Unsur Kimia Cobalt (Co)

Unsur kimia cobalt adalah unsur kimia jenis logam dengan simbol Co dan nomor atom 27. Seperti nikel, logam kobalt ditemukan di kerak bumi hanya dalam bentuk senyawa kimia nya, kecuali sebagian kecil yang ditemukan berupalogam kobalt dalam paduan meteorik dengan besi alami. Logam murninya diproduksi melalui peleburan reduktif. Logam cobalt adalah logam keras, berkilau, dan berwarna perak keabu-abuan.

Sebagian kobal yang ada sekarang diproduksi secara khusus dari sejumlah bijih berkalori metalik, seperti misalnya cobaltite (CoAsS). Namun logam ini lebih banyak diproduksi sebagai hasil sampingan dari penambangan tembaga dan nikel. Sabuk tembaga di Republik Demokratik Kongo (DRC), Republik Afrika Tengah dan Zambia menghasilkan sebagian besar produksi kobalt dunia. Menurut beberapa sumber (USGS, BGS, dan NRC), Zambia menyumbang lebih dari 50% produksi koballt dunia pada tahun 2016 (123.000 ton).

Cobalt adalah logam feromagnetik dengan berat jenis 8.9, dan momen magnetik 1,6–1,7 magneton Bohr per atom. Cobalt terutama digunakan dalam pembuatan paduan logam bersifat magnetik, logam tahan aus dan berkekuatan tinggi.

Senyawa kobalt silikat dan kobalt (II) alumina (CoAl2O4, biru kobalt) memberikan warna biru tua yang khas pada kaca, keramik, tinta, cat dan pernis.Pigmen biru berbasis kobalt (biru kobalt) telah digunakan sejak zaman kuno untuk perhiasan dan cat, dan untuk memberikan warna biru yang khas ke kaca dan porselen.

Kobalt adalah pusat aktif sekelompok koenzim yang disebut cobalamin. Vitamin B12, contoh yang paling terkenal dari jenisnya, adalah vitamin penting untuk semua hewan. Kobalt dalam bentuk anorganik juga merupakan mikronutrien untuk bakteri, alga, dan jamur.

Mirip dengan aluminium, cobalt adalah logam reduksi lemah yang dilindungi dari oksidasi lebih lanjut oleh lapisan oksida kobalt berupa film pasif (yang sangat rapat) di permukaan luarnya. Logam ini mudah bereaksi dengan unsur-unsur kimia golongan halogen dan belerang. Pemanasan logam kobalt dalam ruangan yang mengandung oksigen menghasilkan senyawa Co3O4, yang kehilangan oksigen pada 900 o C, menjadi senyawa Cobalt Monoksida (CoO) CoO. Logam kobalt bereaksi dengan fluor (F2) pada 520 oK menjadi senyawa CoF3; reaksi dengan klorin (Cl2), bromin (Br2) dan yodium (I2), menghasilkan halida biner ekuivalen.

Kobalt tidak bereaksi dengan gas hidrogen (H2) atau gas nitrogen (N2) bahkan ketika dipanaskan. Pada suhu biasa, ia bereaksi lambat dengan asam mineral, dan sangat lambat pada udara yang lembab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PageSpeed Optimization by Pegasaas