Tommy Suharto, Mantan Pembunuh yang Jadi Ketua Umum Partai

Mungkin saat ini tak banyak yang tahu tentang masa lalu Tommy Suharto. Pria yang memiliki nama lengkap Hutomo Mandala Putra ini adalah putra bungsu dari mantan presiden Indonesia, Jendral Soeharto.

Syafiuddin Kartasasmita, hakim agung yang mengadili perkara tukar guling tanah milik Bulog dengan PT. Goro Batara sakti, tewas ditembak orang tak dikenal pada tanggal 26 Juli 2001.

10 bulan sebelumnya, Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita memutuskan hukuman pidana 18 bulan penjara dan denda Rp 30,6 Milyar terhadap terdakwa kasus tukar guling Bulog dan perusahaan Tommy Suharto.

Hasil pengusutan polisi saat itu, diduga pembunuhan didalangi oleh Hutomo mandala Putra, alias Tommy Suharto.

Kematian Sang Hakim Pengadil Tommy Suharto

Tanggal 26 Juli 2001 kurang dari 18 tahun silam, seperti biasa Syafiuddin Kartasasmita menjalani aktivitas rutinnya. Pagi sekitar pukul 08.00 WIB, ia berangkat ke kantor dengan mobil. Syafiuddin tidak menyadari, maut sedang mengintai, ia diikuti oleh dua orang tak dikenal yang berboncengan mengendarai motor RX-King.

Saat melintasi Jalan Sunter Raya, dekat Kemayoran, terdengar ledakan. Mobil Honda CRV berwarna silver dengan nomor polisi B 999 KZ itu menabrak warung rokok dan tempat tukang cukur. Rupanya, ban kanan belakang mobil itu kena tembak sehingga oleng.

Sempat terdengar teriakan minta tolong dari dalam mobil, namun tak lama karena motor RX-King sudah ada di depan mobil naas itu. Si pembonceng motor bergegas turun dan menodongkan senjata ke arah Syafiuddin yang masih berada di dalam mobil.

Seorang saksi mata menceritakan, “Ciri-ciri orang yang menodongkan senjata itu, dia tidak pakai helm, badannya besar, tingginya sekitar 170 cm, pakai jaket hitam, celana jeans biru, dan sepatu kets putih. Kulitnya coklat kehitaman. Dia berkumis tipis dan rambut cepak.”

“Sedangkan pengendara yang memboncengkan mengenakan helm, jaket kulit hitam, dan celana jeans. Saya tidak memperhatikan sepatunya. Karena temannya turun,orang pakai helm itu juga turun. Dia menyandarkan motornya dalam keadaanhidup,” imbuhnya.

Situasi di tempat kejadian perkara saat itu sebenarnya cukup ramai. Tapi tidak ada satu pun yang berani bertindak lantaran si pengendara RX-King mengacungkan pistol ke arah orang-orang di sekitar tempat itu.

Tiba-tiba, serangkaian letusan tembakan mengagetkan semua orang. Syafiuddin ditembak, empat kali. Sejurus berselang, dua pelaku penembakan bergegas memacu motornya, melarikan diri.

Orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut langsung memberikan pertolongan. Syafiuddin masih bernafas saat itu, namun nyawanya tidak sempat terselamatkan. Sesampainya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, Syafiuddin telah wafat.

Pada tanggal 7 Agustus 2001 polisi berhasil membekuk dua tersangka pembunuhan Syafiuddin Kartasasmita, bernama Mulawarman dan Noval Hadad. Keduanya mengaku menembak Syaifuddin atas suruhan Tommy dengan imbalan Rp100 juta.

Atas pengakuan dua tersangka tersebut, polisi memburu tersangka Tommy Suharto, yang sebelumnya memang telah buron.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *