Janji Sandiaga Uno Bawa Investasi Asing 1000 Trilyun yang Tak Terbukti

Dalam beberapa kampanye pilpres 2019, Sandiaga Uno selalu mengatakan akan fokus ke masalah ekonomi, dengan banyak janji di bidang ekonomi.

Branding yang dibangun oleh Sandiaga ini nyaris sama dengan puluhan janji yang diucapkan olehnya saat melakukan kampanye pada pilgub DKI Jakarta tahun 2016 dan 2017, yang berfokus pada “EKONOMI”. Resep lama pada pilgub DKI ternyata sedang dicoba kembali oleh Sandiaga dan tim suksesnya.

Namun sangat disayangkan, setelah menjabat Wakil Gubernur DKI, janji-janji yang diucapkan oleh Sandiaga Uno nyaris meleset semua.

Janji Mendatangkan Investor Dubai Rp 1.000,- Trilyun dalam 5 Tahun ke DKI

Belum lama setelah dilantik sebagai wakil gubernur, Sandiaga Uno langsung melakukan kunjungan kerja ke berbagai negara. Kunjungan kerja yang dilakukannya disebutkan untuk mengundang sejumlah calon investor kakap internasional, agar mau berinvestasi di DKI Jakarta.

Saat diwawancarai oleh berbagai media tanah air terhadap hasil kunjungan ke Dubai, Sandiaga melontarkan pernyataan yang sangat mengagetkan dan membuat gentar lawan-lawan politiknya : Bahwa Sandiaga Uno menargetkan akan membawa investasi asing masuk ke Jakarta Rp 1000 trilyun dalam 5 tahun.

Nilai 1000 triliun tersebut akan dibagi dalam 5 tahun, dengan penekanan di tahun 2018 dipastikan masuk minimum Rp 100 tiliun di DKI Jakarta.

Investasi yang salah satunya berasal dari Dubai ini, ditargetkan oleh Sandiaga Uno akan mampu membuka minimal 200.000 lapangan kerja di DKI Jakarta dalam 5 tahun sejak mereka memimpin Jakarta.

Bukan Sandiaga Uno namanya, jika tak membuat berita-berita yang sensasional. Bayangkan, nilai Rp 1000 triliun tersebut adalah suatu angka yang fantastis untuk pertumbuhan investasi asing di DKI.

Setelah melalui beberapa bulan memasuki tahun 2018, janji Sandiaga Rp 100 triliun untuk tahun 2018 mulai memperlihatkan tanda-tanda “melempem” seperti kerupuk yang kemasukan angin. Akan tetapi Sandiaga menjawab komentar miring tentang tuduhan “janji muluk-muluk” tersebut melalui acara “Jakarta Business Forum” di Taj Hotel, Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), pada tanggal 9 April 2018.

Acara resmi Pemprov DKI ini ternyata berbarengan dengan keikutsertaan pemerintah pusat di “Annual Investment Meeting” (AIM) di kota Dubai, Uni Emirat Arab, yang juga dilakukan pada waktu bersamaan.

Fakta Realisasi Investasi Asing di DKI Jakarta Tahun 2018

Apa yang diucapkan oleh Sandiaga Uno setelah lawatan kerja dari Dubai adalah pernyataan akan masuknya investasi asing senilai Rp 100 triliun pada tahun 2018 saja. Untuk membuktikan keampuhan pernyataan Sandiaga Uno tentulah harus diukur berdasarkan fakta yang terjadi, yaitu fakta realisasi investasi asing yang masuk ke Jakarta pada tahun 2018.

Meskipun data-data yang ada saat tulisan ini di di muat masih 3 triwulan, namun setidaknya data yang ditampilkan pada postingan ini bisa memperkirakan hasil akhir (realisasi) dari janji Rp 100 triliun yang diucapkan oleh Sandiaga Uno setelah kepulangan dari Dubai tersebut.

Untuk mencari tahu tentang realisasi investasi asing, langkah yang paling tepat adalah mengunjungi website resmi BKPM https://www.bkpm.go.id/. Laporan terbaru yang diterbitkan oleh BKPM terhadap realisasi investasi tahun 2018 dapat anda baca pada linkhttps://www.bkpm.go.id/images/uploads/file_siaran_pers/Paparan_Indonesia_TW_IV_-_2017_Kepala.pdf.

Dari link di atas, sejak Januari 2018-September 2018 realisasi investasi asing yang masuk ke wilayah khusus DKI Jakarta sebesar US$ 3,5 Milyar. Angka ini jauh di bawah Jawa Barat yang merupakan propinsi penerima investasi asing tertinggi, yaitu sebesar US$ 4,6 Milyar.

Total investasi yang masuk Jakarta sejak Januari 2018 hingga September 2018 (PMA + PMDN) = Rp 85 triliun, dimana investasi yang berasal dari PMDN sebesar Rp 37,9 tilyun. Pada periode yang sama, investasi yang masuk JABAR = Rp 88,4 triliun, tetap di atas Jakarta.

Dari tampilan angka di atas, dapat dipastikan janji Sandiaga Uno memasukkan investasi asing tahun 2018 sebesar Rp 100 triliun gagal total, karena investasi asing yang masuk saat dia menjabat hanya US$ 3,5 Milyar, atau hanya Rp 47,1 Trilyun. Nilai uang Rp 47,1 trilyun tersebut kurang separuh dari janjinya yang Rp 100 trilyun.

Realisasi investasi asing pada periode Anies-Sandi pun dikhawatirkan tak mengalami kenaikan jika dibandingkan realisasi investasi asing yang masuk Jakarta pada periode kepemimpinan Ahok-Djarot di tahun sebelumnya. Realisasi investasi asing yang masuk DKI pada tahun 2017 sebesar US$ 4,6 Milyar, lebih US$ 1,1 milyar dibanding realisasi PMA 3 triwulan di tahun 2018.

Jika laporan lengkap realisasi investasi 2018 di DKI yang akan keluar dalam waktu dekat memperlihatkan tak terjadinya pertumbuhan investasi asing maupun dalam negeri di DKI Jakarta, tentu bisa menjadi kesimpulan bahwa pemerintahan DKI dijalankan secara auto-pilot.

Melihat data-data di atas, dapat dipastikan janji yang diucapkan oleh Sandiaga Uno tak mungkin ter-realisasi, karena hanya menyisakan 3 bulan hingga akhir tahun. Apalagi ternyata daerah yang paling banyak mendapat investasi dari Dubai adalah Surabaya, yang pada bulan Juli 2018 saja mendapat investasi senilai Rp 2,1 trilyun dari Budget Petroleum. Tri Rismaharini justru membuktikan bahwa banyak omong adalah tong kosong.

Masuknya investasi asing ke Indonesia lebih banyak disebabkan peranan BKPM, sedangkan daerah lebih bersifat menyambut bola kiriman dari pusat.

Dalam permasalahan melesetnya target investasi asing di Jakarta, tak hanya obral janji yang tak terlaksana, akan tetapi anggaran APBD pun tergerogoti untuk acara yang tak berdampak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PageSpeed Optimization by Pegasaas