Sandiaga Uno Gagal Memenuhi Janji Kenaikan Serapan Anggaran DKI

Boro-boro bisa menaikkan serapan anggaran di DKI, kenyataan yang terjadi justru makin turunnya persentase serapan anggaran di masa pemerintahan Anies-Sandiaga Uno.

2 hari yang lalu beberapa media memberitakan bahwa tingkat serapan APBD Pemprov DKI Jakarta turun lagi dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2018, serapan anggaran DKI hanya mencapai 81,96 % dari total APBD.

Kejadian ini sudah kali kedua dialami oleh pasangan  Anies-Sandiaga. Masih disebutkannya Sandiaga karena Sandiaga merancang dan mengalami ¾ dari masa pemerintahan di DKI Jakarta pada tahun 2018.

Rendahnya tingkat serapan anggaran DKI memang telah terlihat sejak  mendekati pertengahan tahun 2018. Berbagai antisipasi dan alasan dikemukakan oleh Anies maupun Sandiaga, namun kenyataan yang terjadi, tingkat serapan APBD DKI Jakarta tahun 2018 lebih rendah dibanding tahun 2017 yang sebesar 83,83 %, dan jauh lebih rendah jika dibanding tingkat serapan APBD DKI pada tahun 2016 (87 %).

Tren terus menurunnya tingkat serapan anggaran di periode pemerintahan Anies Sandi ini memang telah terlihat sejak mereka memegang tampuk pemerintahan di DKI Jakarta.

Pada semester I tahun 2018, serapan anggaran DKI baru mencapai 24,4 % dari total pagu anggaran, sedangkan pada semester I tahun 2017 (jaman gubernur-wagub Ahok-Djarot) serapan APBD DKI telah mencapai 25,31 % dari total pagu anggaran yang tersedia.

Ingkar Janji terhadap Serapan APBD yang lebih Tinggi Saat Kampanye Anies-Sandiaga

Banyaknya kritikan atas rendahnya tingkat serapan anggaran di masa pemerintahan gubernur-wagub Anies-Sandiaga tak bisa dilepaskan dari janji-janji yang mereka umbar saat berlangsungnya kampanye pada pilgub DKI tahun 2016-2017.

Rendahnya serapan anggaran merupakan salah satu dari belasan serangan bertubi-tubi yang dilancarkan pasangan cagub-cawagub Anies Baswedan-Sandiaga Uno ke kubu petahana waktu itu.

Anies dalam debat memamerkan kehebatannya saat memegang posisi menteri, dimana Anies mengatakan bahwa serapan anggaran di kementeriannya di atas 95%.

Tak mau kalah, Sandiaga Uno memamerkan kemampuannya mengatur usaha, yang dikatakan nyaris sama dengan cara mengatur birokrasi di Pemprov DKI.

Namun apa lacur, di tahun pertama mereka menjabat pun telah terjadi penurunan tingkat serapan anggaran. Dan terbukti, tahun 2018 serapan APBD DKI kembali turun.

Apa yang terjadi ini seharusnya menjadi pelajaran pahit bagi Anies Baswedan, termasuk juga bagi calon wakil presiden RI Sandiaga Uno. Bahwa melakukan kritik jauh lebih gampang ketimbang menjalani bidang yang di kritisi.

Serapan Anggaran DKI Harus Menjadi Pelajaran Pahit Buat Anies Baswedan dan Sandiaga Uno

Rendahnya persentase serapan APBD di masa kepemimpinan Gubernur DKI Anies Baswedan harusnya menjadi pelajaran pahit agar tak mudah bicara janji.

Kenyataan bahwa kepemimpinan Ahok-Djarot memang lebih baik dalam serapan APBD harus diakui tanpa alasan ABCD. Langkah selanjutnya adalah melakukan perubahan dan perbaikan manajemen, agar serapan APBD DKI tahun 2019 tak kembali membuat malu pemberi janji.

Sandiaga Uno yang saat ini menjadi penantang petahana sebaiknya mawas diri atas kegagalan nyata yang telah dilakukannya di DKI. Strategi membohongi rakyat bukanlah cara yang tepat untuk mencapai kemenangan yang sejati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *