Prabowo Menang, Koruptor Bagi Hasil

Prabowo Menang, Koruptor Bagi Hasil. Dalam orasi pada kampanye akbar di Stadion GBK, Prabowo Subianto jika menjadi presiden akan menawarkan dana pensiun atau bagi hasil bagi koruptor yang tobat. Bagian yang ditawarkan antara 3% – 5% dari nilai yang ketahuan di korupsi.

Misalnya seseorang yang ketahuan korupsi Rp 100 milyar, maka yang bersangkutan disuruh tobat, dilepas, dan dibagi 5% dari Rp 100 milyar tersebut. Jadi koruptor yang ketahuan akan mendapat pesangon Rp 5 milyar dan dibebaskan.

Contoh lain lagi, seseorang yang korupsi Rp 200 milyar dan ternyata yang terbongkar hanya Rp 10 milyar. Jika yang bersangkutan tobat dan mau mengembalikan uang Rp 10 milyar yang ketahuan, maka ia akan mendapat Rp 500 juta + Rp 190 milyar, = Rp 190,5 milyar.

Inilah terobosan hukum yang ugal-ugalan dan brutal. Sejak debat capres I, Prabowo Subianto telah menyatakan bahwa presiden adalah “Chief of Law Enforcement Officer”, dimana kekuasaan hukum tertinggi di tangan presiden. Ini mirip dengan yang sedang terjadi di Korea Utara dan sistem khilafah ISIS dan Taliban.

Jika kehendak Prabowo ini dituangkan dalam undang-undang, betapa kacaunya nanti sistem hukum kita. Setiap oknum pasti akan berusaha korupsi, minimal jika ketahuan dapat pesangon untuk pensiun dini.  

Jika cara ini diterapkan, KPK menjadi sangat sibuk menangkap, tanda tangan perjanjian bagi hasil, dan selanjutnya melepas para tersangka korupsi. Dan selanjutnya para koruptor jadi pahlawan setelah bebas ; bagi-bagi ke fakir miskin minta di do’a kan dan mengajari cara korupsi kepada para penerusnya.

Prabowo Menang, Koruptor Bagi Hasil.

Sungguh luar biasa terobosan yang akan dilakukan oleh Capres 02. Belum lagi pernyataannya memaafkan para pelaku korupsi kelas teri, karena dalam debat I beliau mengatakan “tidak apa-apa korupsi kecil-kecilan”.

Di masa orde baru cara ini sudah dipraktekkan secara diam-diam. Makanya di jaman orba nyaris tak ditemukan kasus korupsi. Bahkan para pelaku korupsi pun dibebaskan secara diam-diam dari penjara. Contoh yang paling fenomenal adalah Edy Tansil, yang dibebaskan secara diam-diam dari Lapas Cipinang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *