Ma’ruf Amin Pilihan Terbaik

Ternyata setelah berjalan lebih dari 6 bulan, terbukti Ma’ruf Amin pilihan terbaik bagi sebagai cawapres untuk mendampingi Jokowi. Pada awal pengumuman, banyak dari pendukung Jokowi terkaget-kaget. Sebagian diantaranya bahkan menunjukkan keinginan untuk “golput”. Di antara pendukung Jokowi yang terkaget-kaget menyayangkan pilihan terhadap Ma’ruf Amin, kenapa bukan mahfud MD.

Dalam perjalanan kampanye pilpres, pembuktian Ma’ruf Amin pilihan terbaik makin terlihat. Ya, hoaks pilpres 2014 kembali di daur ulang oleh simpatisan oposisi, yaitu isu agama. Saya tak bisa membayangkan jika Mahfud MD yang dipilih, apakah koalisi Jokowi mampu menahan derasnya serangan SARA, yang hari ke hari makin masif dan meluas.

Bisa dibayangkan, berpasangan dengan Ketua Umum MUI saja pun Joko Widodo masih terus diserang oleh sentimen SARA yang tak berkesudahan. Apalagi jika berpasangan dengan Mahfud MD?!

SARA berlatar belakang Radikalisme

Isu sara yang terus diangkat, jika kita mau mencerna sedikit, lebih berhubungan dengan kelompok-kelompok intoleran, yang makin kuat ingin menjadikan Indonesia sebagai basis khilafah.

Prabowo Subianto bukanlah pendukung khilafah. Ini telah tegas dinyatakan berkali-kali, baik oleh beliau, maupun oleh adiknya sendiri, Hashim Djojohadikusumo. Namun kelompok intoleran ini memilih posisi mana yang memungkinkan mereka untuk makin eksis. 

Runtuhnya ISIS di timur tengah menyebabkan makin bersemangatnya kelompok radikal untuk menemukan koloni baru. Timur tengah bukan lagi menjadi wilayah yang seksi bagi kelompok radikal, karena orang-orang di sana sudah jenuh dengan peperangan dan pembunuhan.

Indonesia, sebagai negara kepulauan yang mudah dimasuki dari panjangnya pantai, juga merupakan negara yang kaya sumber daya alam. Sebagaimana yang kita ketahui, bertahannya ISIS beberapa waktu di timur tengah ditopang oleh produksi dan penjualan minyak mentah. Indonesia juga memiliki penduduk muslim terbesar di dunia, yang selama lebih dari 70 tahun relatif aman alias belum kapok.

Serangan SARA kepada Joko Widodo bukanlah disebabkan keagamaan beliau lebih buruk dibanding Prabowo Subianto. Karena kenyataannya, Jokowi adalah penganut Islam yang sangat taat, namun sangat toleran.

Artinya, bagaimana pun keislaman Prabowo bukan lagi menjadi ukuran bagi kelompok-kelompok intoleran. Target kemenangan merupakan suatu keharusan, agar transformasi koloni, dari timur tengah ke nusantara bisa berhasil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *