhan garam nasional.

Karena rendahnya kualitas dan lebih mahalnya biaya produksi, maka pemerintah harus mendatangkan garam dari luar sebagai bahan penolong untuk kebutuhan industri di dalam negeri.

Dari beberapa paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kaitan antara panjang pantai dengan jumlah produksi garam tak relevan untuk dijadikan sebagai dasar argumentasi. Karena nyatanya, negara-negara yang berada di dataran tinggi (seperti Turkmenistan) justru telah memiliki deposit garam yang sangat besar.

Apakah Masih Memungkinkan Indonesia Swasembada Garam?

Tambak garam yang ada saat ini masih menggunakan teknologi yang diperoleh dari jaman Belanda. Namun di negara-negara lain pun, teknologi pembuatan garam melalui penguapan air laut nyaris tak mengalami perkembangan yang signifikan. Oleh karena itu, wajar saja kondisi yang dialami oleh Indonesia saat ini.

Swasembada garam bisa dilakukan melalui pengembangan teknologi penguapan dan pemurnian air laut, salah satunya yang telah dilakukan oleh bestekin.com. Namun di lapangan, teknologi yang telah diterapkan oleh bestekin.com ternyata sulit untuk diterapkan oleh para petambak garam, yang notabene umumnya memiliki tingkat penguasaan teknis yang rendah.

Penerapan teknologi pembuatan garam bestekin hanya mungkin dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki kemampuan sumber daya manusia yang handal.

Persoalannya, pemerintah, sesuai dengan amanat undang-undang, wajib melindungi petambak garam dari tekanan-tekanan impor dan persaingan bebas harga dan kulaitas garam di pasaran.

Target swasembada saja tanpa memikirkan nasib petambak garam tentu telah menyalahi prinsip ekonomi kerakyatan. Artinya, swasembada garam bisa dilakukan, namun memerlukan waktu yang tidak cepat.

Layakkah garam Dipolitisasi?

Sebagai negara importir garam, Indonesia menghabiskan devisa yang kecil untuk memenuhi kebutuhan garam melalui impor. Tahun 2018 sekarang, pemerintah mengeluarkan ijin impor sebanyak 3,7 juta ton garam, dengan valuasi yang kurang dari Rp 3 Trilyun. Nilai ini sangat kecil dibandingkan PDB Indonesia, yang saat ini telah mencapai Rp 15.500 trilyun.

Meskipun memiliki nilai nominal yang kecil, namun garam digunakan sebagai bahan baku untuk industri pengolahan yang menyumbang lebih dari 20% PDB nasional. Oleh karena itu, kelangkaan garam akan sangat berbahaya bagi kelangsungan industri nasional.

Politisasi garam dengan semboyan “Harus Swasembada garam” adalah kekonyolan, mengingat rendahnya kontribusi usaha tambak garam terhadap PBD nasional. Hingga saat ini, jumlah pekerja di tambak garam juga sangat kecil dibanding jumlah pekerja di sub-sektor perikanan lainnya.

Pemerintah, sejak jaman reformasi, terus melakukan pembenahan di berbagai bidang usaha garam. Dimana semua pembenahan tersebut lebih mengarah pada perlindungan pekerja garam dan peningkatan kesejahteraan petambak garam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *