Bang Sandi, Data Inflasi Disusun Oleh 17.000 Pegawai BPS

Bang Sandi, Data Inflasi Disusun Oleh 17.000 Pegawai BPS

Bang Sandi, data inflasi Indonesia bukan ditentukan oleh 1 orang, namun dikerjakan oleh lebih dari 17.000 pegawai BPS (Badan Pusat Statistik). Tudingan Sandiaga Uno bahwa data inflasi tak sesuai dengan fakta di lapangan membuat geram banyak fihak. Tudingan ini juga membuat seolah-olah ada main mata antara penguasa dengan oknum BPS.

Upaya hoaks yang terus diangkat oleh cawapres ini persis seperti yang dilakukannya saat pilkada DKI tahun 2016 dan 2017. Strategi pembodohan dan penggiringan opini publik ini ternyata kembali dilakukan pada pilpres tahun ini.

Meskipun setelah menjadi wakil gubernur Sandiaga Uno mengakui data-data BPS DKI, namun dalam kampaye pilpres pria satu ini kembali melakukan strategi yang sama. Jelas maksudnya membuat rakyat tak percaya akan data-data yang disajikan oleh pihak petahana.

Tapi Sandiaga Uno kali ini tak hanya berurusan dengan warga DKI, namun dengan seluruh rakyat Indonesia. Cakupan wilayah yang lebih luas dengan jumlah pengamat yang jauh lebih besar sudah tak memungkinkannya untuk leluasa melakukan kebohongan.

BPS adalah lembaga pemerintah yang berfungsi untuk melakukan berbagai program yang berhubungan dengan statistik negara.

Lembaga ini saat ini mempekerjakan sekitar 17.000 pegawai di seluruh Indonesia. BPS tak hanya berada di ibukota negara, namun menyebar hingga seluruh kabupaten di Republik Indonesia.

Adanya BPS di seluruh propinsi dan hampir di setiap kabupaten ini dimaksudkan agar penyajian data yang dilakukan makin mendekati kesempurnaan. Penyajian data yang dilakukan oleh BPS didahului oleh survey lapangan di tiap-tiap daerah, diikuti oleh kolektifitas data, yang selanjutnya diproses menggunakan matematika statistik. Dari data-data inflasi di berbagai kabupaten, diperoleh data inflasi untuk tingkat propinsi, yang selanjutnya menghasilkan data inflasi tingkat nasional.

Artinya data yang muncul di tingkat nasional berasal dari upaya yang dilakukan oleh 17.000 karyawan BPS, bukan oleh segelintir pimpinan BPS di pusat. Data yang disajikan tentu sudah sangat teruji, karena telah melalui proses yang berulang-ulang selama puluhan tahun. Data dari BPS juga digunakan oleh BI sebagai salah satu instrumen data.

Tiba-tiba data yang sudah tak diragukan lagi keabsahannya ini dibantah oleh Sandiaga Uno dengan dongengan saat dia mengunjungi berbagai tempat. Meski tak menuduh langsung, namun Sandiaga sering mengatakan bahwa fakta di lapangan tak sesuai dengan data yang disajikan oleh pemerintah, dalam hal ini Badan Pusat Statistik.

BPS bukanlah milik perorangan atau oknum, namun merupakan lembaga besar, yang memiliki karyawan hingga 17.000 orang.

Dari 17.000 karyawan BPS, sudah barang tentu sebagian ada yang akan memilih Prabowo-Sandiaga dalam pilpres tahun ini.

Data yang berasal dari 17.000 orang karyawan BPS ini tak mungkin dikondisikan oleh pihak penguasa, karena jika itu dilakukan akan merusak seluruh sistem perekonomian nasional, dan pasti ketahuan. Tak hanya mengganggu kredibilitas BPS, namun merusak sistem keuangan nasional dan internasional.

Membangun opini bahwa data yang disajikan oleh BPS tak sesuai dengan kenyataan jelas bertujuan untuk mendelegitimasi pemerintah, dan pada akhirnya bertujuan meruntuhkan kepercayaan pasar terhadap sistem perekonomian nasional.

Upaya ini jelas bertujuan untuk menggoyang ekonomi nasional, suatu hal yang tak berpihak pada rakyat. Namun goyangan yang dilakukan sejauh ini masih bisa dikendalikan oleh pemerintah, disamping juga mendapat perlawanan dari rakyat.

Apa yang dilakukan oleh Sandiaga Uno jelas menyakiti para pegawai BPS, yang menyajikan data ekonomi secara hati-hati.

Sandiaga Uno harusnya menyadari bahwa badan Pusat Statistik memiliki 17.000 karyawan, yang jika digabung dengan keluarganya bisa mencapai 60.000 orang.

Apa yang dilakukan oleh Sandiaga dengan cara memanipulasi fakta saat ini tentu menyebabkan sebagian besar pegawai BPS kecewa padanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *