Ada beberapa cara untuk mengetahui kejenuhan resin kation. Pada artikel ini cara-cara tersebut dijelaskan dengan rinci, berikut cara untuk me-regenerasi resin.

Cara mengetahui kejenuhan resin kation berhubungan dengan efektifitas resin dalam menurunkan kesadahan air. Atau apakah suatu resin sudah memerlukan proses regenerasi atau belum.

Resin kation umumnya digunakan untuk menurunkan kesadahan air dan untuk proses demineralisasi air.

Resin kation yang jenuh memiliki ciri-ciri mencolok berupa terjadinya perubahan warna pada resin tersebut. Namun untuk tepatnya, penentuan jenuh tidaknya suatu resin kation harus dilakukan melalui pengujian yang tepat.

Cara mengetahui kejenuhan resin kation bisa dilakukan melalui metode berikut :

– Terjadinya perubahan warna resin.

Perubahan warna ini merupakan indikasi awal untuk menentukan kejenuhan suatu resin kation.

– Menguji kesadahan air pada output dari resin kation yang sedang digunakan untuk penghilang kesadahan air.

Pengujian kejenuhan resin yang digunakan untuk menurunkan kesadahan air dilakukan secara kimiawi terhadap air yang keluar dari resin.

– Pengukuran pH air yang keluar dari resin.

Cara ini dilakukan untuk menguji kejenuhan resin kation yang digunakan untuk proses demineralisasi air minum. Jika pH air yang di demineralisasi selalu berada di atas angka 7 dan nilai TDS air tak mengalami perubahan, dapat dikatakan bahwa resin kation sudah mengalami kejenuhan.

– Pengukuran TDS air yang sedang di demineralisasi.

Proses demineralisasi akan menurunkan angka TDS dari air yang sedang diproses. Jika dalam interval waktu 5 menit sejak pengukuran awal tak terjadi penurunan angka TDS air yang sedang diproses demineralisasi, dapat dikatakan bahwa resin kation yang digunakan telah jenuh dan perlu dilakukan proses regenerasi.

Baca juga : Cara Menguji Kesadahan Air

1. Pengujian pH air.

Resin kation yang digunakan untuk demineralisasi memiliki muatan ion H+ di dalamnya. Sebaliknya, resin anion memiliki muatan ion OH. Pertukaran antara kation air dengan kation resin akan menurunkan pH air ke bawah 7. Sebaliknya, pertukaran anion dari dalam air dengan anion dari dalam resin akan menaikkan pH air ke atas 7.

Jika saat proses demineralisasi pH air yang sedang di proses berada di atas 7 dan tak turun-turun dalam rentang waktu di atas 5 menit, dapat disimpulkan bahwa resin kation yang digunakan sudah tak mengandung kation H+ Artinya resin kation telah mengalami kejenuhan.

2. Pengukuran TDS air.

Proses demineralisasi bertujuan menurunkan nilai TDS air hingga menuju 0 ppm. Saat dilakukan proses demineralisasi, angka TDS air akan mengalami penurunan secara kontinu, menuju 0 ppm dalam rantang waktu yang tak terlalu lama.

Misalkan saat kita melakukan demineralisasi air dengan TDS awal 50 ppm, saat dilakukan proses sirkulasi air melewati resin anion dan kation, TDS menurun dari nilai awal pada output air dari resin. Artinya nilai TDS air pada input lebih besar dari nilai TDS air pada output.

Misalnya pengukuran TDS air input = 35 ppm, maka setelah melewati resin, nilai TDS air harus lebih kecil dari 35 ppm. Namun jika nilai TDS input sama saja dengan nilai TDS output, dapat disimpulkan bahwa resin kation dan resin anion sudah jenuh dan perlu dilakukan proses regenerasi pada resin.

Baca juga : Proses regenerasi pada resin kation.