Categories
Ekonomi Kesehatan Korban Virus Corona

Pemerintah Jangan Mau Didikte Karena Pandemi Corona

Pemerintah jangan mau didikte karena pandemi corona. Karena ada yang jauh lebih penting dari coronavirus, yaitu ekonomi. 25 juta rakyat Indonesia berada di bawah garis kemiskinan, dan lebih dari 50 juta yang rentan miskin.

Ekonomi nasional sudah sejak awal tahun terpukul karena coronavirus. Dengan tekanan pandemi corona, dipastikan tingkat kemiskinan akan naik tajam. Jumlah rakyat miskin naik akibat perubahan dari rentan miskin menjadi miskin.

Dan saat pusat-pusat keramaian ditutup, banyak sektor ekonomi yang ikutan kolaps. Warung-warung yang menggantungkan keberlangsungan hidupnya pun terancam bangkrut.

Gembar-gembor korona ini sejak awal telah menghantam sektor pariwisata, dan kini mulai menghancurkan sektor informal dan formal di kota-kota besar.

Corona Virus Penyakit Non-tropis.

Tak disangkal lagi bahwa orang Indonesia pun bisa tertular coronavirus. Akan tetapi Virus corona COVID-19 bukanlah penyakit yang berbahaya di wilayah khatulistiwa. Penyakit ini memang mematikan di negara-negara non-tropis, namun hingga saat ini belum terbukti ganas di wilayah tropis.

Resiko penyakit virus corona di negeri ini sangat jauh lebih ringan dibanding demam berdarah.

Pada dasarnya negeri ini sudah lebih dahulu dimasuki virus COVID-19 sebelum adanya pengumuman resmi pemerintah. Ini didasarkan keterangan Gubernur Jabar yang mengumumkan hasil tes terbaru korban tewas di Cianjur https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200315120514-20-483562/ridwan-kamil-konfirmasi-warga-cianjur-meninggal-karena-corona   , yang ternyata mengandung virus corona. Korban Cianjur tewas beberapa hari setelah pengumuman resmi pemerintah (03/03/2020).

Namun apakah kita melihat lonjakan jumlah korban sakit maupun tewas akibat virus ini?! Hingga saat ini deteksi di klaster-klaster pemukiman belum menunjukkan aktifitas corona yang berbahaya. Padahal virus ini sudah lama bercokol di negeri ini. Setidaknya mungkin jauh lebih dahulu masuk ke Indonesia, sebelum beberapa waktu kemudian terdeteksi di negara-negara Eropa.

Isu yang mengatakan mungkin pemerintah menutup-nutupi fakta adalah isu yang tak bertanggungjawab. Sudah jelas puluhan hingga ratusan orang tewas tiap hari di rumah sakit-rumah sakit di masing-masing negara di Eropa dan Asia yang memiliki iklim dingin.

Namun apakah hal yang sama juga terjadi di sini?! Kita tak melihat eskalasi jumlah korban tewas di rumah sakit-rumah sakit, mapun di pemukiman-pemukiman padat penduduk.

Kita pun tak melihat adanya korban tewas si Singapura dan Malaysia.

Pembatasan  dan Lockdown justru berbahaya bagi kesehatan

Hampir 100 juta orang Indonesia merupakan gabungan dari rakyat miskin dan rentan miskin. Pembatasan dan penutupan beberapa kegiatan dipastikan akan mempersulit ekonomi rakyat. Kesulitan ekonomi secara langsung meningkatkan kerawanan dari segi kesehatan.

Kesulitan ekonomi juga mengakibatkan naiknya tensi stres masyarakata, yang membawa kemungkinan naiknya angka penyakit, yang di dalamnya termasuk COVID-19.

Tentu sulit menyuruh orang lapar untuk tidak sakit. Para pemangku kepentingan perlu mengkaji kebijakan yang dibuat dan akan dipustuskan. Karena efek kebijakan coronavirus ini sudah pasti menyengsarakan rakyat banyak.

Perbedaan Keganasan COVID-19 antara Wilayah Tropis vs Non- tropis

Dari data-data yang dirilis oleh WHO maupun oleh otoritas negara-negara yang terserang oleh corona, jumlah korban COVID-19 di negara-negara sub-tropis dan negara-negara dingin terus meningkat tajam. Jumlah ini hampir selaras dengan naiknya jumlah kematian korban corona.

Namun terlihat anomali jika membandingkan dengan data-data yang dirilis Singapura, Malaysia, dan sejumlah negara ASEAN lainnya. Di negara-negara tropis ini memang ada korban virus corona, dan sudah terbukti COVID-19 menular. Akan tetapi bagaimana dengan tingkat kematian?

Hingga saat ini jumlah kematian di Singapura dan Malaysia masih 0%. Ini dihitung berdasar korban-korban yang sedang di rawat. Negara-negara Eropa dan Amerika tentu memiliki standar kesehatan yang lebih maju dari Singapura dan Malaysia. Namun hari ini jumlah korban tewas terbaru di Italia 368 orang, Spanyol 96 orang, Prancis 36 orang, dan Amerika Serikat 11 orang.

Kita pun bisa menyaksikan melalui data-data online yang menunjukkan bagaimana pola perkembangan coronavirus di negara-negara yang dilalui oleh garis khatulistiwa. Jelas sekali terlihat perbedaan mencolok dengan data COVID-19 di negara sub-tropis dan degara beriklim dingin.

Lockdown = Bunuh Diri

Pemerintah jangan mau didikte oleh tekanan dari luar dan dalam negeri.

Kebijakan China yang melakukan lockdown di Wuhan justru menaikkan jumlah korban dan angka kematian di kota tersebut. Padahal terbukti seluruh propinsi di China juga mengalami kasus corona, dan ada juga yang tewas. Namun mengapa eskalasi kenaikan jumlah korban dan eskalasi kematian justru hanya tinggi di Wuhan?

Italia melakukan jurus yang sama di kota-kota yang tertular. Namun setelah kebijakan dilaksanakan, data-data justru menampilkan kenaikan yang luar biasa terhadap jumlah korban dan korban tewas.

Kita tak boleh meniru kebijakan ini. Lockdown justru meningkatkan stres dan depresi. Lockdown juga menaikkan jumlah kelaparan, yang pada akhirnya membuat penyakit apapun makin mudah masuk ke tubuh.  

Kapan Wabah Ini Akan Mereda?

Karena COVID-19 atau SARS-Cov2 penyakit di cuaca dingin, perubahan iklim di bulan Mei diperkirakan akan menurun tensi serangan dan keganasan COVID-19.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *