Survey Internal BPN Berbeda dengan Survey Sandiaga

Survey Internal BPN berbeda dengan Survey Sandiaga. Kesan ini terlihat jelas dengan simpang-siurnya pernyataan masing-masing orang di BPN. Dalam 1 hari yang sama, BPN mengeluarkan 2 statemen yang berbeda.

Satu pernyataan keluar dari Sugiono, Direktur Kampanye BPN. Sugiono mengatakan pasangan calon 02 unggul dengan angka 62% bulat, dan pasangan 01 kalah dengan angka 38% bulat, dimana jumlah responden 1440 orang.  Dengan jumlah persen dalam bilangan bulat saja sudah membingungkan, karena jika 1440 x 0,62 = 892,8 orang.

892,8 orang memilih Prabowo-Sandi, dan 547,2 orang memilih Jokowi-Ma’ruf Amin. Tidak ada swing voters. Dari hasil pembagian, ada 1 orang yang 0,8 darinya memilih Prabowo-Sandi, dan 0,2 dari tubuhnya memilih Jokowi Ma’ruf Amin.

Survey Internal BPN berbeda dengan Survey Sandiaga, yang katanya juga berasal dari survey internal.

Bagaimana dengan pernyataan Sandiaga Uno?

Lebih lucu lagi. Tanggal 7 Februari 2019 dia mengatakan pasangan Prabowo-Sandi hanya kalah 5-7%, dan tren naiknya elektabilitas mereka terus-menerus.

Namun pada tanggal 20 Maret 2019 yang bersangkutan mengatakan bahwa capres/cawapres 02 hanya tertinggal 11 % dari paslon 01, dengan tren kenaikan di kubu 02! Sungguh mengagumkan berbagai pernyataan yang jika di nalar akan membuat orang-orang terkena stroke.

Yang lebih lucu, pada hari yang sama, kubu BPN menelurkan 2 pernyataan berbeda tentang elektabilitas capres. Direktur kampanye nya mengatakan sudah menang 62%, namun Sandiaga justru mengatakan kalah tipis dalam bidang margin of error. Kacau!!!

Ini omongan siapa yang bisa dipegang?

Terlihat sekali masing-masing individu tak siap untuk berbohong dan tanpa koordinasi satu sama lainnya.

Memang lucu Sandiaga ini. Mau menaikkan rasio pajak dengan cara menurunkan tarif pajak serta menurunkan jumlah orang yang terkena pajak. Benar-benar bisa bikin stroke.

OK OCE menurunkan pengangguran sekaligus menaikkan pengangguran di DKI. Menurunkan pengangguran kata Sandiaga, namun data BPS jumlah pengangguran di DKI justru naik.

Menolak impor tapi sudah mengimpor 10.000 ton bawang putih. Menurunkan inflasi tapi nyatanya inflasi di jamannya justru naik. Puyeng… Berbohong membutuhkan memori otak yang besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *