Benarkah Jokowi Antek Asing?

Bagaimana Sebenarnya persoalan minyak yang merupakan kekayaan alam Indonesia?

Penulis sendiri pun sebelumnya kurang paham dengan permasalahan minyak yang terjadi di Indonesia. Namun karena perbincangan para ahli politik yang simpang siur dan suka membuat bingung rakyat, terpaksa penulis mencari informasi melalui google. Karena google adalah mesin yang berjalan berdasarkan algoritma, tentu saja mesin pencari google tak akan berbohong.

Dari informasi yang ditampilkan google, terungkap bahwa negeri ini mulai mengeksploitasi minyak secara massal sejak kekuasaan orde baru Suharto.

  1. Pembubaran Petral

Belum 1 tahun memerintah, Jokowi telah mengambil keputusan yang sangat berani, menghajar mafia migas dengan cara membubarkan Petral. Apakah pembubaran petral yang sebelumnya menggerogoti Pertamina membuat Jokowi antek asing? Tentu saja tuduhan yang keliru.

  1. Nasionalisasi Blok Mahakam

Blok Mahakam adalah salah satu penghasil minyak terbesar di Indonesia, dimana pada awal produksinya, blok Mahakam menyumbang sekitar 30% dari total produksi minyak nasional.

Penandatangan kontrak kerjasama blok ini dilakukan pertama kali pada tanggal 31 Maret 1967, dengan durasi kontrak dalam jangka waktu 30 tahun. 30 tahun kemudian, tepatnya pada 31 Maret 1997, kontrak Blok Mahakam kembali diperpanjang selama 20 tahun, yang berakhir 30 Maret 2017 (sumber https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/bisnis/13/04/03/mkotlf-ini-komentar-dahlan-iskan-soal-pertamina-di-blok-mahakam?fb_comment_id=295474823916927_1397591, dan beberapa sumber berita dengan isi yang sama).

Artinya, Blok Mahakam dikuasai oleh asing selama 50 tahun, melalui persetujuan penguasa orde baru.

Blok ini sebelumnya dikuasai oleh 2 perusahaan asing, PT. Total E&P Indonesie yang merupakan perusahaan asing dari Perancis, dan INPEX Corporation, perusahaan asing dari Jepang (https://www.beritasatu.com/bisnis/78937-kalla-dahlan-setuju-blok-mahakam-ke-pertamina.html).

Pada masa jaya nya di akhir tahun 1970-an, blok Mahakam menghasilkan minyak lebih dari 230 ribu barrel per hari. Tak hanya minyak, Blok Mahakam juga menghasilkan gas alam yang sangat besar.

Penghasilan terbesar blok mahakam terjadi pada masa orde baru (karena masih fresh), dimana justru penguasaan lapangan-lapangan minyak dan gas dimiliki oleh asing !

Pada tahun 2012, Dahlan Iskan yang saat itu menjabat Menteri BUMN mendesak pemerintah untuk menolak perpanjangan pengelolaan lapangan minyak dan gas yang ada di blok Mahakam. Keinginan Dahlan ini sedikit agak dikritisi oleh Menteri ESDM waktu itu, Jero Wacik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *