Jokowi Nyontek Atau Prabowo yang Ngawur?

Jokowi nyontek atau Prabowo yang ngawur?

Jokowi nyontek ataukah Prabowo yang bicara ngawur? Debat pilpres tanggal 17 Januari yang lalu masih menyisakan sejumlah perdebatan di kalangan netizen, namun sebagian isi perdebatan yang ada menjadi sangat tak substansial dan merendahkan keilmuan.

Para pendukung Prabowo menyebut Jokowi nyontek dalam debat, sembari mengatakan bahwa Prabowo pidato tanpa teks, yang membuktikan bahwa dia adalah orang yang sangat pintar.

Pendukung Jokowi menangkis dengan menyatakan bahwa Jokowi menggunakan prinsip kehati-hatian, takut salah dalam pemaparan data, sedangkan Prabowo bicara ngawur, alias asal bicara dengan data yang nyaris semua hoaks.

Bagaimana sebenarnya yang paling tepat menggolongkan apakah Jokowi yang nyontek atau apakah Prabowo yang ngawur?

Open Book Bukanlah Nyontek di Perguruan Tinggi Eksakta

Joko Widodo adalah insinyur lulusan salah satu dari 5 perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia, Universitas gadjah Mada. Beliau lulus dari Fakultas Kehutanan, suatu disiplin ilmu yang bersifat eksakta.

Untuk bisa diterima sebagai mahasiswa UGM jurusan eksakta, seorang calon mahasiswa yang ikut seleksi masuk harus bisa menyisihkan antara 40-300 orang pesainganya, dimana para pesaing berasal dari siswa-siswa cerdas di sekolahnya masing-masing, dari seluruh Indonesia.

Bagi seorang insinyur atau sarjana eksakta, apa yang dilakukan oleh Jokowi dalam membawa data adalah biasa, karena mereka sering mengalami sewaktu dahulu kuliah.

70% dari ujian yang dilakukan pada tiap semester di jurusan-jurusan eksakta dilakukan secara open book, dimana para peserta ujian diperbolehkan membawa buku referensi sebanyak mungkin ke dalam ruang ujian, dan bebas membuka buku apapun selama berlangsungnya ujian.

Meskipun masing-masing mahasiswa membawa buku, namun tetap dilakukan pengawasan, agar peserta ujian tak saling contek hasil jawaban rekannya. Apa yang dilakukan oleh Jokowi dalam debat sudah sangat tepat, karena berkaitan dengan data yang harus ditampilkan secara akurat.

Jokowi baru bisa dibilang nyontek jika beliau melihat jawaban dari lembar kerja yang dibawa oleh lawan debatnya, dalam hal ini kalau bukan Prabowo, ya Sandiaga Uno.

Namun selama debat tentu anda tak melihat Joko Widodo melakukan hal tersebut bukan?!

Tak hanya open book, hampir 20% dari ujian yang dilakukan pada jurusan-jurusan eksakta dilakukan sebagai home work, antara 2 hari hingga 2 minggu lamanya. Artinya ujian semester tapi dilakukan di rumah masing-masing!. Meskipun dilakukan di rumah masing-masing, namun tak semua mahasiswa berhasil melewati ujian dengan hasil lulus atau mendapat nilai yang baik. Banyak juga diantara mahasiswa yang gagal.

Namun para pedagang di pasar dan penjual obat-obatan kaki lima banyak yang berorasi tanpa teks dalam menawarkan dagangan.

Karena memang kebiasaan mengucapkan kalimat yang berulang-ulang setiap hari, sehingga mereka sudah hapal akan isinya.

Mari kita lihat di setiap kendaraan yang canggih, termasuk pesawat terbang. Pasti anda akan menemukan manual book dalam kendaraan tersebut.

Seorang pilot berpengalaman yang telah menerbangkan pesawat yang sama selama bertahun-tahun mustahil bisa mengingat semua instruksi tanpa manual book. Untuk tindakan yang aman, sang pilot tetap harus sering membuka manual book, karena kesalahan sekecil apapun bisa berakibat sangat fatal, yaitu kecelakaan.

Jadi, apa yang dilakukan oleh Joko Widodo bukanlah nyontek, namun melaksanakan prinsip kehati-hatian. Karena jika salah dalam pemaparan data, bisa mengakibatkan kerusakan yang parah dalam pemerintahan. Kecerdasan memang selaras dengan kehati-hatian, termasuk kehati-hatian dalam pemaparan dan pidato.

Jika kita lihat video visualisasi dari para astronout internasional yang akan kembali ke bumi. Meskipun telah dilatih bertahun-tahun sebelum diberangkatkan ke angkasa luar, namun para astronout yang rata-rata profesor tersebut tetap harus menggunakan manual book dalam kapsul yang akan membawa mereka kembali ke bumi.

Bagaimana pendapat yang mengatakan bahwa Prabowo orasi tanpa teks namun ngawur?

Melihat dari banyaknya argumen yang disampaikan oleh Prabowo dan Sandiaga Uno yang tak sesuai dengan fakta, dapat dikatakan bahwa Prabowo sering bicara ngawur, dan nyaris antara apa yang diucapkan tak sesuai dengan fakta.

Mengatakan bahwa 99% dari orang Indonesia hidup pas-pasan berdasarkan Bank Dunia adalah salah satu contoh orasi tanpa teks yang ngawur. Karena Bank Dunia tak pernah mengeluarkan data tersebut. Tuduhan 99% orang Indonesia hidup pas-pasan bertolak belakang dengan rencananya menaikkan rasio pajak hingga 16% dari GDP Indonesia.

Ada ratusan kengawuran yang dilakukan oleh Prabowo, jika dikumpulkan dari semua orasinya. Orasi yang nyaris tanpa teks memang beresiko fatal menghasilkan output yang salah.

Mengatakan bahwa tahun 2030 Indonesia bubar berdasarkan ingatan dari novel fiksi adalah salah satu contoh lain bicara yang ngawur.

Challenger Meledak karena Kesalahan Data

NASA sebagai lembaga antariksa terbesar di dunia pernah mengalami musibah yang sangat fatal, ketika pesawat ulang-aliknya meledak di udara di tahun 1986. Kesalahan data akibat ketidaktelitian tersebut berakibat sangat fatal, membawa mendung bagi dunia antariksa internasional.

Para Ilmuwan sains Dunia Sering Berdebat Menggunakan Data yang Open Book

Para ilmuwan, baik di kampus atau di seminar-seminar internasional selalu beradu argumentasi menggunakan data-data saat berlangsungnya perdebatan. Apakah itu Einstein atau Stephen Hawkings, selalu menggunakan data dalam setiap pemaparan argumen mereka.

Prabowo nyaris tak pernah membawa data dalam hampir semua orasinya. Yang sering dibawa adalah buku Paradoks Indonesia, yang sebagian besar isinya tak sesuai fakta. Inilah penyebab mudahnya keteledoran dilakukan oleh Prabowo Subianto.

Sebut saja saat memberikan press rilis atas hoaks Ratna Sarumpaet. Pada kasus RS, seharusnya Prabowo mengerti hukum, dimana pernyataan hukum yang dilontarkan harus berdasarkan hukum yang berlaku.

Artinya, langkah awal yang harus dilakukan sebelum press rilis adalah pelaporan kepada polisi, BAP, dan jika terbukti dianiaya akan ditetapkan penyidikan dan penindakan terhadap tersangka yang melakukan penganiayaan.

Setelah ditetapkannya tersangka, barulah Prabowo bisa melakukan press rilis. Namun ternyata RS bukanlah dianiaya, akan tetapi lebam yang muncul sebagai akibat dari operasi plastik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *