Ini Perbedaan Esemka dan Mobil Timor

Untuk mengakali lebih lanjut peraturan tentang kepabeanan dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, Presiden Suharto kembali membuat aturan melalui Keppres No. 42 tahun 1996. Melalui keppres ini, resmi lah mobil yang sejatinya dibuat perusahaan Korea Selatan dianggap sebagai mobil nasional.

Ya, mobil Timor yang mulai berkeliaran pada akhir tahun 1996 berasal dari Korea Selatan, dibuat pabrikan mobil merek KIA, diganti logo nya setelah memasuki Indonesia, dari logo KIA menjadi simbol huruf T.

Mobil yang diproduksi pabrikan KIA ini, melalui Keppres No.42 tahun 1996 dipaksa untuk diakui sebagai mobil buatan Indonesia, yang pembuatannya dilakukan di luar negeri (Korea Selatan).

Agar penjualan menjadi lancar dan sangat menguntungkan, Suharto menerbitkan aturan bahwa “komponen apapun yang masuk berkaitan dengan mobil Timor tidak dikenakan bea masuk”. Ini satu point kerugian negara yang cukup besar.

Point ke-2 dari kerugian negara yang timbul akibat mobnas Timor adalah kalimat instruksi pada Inpres No.2 tahun 1996 yang berbunyi “ pembayaran Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang atas penyerahan mobil yang diproduksi, ditanggung oleh Pemerintah”. Inilah kalimat yang sangat melukai hati rakyat.

Potongan kalimat “ditanggung oleh pemerintah” di atas sama saja dengan “ditanggung oleh rakyat”, karena dana APBN berasal dari rakyat.

Artinya, usaha dagang mobil yang dilakukan oleh putra Suharto pada masa itu, bukan cuma dilindungi oleh kebijakan monopoli, namun rakyat juga dipaksa harus menanggung hampir seluruh pajak-pajak dari perbuatan impor serta penjualan mobil Timor, akan tetapi hasilnya dimakan sendiri oleh pemilik usaha dagang Timor.

Beda Nyata antara Esemka dan Timor

Esemka adalah murni karya anak bangsa, yang tak mendapat bantuan serta fasilitas apapun dari pemerintah. Joko Widodo tak punya peran apapun dalam Esemka, kecuali pernah menjadi bintang iklan untuk penyemangat terhadap karya anak bangsa.

Timor dilindungi sejumlah kebijakan monopolistik dan kolutif untuk kepentingan kelompok. Timor pun sangat merugikan secara finansial, karena rakyat dipaksa untuk ikut membiayai segala pajak dalam usaha dagang mobil yang aslinya bermerek KIA.

Esemka dirancang dan dirakit di dalam negeri. Karena kurangnya modal dan tak adanya dukungan aturan keberpihakan dari pemerintah, menyebabkan hingga saat ini ESEMKA belum juga eksis di industri otomotif nasional.

Timor adalah mobil asli bikinan pabrikan mobil KIA Motor asal Korea Selatan. PT. Timor Putra Nasional hanya membuat logo yang ditempel di body mobil, mengganti logo KIA menjadi T.

Selama menjalankan operasinya, PT. Timor Putra Motor tak terbukti melaksanakan pembangunan pabrik di Indonesia. Yang nyata adalah usaha pembuatan logo untuk digunakan sebagai modal berdagang mobil.

Tak cukup dengan backup monopoli via peraturan dan kemudahan perpajakan yang menyengsarakan rakyat, PT. Timor putra Nasional pun mendapat kucuran dana pinjaman dari pemerintah, via Bank Bumi Daya (sekarang Bank Mandiri) sebesar Rp 2,374 Triliun.

Di bawah kepemimpinan Sudrajat Djiwandono yang menjabat sebagai Gubernur bank Indonesia saat itu, perbankan mengucurkan kredit raksasa pada perusahaan yang masih bayi, dengan nilai yang sangat fantastis.

Pada saat pengucuran kredit, nilai dollar USA masih berkisar Rp 2.000,- per 1 dollar amerika. Jika di kurskan ke dollar pada saat turunnya kredit, nilai kredit tersebut setara dengan US$ 1,187 Milyar, yang jika di kurskan ke rupiah pada saat ini = Rp 16,618 Triliun.

Sudrajat Jiwandono memiliki kekerabatan dengan Prabowo Subianto, dimana Kakak dari Prabowo sebagai istri dari Sudrajat Jiwandono.

Nilai kredit fantastis dari Bank Bumi Daya tersebut setara dengan 4 kali biaya pembangunan tol Suramadu. Dan PT. TPN hingga saat ini tak mampu mengembalikan hutang tersebut.

Tanggal 13 Desember tahun 2017 Kementerian Keuangan memenangkan gugatan PK yang dilakukan oleh PT. Timor Putra Nasional, yang menggugat pemerintah di MA. Melalui Putusan Peninjauan Kembali (PK) Nomor 716 PK/PDT/2017 tanggal 13 Desember 2017, gugatan PT. Timor Putra Motor ditolak oleh MA.

Putusan yang telah final ini membuat Menteri Keuangan berhasil menyelamatkan potensi kerugian negara sebesar Rp 1,2 Triliun. Ada beberapa kasus perdata menyangkut PT. Timor Putra Nasional yang masih belum tuntas hingga saat ini, yang semuanya bermuara pada penyelamatan atas kerugian negara.

Mantan pemilik PT. Timor Putra Nasional saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Berkarya. Tommy Suharto merupakan mantan adik ipar Prabowo Subianto, calon presiden RI pada pilpres 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *